
Emon melepaskan topeng wajah palsu nya dan mengejar Dita yang sudah menuruni tangga di rumah itu.
"Maafkan aku Dita! Ini lah aku! Inilah wajahku yang sesungguhnya. Aku Emon. Aku Sandy. Aku Sandy juga Emon adalah dua orang yang sama," ucap Emon Alexandria. Dita menyipitkan bola matanya menatap ke arah Emon yang kini merangkum kedua pipi nya.
"Maafkan aku! Sekarang kamu bisa melihat wajahku yang sebenarnya. Maaf, jika sebelumnya aku masih menyembunyikan identitas ku padamu," kata Emon. Dita kini tertawa dalam hati. Dia sudah berhasil membuat laki-laki di depannya itu mengaku dan berkata jujur.
"Untuk apa tuan menyembunyikan semua itu dariku? Apakah karena aku sebagai wanita pengganti? Yang seharusnya menjadi istri tuan muda Emon adalah kakakku Dora?" ucap Dita.
"Eh, itu itu karena aku belum menyukai kamu. Em tapi percayalah dengan semua kata-kataku kalau aku sangat menyukai kamu. Aku sudah terbiasa dengan kamu," kata Emon.
Emon merengkuh tubuh Dita dan membenamkan di dalam dadanya.
"Dita, istriku! Mulai sekarang aku adalah suamimu. Dan demikian juga kamu adalah istriku," kata Emon.
"Sekarang jawab pertanyaan ku? Kamu menyukai aku sebagai Emon atau aku sebagai Sandy?" tanya Emon.
"Tentu saja aku suka kamu sekarang ini, tuan! Tanpa bayang-bayang memerankan tokoh Emon yang selalu duduk di kursi roda maupun tuan Sandy yang dingin dan suka jail. Aku menyukai tuan muda yang menjadi dirinya sendiri tanpa ada lagi topeng wajah palsu yang selalu bersembunyi dibalik topeng nya," ucap Dita. Emon merangkum kedua pipi Dita. Kecupan lembut di dahi itu akhirnya mendarat untuk pertama kalinya dari Emon Alexandria di dahi Dita. Dita melongo menatap lekat wajah tampan yang asli milik Emon Alexandria.
"Aku suka wajah tuan seperti ini. Benar-benar tampan. Kenapa anda selalu menyembunyikan wajah asli tuan Emon Alexandria seperti ini? Kenapa?" tanya Dita.
__ADS_1
"Karena aku ingin wanita yang aku sukai dan mampu membuat detak jantung ku berdetak kencang lah yang pertama kali nya melihat wajah asliku. Sebelum orang-orang umum melihat wajah ku," kata Emon Alexandria.
"Kamu benar-benar bohong sekali!" sahut Dita yang wajah nya seketika merona memerah.
"Ayo ikut aku ke dalam! Setelah ini aku akan bilang dengan kedua orang tuaku dan membawa kamu ke rumah utama orang tuaku. Setelah itu kita akan kembali menggelar pernikahan megah dan mewah dan aku akan menunjukkan pada dunia, inilah aku dan kamu istriku yang bisa menaklukkan hatiku," kata Emon yang sudah benar-benar menjadi budak cinta.
Emon menarik tangan Dita dan menggenggam nya erat. Kali ini Emon tidak mau menunda-nunda lagi dan hendak mengajak Dita ke surga dunia itu. Api gejolak dan kerinduan sudah membuncah. Emon akan segera membuka segel itu yang sudah sangat. lama ia tunda-tunda membukanya.
Di kamar utama itu Emon mulai membimbing Dita dalam kenikmatan yang belum pernah sekalipun Dita merasakan nya. Dita pasrah ketika Emon mulai terkungkung dalam permainan indah.
"Tuan muda!" gumam Dita.
"Emon!" gumam Dita seraya tersenyum dalam keikhlasan menjadi istri Emon.
Di siang hari di mana diluar panas terik matahari. Di. kamar itupun tidak kalah panasnya dengan kegiatan diantara dua lawan jenis itu yang sedang mengikis jarak dalam penyatuan indah.
Dinding kamar itu menjadi saksi bisu kalau dua insan itu sudah sama-sama saling sepakat menjadi pasangan yang saling memberi dan menerima.
"Aku akan pelan-pelan melakukan nya sayang!" bisik Emon.
__ADS_1
"Huum, lakukan saja Emon! Karena mulai sekarang aku sudah menjadi wanita kamu yang akan mendampingi dan melayani kamu sampai diujung usiamu," ucap Dita.
Di kamar utama itu kini sudah mulai berantakan. Awalnya sprei yang rapi menutupi tempat tidur empuk dan mewah itu akhirnya menjadi kusut. Pakaian mereka yang tadi mereka kenakan kini berserakan di lantai kamar itu. Mereka sudah sama-sama polos seperti dua bayi yang saling beradu. Suara indah lolos dari kedua manusia itu yang menikmati segala kegiatan intens yang membuat mereka merasakan sensasi nikmat yang baru pertama kalinya mereka rasakan.
"Setelah ini aku rasa, kamu akan menjadi candu bagiku, sayang!" ucap Emon.
"Demikian juga aku, Emon!" sahut Dita.
"Benarkah? Katakan kalau kamu menyukai nya?" bisik Emon.
"Hah?" Dita malu jika harus mengakui itu.
"Ayo katakan, baby!?" ucap Emon.
"Heem, aku menyukai nya walaupun awalnya sangat sakit," kata Dita yang kini hanya pasrah di bawah kungkungan Emon.
"Maafkan aku! Tapi sakit itu hanya sebentar, sayang! Setelah itu kita akan sama-sama merasakan rasa enak dan nikmat itu," ucap Emon.
"Iya, kamu benar Emon! Rasanya sangat enak seperti klepon. Akan manis saat pecah di dalam," ucap Dita. Emon tersenyum mendengar ucapan Dita.
__ADS_1
"Klepon yah? Aku sangat menyukai klepon. Pecah di dalam. Yah kamu benar, sayang!" kata Emon seraya tetap memainkan peranan nya sebagai pengendali permainan itu.