
Di rumah kediaman orang tua Dita.
"Bunda! Kami datang! Ini kami bawakan ayam bakar dan juga iga bakar kesukaan bunda dan ayah. Oh iya, ayah mana bunda?" ucap Dita yang baru tiba bersama dengan Emon dengan membawa banyak makanan. Mereka saling berpelukan dan bersalaman.
"Aduh Dita sayang! Duduk dulu kalian berdua. Ayah masih ada urusan di luar kota mengurus pembukaan cabang perusahaan terbaru di kota itu. Jadi di rumah ada bunda saja. Oh iya, tapi sekarang, ada yang menemani bunda di rumah ini kok. Kakak kamu Dora sudah pulang dan kembali ke rumah," kata bunda Ririn panjang lebar.
"Benarkah? Wah senang sekali kakak sudah kembali. Kenapa saat menelpon saya, bunda tidak memberitahu saya sih?" sahut Dita.
"Itu sengaja bunda lakukan supaya memberikan surprise pada kamu, sayang," kata bunda Ririn.
"Oh bunda! Lalu di mana kakak sekarang?" tanya Dita penuh semangat.
"Kakak kamu Dora masih di kamarnya dan sedang mandi," jawab bunda Dita.
"Kalau begitu biar saya jumpai kakak Dita di kamarnya dulu, bunda," ucap Dita.
"Eh tidak usah sayang! Nanti suami kamu masa tidak ditemani sih! Tunggu saja di sini dan kita siapkan makanan ini. Lalu kita makan bersama-sama. Sebentar lagi kakak kamu Dora juga akan turun bergabung dengan kita," jelas bunda Ririn.
"Oh baiklah kalau begitu! Oh iya, kak Emon nanti akan aku kenalkan kakakku Dora. Dia lebih cantik daripada aku," kata Dita mengakui.
"Oh iya? Tapi bagiku kamu yang paling cantik sayang!" sahut Emon dengan menunjukkan senyuman nya.
__ADS_1
Berjalan dengan langkah gemulai dan dengan pakaian yang seksi, Dora menuruni tangga berjalan mendekati bunda Ririn, Dita dan Emon duduk. Saat mata bunda Ririn dan juga Emon tertuju pada Dora, Dita langsung mengikuti arah mata mereka. Dita tersenyum lebar dan dengan cepat berlari kecil menghambur memeluk kakak nya, Dora.
"Kakak Dora! Ya ampun, cantik sekali kak Dora! Pantas saja kak Dora selalu menjadi rebutan dan idola bagi banyak pria-pria dewasa. Tidak seperti aku," ucap Dita yang kini memeluk kakaknya. Dora tersenyum dan menyambut dengan penuh ketulusan adiknya.
"Kamu bicara apa sih, dik! Walaupun aku cantik namun kamu lah yang lebih beruntung karena bisa menikah dengan seorang pria tampan, kaya raya, mandiri serta merupakan putra mahkota dari keluarga Alexandria yang tentu saja akan mewarisi tahta bisnis keluarga besarnya," ucap Dora sambil melihat ke arah Emon. Emon hanya bisa tersenyum ke arah ibu mertuanya.
"Dora, Dita ayo kalian duduklah! Kita makan bersama sambil berbincang-bincang," ucap bunda Ririn. Keduanya bergegas duduk di kursi makan itu. Tatapan mata Dora selalu mencuri pandang ke arah suaminya Dita.
"Kak Dora, ceritakan padaku selama ini kak Dora kemana saja?" tanya Dita ingin tahu.
Dora kini mulai mengarang cerita dan mulai menunjukkan rasa sedihnya karena gagal menikah dengan tuan muda Emon.
"Sebenarnya saat itu di mana hari kebahagiaan ku untuk melepaskan masa lajang ku itu, aku di culik oleh seseorang pria yang tentu saja sangat tergila-gila dengan aku. Namun dengan pandai nya mengabarkan dan menyebar kan gosip kalau aku kabur dan menghindari pernikahan itu karena aku tidak ingin menikah dengan tuan muda Emon yang dikenal lumpuh serta impoten. Serta kabar yang memberitakan kalau aku kabur karena mencintai kekasihku. Padahal saat itu aku juga diculik. Dan saat aku sadar, aku sudah berada di luar negeri yang tidak memungkinkan aku kabur dan melarikan diri dari tempat itu. Karena aku tidak memiliki uang sepersen pun. Mau tidak mau aku tetap berada di tempat itu dan mengikuti kemauan laki-laki yang menculik ku. Betapa itu sangat membuat aku sedih, Dita," cerita Dora yang tentu saja penuh kebohongan. Dora mengarang cerita palsu yang cukup membuat yakin Dita. Bunda yang mengetahui putri kesayangannya sedang bersandiwara ikut bersedih mendengarkan nya.
"Tapi bunda, dari kejadian itu aku jadi gagal menikah dengan tuan muda Emon. Dan namaku sekarang tercemar karena orang-orang menganggap aku tidak mau menerima perjodohan dengan tuan muda Emon karena tuan muda Emon lumpuh dan impoten," kata Dora. Dita sangat terkejut dengan ucapan kakaknya. Dita menunduk sedih karena dirinya saat ini sebelum nya hanyalah wanita pengganti dalam pernikahannya dengan tuan muda Emon tersebut.
"Jadi, apakah kakak mau menjadi istri tuan muda Emon? Karena dalam hal ini aku sebenarnya bukanlah pengantin wanita nya tuan muda Emon. Aku hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakak Dora. Karena kak Dora saat itu tidak ada di tempat. Sedangkan bunda, ayah dan semua keluarga sudah kebingungan mencari kakak Dora dan ditambah semua nya sudah siap untuk dilangsungkan acara pernikahan di hadapan pendeta" ucap Dita lirih. Emon mulai paham keadaan di rumah itu dan maksud dari Dora dan juga bunda Ririn. Mereka ingin meminta kembali posisi itu di mana seharusnya yang menjadi istri dari Emon adalah Dora. Bukan Dita.
"Aku rela menyerahkan kak Emon untuk kakak Dora. Jika itu lah yang diinginkan oleh Kak Dora," sambung Dita.
Emon diam dan saat ini masih mengikuti alur cerita yang diinginkan oleh kakak Dita dan juga bunda Ririn yang sikapnya seolah-olah baik terhadap Dita. Padahal mereka berdua tidak menyukai Dita dan iri dengan kebahagiaan Dita. Kini Emon mulai mengikuti apa yang diinginkan Dora terhadap dirinya.
__ADS_1
"Kalau kamu menyesal dan ingin menjadi istri ku, aku akan menerima nya. Semua kejadian di hari itu bukanlah kehendak kamu. Kamu yang diculik oleh seseorang dan itu semua nya bukan disengaja karena kamu ingin menghindari perjodohan kita," ucap Emon.
Dita seperti ditikam belati tepat di jantung nya. Dita tidak pernah menyangka jika Emon bisa bicara seperti itu. Dan mau menerima Dora kembali menjadi istrinya. Lalu keberadaan dirinya dianggap apa oleh Emon.Di saat hati Dita benar-benar sudah mencintai Emon. Kini Emon seperti mencampakkan dirinya. Dita menatap ke arah Emon dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Emon pura-pura tidak melihat ke arah Dita. Jika Emon melihat sorot mata sedih dan kecewa itu, Emon bakalan tidak akan tega untuk menyakiti Dita. Padahal yang sebenarnya Emon sendiri juga ingin menjebak Dora.
"Em, eh kak Dora, bunda! Saya permisi sebentar!" pamit Dita. Dita menundukkan kepala nya menyembunyikan rasa sedihnya. Lalu Dita berlari meninggalkan ruangan makan itu dan berlari ke luar rumah. Emon berusaha cuek dengan keadaan itu. Emon tetap mengikuti sandiwara itu supaya bisa menyakinkan Dora dan bunda Ririn kalau dirinya memang mau menerima kembali Dora.
Dora kini mendekati Emon dan berbicara manja dan menggoda.
"Jadi, kak Emon mau kan menerima aku dan memaafkan aku serta menjadikan aku istri kak Emon?" tanya Dora dengan suara yang manja dan menggoda.
"Tentu saja!" sahut Emon.
"Lalu bagaimana dengan Dita?" tanya Dora.
"Dita hanya lah wanita pengganti. Wanita sesungguhnya adalah kamu, Dora. Jadi yang pantas menjadi istriku adalah kamu. Aku akan menikah dengan kamu," kata Emon membuat Dora dan bunda Ririn tersenyum lebar dan penuh kemenangan.
"Bunda, Dora saya harus menyusul Dita terlebih dahulu. Aku akan menyakinkan Dita kalau Dora lah wanita yang seharusnya menjadi istriku. Bukan Dita. Dita hanyalah pengganti. Pengganti harus segera digantikan lagi, bukan?" terang Emon sambil berdiri beranjak dari kursi itu.
"Kak Emon, rasanya sudah tidak sabar menjadi istri kak Emon. Bagaimana kalau besok malam kita berkencan terlebih dahulu untuk lebih mengenal satu dengan yang lain," ucap Dita pelan. Emon mengernyitkan dahinya lalu tersenyum. Kini akhirnya Dora terkena perangkap nya.
"Em, baiklah! Besok malam aku tunggu kamu di hotel berbintang di pinggiran kota," ucap Emon. Dora tersenyum penuh kebahagiaan.
__ADS_1
"Tentu kak! Aku akan datang ke tempat itu! Aku pastikan kak Emon akan senang berkencan dengan aku," sahut Dora.