Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Jalan-jalan


__ADS_3

Marcel mengajak Jova dan Sean jalan-jalan bersama Ella juga. Keluar yang dimaksud Marcel adalah memberikan udara bebas untuk Jova, karena selama berada di kota itu, Jova sama sekali belum merasakan kebebasan.


Jova tahu keinginannya untuk pergi tidak mungkin terkabul, terlebih sadar diri karena Marcel adalah adik Morgan. Tidak mungkin pria itu membantunya kabur, karena yakin akan menimbulkan pertikaian antara Morgan dan Marcel.


Namun, meski begitu Jova sendiri merasa sedikit senang bisa melihat dunia luar, mengirup udara bebas tanpa belenggu dan dinding yang menjulang tinggi menutup dunia luar darinya.


“Kamu mau makan es krim?” Marcel menoleh Jova yang duduk di sampingnya, ditatapnya wajah yang terus terpajang senyum begitu manis.


Jova sedang memperhatikan Ella yang mengajak main Sean di rerumputan, mereka pergi ke taman untuk sekadar menikmati suasana yang berbeda. Dia menoleh dan tatapan mereka bertemu,


“Boleh,” jawab Jova.


Marcel terlihat senang, lantas pergi untuk membeli es krim. Jova memperhatikan dengan jauh, memandang punggung Marcel yang sedang berdiri membeli es krim. Dia sedang berpikir, meski Marcel adik dari Morgan, tapi jelas sifat pria itu sangat bertolakbelakang dengan Morgan.


**


Morgan baru saja selesai dengan rapatnya, sepanjang hari tidak fokus karena beberapa hari ini tidak melihat atau bertemu Jova.


“Apa jadwalku setelah ini?” tanya Morgan saat berada di ruang kerjanya bersama Bastian.

__ADS_1


“Tidak ada, Tuan,” jawab Bastian setelah mengecek jadwal Morgan untuk hari ini.


Morgan terlihat berpikir, hingga kemudian berdiri dan membuat Bastian terkejut.


“Anda mau ke mana?” tanya Bastian keheranan.


“Melihat sesuatu,” jawab Morgan, lantas berjalan menuju pintu.


Bastian pun mengikuti Morgan, karena itulah tugasnya saat jam kerja.


**


“Nyonya, ada yang ingin bertemu dengan Anda,” kata pelayan membuyarkan lamunan Luna.


“Siapa?” tanya Luna keheranan karena merasa tidak memiliki janji dengan siapapun.


“Katanya dia memiliki informasi penting untuk Anda.”


Luna pun pergi ke ruang tamu, hendak melihat siapa yang datang dan berkata kalau memiliki informasi untuknya. Saat sampai di ruang tamu, Luna melihat pelayan yang dulu pernah bekerja di rumahnya, tapi dipindah untuk menjaga rumah milik Morgan yang lain.

__ADS_1


“Nyonya.” Wanita yang dipecat Morgan, kini mendatangi Luna, tentu saja tujuannya untuk mengadukan Jova. Dia masih sakit hati karena dipecat akibat Jova.


“Ada apa? Kenapa kamu ke sini?” tanya Luna menatap curiga.


“Saya ke sini untuk menyampaikan sesuatu kepada Anda,” jawab pelayan itu.


Luna mengerutkan alis, hal apa yang hendak disampaikan oleh pelayan itu.


**


Edmund mengawasi Morgan. Dia rela berada di mobil yang terparkir di seberang perusahaan Morgan selama seharian penuh, untuk tahu ke mana saja pria itu pergi. Beberapa hari ini Edmund tidak mendapatkan apa-apa, karena Morgan pulang ke rumah utama dan tidak pergi ke tempat Jova berada.


Saat melihat mobil Morgan keluar dari perusahaan, Edmund pun mengikuti mobil itu pergi. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan mengetahui keberadaan Jova, meskipun belum pasti ke mana Morgan akan pergi kali ini.


Gigih, begitulah Edmund. Dia tidak akan pernah menyerah, sebelum bisa bertemu dan menyelamatkan Jova.


“Dia mau ke mana?” Edmund terus mengikuti mobil Morgan, hingga mobil itu berhenti di tepian jalan.


“Kenapa dia berhenti?” Edmund penasaran dan bertanya-tanya, tidak mengerti kenapa Morgan berhenti di pinggir jalan. Hingga Edmund menyadari sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2