Wanita Milik Sang Billionaire

Wanita Milik Sang Billionaire
Terus menyakiti


__ADS_3

Morgan tampak tidak terima mendengar Jova menyalahkan dirinya, hingga dia langsung mencengkram lengan Jova begitu erat.


“Jangan salahkan aku! Salahkan ayahmu yang sudah menjualmu, hingga akhirnya aku memilikimu!” Suara Morgan memang tidak keras, tapi saat didengar penuh dengan penekanan.


Bola mata Jova berka-kaca, dia ingin sekali menangis jika kembali diingatkan ke hari saat hidupnya hancur. Namun, Jova tidak ingin terlihat lemah lagi, cukup sekali pasrah saat hidupnya dihancurkan.


“Ya, jika kamu saat itu masih mengasihiku dan melepasku, maka hidupku tidak akan serumit ini. Apa kamu tahu seberapa bencinya aku kepadamu?” Jova menatap tajam Morgan, meski tatapan itu terhalang cairan bening yang siap meluncur.


Morgan masih mencengkram erat lengan Jova, tatapannya belum teralihkan dari wanita itu.


“Aku sangat benci kepadamu, sampai saat kamu menyentuhku pun, ingin rasanya aku mengguyur tubuhku berulang kali untuk menghilangkan sentuhanmu yang membuatku muak!” Jova benar-benar meluapkan kekesalan dan amarahnya.


Morgan semakin murka karena ucapan Jova, hingga menyeret wanita itu menuju kamar mereka.


“Kamu bilang muak? Lihat, seberapa muak dirimu saat aku sentuh. Bukankah itu hanya ucapan di bibir saja, hah! Nyatanya kamu menerima semua perlakuanku, bahkan suara desahanmu masih terngiang di telingaku!”


Jova membulatkan bola mata lebar, ucapan Morgan jelas menjatuhkan harga dirinya.


Morgan menarik sebelum kemudian mendorong tubuh Jova ke ranjang. Pria itu melepas jas dan dasi dengan kasar, lantas naik ke ranjang untuk mengukung Jova.

__ADS_1


Jova berusaha lari dengan cara merayap ke sisi ranjang satunya untuk kabur, tapi Morgan dengan cepat meraih pergelangan kaki dan menarik Jova mendekat ke arahnya.


Jova sangat terkejut, menelan ludah saat melihat tatapan Morgan seperti elang yang siap menerkam.


“Aku ingin lihat seberapa muaknya dirimu saat aku sentuh!” Morgan menarik paksa pakaian yang dikenakan Jova, hingga beberapa kancing bagian depannya terlepas dari tempatnya, membuat tubuh bagian depan Jova kini terbuka dan memperlihatkan bra berwarna krem yang dikenakan.


“Kamu keterlaluan!” amuk Jova memukul pria itu.


Morgan menahan pergelangan tangan Jova, lantas meraih tangan Jova satunya sebelum kemudian menguncinya dengan satu tangan di atas kepala wanita itu.


“Kamu yang membuatku marah, jadi lihat saja, seberapa besar tubuhmu bisa menerimaku, saat bibirmu terus menolak.”


“Lepaskan aku!” teriak Jova dengan kedua kaki bergerak seperti ingin menendang tapi tidak bisa.


Morgan tidak memedulikan teriakan Jova. Dia melancarkan aksinya menyentuh tubuh wanita itu, hendak membuktikan kalau apa yang diucapkan Jova tidak benar dan wanita itu munafik dengan penolakannya.


Jova memejamkan mata begitu rapat saat Morgan mulai menyentuh setiap inci tubuhnya dengan bibir. Luka dalam hatinya semakin membesar karena perbuatan Morgan yang semakin tidak memahami perasaannya.


Hingga pria itu melakukan penyatuan dengan kasar, Jova terus memejamkan mata dan menggigit bibir saat tubuh bagian bawahnya terus dimasuki dengan kasar.

__ADS_1


Hingga tanpa sadar air mata pun mengalir dari ujung kelopak mata, dia semakin sakit hati dengan perbuatan Morgan. Dia bukan alat pemuas nafsu, kenapa pria itu memperlakukannya seperti ini.


Tidak ada suara *******, Jova sekuat tenaga menahan diri saat tubuhnya terus dihujam oleh pria yang tidak punya hati. Hingga beberapa menit berlalu, Morgan selesai menyalurkan hasratnya setelah tubuh menegang dan lelehan lahar hangat memenuhi jalan rahim Jova.


Jova merasakan sakit teramat perih di bagian inti yang dipaksa juga hati yang terus digores luka. Saat Morgan sudah melepasnya, Jova menarik selimut untuk menutupi tubuh yang tidak berpenutup lagi. Pakaiannya berada di pinggang karena Morgan hanya menurunkan bagian atas dan menaikkan bagian bawah. Jova menutup tubuhnya dengan selimut sampai sebatas leher. Masih memejamkan mata seolah tidak ingin menatap pria yang terus memberikan luka di hatinya.


Dada Morgan terlihat naik-turun tidak beraturan, ditatapnya Jova yang meringkuk sambil memeluk selimut. Sekali lagi dia melihat air mata luruh dari kelopak mata Jova, membuat hati pria itu bergetar hebat.


“Jangan menangis!” bentak Morgan. Sejujurnya dia benci melihat Jova menangis, tapi tanpa sadar malah membuat wanita itu menangis.


“Kamu yang membuatku menangis!” balas Jova tanpa menatap Morgan. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak terus luruh karena pria itu pasti akan menganggapnya lemah.


Morgan mengepalkan kedua telapak tangan, meski merasa puas karena hasratnya tersalurkan, tapi juga kecewa karena harus berakhir dengan pertengkaran yang dimulainya.


Morgan memungut pakaiannya, memakai kembali sebelum kemudian pergi meninggalkan kamar itu, bahkan Morgan sempat membanting pintu dengan keras.


Tubuh Jova gemetar saat mendengar suara pintu terbanting, hingga dia semakin meringkuk dan memeluk selimut yang menutupi tubuhnya. Suara isak tangis terdengar dari sela bibirnya.


Ella berada di kamar Sean, mendengar suara Jova yang berteriak memaki Morgan, hingga mendengar suara pintu terbanting keras. Dari apa yang didengar, Ella akhirnya paham posisi Jova. Keberadaan Jova di sana bukanlah keinginan wanita itu, pantas saja Jova berani mengumpat serta begitu murka dengan tuduhan para pelayan yang diusir.

__ADS_1


“Kasihan Nyonya.”


__ADS_2