Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Mau keluar?


__ADS_3

Luna masih menunggu Morgan mandi, hingga saat tidak lagi mendengar suara gemericik air, dan beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka, Luna langsung berdiri dan menatap Morgan yang hanya menggunakan bathrobe dan keluar dari kamar mandi.


“Ke mana saja kamu dua hari ini? Kenapa tidak pulang?” tanya Luna yang tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya.


Morgan langsung menatap Luna, tidak senang saat istrinya itu terlalu banyak bertanya.


“Sejak kapan kamu mulai suka mencampuri urusanku?” Morgan memberikan tatapan tajam ke Luna.


“Aku tidak mencampuri urusanmu, hanya saja aku cemas karena kamu tidak pulang,” jawab Luna yang tentu saja tidak langsung berkata kalau kesal karena Morgan tidak pulang.


“Bukankah yang terpenting sekarang aku pulang, serta aku dalam kondisi baik-baik saja.” Ucapan Morgan membuat Luna bungkam.


Luna tidak memiliki alasan lain untuk bertanya, jika dia langsung berterus terang dan menuduh Morgan bermain wanita lagi. Morgan pasti akan marah dan pertengkaran keduanya tidak terelakkan.


Morgan mengabaikan Luna, bahkan pria itu sama sekali tidak mau mengerti dengan perasaan wanita itu. Menikah tanpa dasar cinta, memang akan berakhir buruk. Lihatlah mereka, meski sudah bertahun-tahun menikah, tidak ada keharmonisan selain di saat keduanya saling membutuhkan di atas ranjang.


**

__ADS_1


Dua hari berlalu. Morgan tidak mendatangi rumah tempat Jova tinggal, membuat Jova bisa sedikit tenang karena tidak ada yang mengganggunya dan membuatnya marah. Jova menghabiskan hari hanya dengan main bersama Sean, membaca buku di kamar, atau berjalan-jalan di halaman rumah. Sejujurnya rutinitas itu sangat membuatnya bosan. Dia rindu rutinitas lamanya.


“Nyonya, ada Tuan Marcel di depan.” Ella memanggil Jova yang berada di kamar.


Jova terkejut mendengar nama Marcel, kenapa pria itu datang menemuinya, di saat Morgan tidak ada di sana.


“Apa dia mengatakan untuk apa menemuiku?” tanya Jova sedikit ragu.


Jova hanya tidak ingin kedatangan Marcel menjadi masalah di sana, atau mungkin kedatangan Marcel karena perintah Morgan.


“Dia tidak bilang, hanya berkata ingin bertemu Anda.”


**


“Hai.” Marcel langsung berdiri saat melihat Jova.


Jova mengulas senyum dan meminta Marcel kembali duduk.

__ADS_1


“Apa yang membuatmu datang ke sini menemuiku?” tanya Jova sedikit canggung karena antara dirinya dan Marcel tidak sedekat yang dikira.


“Hanya berkunjung untuk melihat kondisimu,” jawab Marcel.


“Apa yang ingin kamu lihat, kondisiku seperti ini dan kamu tahu pasti itu,” ucap Jova dengan senyum getir di wajah.


“Dia tidak memperlakukanmu dengan baik?” tanya Marcel kemudian.


Jova semakin tersenyum getir mendengar pertanyaan Marcel, hingga sejenak mengalihkan pandangan dari pria itu, sebelum kemudian kembali memandang Marcel.


“Bukankah kamu seharusnya tahu itu. Baginya aku hanya barang yang sudah dibelinya, lalu bisa dipakai sesukanya, bahkan jika rusak atau bosan pun bisa dibuang sesuka hatinya juga,” jawab Jova benar-benar menunjukkan kalau dia tidak bahagia.


Marcel bisa melihat kesedihan di mata Jova, sadar jika bagi Jova hidup bersama Morgan bukanlah sebuah pilihan yang ingin diambil wanita itu.


“Apa kamu bosan di sini?” tanya Marcel kemudian.


Jova terkejut mendengar pertanyaan Marcel, hingga menatap pria itu dengan dahi berkerut halus.

__ADS_1


“Mau keluar?”


__ADS_2