
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Jova mulai tidak nyaman dengan tatapan Morga. Bersama pria itu selama beberapa hari, membuat Jova sudah tidak lagi mudah takut seperti dulu. Terlebih kini dia harus lebih kuat, agar bisa bertahan di rumah yang seperti neraka baginya.
Jova hendak mengabaikan Morgan dengan cara melewati pria itu, tapi apa yang dilakukan Morgan membuat Jova sangat terkejut.
“Apa yang kamu--”
Jova tidak sempat melanjutkan apa yang ingin dikatakan karena Morgan mencekal lengannya, lantas mendorongnya ke arah ranjang.
Morgan mendorong Jova, hingga kaki wanita itu terantuk di ranjang dan membuat Jova terjatuh di atas kasur, dengan posisi Morgan ada di atas tubuhnya.
“Apa yang akan kamu lakukan?” Jova mulai panik, belum lagi dia mencium bau alkohol dari napas pria yang ada di atas tubuhnya. Jova menebak kalau Morgan mabuk dan pulang ke sana.
Morgan tidak bicara sepatah kata pun, hingga tangan terulur dan menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menutupi wajah Jova.
Jova merasa jantungnya berdegup dengan cepat, mungkinkan malam ini Morgan akan memaksanya untuk melayani. Tidak, Jova belum siap melakukan itu.
__ADS_1
“Kamu mabuk, akan aku buatkan air lemon,” ucap Jova untuk kabur dari pria itu.
Jova berusaha mendorong dada Morgan, pria itu mengukung dan memerangkap, hingga Jova tidak bisa menghindar.
“Kamu tahu, apa yang membuatku tertarik kepadamu malam itu?” Setelah diam sejak tadi, Morgan akhirnya bicara dengan tatapan tidak teralihkan dari wajah Jova.
Jova bergeming, ditatapnya dua bola mata hitam pekat yang tampak begitu tajam, meski sang pemilik sedang dalam kondisi mabuk.
“Karena aku masih muda dan polos, bukankah semua pria hidung belang akan tertarik begitu melihat gadis sepertiku malam itu.” Jova memberanikan diri menjawab pertanyaan Morgan.
“Karena tatapanmu. Tatapan sendumu, membuatku tertarik. Tatapanmu sangat indah, sampai aku enggan berpaling, meski aku bisa membeli wanita yang lebih darimu,” ucap Morgan kemudian.
Jova terkejut, apakah ini sebuah pujian, ataukah hanya sebuah kalimat rayuan untuk membuatnya luluh.
“Itu masa lalu, jangan dibahas sekarang!” Jova kembali berusaha mendorong dada Morgan agan menjauh darinya. “Menyingkir dari tubuhku!”
__ADS_1
Morgan mencengkram satu pergelangan tangan Jova, hingga kemudian menjauhkan dari dada.
“Tapi aku suka masa lalu itu, masa lalu yang membuatku ingin selalu memilikimu,” ucap Morgan. Napas hangat dengan aroma alkohol yang pekat itu menggelitik indera penciuman Jova.
“Aku membencinya, karena malam itu aku harus kehilangan semuanya.” Diingatkan akan masa lalu yang baginya menyakitkan, membuat Jova marah dan tatapannya berubah.
Morgan melihat kemarahan di mata Jova, tapi juga ada tatapan sendu penuh dengan pilu seperti malam itu. Membuatnya berkeinginan untuk memiliki Jova malam ini, setelah sekian lama bersabar menunggu waktu yang tepat untuk menjadikan wanita itu miliknya dan hanya miliknya.
Morgan membelenggu kedua pergelangan tangan Jova dengan satu tangan, lantas mengunci di atas kepala wanita itu, membuat Jova panik dan takut.
“Apa yang kamu lakukan? Jangan memaksaku!” Jova mencoba memberontak tapi sia-sia, belum lagi satu lutut Morgan ada di antara paha Jova, membuat wanita itu kesulitan untuk menghindar atau melawan.
“Kamu hanya milikku, ingat kamu milikku.” Dengan tatapan sayunya, Morgan menyambar bibir Jova, memagut begitu dalam dengan sesekali mellumat bibir mungil yang menjadi candu untuknya.
Jova membulatkan bola mata lebar saat Morgan terus memagut bibirnya. Apakah pada akhirnya malam ini dia harus melayani pria itu, setelah beberapa hari berhasil menghindar.
__ADS_1