
Jova memejamkan mata saat Morgan terus memagut bibirnya tanpa jeda, jantungnya semakin memompa darah begitu cepat hingga seluruh tubuhnya mendesir hebat.
Morgan memaksa Jova untuk melayaninya, terlebih karena Morgan sedang terpengaruh alkohol. Pria itu melucuti semua pakaian Jova, mengukung tubuh wanita itu lantas melakukan penyatuan meski Jova tidak siap.
Jova hanya meringis menahan sakit saat sesuatu merangsek ke bagian intinya. Setelah melahirkan tentunya Jova tidak pernah berhubungan intim dengan siapapun, bahkan dengan Edmund.
Morgan tidak peduli akan rasa sakit atau penolakan Jova, karena baginya wanita itu harus menuruti semua yang diinginkan.
Jova memejamkan mata saat Morgan terus menghujam miliknya, bahkan tangan meraih sprei dan mencengkramnya erat.
Setelah dua tahun menanti, akhirnya Morgan bisa memiliki kembali wanita yang membuatnya tergila-gila itu. Dia terus melakukan penyatuan dan sesekali memagut bibir atau mengabsen setiap jengkal kulit Jova.
Jova tidak berdaya, beginilah akhirnya jika bersama pria itu. Dia akan terus menjadi alat pemuas ranjang, tanpa dipedulikan bagaimana perasaannya. Dia hanya bisa pasrah sambil terus memejamkan mata, ketika tubuh terus bergerak seirama hentakkan yang didapatkan. Dia tidak ingin menatap pria yang menjamahnya, terlebih pria itu tidak mencintainya serta dia pun tidak pernah mencintai.
**
__ADS_1
Pagi telah menyapa. Jova terlihat menggerakkan tubuh, tapi dengan mata yang terpejam. Kelopak matanya terasa enggan terbuka, tubuhnya begitu lelah karena semalam Morgan tidak melepasnya. Bahkan saat tidur pun pria itu terus memeluk dan memerangkap Jova, membuat wanita itu hanya pasrah tidur dalam dekapan pria itu karena terlalu lelah.
Kini Jova berusaha membuka mata, masih merasakan tangan yang melingkar di perut. Dia melirik ke bawah, melihat tangan kekar itu melingkar. Jova pun berusaha menyingkirkan lengan Morgan dari perutnya, dia hendak bangun agar tidak terus merasa sesak karena berada di dekat pria itu.
“Kamu mau ke mana?” Suara parau dan berat Morgan membuat gerakan Jova terhenti.
Jova menelan ludah, kemudian mencoba bersikap tenang. Namun, jantung wanita itu harus kembali berdegup dengan cepat karena Morgan terus merapat, bahkan napas hangat pria itu terasa berembus di punggung polos yang tidak tertutup sehelai benang pun.
“Jangan bangun, aku masih ingin memelukmu,” ucap Morgan dengan suara parau.
Jova bergeming, jika memaksa bangun atau terus bergerak, takut membuat Morgan semakin bersikap posesif kepadanya. Dia pun akhirnya memilih terus diam, di mana Morgan kini masih memeluknya dari belakang.
**
“Apa Morgan menyembunyikan wanita itu di sini?” Marcel bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
Marcel mendapatkan informasi keberadaan Morgan di sana dari Bastian. Dia lantas menoleh ke kursi samping, menatap berkas yang semalam ditanyakan sang kakak dan memang diminta dikirimkan pagi ini.
Marcel penasaran apakah wanita yang pernah ditolongnya memang ada di rumah itu. Mungkin ini kesempatan untuknya melihat sendiri apakah informasi dari Bastian benar. Dia pun mengambil berkas itu, lantas turun dari mobil dan berjalan menuju rumah.
Ella baru saja mengajak Sean berjalan-jalan di taman samping, hingga saat akan masuk rumah bertemu dengan Marcel.
Marcel terkejut karena ada bayi di sana, lantas menatap bayi tampan dan menggemaskan itu, sebelum akhirnya memandang Ella.
“Ini bayimu?” tanya Marcel asal-asalan.
Ella mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Marcel.
“Apa saya tampak seperti wanita yang sudah pernah melahirkan?” Ella tampaknya tidak senang dengan pertanyaan Marcel.
Marcel terkejut melihat Ella yang kesal, padahal dia hanya bertanya.
__ADS_1
“Ini anak tuan Morgan dan nyonya Jova,” ucap Ella menjelaskan, lagi pula tidak layak dia marah kepada adik majikannya.
Marcel terkejut mendengar ucapan Ella, jadi benar Morgan menyimpan wanita di sana, lantas benarkan wanita itu sama dengan yang ditemuinya dua tahun lalu.