Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Perkelahian


__ADS_3

Luna terdiam di kamarnya, berpikir di mana sang suami hingga semalam tidak pulang. Morgan pergi ke pesta, tapi sang suami tidak pulang dan hal ini tentunya membuat Luna curiga.


“Apa dia mulai bermain wanita lagi?” Luna bertanya-tanya sendiri.


Sejak pulang dari luar negeri, Morgan sama sekali tidak menyentuh atau memintanya melayani seperti biasanya, tentu saja hal ini membuat Luna cemas.


“Bagaimana jika dia benar-benar gila main dengan wanita bayaran lagi?” Luna menggigit ujung kuku karena takut dan cemas.


Luna pun mengambil ponsel, lantas mencoba menghubungi Morgan. Namun, sekali lagi panggilannya diabaikan oleh sang suami.


“Dia terus mengabaikan panggilanku, kenapa dia terus melakukan ini kepadaku, kurang apanya aku?” Luna terlihat kesal, bahkan melempar ponsel ke kasur, sebelum kemudian mengguyar kasar rambutnya ke belakang.


**


Edmund benar-benar pergi mencari Jova. Dia mendatangi negara di mana Morgan membawa wanita itu. Tentu saja Edmund tidak akan membiarkan begitu saja Morgan memiliki Jova, setelah apa yang sudah diperbuat pria itu kepada Jova dua tahun lalu.


Edmund baru saja turun dari pesawat, lantas keluar dari bandara dan mencari taksi. Di sepanjang perjalanan menuju hotel tempat dia akan menginap sementara, Edmund terus menatap catatan yang didapatnya.


“Apa pun hasilnya, aku harus memastikan keadaanmu baik-baik saja.”


Edmund melipat kertas yang dipegang, lantas menatap ke jalanan yang dilewati. Jova, wanita malang yang ditemuinya dua tahun lalu tapi bisa memikat hatinya. Setelah upaya menyelamatkan dan menyembunyikan wanita itu dari Morgan, haruskah Edmund membiarkan begitu saja saat Morgan kembali membawanya. Tentu saja Morgan tidak akan bisa.

__ADS_1


**


Ella sedang menyuapi Sean yang kini duduk di stroller saat siang hari, gadis itu terlihat telaten dan sangat menyayangi Sean.


“Buka mulutmu, Sean.” Ella bicara dengan lembut, membuat gerakan mulut agar Sean mau membuka mulut seperti dirinya, itu berhasil karena Sean melakukan apa yang dicontohkan oleh Ella.


Ella terlihat senang, Sean sangat menggemaskan dan tidak gampang rewel, sehingga Ella pun tidak kerepotan saat mengurus Sean.


Dari jauh, para pelayan lain kembali bergunjing dan membicarakan Jova maupun Ella di belakang, terlebih Ella yang tampak diprioritaskan Morgan karena merawat Sean.


“Dia pasti cari muka, merawat dengan sungguh-sungguh, tapi aku yakin jika dia sebenarnya menginginkan sesuatu,” kata pelayan sambil melirik ke Ella yang sedang menyuapi Sean.


“Benar sekali, aku juga heran kenapa dia mau merawat bayi itu. Bayi itu ‘kan anak haram, anak yang lahir di luar pernikahan, lahir dari rahim wanita yang tidak jelas statusnya,” timpal yang lain.


Kedua pelayan itu memicingkan mata, tidak senang melihat tatapan Ella.


“Kalian bicara apa tadi?” tanya Ella langsung.


“Bicara apa? Memangnya kamu bicara apa?” Pelayan itu mengelak, terlihat gerakan bibir ke kanan dan kiri seolah mencibir.


“Aku dengar kalian mengatai Sean anak haram! Kalian ini makin lama, mulut kalian memang perlu dicuci!” geram Ella.

__ADS_1


Dua pelayan itu melotot mendengar ucapan Ella, hingga mereka mendekat ke arah Ella.


“Hei! Kami ini bicara fakta, kalau bukan anak haram? Lalu apa sebutan untuk anak yang lahir tanpa status. Tuan pasti menerimanya karena terpaksa, aku yakin wanita yang kamu panggil Nyonya itu mengancam Tuan,” ucap pelayan itu asal-asalan.


Ella sangat geram sampai mengepalkan kedua telapak tangan di samping tubuh.


“Jangan bicara sembarangan! Aku yakin kalau Nyonya bukan orang seperti itu! Pikiran kalian saja yang penuh sampah, sehingga selalu berpikiran buruk tentang orang lain!” sembur Ella yang geram.


“Apa kamu bilang! Kamu mengatai kami penuh sampah!” Pelayan itu tidak terima, bahkan kemudian menampar Ella.


Ella tentunya tidak terima, lantas membalas perbuatan pelayan tadi dengan menjambaknya.


Mereka pun terlibat perkelahian, di mana Ella melawan dua pelayan. Hingga tiba-tiba Ella didorong dengan kuat dan jatuh mengarah ke Sean, tanpa sengaja tubuhnya menubruk stroller tempat Sean berada, mengakibatkan stroller itu terdorong dan terjatuh dengan posisi miring.


Sean terjatuh dan kepalanya terantuk lantai, bayi itu menangis keras karena kesakitan.


“Sean!” Ella panik dan langsung berdiri untuk menggendong Sean.


Kedua pelayan itu terkejut dan tiba-tiba takut karena Sean sampai terluka.


Jova berada di kamar saat keributan itu terjadi, hingga mendengar suara Sean menangis membuatnya berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Saat baru saja turun dari tangga, Jova terkejut melihat Sean yang sudah digendong Ella tapi masih menangis dengan kencang. Hingga Jova terkejut melihat Ella dan dua pelayan yang berpenampilan acak-acakan.

__ADS_1


“Ada apa ini?” Suara Jova terdengar begitu keras menggema di ruangan itu. Dia murka melihat Sean menangis, belum lagi Ella tampak meniup kepala putranya.


__ADS_2