Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Pertemuan dengan Edmund


__ADS_3

Morgan duduk di balkon kamar sambil mengisap cerutu kesukaannya. Asap cerutu itu mengepul di udara, Morgan terlihat menghela napas kasar, lantas menoleh ke kamar di mana istrinya sudah tertidur dengan lelap.


Kegilaannya akan Chloe, membuat Morgan benar-benar seperti tidak bisa mengendalikan dirinya. Setiap ingatan akan Chloe, membuatnya bertindak di luar kendali.


Morgan memejamkan mata, hingga ingatan akan dua tahun lalu melintas dalam pikirannya. Morgan masih merasakan tangan yang menyentuh kulit halus itu, saat dirinya baru saja selesai membersihkan diri.


Dua tahun lalu, di kamar hotel tempatnya memuaskan nafsu ke Chloe. Morgan baru saja selesai mandi, tubuhnya terlihat begitu segar dan dia berniat pergi membawa Chloe setelah itu.


Namun, alangkah terkejutnya Morgan saat tidak melihat Chloe di atas tempat tidur. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tapi tidak mendapati wanita yang membuatnya tergila-gila itu di sana.


Morgan langsung mengambil ponselnya, lantas menghubungi asistennya yang berada di lobi.


“Bas, wanita yang aku beli kabur, dia pasti belum jauh. Cari dia di sekitar hotel!” perintah Morgan ke asistennya, sebelum kemudian dia menghubungi kedua bodyguardnya untuk kembali ke hotel.


“Sialan! Apa kamu pikir bisa kabur dariku?!” Morgan benar-benar murka.


“Aku akan menemukanmu, meski kamu bersembunyi di neraka sekalipun.”


Morgan kembali dari ingatannya, kembali mengisap cerutunya dan meniupkan asap dari mulut.


“Chloe, kamu sudah menjadi canduku, bagaimana bisa kamu menghilang begitu saja dariku.


**

__ADS_1


“Kamu dekat dan sudah bersamanya dua tahun ini. Apa kamu tidak ingin melamarnya?”


Seorang pria duduk menatap Edmund, di tangannya ada gelas kristal berisi cairan berwarna coklat.


Edmund tersenyum mendengar pertanyaan temannya, lantas memilih menenggak vodka yang dipesannya, sebelum menjawab.


“Aku ingin melamarnya, tapi Jova masih memiliki trauma dan aku harus bersabar terhadapnya. Aku tidak ingin memaksanya.”


Teman Edmund menyeringai, hingga kemudian menenggak habis isi gelasnya.


“Kamu terlalu baik, menemukannya di jalan lalu membawanya, membantunya hidup hingga sekarang dia sukses. Sungguh aku sangat salut kepadamu,” ucap teman Edmund.


Edmund hanya tersenyum menanggapi ucapan temannya, lantas menghabiskan minuman miliknya.


Setelah bertemu dengan temannya, Edmund memilih pulang ke apartemen. Edmund adalah seorang pengusaha otomotif, dia memiliki beberapa showroom mobil yang tersebar di beberapa kota.


Edmund pun mengingat akan kejadian dua tahun lalu, kejadian di mana dirinya pertama kali bertemu dengan Chloe.


Edmund baru saja selesai dengan urusan bisnisnya di kota kecil itu. Saat sedang mengemudikan mobil membelah jalanan yang sedikit gelap, Edmund dikejutkan dengan seseorang yang berlari untuk menyebrang. Dia langsung menginjak pedal rem dalam-dalam, hingga akhirnya bisa berhenti tepat waktu tanpa melukai orang yang menyeberang tadi.


Namun, tampaknya orang yang melintas itu sangat terkejut karena hampir tertabrak. Edmund buru-buru melepas seat belt, lantas turun untuk melihat apakah orang itu terluka.


Hingga langkah Edmund terhenti saat melihat seorang wanita tersungkur di aspal, mengenakan mantel kebesaran dan kedua kakinya tidak memakai alas.

__ADS_1


“Kamu baik-baik saja?” tanya Edmund yang hendak mendekat untuk menolong tapi takut.


Wanita yang tidak lain adalah Chloe, masih syok dan tertunduk menatap aspal, hingga dia menoleh Edmund, memperlihatkan wajah cantiknya yang tertutup kesedihan dan penderitaan.


“Cari wanita itu sampai dapat!” Suara pria terdengar dari kejauhan.


Edmund melihat wanita yang hampir ditabraknya itu panik dan ketakutan, hingga dia menoleh ke arah sumber suara dan berpikir mungkinkan wanita itu kabur dan kini sedang diburu.


“Tuan, aku mohon bantu aku! Bawa aku dari sini! Aku mohon, aku tidak mau jadi budak. Aku mohon.”


Edmund terkejut saat Chloe memegang pergelangan tangannya, ditatapnya wajah cantik Chloe yang kini penuh air mata. Dia tidak tahu kenapa wanita itu sangat ketakutan, tapi yang jelas Edmund tahu jika wanita itu begitu menderita.


“Masuklah! Aku akan membawamu pergi.” Edmund meminta Chloe masuk.


Edmund sendiri bergegas masuk mobil, lantas memacu mobil meninggalkan tempat itu.


Edmund menoleh Chloe yang hanya mengenakan mantel dan memegang erat mantel itu. Dada wanita itu naik turun tidak beraturan karena mencoba mengatur napas yang tersengal.


“Kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar.” Edmund kasihan melihat kondisi Chloe, hingga menawarkan diri untuk mengantar.


Chloe menggelengkan kepala, kemudian menangkup wajah dengan kedua telapak tangan.


“Aku tidak punya siapa-siapa di sini, aku dijual dan tidak punya tempat pulang.” Chloe terisak, dia tidak mengenal Edmund, tapi berani menceritakan masalahnya.

__ADS_1


Edmund benar-benar tidak tega, pria baik berhati lembut itu pun memberanikan diri menawarkan sesuatu kepada Chloe.


“Aku tidak berasal dari kota ini, jika kamu tidak memiliki tempat pulang, apa kamu mau ikut denganku?”


__ADS_2