
"Ervan, segera atur segalanya untuk besok malam di kamar 555 hotel langganan ku," perintah Emon.
"Siap tuan muda!" sahut Ervan sang asisten Emon yang setia.
*****
Dita terlihat menitikkan air mata nya. Kesedihan dan rasa sesak di dada nya saat ini benar-benar menyiksanya. Dita sadar bahwasanya dirinya adalah wanita pengganti. Wanita tuan muda Emon yang dijodohkan sesungguhnya adalah kakaknya Dora.
Emon mendekati Dita yang saat ini sedang menangis dan duduk di bangku kayu yang terletak di taman. Emon memberikan sapu tangan pada Dita untuk mengeringkan air matanya.Dita malas mengambil tisu itu. Kini Emon lah yang kini mengusap air mata Dita.
"Maafkan kan aku Dita! Aku tidak bermaksud menyakiti hati kamu. Kamu tahu? Aku sebenarnya tadi hanya berpura-pura saja mengatakan semua itu pada kakak mu. Aku tidak mungkin semudah itu melepaskan berlian hanya demi sebuah permata palsu," ucap Emon. Kini Emon meraih pergelangan tangan Dita dan menggenggam tangan itu.
"Kamu berbeda dengan Dora, kakak kamu. Kamu sangat tulus mencinta aku. Sedangkan Dora? Ah sudahlah! Sekarang kamu jangan bersedih yah, sayang! Yang tadi itu aku hanya ingin mengetahui apa rencana kakak kamu dengan bunda kamu itu. Aku tidak pernah menyangka jika mereka berdua tidak benar-benar menyayangi kamu. Mereka selalu iri dan menyingkirkan kamu dari aku. Aku tidak akan meninggalkan kamu, sayang. Karena kamu adalah istriku. Wanita yang membuat aku berubah ke hal yang lebih baik," ucap Emon sambil mencium punggung tangan Dita.
"Sekarang tersenyum dong! Jangan menangis," kata Emon lagi sambil mencolek hidung Dita.
__ADS_1
"Kakak jahat! Aku pikir apa yang kakak katakan itu semua nya benar! Dan aku merasa seperti akan disingkirkan oleh kakak setelah kakak bertemu dengan kak Dora," ucap Dita.
"Hehehe, maaf sayang! Aku juga harus total dalam berakting. Seperti apa yang sudah mereka lakukan. Bunda dan kakak kamu sangat pandai bersandiwara. Bahkan kakak kamu Dora itu bisa-bisa nya mengarang cerita kalau dia di culik saat hari dimana pernikahan itu terjadi. Sedangkan kita pernah bertemu mereka saat mereka nonton film di studio XXI bersama dengan pacarnya, Ricardo. Aku tentu saja tahu Ricardo, tuan muda dari keluarga besar Licardo," ucap Emon.
Emon memeluk lengan Dita. Dita kini sudah bisa tersebut dengan bujukan Emon.
"Tapi kakak Emon beneran tidak akan meninggalkan aku kan? Terus kenapa tadi kakak seperti menjanjikan kalau mau menerima kak Dora kembali?" tanya Dita.
"Tidak, tidak sayang! Itu hanya bohong. Aku hanya memancing kakak kamu dulu supaya masuk perangkap dan aku akan membuat kakak kamu itu sadar. Bahkan aku pun akan membuat tuan muda Ricardo tahu kalau kekasihnya itu tidak sebaik yang ia kira," kata Emon.
"Tidak, tidak, tidak seperti itu maksudnya! Hanya saja aku ingin memberikan pelajaran saja pada kakak kamu itu. Supaya ke depannya dia lebih menghargai pasangan nya. Tidak mudah berpaling dari orang yang lebih tampan, kaya dan sebagainya," kata Emon.
"Hem, yang aku dengar tuan muda Ricardo sudah memiliki segala-galanya. Tapi kenapa kak Dora masih ingin mengejar kakak?" sahut Emon.
"Itulah, kamu harus tahu itu sayang! Suami. kamu ini memiliki daya pikat dan pesona yang bisa mengalahkan semua pria-pria di bumi ini," kata Emon bercanda. Dita seketika menjulurkan lidahnya ke arah suaminya itu.
__ADS_1
"Hehehe, ayo kita pulang dulu! Aku ingin bermanja-manja dengan kamu," ajak Emon seraya menarik tangan Dita dan mengajak nya masuk ke dalam mobilnya.
"Eh, kakak! Kita pamitan dulu dengan bunda dan kak Dora sebelum pulang," kata Dita sambil menahan tangan Emon yang menarik nya menuju mobil.
"Apa itu penting? Ayolah sayang! Aku rasa mereka tidak membutuhkan kamu berpamitan kepada mereka," ucap Emon.
"Tapi, kak?!" kata Dita.
"Percaya deh dengan suami kamu ini! Nanti kamu dibikin nangis lagi. Aku gak mau loh melihat kamu nangis dan bersedih lagi," ucap Emon.
"Janji gak nangis dan sedih!" sahut Dita.
"Huh, ya sudahlah! Ayo cepat sana pamitan sama bunda dan kakak kamu yang pura-pura baik dengan kamu itu!" kata Emon.
"Sama kak Emon dong, pamitan nya," rengek Dita manja. Emon menarik nafasnya, akhirnya mau tidak mau menuruti apa yang diminta oleh Dita. Padahal sebenarnya Emon sudah sangat malas jika harus berhadapan dengan bunda Ririn dan juga Dora.
__ADS_1