WANITA PENGGANTI CEO

WANITA PENGGANTI CEO
BAB 8


__ADS_3

Ervan dengan tergesa-gesa memunguti celana dan kemejanya yang dilempar di sembarang tempat saat mereka baru memulai adegan panas tadi bersama Melisa. Ervan harus segera meluncur ke tempat meeting di mana Sandy dan juga klien-klien nya menunggu nya. Melisa terlihat masih di atas tempat tidur melihat Ervan sudah gugup mengenakan pakaiannya.


"Sayang! Setelah urusan kamu selesai, segera kemari lagi yah Ervan!" pinta Melisa manja. Kini Melisa turun dari tempat tidur mewah itu dengan posisi hanya ditutupi dengan selimut putih. Melisa memeluk Ervan dari belakang punggungnya. Sedangkan Ervan sudah mulai menyisir rambutnya supaya terlihat lebih rapi dan menyambar semprotan parfum maskulinnya.


"Ervan, kamu yakin tidak mandi dulu setelah kita bermain SmackDown?" ucap Melisa sambil mencium kemeja Ervan yang sudah wangi.


"Tuan muda Sandy akan semakin marah padaku jika aku mengulur waktu. Oke Melisa, aku pergi dulu. Jangan lupa nanti malam kita akan sambung lagi. Oke?" kata Ervan seraya mengecup bibir Melisa setelah membalikkan badannya hingga mereka saling berhadap-hadapan.


Ervan dengan langkah lebarnya segera keluar dari apartemen itu dan meninggalkan Melisa sendiri di sana. Dengan kecepatan tinggi, Ervan menjalankan mobil nya ke tempat hotel yang sudah disebutkan oleh Sandy.


"Tuan muda Sandy ini benar-benar sangat merepotkan. Katanya aku disuruh libur terlebih dahulu ketika tuan muda Sandy memerankan tuan muda yang tampan tanpa ditutupi topeng. Lagi pula, jadi orang kenapa ribet seperti ini sih? Memerankan dia kepribadian di mana yang satu laki-laki lumpuh dan impoten dan yang kedua pria Casanova yang digandrungi banyak wanita-wanita cantik. Haduh!" gumam Ervan.


Semenjak di ruangan meeting, Sandy duduk dan menyimak dengan serius, satu kliennya presentasi dengan penawaran kerjasama yang saat ini sedang diajukan. Tidak ada Dita di sana. Dita saat ini menunggu di kamar hotel sampai Sandy selesai dengan urusan dengan beberapa orang-orang penting di perusahaan nya.


Setengah jam berlalu, akhirnya Ervan tiba dan masuk ke ruangan itu. Ervan tanpa rasa bersalah segera duduk di ruangan tersebut di samping Sandy. Sandy menyodorkan berkas-berkas proposal dari beberapa klien-klien yang ingin mengajukan kerja sama kembali. Dengan berbisik, Sandy mendekati telinga Ervan.


"Aku sudah jenuh dengan presentasi mereka. Kau dengarkan saja apa yang menarik dari pengajuan Proposal yang mereka sodorkan. Aku akan beristirahat di kamar 077. Ada istriku yang sudah lama menunggu. Setelah semuanya selesai, segera laporkan saja kepada ku dan pastikan salah satu dari mereka yang terbaik dan memiliki prospek yang menguntungkan dan menjanjikan bagi perusahaan kita," bisik Sandy dan segera berdiri.


"Tapi tuan muda!" protes Ervan yang seperti nya keberatan. Namun kedua mata Sandy sudah melotot dengan sempurna ke arah Ervan.


Ervan segera membaca sekilas proposal-proposal yang tadi di sodorkan oleh Sandy. Kini dia mulai mengerti jika beberapa klien-klien yang menyodorkan proposal kerja sama tersebut memang benar-benar membosankan.


Sandy melangkah keluar dan segera menuju ke kamar 077 di mana Dita sudah menunggu dirinya. Kamar 077 tidak jauh dari ruangan meeting. Sandy segera menempelkan kartu itu dan terbukalah pintu kamar itu.

__ADS_1


"Tuan muda Sandy!" ucap Dita terkejut tiba-tiba saja Sandy masuk ke kamar itu dan memeluk dirinya dari belakang. Sandy mencium wangi parfum Dita yang membuat dirinya tenang.


"Wangi!" bisik Sandy.


"Eh, tuan muda Sandy! Lepas!" Dita berusaha melepaskan pelukan Sandy namun tangan kokoh dan kuat Sandy begitu kuat memeluk tubuh mungilnya.


"Jangan menolaknya!" bisik Sandy. Kembali irama jantung Dita berdebar dengan hebat ketika Sandy mulai mengecup lehernya yang putih jenjang.


*****


Sandy masih diposisi yang sama memeluk Dita dari belakang. Dita memejamkan matanya saat bibir dingin itu menempel di lehernya. Kedua matanya terpejam merasakan sensasi aneh yang bagi Dita ini adalah pertama kali bagian tubuh nya yang sangat peka terhadap rangsangan itu disentuh dengan bibir orang. Bahkan dia adalah seorang laki-laki dewasa.


Tidak berhenti di sana, Sandy kini mengecup pundak Dita yang kini terbuka lantaran baju dengan bahan kaos nya itu diturunkan kan di bagian pundak Dita.


Dita melenguh merasakan bibir dingin Sandy yang benar-benar lembut memanjakan dirinya.


Sandy membalikkan tubuh Dita dan kini keduanya saling berhadap-hadapan. Sorot mata Dita sudah redup penuh minat. Mungkin saja irama jantung nya sudah berdebar kencang tidak karuna. Dagu lancip itu diangkat Sandy dan kembali bibirnya ditempelkan ke bibir merah Dita. Tentu saja Dita membulat matanya karena kembali bibir dingin itu menyentuh bibir Dita. Bahkan kini dengan nakal sedikit menggigitnya supaya Dita membuka mulutnya.


"Uh, sakit tuan!" keluh Dita akhirnya bibirnya terbuka. Kesempatan itu tidak di sia-sia kan oleh Sandy untuk mengabsen dalam mulut Dita. Bahkan dibelit dan dihisapnya lidah Dita sampai ciuman liat itu terjadi dan berkepanjangan. Namun sial, Tiba-tiba saja suara ketukan pintu mengacaukan adegan romantis yang sebenarnya bisa menuju ke jembatan surga dunia.


Tok.


Tok.

__ADS_1


Tok.


Tok.


Sampai beberapa kali suara ketukan pintu itu terdengar. Namun Sandy tetap memainkan bibir manis Dita tanpa melepaskan nya. Dita sedikit mendorong pelan dada Sandy supaya melepaskan ciuman itu. Namun Sandy kini menahan tengkuk Dita supaya tidak menjauh darinya. Akhirnya Sandy menghentikan nya lantaran Dita menggigit dengan keras bibir Sandy hingga berdarah.


"Sial! Aduh!" umpat Sandy seraya menahan pedih di bibirnya.


"Ma.. maaf tuan muda! Saya.. saya tidak sengaja!" alasan Dita ada rasa takut di pancaran matanya.


"Tidak sengaja? Bahkan kamu membuat bibir ku bengkak dan berdarah," protes Sandy marah.


Kembali ketukan pintu itu terdengar kembali. Sandy segera membuka kan pintu hotel itu dengan hati yang dongkol.


"Siapa sih? Kurang ajar sekali mengganggu kesenangan ku?" ucap Sandy seraya membukakan pintu kamar hotel itu.


Pintu kini terbuka dan wajah tidak berdosa kini terpampang nyata di raut wajah Ervan. Tentu saja. Sandy membulat matanya dengan sempurna.


"Kamu, Ervan! Kenapa kemari, hah? Mengganggu kesenangan ku saja," kata Sandy seraya mengusap bibirnya yang bengkak dan merah. Ervan melihat Sandy hanya bisa meringis cekikikan.


"Maaf tuan muda! Lagi nanggung yah? Satu sama kalau begitu tuan muda," ucap Ervan tanpa dosa.


"Satu sama gundul kamu itu! Bahkan aku belum sempat menyentuh nya. Baru juga menyentuh bibirnya," kata Sandy jujur. Ervan menahan tawanya.

__ADS_1


"Maaf, bos! Saya hanya menyampaikan hasil meeting tadi. Dan saya rasa perusahaan FFF lah yang menarik dalam menawarkan kerjasamanya. Ini akan menguntungkan kedua belah pihak," terang Ervan langsung ke intinya.


"Baiklah! Hari ini kita akan melakukan kontrak dan penandatanganan. Dita, ikut aku!" ucap Sandy seraya menyambar Dita keluar dari kamar hotel itu. Dita tanpa perlawanan mengikuti ajakan Sandy untuk menemui klien-klien nya. Ervan tersenyum lebar sambil mengikuti langkah kedua pasangan aneh itu di belakangnya.


__ADS_2