
Cindy diancam oleh Dora dan bunda nya Dora supaya tidak menyampaikan kebenaran bahwa bayi yang dilahirkan Dora telah meninggal dunia. Cindy tentu saja sangat ketakutan dengan ancaman dua wanita beda generasi itu.
"Awas saja kalau Andika mengetahui kabar bahwa bayiku telah mati, itu semua karena mulut kamu. Dan aku tidak akan segan-segan membuat hidup kamu susah dan bahkan orang tua kamu akan aku buat menderita," ancam Dora. Cindy tentu saja sangat takut dengan ancaman itu. Lebih baik Cindy bungkam daripada hidup nya dan keluarganya terancam.
"Nyonya muda, saya tidak akan mengatakan yang sebenarnya, nyonya!" sahut Cindy.
"Bagus! Lebih baik kamu berhenti bekerja dan menghilang dari kehidupan kami. Dan aku akan memberikan uang pesangon yang besar untuk kamu," kata Dora.
"Tapi, nyonya! Tidakkah nyonya membiarkan saya tetap bekerja di perusahaan tuan Andika. Saya janji tidak akan membocorkan rahasia sebenarnya bahwasanya bayi nyonya telah meninggal dan bayi yang saat ini di dekat anda sebenarnya bukanlah bayi nyonya muda," ucap Cindy.
__ADS_1
Dora beserta bunda nya saling berpandangan.
"Baiklah! Aku pegang janji kamu. Jika kamu ingkar janji, hidup kamu beserta keluarga kamu akan hancur," sahut Dora penuh ancaman.
"Beruntung selisih anak Dita dengan anak kamu lahir hanya satu bulan. Jadi ini tidak terlalu mencolok perbedaan nya. Anak Dita ini sangat tampan sekali, seperti ayahnya, Emon Alexandria," ucap Dora.
"Hah? Bagaimana ini jika Andika melihat wajah bayi ini yang tidak ada kemiripan dengan wajahnya? Bunda takut jika Andika akan teliti melihat wajah bayi ini," sahut bunda nya Dora.
"Ah syukur lah! Bunda menjadi lega mendengar nya," sahut bunda nya Dora.
__ADS_1
*****
Di tempat lain Dita menangis histeris dengan kehilangan bayinya yang baru saja berusia empat puluh hari. Bahkan baby sitter nya pergi tanpa jejak dengan membawa bayi mungilnya. Tentu saja Emon Alexandria yang mendengar kabar itu saat bekerja di kantor menjadi sangat marah dan bingung. Ervan yang asisten pun segera diperintahkan untuk melihat rekaman CCTV-nya di mansion pribadinya.
"Sialan! Berani sekali baby sitter itu membawa kabur putra ku." ucap Emon seraya mengepakkan tangannya.
Emon tentu saja saat ini panik. Dia segera Cepat-cepat pulang untuk menenangkan istrinya, Dita. Emon tidak ingin Dita stress dengan kejadian penculikan putranya.
"Dita sayang!?" panggil Emon saat dirinya sudah tiba di rumah. Dita menghambur memeluk suaminya.
__ADS_1
"Kak Emon! Putra kita, putra kita... hiks hiks.. Baby sitter itu telah membawa kabur putra kita. Dia telah menculik putra kita, kak Emon! Maafkan aku, kak Emon! Aku benar-benar ibu yang sangat teledor. Aku bahkan enak-enak tidur siang. Dan saat aku terbangun, pengasuh bayi itu telah membawa lari putra kita tanpa ada orang yang mengetahui nya," urai Dita dengan menangis.
"Kamu tidak bersalah, sayang! Aku akan mengumpulkan penjaga keamanan di rumah ini. Kenapa bisa baby sitter itu pergi dengan membawa bayi kita. Kamu tenang dulu yah, sayang! Ervan saat ini sudah melihat rekaman CCTV-nya saat kejadian tadi siang di rumah ini. Kita akan segera menemukan jejak penculik putra kita," ucap Emon Alexandria seraya memeluk Dita dengan penuh kelembutan.