
Edmund menatap Jova, wanita yang dicintainya itu sudah di depan mata, tapi tidak bisa digapai karena ada Morgan di sana.
Jova sedang mengatur napasnya, memandang Morgan yang mengancam, sebelum kemudian memandang ke Edmund.
“Satu perintah, aku hanya cukup memberikan satu perintah, maka dia tidak akan selamat,” bisik Morgan sambil mencengkram erat lengan Jova.
Bola mata Jova sudah berkaca mendengar ancaman Morgan, ingin melawan tapi itu tidak mungkin karena nyawa Edmund taruhannya.
Marcel terus memperhatikan, saat Jova tanpa sengaja menoleh ke arahnya, dia memberi isyarat agar Jova ikut Morgan demi keselamatan Jova dan Edmund.
Morgan menarik pelan lengan Jova. Meski dengan hati yang begitu berat, akhirnya Jova ikut Morgan, dia sempat menatap ke Edmund, tapi apalah daya dia tidak bisa ikut pria itu.
Edmund ingin mendekat, tapi anak buah Morgan menghalangi dan mengancam pria itu.
“Jika kamu melawan atau mengejar, bukan hanya nyawamu, nyawanya juga akan terancam.”
Edmund bergeming di tempatnya, hingga akhirnya hanya bisa melihat Jova dipaksa masuk mobil.
“Aku sudah mengikuti ucapanmu, kamu akan menepati janjimu, ‘kan? Kamu tidak akan berbuat sesuatu kepadanya, ‘kan?” Jova sangat mencemaskan Edmund. Dia sempat menoleh ke belakang dan melihat Edmund yang masih berdiri memandang ke mobil yang dinaikinya.
“Asal kamu tidak bertindak bodoh, maka dia akan baik-baik saja,” ucap Morgan tanpa menatap Jova, bahkan suaranya terdengar mengintimidasi, ekspresi wajahnya begitu dingin dengan tatapan begitu tajam.
__ADS_1
Jova menatap Morgan, tahu jika pria itu sedang murka karena melihat Edmund di kota itu. Dia akhirnya memilih mengalah, demi keselamatan Edmund. Jova tidak ingin ada yang terluka karena dia.
Mobil yang ditumpangi Jova dan Morgan akhirnya meninggalkan area taman itu, sedangkan Sean dan Ella naik mobil Marcel.
Setelah mobil yang ditumpangi Morgan jauh dari taman. Morgan terlihat mendial nomor seseorang dan mulai bicara saat panggilan itu terhubung.
“Pastikan dia pergi dari kota ini dan tidak kembali lagi. Jika dia macam-macam, habisi saja nyawanya!” Begitu mudah Morgan ingin menghilangkan nyawa orang.
Jova sangat terkejut, hingga mencoba merebut ponsel yang dipegang Morgan karena ingin mencegah apa yang diperintahkan pria itu ke anak buahnya.
“Jangan macam-macam! Apa kamu tidak ingat dengan ancamanku?” Morgan menatap tajam Jova sambil menjauhkan ponselnya.
“Biarkan dia pergi. Aku akan bicara dengannya dan memastikan dia pergi dan tidak mencariku lagi. Aku mohon, biar aku bicara dengannya. Tidak ada yang aku inginkan, kecuali memastikan dia aman,” pinta Jova dengan bola mata berkaca.
“Aku janji, tidak akan pergi, tidak akan kabur, atau tidak akan membantah, asal kamu membiarkanku bicara dengannya, kemudian memastikannya pergi dengan selamat. Aku mohon.” Jova berusaha memelas, dia tidak tahu lagi harus bagaimana membujuk Morgan agar tidak melukai Edmund.
Morgan terlihat menahan amarahnya, hingga kemudian kembali bicara ke anak buahnya.
“Berikan ponselnya ke pria itu!” perintah Morgan sambil menatap Jova.
Jova terlihat begitu lega saat diperbolehkan bicara dengan Edmund, meski jantungnya masih berdegup dengan cepat dan dadanya naik turun tidak beraturan karena takut Morgan melakukan sesuatu.
__ADS_1
“Lima menit.” Morgan hanya memberikan waktu lima menit untuk Jova bicara ke Edmund.
“Jo.” Suara Edmund terdengar dari seberang panggilan.
“Dengarkan aku, aku di sini baik-baik saja. Tolong pergi dari sini dan jangan pernah mencariku lagi. Sean sudah bersama ayahnya, dia bahagia dan aku pun juga.” Jova bicara dengan cepat sambil menatap Morgan yang terus memandang arloji untuk berapa menit Jova bicara dengan Edmund.
“Jangan bohong, Jo. Aku tahu kamu tidak bahagia.” Suara Edmund kembali terdengar.
“Aku bahagia. Aku bahagia di sini, Ed. Pergilah, dan jangan pernah mencariku lagi. Kumohon.” Jova terus meyakinkan agar Edmund mau pergi dari kota itu tanpa paksaan.
“Sepuluh, sembilan ….” Morgan mulai berhitung menandakan jika waktu yang dimiliki Jova hampir habis.
“Terima kasih untuk semua bantuanmu selama ini.” Jova mengakhiri panggilan itu karena tidak ingin membuat Morgan marah.
Morgan belum selesai berhitung dan Jova sudah mengakhiri panggilan itu.
“Dia tidak akan mencariku lagi. Biarkan dia pergi,” pinta Jova kemudian.
Morgan tidak banyak bicara, memilih mengambil ponsel yang dipegang Jova, lantas menyimpan di saku.
Jova terlihat begitu sedih, tidak pernah sesedih ini sejak kesuciannya direnggut. Tatapannya beralih keluar, melihat jalanan yang dilewati menuju tempat yang akan mengurungnya seperti seorang penjahat.
__ADS_1
Di sisi lain. Edmund terlihat begitu kecewa mendengar ucapan Jova. Namun, dia tahu kalau semua yang dilakukan Jova demi menyelamatkan dirinya.
“Apa harus berakhir seperti ini, Jo?”