
Salah seorang siswa langsung terkapar setelah berusaha menghajar Rendy. Melihat temannya terkapar sang pemimpin melangkah mendekati Rendy.
Lelaki itu menempelkan tangannya di bahu Rendy, akan tetapi Rendy langsung menepisnya.
Ia beranjak dari duduknya dan berdiri.
"Selama aku ada di sini, tak akan ku biarkan siapapun bertindak sewenang-wenang apalagi merundung siswa lainnya," ucap Rendy membuat pemuda itu seketika tertawa mendengarnya.
"Jangan bermimpi Bro, sampai kapanpun hal seperti itu akan tetap ada karena itu sudah menjadi budaya," jawab Shane
"Kalau begitu aku akan menghapusnya,"
"Coba saja kalau bisa," Shane menyeringai seolah meragukan Rendy
"Dimulai dari pengkhianat seperti dirimu," ucap Rendy kemudian melepaskan tendangan melintang kearahnya hingga tepat mengenai sisi kiri kepalanya.
*Bruugghhh!!
Melihat Shane seketika ambruk hanya dengan sekali tendangan membuat anak buahnya seketika mundur saat Rendy menatap mereka satu persatu.
"Aku tidak punya urusan dengan kalian, jadi jika tidak mau bernasib sama seperti Shane sebaiknya kalian pergi dan kembalilah belajar," ucap Rendy kemudian berlalu pergi
Pemuda itu menuju ke toilet untuk membersihkan wajahnya, "Semoga saja semuanya bisa berubah," ucapnya kemudian mengusap wajahnya.
Saat ia kembali ke kelas, seorang guru tengah mengajar di kelasnya.
Rendy segera masuk dan duduk di kursinya, selama berada di sekolah elite itu baru kali ini Rendy mendengarkan guru mengajar.
"Jadi seperti ini para guru mengajar di sekolah ini, menarik, tapi sayangnya aku tak bisa mengerti apa yang dijelaskan, andai saja ada translator," gumam Rendy kemudian merebahkan kepalanya di meja
Pemuda itu perlahan membuka matanya saat mendengar suara berisik teman-temannya yang sibuk berdiskusi.
Saat ia menatap sekelilingnya tak seorangpun mau mengajaknya bergabung dalam kelompoknya.
Sang guru kemudian menghampirinya dan menyuruhnya untuk membasuh mukanya.
"Sebaiknya cuci muka mu dulu, setelah itu temui Bapak di ruang guru,"
"Baik," jawab Rendy kemudian berlalu meninggalkan ruang kelasnya
Saat ia melewati Selasar sekolahnya, tidak ada seorangpun siswa di tempat itu. Semuanya tampak sepi tak seperti biasanya.
"Kenapa mendadak sepi begini, rasanya aneh aja bila terbiasa melihat Perundungan di sepanjang Selasar kini sepi bak kuburan. Apa Shane adalah pemimpin terakhir di sini, apa tidak ada yang berani muncul lagi setelah mereka tumbang???"
__ADS_1
Meskipun ada rasa aneh yang membuat rasa penasarannya mulai muncul namun Randy tak menaruh curiga. Ia berpikir mungkin itu karena para pembully mulai merasa takut setelah melihat apa yang terjadi dengan Dev dan kawan-kawannya yang mulai di ciduk polisi satu persatu.
Bahkan Narendra kini tak bisa membantunya saat semua bukti dan para saksi mulai mau berbicara.
"Apa kau puas setelah mengacau seperti ini?"
Rendy membalikkan badannya dan melihat sosok pria berdiri dibelakangnya.
"Tentu saja belum, aku baru puas jika sekolah ini berjalan seperti sekolah lain pada umumnya dan tidak ada lagi kekerasan di sini," jawab Rendy
"Jangan terlalu berambisi untuk merubah tradisi yang sudah mendarah daging karena itu terlalu beresiko. Dan kau tahu apa akibatnya jika berusaha mengubah sebuah tradisi?" tanya pria itu
"Aku tidak peduli, yang jelas aku tidak bisa membiarkan penindasan di depan mataku. Aku bukan orang yang cuek dan membiarkan kedzaliman terjadi di depanku," jawab Rendy
"Tapi itu sangat berbahaya, bukan hanya kau yang akan menanggung semua akibatnya tapi semua siswa di sekolah ini,"
*Deg!!
Rendy menghampiri pria itu dan menatapnya tajam.
"Sepertinya kau tahu banyak tentang kejadian seperti ini, aku harap kau juga tidak diam saja. Karena kejahatan semakin merajalela lela karena diamnya orang-orang seperti dirimu. Setidaknya lakukan sesuatu untuk menghentikan kedzaliman yang ada di depanmu, jika kau tidak mampu menghentikan dengan kekuatan mu setidaknya kau bisa menggunakan mulutmu, atau hatimu," jawab Rendy kemudian segera pergi meninggalkan lelaki itu.
Ia segera ke ruang guru untuk menemui guru matematika yang mengajar di kelasnya.
Rendy segera menarik kursi dan duduk didepannya.
Lelaki itu kemudian memberikan beberapa buku modul pembelajaran kepadanya.
"Pasti tidak mudah bagimu untuk mencoba beradaptasi di sekolah ini, sebaiknya mulai sekarang selain melayangkan tinju mu kepada musuh-musuh mu kau juga harus rajin membaca buku-buku ini agar bisa tetap bertahan di sini. Karena semua usahamu untuk merubah image sekolah ini sebagai sekolah tanpa kekerasan akan percuma jika kemudian kau pergi meninggalkan sekolah ini. Karena aku yakin semuanya akan kembali seperti semula," ucap pria itu
Rendy membuka lembar demi lembar buku itu sembari sesekali menatap sosok guru muda itu.
"Dari semua guru di sekolah ini hanya kau yang peduli denganku,"
"Sebenarnya semua guru selalu peduli dengan siswanya, hanya saja cara mereka dalam mengungkapkannya berbeda. Aku sangat menyukaimu karena kau adalah siswa yang pemberani. Tapi keberanian saja tidak cukup kau juga harus punya otak yang encer agar bisa bertahan di sekolah ini. Karena sekolah ini hanya membutuhkan siswa yang cerdas bukan pandai berkelahi," terang lelaki itu
"Apa aku boleh minta nomor ponselmu?" tanya Rendy
"Memangnya untuk apa, lagipula aku yakin kau tidak akan pernah menghubungi ku,"
"Tentu saja untuk bertanya jika aku ada kesulitan belajar," jawab Rendy membuat pria itu seketika menertawakannya
"Kenapa Bapak tertawa memangnya ada yang lucu?"
__ADS_1
"Lucu saja kalau ucapan itu keluar dari mulut siswa pemenang lomba olimpiade matematika," jawab pria itu seketika membuat bibir Rendy langsung mengatup sempurna
"Tapi aku juga seorang manusia biasa yang punya kekurangan jadi tidak salah bukan jika aku sedia payung sebelum hujan," jawab Rendy
"Tentu saja," jawab lelaki itu kemudian memberikan nomor ponselnya kepada Rendy.
************
Siang itu Rendy sengaja mendatangi kosan Barra untuk beristirahat karena sore harinya ia harus mengikuti ekskul futsal.
Rendy terkesiap saat melihat Barra tengah membereskan barang-barangnya.
"Mau kemana lo, kenapa lo membereskan semuanya?"
"Semuanya sudah selesai jadi aku juga harus kembali bersekolah, gak mungkin kan gue izin sampai sebulan. Aku rasa seminggu sudah cukup," jawab Barra
"Tapi urusan kita belum selesai, tapi ya sudahlah jika kamu memang harus kembali. Biar aku yang akan menyelesaikan sisanya," jawab Rendy
"Maafkan aku karena tak bisa membantumu lagi,"
"Jangan begitu, lagipula kau sudah banyak membantu dan aku sangat bersyukur karena punya teman seperti mu," jawab Rendy
"Btw kamu mau balik ke Jogja kapan?" tanya Rendy
"Harusnya sih jam empat sore ini, tapi aku masih harus menunggu seseorang," jawab Barra
Tidak lama seorang wanita datang menghampiri keduanya.
"Zia???" Rendy seketika menyipitkan matanya saat melihat kedatangan wanita itu.
"Hai Ren," sapa Zia
Rendy langsung mengangkat tangannya membalas sapaannya.
"Hai juga,"
"Jadi kalian akan ke Jogja bareng?" tanyanya dengan raut wajah penasaran
"Hmm, Maaf jika selama ini ada yang aku rahasiakan darimu," ucap Barra kemudian memberikan sebuah surat kabar usang kepada Rendy
Rendy segera mengambil surat kabar itu dan membacanya.
"Jadi kau sebenarnya adalah siswa Madrid High School??"
__ADS_1