
“Berikan ponselmu!” perintah Morgan sambil menengadahkan tangan ke arah Jova yang duduk memangku Sean.
Jova mengerutkan dahi, kenapa Morgan ingin meminta ponselnya.
“Untuk apa?” tanya Jova.
Morgan menoleh dan menatap Jova seolah berkata ‘berikan saja dan jangan banyak bertanya.’
Melihat tatapan Morgan, membuat Jova langsung memberikan ponselnya ke pria itu.
Morgan menghapus semua kontak yang terdapat di ponsel Jova, lantas mengeluarkan simcard dan membuangnya ke jalanan.
Jova sangat terkejut dengan yang dilakukan Morgan, tampaknya pria itu benar-benar ingin menjauhkannya dari orang-orang yang dikenalnya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Jova dengan ekspresi wajah panik.
“Aku tidak ingin ada yang mengganggumu,” jawab Morgan santai.
Jova melongo mendengar jawaban Morgan. Pria itu benar-benar bersikap otoriter dan posesif. Dia yakin kalau Morgan melakukan itu agar Edmund tidak bisa menghubunginya. Jova pun akhirnya memilih diam karena kesal dengan sikap Morgan yang seenaknya saja.
Jova masih diam sepanjang perjalanan, hingga melihat ke arah mana mobil yang membawa mereka melaju.
**
Edmund hanya mengalami cidera ringan di lengan, setelah dokter memastikan kondisinya baik-baik saja, pria itu pun diizinkan untuk pulang.
Dia berjalan di koridor rumah sakit, tangan kiri terpasang menggunakan penyangga karena ada tulang lengan yang bergeser. Edmund mengeluarkan ponsel dan hendak menghubungi Jova karena sejak pagi kekasihnya itu tidak menghubungi.
‘Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan.’
Edmund menghentikan langkah, dahinya berkerut halus mendengar suara operator saat menghubungi Jova. Wanita itu tidak pernah mematikan ponsel, bagaimana mungkin nomornya kini tidak aktif.
“Apa terjadi sesuatu dengannya?” Edmund tiba-tiba merasa cemas.
Edmund akhirnya memutuskan untuk pergi ke salon Jova menggunakan taksi. Di dalam perjalanan menuju salon Jova, Edmund tidak henti memikirkan wanita itu, terlebih Jova sempat takut karena pria yang membelinya kini menemukan Jova.
“Tuan Edmund.” Karyawan Jova langsung menyambut kedatangan Edmund, mereka terkejut melihat tangan Edmund yang menggunakan penyangga.
__ADS_1
“Di mana Jova?” tanya Edmund ke karyawan Jova.
Para karyawan di sana malah saling tatap karena bingung, hingga kemudian memandang Edmund yang juga menanti jawaban.
“Kami juga tidak tahu, sejak pagi Nona tidak datang ke sini. Aku juga sudah mencoba menghubungi, tapi nomornya tidak aktif,” jawab salah satu karyawan.
“Kami pikir Nona sakit dan Anda tahu,” timpal yang lain.
Edmund semakin cemas dan curiga jika terjadi sesuatu dengan Jova, dia pun akhirnya pamit pergi dan hendak mencari di rumah Jova.
Sesampainya di rumah Jova, tempat itu terlihat sangat sepi. Edmund pun masuk karena gerbang depan tidak dikunci, dia berjalan menuju pintu dan menekan bel.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Helen terlihat berdiri menatap Edmund. Wanita itu terkejut melihat kedatangan Edmund, meski sudah bisa menebak jika Edmund datang pasti untuk mencari Jova.
“Bibi, di mana Jova? Apa dia sakit?” tanya Edmund, kemudian menengok ke dalam dan melihat rumah itu sepi.
“Masuklah dulu.” Helen membuka lebar pintu, mempersilakan Edmund untuk masuk.
Edmund melihat gelagat aneh dari Helen, belum lagi wanita itu terlihat seperti baru saja menangis. Dia pun masuk, semakin merasa aneh karena rumah itu sepi dan tidak ada tanda-tanda Sean juga Jova di rumah.
Helen dan Edmund sudah duduk saling berhadapan, Helen sendiri terlihat bingung menyampaikan pesan dari Jova. Dia tidak tega jika melihat Edmund kecewa, serta tidak yakin kalau pria itu akan hanya diam saja.
“Sebenarnya, Jova pergi tadi pagi bersama Sean,” jawab Helen.
Edmund terkesiap mendengar jawaban Helen.
“Pergi? Ke mana?” tanya Edmund dengan ekspresi wajah panik.
“Kamu pasti sudah tahu kalau pria yang menghamilinya ada di kota ini, tadi pagi pria itu membawa Sean dan Jova,” jawab Helen.
Edmund mengepalkan telapak tangan kanan mendengar jawaban Helen. Morgan benar-benar masih menginginkan Jova meski sudah dua tahun berlalu.
“Apa pria itu mengancamnya?” tanya Edmund kemudian.
Helen terkejut mendengar pertanyaan Edmund. Jova sudah berkata untuk tidak memberitahukan soal Morgan yang memaksanya ikut, jika Edmund tahu kalau Jova pergi karena terpaksa, pria itu pasti akan berusaha mengejarnya, sebab itu Jova meninggalkan pesan agar Edmund tidak mencari.
“Jova berpesan kepadaku untuk menyampaikan kepadamu. Dia ingin agar kamu tidak mencarinya, dia ingin kamu selamat dan hidup dengan baik,” ucap Helen tidak menjawab pertanyaan Edmund.
__ADS_1
Edmund semakin yakin jika Morgan pasti mengancam Jova. Bahkan penguntit semalam pun, Edmund yakin orang suruhan Morgan.
“Tidak bisa, aku tidak bisa jika harus diam dan tidak mencarinya. Aku sudah berjanji akan terus melindunginya, aku mencintainya. Bagaimana bisa aku membiarkannya bersama pria lain, pria yang sudah menghancurkan hidupnya. Meski Jova berkata agar aku tidak mencarinya, tapi aku yakin kalau hal itu dilakukan karena Jova takut aku terluka. Aku akan mencarinya dan membawanya kembali bersama Sean,” ucap Edmund penuh keyakinan.
Helen terlihat bingung, dia tahu Edmund sangat mencintai dan menjaga Jova selama ini, wajar jika pria itu tidak akan rela jika Jova dibawa oleh pria yang pernah menghancurkan hidup Jova.
**
Setelah penerbangan panjang, Morgan dan yang lainnya akhirnya sampai di bandara kota tempat Morgan tinggal. Namun, tentunya Morgan tidak akan membawa Jova ke rumah besarnya, melainkan ke rumah lain yang sudah disiapkan olehnya.
Sepanjang penerbangan, Jova tidak bertanya atau bicara, hanya sesekali mengajak Sean bicara ketika bayinya itu menangis atau hendak minum susu.
“Sean, namanya Sean, ‘kan?” tanya Morgan baru memastikan setelah mereka melakukan penerbangan panjang.
“Kamu baru bertanya sekarang,” ketus Jova tanpa menatap Morgan.
“Ya, karena kupikir kamu sedang tidak ingin bicara,” balas Morgan. Dia harus lebih bersabar dengan Jova, agar bisa memiliki wanita itu.
Jova tidak membalas ucapan Morgan dan memilih memalingkan wajah dari pria itu.
“Apa nama belakangnya?” tanya Morgan kemudian.
“Apa kamu berharap aku memberinya nama belakang yang sama denganmu, tidak mungkin.” Lagi-lagi Jova bicara dengan nada ketus dan hal itu malah membuat Morgan gemas.
Morgan tersenyum tipis, hingga kemudian berkata, “Tentu saja aku berharap ada nama belakangku di nama Sean, karena aku adalah ayahnya.”
Perkataan Morgan membuat Jova langsung menoleh ke Morgan dengan tatapan tidak senang.
“Bukankah Sean Bosley sangat cocok dengannya,” ucap Morgan sambil menoleh dan kini akhirnya saling tatap dengan Jova.
“Sean Light, namanya Sean Light. Bukan Sean Bosley. Jangan pernah berpikir memberikan nama belakangmu untuknya!” Jova memberikan tatapan intimidasi, menunjukkan rasa tidak suka karena Morgan terus merangsek masuk ke dalam hidupnya.
“Meski kamu menolak, tapi kamu tidak akan punya pilihan untuk menolak,” balas Morgan dengan tatapan tajam juga.
“Mungkin, Sean Light Bosley akan menjadi nama yang kuat untuknya,” ucap Morgan kemudian saat merasa Jova mulai marah.
Jova terlihat kesal, hingga kemudian memilih memalingkan wajah lagi dari Morgan.
__ADS_1