WELCOME TO HELL SCHOOL

WELCOME TO HELL SCHOOL
Bab 36


__ADS_3

Sebagai satu-satunya lelaki di keluarganya, Rendy harus mengikuti prosesi pemakaman sampai selesai. Ia bahkan berdiri di barisan depan saat membawa keranda mayat saudara kembarnya tersebut.


Ia bahkan ikut turun ke liang lahat untuk membaringkan Rendra di tempat peristirahatan terakhirnya.


Meskipun Rendy terlihat begitu tegar namun sebenarnya ia merasakan kepedihan yang mendalam. Bagaimana tidak ia yang baru saja bisa berbincang dengan kakaknya yang baru sadar koma terpaksa harus berpisah lagi untuk selamanya.


Seorang Kyai tampak memberikan wejangan sesaat setelah proses pemakaman.


Rendy bahkan masih enggan meninggalkan area pemakaman meskipun para pelayat mulai meninggalkan tempat itu.


Sementara itu dari kejauhan polisi tampak menjaganya.


Mereka segera menghampiri Rendy saat pemuda itu meninggalkan komplek pemakaman.


Saat Rendy hendak masuk mobil polisi seorang gadis menghampirinya.


"Saya ikut berduka cita, maaf kalau aku belum bisa mengunjungimu," ucap Luna


"Terimakasih, tapi sepertinya kau tidak perlu mengunjungi ku," jawab Rendy kemudian segera masuk kedalam mobil


Luna menahan pintu mobil saat Rendy hendak menutupnya.


"Apa kau marah padaku karena aku tak membelamu?" tanya Luna


"Tentu saja tidak, kenapa aku harus marah. Bukankah sudah hal biasa jika seseorang akan menjauh saat sahabatnya menjadi seorang narapidana," Rendy segera menarik pintu mobilnya dan mobil itu segera melesat meninggalkan Luna yang tampak sedih dengan sikap acuh Rendy kepadanya.


Gadis itu kemudian menemui Devano.


"Halo sayang," ucap Dev segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Luna yang terlihat memasuki kafe


Ia kemudian berusaha memeluknya, namun Luna seketika menolaknya. Seketika raut wajah Dev berubah. Ada gurat kemarahan yang terpancar dari bola matanya.


"Kenapa lo ngajak gue ketemu di sini?" tanyanya mencoba menghalau kemarahannya


"Aku hanya ingin mengembalikan semua ini," Luna kemudian memberikan sebuah paper bag kepada pria itu.


"Why??" tanya Dev dengan wajah sinis


"Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, apalagi jika kau hanya menjadikan aku sebagai alat untuk melampiaskan dendammu," jawab Luna

__ADS_1


Dev seketika langsung menangkap arah pembicaraan Luna.


"Jadi kau menyukai sampah itu!" ujar Dev menatapnya sinis


"Jangan salah sangka, aku hanya tidak suka kau membawa aku dalam permusuhan mu dengan Rendy, hingga membuat ia membenciku,"


"Jadi namanya Rendy,"


Dev kemudian duduk di sofa dan menyalakan sebatang rokok.


Seorang pelayan datang membawakan pesanan Dev.


"Kenapa kau masih berdiri, meskipun kita sudah putus apa kau tak mau makan bersamaku lagi?" tanya Devano.


"Sorry tapi gue udah makan tadi," jawab Luna seketika membuat Devano marah dan langsung menggebrak meja.


*Brakkk!!


Semua pengunjung seketika menoleh kearah mereka.


"Sebenarnya apa sih yang kamu inginkan, sampai merusak selera makanku!" seru Devano


"Apa lo lupa jika lo yang meminta bantuan gue untuk membuat Rendra babak belur. Jika ada orang yang paling banyak mendapatkan keuntungan dalam kasus ini dia adalah dirimu. Selain kau bisa menyingkirkan rival terkuat mu Rendra secara cuma-cuma, kau juga akan mendapatkan beasiswa ke Oxford menggantikannya. Jadi siapa yang bersalah dalam kasus ini?" imbuh Devano


"Terus apa yang lo inginkan dari gue!" sahut Luna


"Tetaplah menjadi kekasihku dan berhenti mengkhawatirkan pecundang itu," jawab Devano


"Dengan satu syarat,"


"Apalagi!" seru Dev


"Tolong bebaskan Rendy, karena dia bukan target kita," jawab Luna


Dev menolak permintaan Luna karena mengira jika Luna menyukai Rendy. Selain itu Devano juga tidak bisa melepaskan Rendy karena pemuda itu sangat berbahaya dan bisa mencelakainya jika ia bebas dari penjara.


"Dia terlalu berbahaya, lo gak tahu gimana berbahaya dia. Gue gak mau ambil resiko!" sahut Devano


"Aku yang jamin jika dia tidak akan melakukan apapun apalagi balas dendam kepada mu,"

__ADS_1


"Memangnya siapa lo sampai bisa menghentikan Rendy. Jangan bilang kalian sudah jadian!" Dev mulai mencurigai Luna memiliki hubungan dengan Rendy


"Bukan begitu, hanya saja aku bisa mengendalikannya. Meskipun Rendy memang terlihat brutal tapi sebenarnya ia berhati lembut," jawab Luna


"Tetap saja aku tidak percaya,"


"Kalau begitu ijinkan aku membantunya dengan memberikan bantuan pengacara,"


"Terserah kau saja, yang jelas aku akan memberitahukan Rendy jika kau adalah dalang semua peristiwa ini jika ia sampai membalas dendam kepada ku," jawab Devano


**********


Keesokan harinya Luna mengunjungi Rendy bersama seorang pengacara.


Namun sayangnya Rendy tak mau menemui gadis itu. Luna tak putus asa ia terus berusaha menemui pemuda itu meskipun Rendy tak pernah mau menemuinya.


Luna yang putus asa berusaha mengirimkan pesan kepada Rendy melalui surat kepada sipir penjara, namun tetap saja Rendy tak pernah membalas surat-surat darinya.


Ia bahkan menolak bantuan pengacara darinya.


Rendy kemudian dipindahkan di penjara khusus anak.


Dua tahun berlalu akhirnya Rendy bebas dari penjara.


Pemuda itu tampak lusuh saat melangkahkan kakinya keluar dari gerbang tahanan.


Tak seorangpun yang menjemputnya membuat Rendy lebih memilih jalan kaki.


Sebuah mobil suv berhenti tepat di depannya.


Rendy terkesiap saat melihat sosok wanita cantik menawarkan tumpangan untuknya.


Rendy berusaha menolak tawaran Luna namun gadis itu tetap bersikeras dan terus menariknya untuk masuk kedalam mobilnya.


"Maaf Lun, aku tak mau membuat mu malu," ucap Rendy


Luna yang terisak segera memeluk pria itu dari belakang.


"Aku tidak akan pernah malu saat bersamamu, justru aku bahagia bila ada di samping mu,"

__ADS_1


__ADS_2