
Malam ini nyonya Anyelir berada di dalam kamarnya sendirian. Sudah larut malam, suaminya tidak juga kembali ke rumah. Nyonya Anyelir merasakan kegelisahan di hatinya. Dadanya terasa sesak. Dan ini sangat aneh dirasakan oleh nyonya Anyelir.
"Kenapa Licardo belum pulang?? Katanya setelah urusan dengan kliennya selesai, Licardo akan pulang secepatnya. Sudah jam satu, suamiku belum kembali juga. Apakah aku harus menghubungi Licardo? Tapi bagaimana kalau Licardo marah jika aku menelpon nya?" gumam nyonya Anyelir.
Nyonya Anyelir menekan nomer putra nya, Ricardo. Dia ingin memastikan kalau Licardo, suaminya baik-baik saja.
"Iya, ma!? Ada apa ma, sudah sangat larut kenapa menelpon ma? Apakah ada sesuatu?" ucap Ricardo di seberang sana.
"Maaf, Ricardo sayang!? Maaf, jika mama menghubungi kamu, nak? Apakah kamu sudah tidur?" kata nyonya Anyelir.
"Kebetulan belum, ma! Ini malah masih memeriksa laporan di email masuk. Ada apa, yah ma?" ucap Ricardo.
"Itu, papa kamu kok belum pulang yah, nak!? Sebenarnya papa kamu ada di mana sekarang? Apakah masih bersama kliennya?" kata nyonya Anyelir.
"Hehe, mama ini ada-ada saja. Mana ada jam segini papa bicara soal bisnis dengan kliennya. Yang ada papa sudah istirahat, ma!?" sahut Ricardo.
"Istirahat, yah? Di mana papa kamu istirahat, nak? Mama sangat mengkhawatirkan papa kamu. Papa kamu bilang, katanya dia akan pulang cepat setelah urusan nya dengan klien selesai. Tapi ini kenapa papa belum pulang?"ucap nyonya Anyelir.
" Sudahlah, ma!? Lebih baik mama tidur dan istirahat saja! Besok papa juga pulang ke rumah. Oke?" sahut Ricardo.
"Tapi papa kamu tidur di mana kalau tidak pulang seperti ini?" tanya nyonya Anyelir.
"Papa kalau sudah kemalaman seperti ini biasanya tidur di hotel, ma! Kalau tidak tidur di kantor," jawab Ricardo bohong.
"Oh, begitu! Sebenarnya mama mau menelpon papa kamu. Tapi mama takut kalau mama malah dimarahi oleh papa kamu kalau menelpon duluan. Takutnya papa kamu masih sibuk dengan kerjaan nya," kata nyonya Anyelir.
"Ya sudah, mama lebih baik jangan pedulikan papa. Percaya deh sama aku kalau papa baik-baik saja. Sekarang mama tidur dan istirahat yah, ma! Ricardo sayang dengan mama. Ricardo tidak mau mama sakit karena kurang istirahat," ucap Ricardo.
"Mama juga menyayangi kamu dan Lilyana. Jangan lupa weekend kalian ke rumah mama dan menginap di rumah mama yah, sayang?!" kata nyonya Anyelir.
"Baik, ma!" sahut Ricardo. Nyonya Anyelir meletakkan ponselnya kembali setelah menelpon putra nya. Paling tidak hatinya sedikit lega setelah menghubungi Ricardo.
Sementara itu Ricardo yang saat ini masih berkutat dengan laptopnya kini mulai ikut memikirkan kegelisahan yang dialami oleh mama nya. Tentu saja Ricardo sangat tahu kemana papa nya berpulang kalau tidak kembali ke rumah utama. Papa nya sudah diduga kalau saat ini sedang ke rumah wanita simpanan nya.
"Sisca sialan! Sejak dulu dia masih saja menjerat papa ku. Apa bagusnya Sisca di mata papa ku sih? Apa pakai ilmu pelet hingga papa selalu saja mengurusi wanita itu," gumam Ricardo.
__ADS_1
"Sepertinya besok aku harus bertindak! Kasihan mama selalu saja dibohongi dan dikhianati oleh papa," gumam Ricardo.
Ricardo menutup laptopnya lalu bergegas mendatangi Lilyana yang sudah berbaring di atas ranjang. Dengan lingerie berwarna merah, Lilyana seperti sudah siap jika suaminya menginginkan nya. Namun sejak tadi memang Ricardo masih fokus dengan kerjaan nya. Bahkan sampai jam satu dini hari pun, baru menyudahi kegiatan nya.
"Lilyana sudah tertidur lelap. Kasihan jika aku mengganggu nya. Lebih baik besok pagi saja aku meminta jatahnya, hehehe," gumam Ricardo.
Kini Ricardo mulai merebahkan tubuh nya di samping istrinya yang terlihat sudah tertidur pulas. Ricardo memeluk Lilyana tanpa berniat menggangu nya. Namun ternyata Lilyana membuka matanya dan melihat Ricardo seraya tersenyum manis menatap suaminya.
"Hem, kamu sudah selesai dengan kerjaan kamu, kak?" tanya Lilyana dengan suara khas seperti bangun tidur.
"Sudah, sayang! Maaf, aku jadi membangunkan kamu. Ayo kita istirahat dan bobok. Besok pagi kita bangun pagi dan kembali menjalani aktivitas," ajak Ricardo.
Namun Lilyana hanya tersenyum seraya mengusap wajah Ricardo. Entah siapa yang lebih dahulu memulainya, akhirnya keduanya saling menempelkan bibir mereka.
Malam semakin larut. Dingin AC di kamar itu semakin terasa dingin. Kini dua insan berlawanan jenis itu mulai melakukan kegiatan ranjang yang saling menghangatkan. Seharusnya mereka istirahat dan tidur. Namun mereka akhirnya bekerja keras hingga mengeluarkan peluh keringat. Padahal Ac di ruangan itu tetap hidup. Namun badan mereka seolah lengket karena kegiatan malam yang menguras tenaga.
*****
Saat jam istirahat di kantor, Ricardo sengaja mendatangi rumah wanita simpanan nya papa yaitu Sisca. Kebetulan papa nya sendiri setelah bermalam di rumah Sisca, langsung pergi meninjau pabrik yang letaknya di pinggiran kota. Sedangkan Ricardo sendiri di kantor pusat.
Benar! Setelah memencet bel di rumah itu, wanita dengan penampilan seksi itu keluar membukakan pintu. Tentu saja dia terkejut dengan kedatangan Ricardo.
"Ricardo?? Kamu??" ucap Sisca.
"Kenapa terkejut??" sahut Ricardo.
"Eh, em tidak ada! Aku hanya tidak menduga saja kalau kamu akan datang ke rumah ini. Hem, aku bikinkan kopi dulu buat kamu," kata Sisca.
"Tidak usah! Aku khawatir jika kamu akan meracuni aku. Atau yang paling parah, kamu akan mengguna- guna aku supaya jatuh cinta dengan mu seperti papa," sindir Ricardo.
"Eh?? Apa maksud kamu?" sahut Sisca sambil berkacak pinggang.
"Maksudnya kamu ini selalu saja melakukan berbagai cara untuk membuat papa ku menjadi tergila-gila dengan kamu. Katanya kamu wanita modern dan berkelas. Tapi nyatanya suka sekali merebut suami orang. Dan lebih parah lagi, kamu datang ke orang pintar untuk membuat papa ku menyukai kamu dan membuat papa ku tidak menyukai mama," kata Ricardo.
"Hehehehe kamu ini aneh Ricardo!? Papa kamu tentu saja akan lebih memilih aku daripada mama kamu itu. Aku lebih pandai membuat senang laki-laki. Tidak seperti nyonya Anyelir, mama kamu itu. Jangan menyalahkan aku jika papa kamu sering pulang ke rumah ini dan mendatangi ku. Seharusnya kamu bilang dengan mama kamu itu supaya berubah agar suaminya lebih betah dengan dirinya. Ajari saja mama kamu itu bagaikan caranya menyenangkan seorang laki-laki," ucap Sisca.
__ADS_1
Plak.
Plak.
Ricardo seketika menampar pipi Sisca sampai dua kali. Sisca seketika memegang pipi nya yang merah.
"Kamu?!" ucap Sisca dengan mata yang membulat sempurna. Tentu saja dia sangat marah dengan sikap Ricardo yang berani menamparnya.
"Apa? Sekali lagi aku dengar kamu menghina mama ku, aku pastikan akan aku cakar muka kamu itu supaya tidak ada pria laki yang menyukai kamu," ancam Ricardo.
Ricardo segera keluar meninggalkan Sisca. Namun sebelum dia benar-benar pergi dari rumah itu, Ricardo berujar.
"Tinggalkan papa! Atau aku akan menyebarluaskan video mesum kamu saat bersama dengan Roy, laki-laki muda yang diam-diam datang menemui mu di rumah ini," ancam Ricardo.
"Hah, apa?? Kamu?? Darimana kamu tahu itu? Dan juga mendapatkan video kami?" ucap Sisca terlihat panik dan takut dengan ancaman Ricardo.
Ricardo tidak memperdulikan teriakan Sisca yang memanggil namanya. Ricardo segera meluncur meninggalkan rumah itu.
"Sepertinya aku harus memberikan video mesum antara Sisca dengan Roy pada papa. Papa harus melihat semua nya. Wanita yang selama ini dia bangga-bangga kan ternyata hanyalah memanfaatkan papa saja,"
*****
Sementara itu Emon bersama dengan Evan berada di mansion milik tuan Andika. Mereka berdua sengaja datang ke rumah itu untuk memastikan bahwa Dora baik-baik saja. Walaupun kedatangan Ervan dan Emon diawali dengan pembicaraan bisnis dan kerjasama.
"Sebelumnya saya pribadi minta maaf atas tindakan istri saya, Dora yang telah berani menculik putra anda, tuan Emon. Saya sebagai suami merasa gagal, tidak bisa mendidik istri saya itu," ucap tuan Andika.
"Sudahlah, tuan Andika! Kami sudah melupakan kejadian itu. Sekarang yang terpenting, anda dan nyonya Dora baik-baik saja dan tidak perlu memperpanjang soal masalah ini," kata Emon.
"Sebentar lagi, aku akan menceraikan Dora, tuan Emon. Karena bagi saya, kesalahan Dora itu sangat fatal dan tidak bisa dimaafkan lagi," ucap tuan Andika. Ervan dan Emon saling berpandangan.
"Tapi jika demikian keputusan anda tuan Andika, saya harap anda jangan menyakiti nyonya Dora. Bahkan menghukum nya dengan cara anda. Saya sebagai adik iparnya tidak akan rela jika anda menyakiti nyonya Dora. Jika hal itu terjadi, saya juga bisa melaporkan anda pada pihak berwajib atas penganiayaan terhadap nyonya Dora," ucap Emon penuh ancaman.
Andika yang mendengar nya hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar.
"Baiklah! Saya akan memulangkan Dora ke rumah orang tua nya. Dan secepatnya akan saya urus perceraian kami," sahut tuan Andika akhirnya.
__ADS_1
"Itu lebih baik, tuan Andika! Jika anda sudah tidak menyukai nyonya Dora lagi," kata Emon dan dibenarkan oleh Ervan.