
Pemutaran film Black Adam telah berakhir, namun Dita belum juga terbangun dari tidur nya. Emon masih sabar menunggu sampai Dita terbangun. Semua penonton yang ada di ruangan studio itu sudah berbaris antri keluar dari ruangan studio film itu. Demikian juga Dora telah keluar dari ruangan itu bersama dengan kekasihnya, Ricardo.
"Dita, Dita sayang! Bangun sayang! Tayangan film nya sudah bubar, sayang! Mau bobok di sini? Enggak mau pulang?" tanya Emon sambil mengusap pundak Dita. Dita mulai membuka matanya. Kini dia mulai menerjab-nerjab matanya.
"Kak Emon! Kok sepi sih? Semua pada kemana, kak? Bukankah tadi ramai studio ini?" ucap Dita kebingungan.
"Filmnya sudah selesai sayang! Orang-orang sudah bubar keluar dari studio ini. Kamu pulas sekali bobok nya. Capek sekali yah, sayang?" kata Emon.
"Huum, enak badannya habis perawatan seluruh badan tadi soalnya," kata Dita.
"Ya sudah, ayo keluar dari ruangan ini. Itu lihat, petugas sudah mau membersihkan ruangan ini," ucap Emon.
Emon menggandeng tangan Dita meninggalkan ruangan studio itu. Namun saat sudah keluar dari studio film itu Emon dan Dita di hadang oleh Dora setelah Dora memotret kebersamaan Dita dengan Emon yang bergandengan mesra.
"Dita!" panggil Dora.
Dita terkejut ketika mendapati kakak nya berasa di tempat itu. Sudah lama Dita tidak bertemu dengan kakak nya setelah Dora kabur dari rumah karena menghindari perjodohan bisnis di mana kabarnya dirinya akan menikah dengan putra mahkota di salah satu perusahaan ternama di negeri itu tetapi pria itu lumpuh dan juga impoten.
"Kak Dora!? Kakak di sini kak? Ayah dan bunda sudah kangen dengan kakak. Aku juga kak? Kakak kemana saat pesta pernikahan itu?Semua mencari kak Dora. Pada akhirnya akulah yang menggantikan kakak sebagai pengantinnya," ucap Dita panjang lebar.
"Tapi kamu sudah enak bukan, bisa menikah dengan laki-laki kaya dan mapan yang merupakan pewaris tunggal di perusahaan ternama? Walaupun dia mungkin saja tidak bisa memberikan keturunan dan membuat kamu hamil. Dan anehnya, kamu sangat tidak bersyukur dengan jalan bersama pria lain. Di belakang suami kamu yang lumpuh itu, kamu tega mengkhianati nya dan berselingkuh. Kamu tahu, Dita? Aku sudah memfoto kamu dengan pria disebelah kamu itu. Aku akan mengadukan nya pada tuan muda Emon. Supaya kamu diceraikan dan di keluarkan dari keluarga terhormat di keluarga besar suami kamu," kata Dora panjang dan lebar. Sampai-sampai urat di lehernya terlihat keluar karena sangat bersemangat dan penuh emosi. Dita mengerutkan dahinya dan kini Dita dan Emon saling berpandangan. Lalu Emon menaikkan kedua bahunya.
"Ayo sayang! Kita tidak perlu meladeni wanita ini? Perutku sudah lapar. Ayo lebih baik kita makan saja dulu," ajak Emon sambil menggandeng tangan Dita menjauh dari Dora. Dora hanya bisa melongo karena tidak digubris oleh Dita dengan Emon.
__ADS_1
"Eh, Dita! Aku belum selesai bicara! Main kabur saja." omel Dora. Ricardo mendekati kekasihnya yang sedang mengomel.
"Ayo sayang! Kita makan dulu! Sudah lapar nih," ajak Ricardo. Dora melebarkan matanya menatap Ricardo.
"Astaga naga! Tidak pacarku dan juga selingkuhan Dita semua nya kelaparan. Ya sudah, ayolah kita susul Dita bersama laki-laki simpanan nya. Aku pun belum selesai bicara dengan nya," kata Dora.
"Hehehe kenapa sih, sayang? Tidak usah ribut gitu dengan adik nya. Bagaimana pun juga Dita sudah menolong kamu menjadi pengantin pengganti. Kalau tidak, kamu akan menikah dengan pria impoten itu. Pada akhirnya aku dan kamu tidak bisa bersama bukan?" ucap Ricardo.
"Aku belum membuat perhitungan dengan adikku itu, nanti kalau dia berselingkuh dan diceraikan dengan suaminya, ayah dan bunda yang repot juga," kata Dora.
"Sudahlah! Kamu dari tadi marah-marah tidak jelas, sayang! Nanti kalori kamu terkuras habis loh, sayang! Ayo kita isi dengan makanan, supaya marah kamu nanti lebih greget lagi," ucap Ricardo. Dora makin manyun bibir nya mendengar candaan kekasihnya.
*****
"Nah rileks dulu di sini sambil makan dan minum minuman segar," ucap Ricardo sambil menyeruput juz buahnya. Sedangkan Dora masih sibuk mengamati kemesraan Dita bersama dengan laki-laki yang Dora pikir merupakan selingkuhan dari Dita.
"Dora sayang! Ayo makan dulu! Nanti saja marahnya. Marah kamu dengan Dita, adik kamu ditunda dulu. Lebih baik kita makan dulu!" ajak Ricardo. Ricardo segera memulai mengeksekusi makanan di piring nya.
"Lihat saja Dita itu, sayang! Dia tanpa malu dan terang-terangan menunjukkan kemesraan di tempat umum. Sedangkan dirinya adalah istri seorang laki-laki dari keluarga terpandang. Apakah Dita tidak takut kalau media dan wartawan mengabadikan perselingkuhan Dita dengan laki-laki lain. Dan pada akhirnya Dita habis sudah masa kejayaannya menjadi istri seorang Sultan," ucap Dora masih saja sewot dengan kehidupan adik kandung nya.
"Bukannya pernikahan Dita dengan pria impoten itu tidak diliput media dan tidak di publikasikan secara umum? Hanya keluarga besar saja, sayang? Jadi Dita masih sangat diuntungkan dengan hal ini dong!" sahut Ricardo.
"Eh, iya ya! Aku sampai lupa kalau saat itu pernikahan kami hanya digelar oleh dua belah pihak keluarga besar saja. Dan belum dipublikasikan secara umum," kata Dora.
__ADS_1
"Itu karena pria impoten itu malu bisa menikah dengan wanita yang sempurna dan cantik. Sedangkan dirinya pria lumpuh yang hanya bisa duduk di kursi roda saja," sahut Ricardo sambil mengunyah makanan nya.
"Sebentar, sayang! Aku akan mendatangi Dita. Rasanya mulut ku sudah sangat gatel ngoceh dengan Dita," kata Dora dan segera bergegas meninggalkan tempat duduk nya serta menghampiri Dita yang sedang makan bersama dengan Emon. Bahkan Emon saat ini sedang menyuapi Dita.
"Eh, astaga Dora! Tidak usah mengajak ribut, sayang!" cegah Ricardo sambil menahan tangan Dora. Namun Dora tetap nekat hendak mendatangi Dita yang sedang suap-suapan dengan Emon.
"Dita! Sini kamu! Aku ingin bicara!" kata Dora sewot sambil menarik tangan Dita. Emon yang melihat sikap kasar Dora menjadi terkejut dan melebar matanya. Namun Emon sementara memberikan kesempatan pada kakak nya Dita untuk bicara dan apa yang akan dia inginkan.
"Ada apa lagi kak Dora? Ayo kak, lebih baik kita gabung di meja yang sama dan kita bareng-bareng makannya. Bagaimana?" kata Dita masih ramah dengan kakak nya.
"Ogah! Aku tidak mau duduk dengan kamu yang suka mengkhianati suami kamu! Lihat saja! Kamu dengan terang-terangan berkhianat dengan suami kamu yang lumpuh dan impoten itu. Sementara kamu berpacaran dengan pria tampan yang tajir itu. Kamu tidak punya malu kah, Dita?" omel. Dora.
"Eh? Kak Dora!? Aku aku tidak selingkuh kok! Aku tidak seperti apa yang dituduh kan oleh kak Dora," sahut Dita.
"Masih berani mengelak yah? Buktinya kamu sudah berkencan, makan bersama, nonton film bersama dan mungkin setelah ini kalian akan menghabiskan malam panjang bersama. Ih benar- benar menjijikkan sekali. Kalau dulu kamu tidak mau menikah dengan pria yang lumpuh itu, kenapa kamu tidak kabur saja seperti aku? Ini kamu malah mengkhianati suami kamu dan membohongi keluarga besar kita dan juga keluarga besar dari suami kamu," kata Dora.
"Hai kamu! Perlu kamu tahu yah! Dia adikku dan dia sudah memiliki suami. Kamu seharusnya sadar diri kalau Dita itu adalah istri orang. Lebih baik kamu putus dengan Dita," tambah Dita sewot dengan Emon.
"Eh??" Emon melongo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Eh ah eh saja kamu! Dasar laki-laki tidak punya malu, pebinor kelas kakap!" umpat Dora.
"Hem, kok jadi tidak nyaman yah makan di restoran ini! Ayo sayang! Kita lebih baik pindah dari restoran ini!" ajak Emon seraya merangkul pundak Dita sembari mencium pipi Dita di depan mata Dora. Mata Dora tentu saja melebar dengan sempurna seolah Emon menghina dan meremehkan dirinya.
__ADS_1
"Tapi, makanan dan minuman aku belum habis, kak!" protes Dita.
"Gak papa, biarkan saja! Nanti kita bisa pesan lagi yang baru yang lebih enak makanan nya dari restoran ini," ucap Emon sambil melenggang bersama dengan Dita. Dora berdiri mematung dan kembali dicueki oleh Emon.