
Jova terbangun saat matahari belum menampakkan diri sepenuhnya. Dia melihat lengan kekar itu masih melingkar di perutnya, membuat Jova tidak bisa bergerak dengan leluasa sepanjang malam.
Dia menyingkirkan tangan itu perlahan, lantas turun dari ranjang tanpa menoleh Morgan yang masih tertidur lelah. Jova pergi ke kamar Sean, tapi putranya dan Ella sudah tidak ada di kamar.
“Di mana Sean?” Jova panik tidak melihat putranya karena merasa berada di tempat asing.
Jova pun menuruni anak tangga, berjalan mencari keberadaan Ella hingga langkah terhenti saat mendengar pelayan yang sedang berbincang di dapur.
“Padahal dia tidak secantik Nyonya Luna, pasti dia yang menggoda Tuan duluan.”
“Benar, padahal Nyonya Luna itu baik, mana mungkin Tuan tertarik begitu saja dengan wanita itu. Pasti wanita itu menggoda, lalu memberinya anak, makanya Tuan pun membawanya ke sini.”
“Licik sekali, aku jadi tidak sudi melayaninya.”
“Kalian jangan banyak bicara. Jika Tuan tahu, maka habis riwayat kalian!” Seorang pelayan paruh baya mengingatkan ke pelayan yang lebih muda di sana untuk berhati-hati dalam bicara.
Ketiga pelayan itu pun akhirnya diam dan melakukan pekerjaannya.
Jova menarik napas panjang dan menghela perlahan. Dia sudah menyiapkan hati akan cemoohan dan hinaan yang didapat, benar saja semua itu didapatkannya dari para pelayan itu.
Jova pun memilih melanjutkan langkah untuk mencari Sean. Hingga dia mendapati Ella yang sedang mengajak main Sean di halaman depan.
“Sean.” Jova mengembangkan senyum saat melihat Sean, bahkan ucapan tak sedap tentangnya pun diabaikan saat melihat betapa cerianya sang putra.
“Lihat, Mama sudah bangun. Say hello ke Mama.” Ella melambaikan tangan Sean ke Jova.
Jova berjalan mendekat, masih mengenakan piyama dan langsung menggendong Sean.
“Apa dia rewel?” tanya Jova ke Ella.
“Tidak, Nyonya. Sean tidur sangat pulas, bahkan hanya sekali bangun minta susu. Dia juga gampang diajak, tidak takut meski kami baru bertemu,” jawab Ella yang sangat menyukai Sean.
Jova tersenyum kemudian menimang bayinya dalam gendongan sambil menikmati udara pagi yang begitu segar.
__ADS_1
Di kamar, Morgan baru saja bangun dan tidak mendapati Jova di ranjang. Pria itu pun bangun untuk mencari keberadaan Jova, tapi ponsel yang ada di atas nakas berdering dan nama Luna terpampang di sana.
“Halo.” Morgan pun menjawab panggilan itu karena tidak mungkin terus mengabaikan.
“Apa kamu jadi pulang hari ini? Kemarin kamu berkata akan pulang hari ini,” ucap Luna dari seberang panggilan.
Morgan memijat kening, sepertinya Bastian memang membalas pesan Luna dan mengatakan kalau dia akan pulang hari ini.
“Ya, tapi aku akan langsung ke perusahaan,” balas Morgan dengan suara parau.
Di kamar Luna, wanita itu mendengarkan dengan seksama suara Morgan, juga memastikan apakah ada suara wanita di sekitar suaminya.
“Kamu baru bangun tidur?” tanya Luna lagi untuk memastikan.
“Ya,” jawab Morgan singkat. “Aku akan mandi, jadi akan aku matikan panggilannya,” ucap Morgan lagi, kemudian mengakhiri panggilan.
Luna terlihat kecewa sambil menatap ponsel, kenapa Morgan buru-buru mengakhiri panggilan itu, bahkan mengucapkan kalimat sayang saja tidak.
“Dia akan pulang hari ini, haruskah aku melakukan perawatan terlebih dahulu?” Luna merasa harus mempersiapkan diri untuk melayani suaminya.
**
Morgan baru saja mengakhiri panggilan dari Luna, hingga berjalan ke arah balkon kamar. Dia berdiri di balkon, menatap Jova yang ternyata berada di halaman bersama Sean dan Ella. Morgan melihat tawa lepas Jova saat bermain bersama Sean, bagaimana wanita itu terlihat bebas dan begitu bahagia saat mengajari Sean berjalan.
“Dia selalu sukses membuatku terpesona,” gumam Morgan masih terus memperhatikan.
Di halaman, Jova sedang mengajari Sean berjalan. Kaki mungil putranya menyentuh rumput tanpa alas kaki untuk merangsang telapak kaki Sean.
“Sepertinya Sean belum mau berjalan, Nyonya.” Ella memperhatikan kaki Sean yang terlihat seperti geli dan tidak menapak sempurna di rumput.
“Ya, sebab itu dia harus sesekali mendapatkan rangsangan, agar terbiasa kemudian kakinya secara spontan mau menapak agar dia bisa berjalan,” ucap Jova menjelaskan, karena itu juga yang dilakukan Helen selama ini setelah Sean berumur dua belas bulan.
Ella pun paham, lantas berjanji akan ikut memperhatikan dan sesekali merangsang telapak kaki Sean.
__ADS_1
Saat mereka sedang fokus dengan Sean, Jova tidak sengaja mendongak ke arah balkon, hingga melihat Morgan yang berdiri di sana dan ternyata sedang memperhatikan. Ekspresi wajah Jova langsung berubah, hingga wanita itu akhirnya memalingkan wajah dan enggan melihat pria itu.
**
Sean diajak Ella untuk mandi pagi, sedangkan Jova ke kamar untuk mengambil pakaian dan hendak mandi di kamar Sean. Namun, sebelum Jova pergi dari kamar itu, Morgan tampak keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah. Tetesan air yang jatuh dari ujung rambut dan membasahi wajah, terlihat mengalir di setiap lekuk wajah pria itu, membuat siapapun akan tergoda melihat ketampanan seorang Morgan Bosley.
“Mau ke mana kamu?” tanya Morgan sambil menatap pakaian dan handuk yang dipegang Jova.
“Mandi di kamar Sean,” jawab Jova sambil memalingkan wajah dari Morgan.
“Kenapa tidak mandi di sini?” tanya Morgan lagi tidak senang karena Jova terlihat menghindari dirinya.
“Tadi ada kamu, bagaimana bisa aku mandi di situ,” kilah Jova agar Morgan tidak curiga kalau dia menghindar.
“Sekarang aku sudah selesai, apa kamu masih mau mandi di kamar Sean?” tanya Morgan lagi masih memasang wajah tidak senang.
Jova menghela napas frustasi karena menghadapi Morgan, hingga kemudian berjalan ke arah Morgan karena ingin ke kamar mandi.
“Tunggu!” Morgan menghentikan langkah Jova saat hampir melewatinya.
“Apa lagi?” tanya Jova dengan nada malas.
“Keringkan rambutku dulu.” Morgan langsung menarik tangan Jova dan mengajak ke arah sofa.
Mulut Jova menganga tidak percaya mendengar perintah Morgan, berpikir apakah pria itu tidak bisa mengeringkan rambutnya sendiri.
“Kamu punya dua tangan, apa tidak bisa mengeringkan sendiri?” tanya Jova dengan nada ketus.
“Bisa, tapi aku ingin kamu yang melakukannya,” jawab Morgan santai. Dia sudah duduk dan Jova masih berdiri menatapnya kesal.
“Bukankah kamu pemilik salon dan pasti terbiasa melayani pelanggan yang hendak melakukan treatment. Jadi, mengeringkan rambutku pasti bukan masalah besar untukmu,” ujar Morgan santai sambil menyerahkan handuk kecil yang melingkar di lehernya ke tangan Jova.
“Aku memang melakukan itu, tapi kamu bukan pelangganku dan aku saat ini bukan lagi pemilik salon!”
__ADS_1