Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Tidak ada pilihan lain


__ADS_3

“Dia anakku, ‘kan?” Morgan sekali lagi bertanya karena Jova hanya diam. Dia sangat yakin kalau Sean adalah bayinya, selain Helen yang sempat menyebut Jova dengan mama, mata dan wajah Sean mirip dengan Morgan saat masih bayi.


Jova kebingungan dan menunduk, ingin berbohong tapi tahu pasti jika Morgan tidak akan percaya begitu saja.


“Jangan berpikir untuk membohongiku, Chloe. Dia putraku?” tanya Morgan sekali lagi dengan tatapan begitu tajam.


“Jangan libatkan dia, aku mohon.” Jova berpikir kalau Morgan mungkin tidak akan senang jika ada Sean bersamanya. Dia takut jika Morgan menyakiti putranya.


Morgan terkesiap, permohonan Jova membuktikan kalau bayi itu putranya. Dia tersenyum dalam hati, tidak menyangka jika memiliki anak dari Jova, terlebih bayi itu laki-laki.


“Berapa umurnya? Aku suka anak-anak,” ucap Morgan dengan santai.


Jova terperangah mendengar ucapan Morgan, mengangkat wajah dan kini menatap pria itu.


“Aku ingin melihatnya.” Morgan tiba-tiba berdiri dan hendak berjalan masuk rumah.


Jova sangat panik, apakah Morgan akan memintanya membawa Sean juga. Dia mengekor Morgan karena tidak ingin sesuatu terjadi kepada Sean.


“Apa yang akan kamu lakukan? Jika kamu tidak menginginkannya, aku juga tidak akan menuntut apa pun. Tapi aku mohon jangan libatkan dia, dia masih kecil,” ucap Jova penuh kecemasan dan rasa takut.


Morgan menghentikan langkah dan membuat Jova ikut berhenti, lantas memutar badan hingga berhadapan dengan Jova.


“Apa kamu pikir aku akan menyakitinya? Aku tidak sekejam itu,” ucap Morgan dengan seringai di wajah.


Memiliki anak laki-laki adalah impiannya, bagaimana bisa Morgan tidak menginginkan dan hendak menyakiti bayi itu.


Jova terhenyak mendengar ucapan Morgan, hingga perasaan cemas semakin merayap di dada.


Morgan berjalan mencari keberadaan Sean, hingga melihat bayi mungil itu sedang bermain dengan Helen di ruang tengah.


Helen melihat Morgan yang sudah berdiri menatap Sean, hingga mengalihkan pandangan ke Jova yang terlihat cemas.


Morgan mendekat dan langsung menggendong Sean, membuat Jova panik dan menggigit ujung kukunya saat melihat Morgan menggendong Sean.


Helen bingung dengan yang terjadi, wanita itu menghampiri Jova yang terlihat panik dan cemas.


“Hei, boy. Kamu sangat mirip denganku,” ucap Morgan sambil membopong Sean.

__ADS_1


Sean yang terbiasa anteng dan tidak mudah menangis, menatap wajah pria yang kini menggendongnya, sebelum kemudian kembali sibuk dengan mainan yang dipegang.


Helen terkejut mendengar ucapan Morgan, hingga menatap Jova yang terlihat gusar.


“Jo, apa maksud ucapan pria itu. Apa dia …?” Helen menjeda ucapannya, menatap Jova dan meminta jawaban pasti dari wanita itu.


Jova menoleh dan menatap Helen, paham akan maksud ucapan wanita itu. Dia pun mengangguk seolah membenarkan, hingga membuat Helen sangat terkejut.


“Berkemaslah, aku akan menunggu di mobil bersama putraku.” Morgan menggendong Sean keluar dari rumah. Jova dan Helen tidak akan mampu mencegah pria itu.


Kedua kaki Jova lemas, berpikir kenapa Morgan sangat senang mengetahui kalau Sean adalah putra pria itu. Apakah sekarang ada kemungkinan membuat Morgan bosan, bagaimana jika pria itu tidak mau melepasnya, membuat Jova benar-benar frustasi dan bingung.


“Jo, apa maksudnya? Apa maksudnya berkemas?” tanya Helen panik.


Jova menyandarkan tubuh di dinding, sungguh kenapa hidupnya kembali dipermainkan seperti ini. Kepalanya terasa berat, kedua kaki terasa lemas untuk menopang tubuh.


“Bibi, aku harus pergi,” jawab Jova dengan suara lirih.


“Pergi? Pergi apa maksudmu?” tanya Helen memastikan.


Jova menutup wajah dengan kedua telapak tangan, hingga kemudian tubuhnya luruh di lantai, berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya.


Helen sangat terkejut mendengar ucapan Jova, hingga kemudian ikut berlutut dan memeluk tubuh Jova yang gemetar.


“Apa tidak ada jalan lain? Kamu tidak harus pergi jika tidak ingin,” ucap Helen sambil mengusap punggung Jova secara konstan.


Jova menggelengkan kepala dalam pelukan Helen. Kecelakaan yang menimpa Edmund sudah membuatnya sangat syok, bagaimana jika hal buruk menimpa yang lainnya, bagaimana jika Morgan melakukan sesuatu kepada Helen maupun kepada karyawannya.


Jova mencoba menguatkan hati, mencoba menghentikan tangis dan bangun dari pelukan Helen.


Helen menatap iba ke Jova, kenapa wanita yang baru saja mendapatkan kebahagiaan setelah penderitaan yang dialami, kini harus kembali mengalami penderitaan lagi.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan pergi bersama pria itu?” tanya Helen sambil menatap wajah Jova yang basah.


Jova mengangguk-angguk sambil mengusap air mata yang membasahi wajah.


“Aku tidak bisa membiarkan mereka melukai kalian,” ucap Jova.

__ADS_1


“Tapi kamu tidak perlu berkorban juga,” balas Helen tidak tega.


“Semua yang akan terjadi kepada kalian, diakibatkan oleh masalahku. Aku tidak ingin kalian terlibat, jadi aku memilih untuk setuju ikut dengannya,” ucap Jova kemudian.


Helen benar-benar merasa iba, diusapnya pipi Jova dengan lembut.


“Apa kamu akan baik-baik saja?” tanya Helen memastikan.


“Aku pasti akan baik-baik saja,” jawab Jova, mencoba tersenyum meski hatinya terasa sakit.


Helen tidak bisa mencegah, hingga kemudian membantu Jova berdiri.


“Aku akan membantu mengemas barang-barang Sean. Jo, jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku,” pinta Helen.


Jova mengangguk, meski tidak yakin apakah bisa melibatkan Helen jika memang membutuhkan bantuan.


Helen pun mengemas barang-barang Sean, sedangkan Jova berada di kamarnya dan kini mengemas barang yang diperlukan. Hingga tatapan Jova tertuju ke bingkai foto di samping tempat tidur, di sana ada foto dirinya, Edmund, dan Sean yang masih berumur beberapa bulan.


Jova ingat saat itu Edmund memaksa untuk menggendong Sean, berkata jika dia hendak belajar menggendong bayi, agar nantinya bisa ikut menjaga Sean. Ada senyum tipis di wajah Jova saat mengingat hari itu, tapi senyum itu pudar saat mengingat bagaimana Edmund mengalami kecelakaan, hingga akhirnya kini dirawat di rumah sakit. Jova tidak tahu pasti bagaimana kondisi Edmund, meski pria itu berkata jika baik-baik saja.


“Ed, maaf tidak bisa menepati janji bersamamu. Aku tidak bisa membiarkan pria itu menghancurkanmu, aku harap kamu memahami keputusanku.” Jova bicara ke foto Edmund, jemarinya mengusap lembut kaca bingkai foto itu.


Helen sudah selesai mengemas, menyusul Jova ke kamar dan melihat Jova sedang duduk di tepian ranjang sambil melamun.


“Aku akan merindukan kalian,” ucap Helen yang membuat Jova tersadar dari lamunan.


Jova menoleh, hingga tidak terasa buliran kristal bening kembali luruh dari kelopak mata.


Helen mendekat, lantas duduk di samping Jova dan memeluknya.


“Aku pasti akan merindukanmu juga, Bibi. Jika ada kesempatan, aku pasti akan menghubungimu,” ucap Jova sambil memeluk.


“Hm … jaga diri kalian baik-baik,” ujar Helen dan langsung mendapatkan balasan sebuah anggukan dari Jova.


“Bibi, aku boleh minta satu hal?” tanya Jova.


“Minta apa?”

__ADS_1


“Jika Edmund menanyakan keberadaanku, katakan kepadanya untuk tidak mencariku, aku tidak ingin dia terlibat dengan masalahku. Aku mencemaskan keselamatannya.”


__ADS_2