WELCOME TO HELL SCHOOL

WELCOME TO HELL SCHOOL
Bab 29


__ADS_3

Melihat wajah panik Marlina Luna pun enggan mengusik wanita itu. Setidaknya ia tahu jika Rendra masih terbaring di ranjang rumah sakit. Dan pria yang ada di sekolah bukanlah Rendra.


Ia berjalan meninggalkan tempat itu dengan penuh tanda tanya.


"Untuk apa seorang menyamar menjadi Rendra??"


Jika alasannya untuk membalas dendam tetap saja tidak dibenarkan lagipula itu sudah masuk ranah kriminal dengan memalsukan identitas seseorang.


Keesokan harinya, Luna masih mengawasi pria yang menyamar menjadi Rendra.


Ia yakin jika kali ini penyamarannya akan terbongkar dari nilai-nilai ujiannya yang turun.


Benar saja di hari kedua ujian kenaikan kelas Rendy mendapatkan nilai dibawah KKM.


Ia kembali kecewa dengan perolehan nilainya. Padahal ia sudah belajar mati-matian namun kenapa ia tetap mendapatkan nilai jelek.


"Andai saja Barra masih ada, dia pasti akan membantu ku mendapatkan nilai yang bagus,"

__ADS_1


Rendy melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kelasnya seseorang berdiri didepan pintu menyeringai menatapnya.


"Devano?"


Rendy mengernyitkan keningnya saat melihat pria itu berdiri di depannya.


"Ternyata ada untungnya juga aku membuat mu hampir mati dulu. Meskipun kau berubah menjadi seorang yang kuat secara fisik namun aku lebih senang saat melihat kau menjadi bodoh. Ternyata menyingkirkan orang bodoh lebih mudah daripada menyingkirkan orang lemah namun pintar. Bersiap-siaplah untuk hengkang dari sekolah ini," ucap Devano


"Sial, ternyata aku tidak perlu repot-repot memakai kekerasan untuk menyingkirkannya, karena sekolah ini sangat membenci orang-orang bodoh maka aku tidak perlu lagi mengotori tanganku untuk menyingkirkannya," celoteh Devano saat meninggalkan Rendy


Ia bahkan bisa bertahan lama di sekolah neraka ini meskipun dia adalah seorang pecundang.


Tapi ia yang memiliki kekuatan justru tak bisa bertahan lama di sekolah itu karena tidak memiliki kecerdasan seperti kakaknya itu.


Ia memilih tinggal di perpustakaan dan melihat-lihat buku-buku yang tertata rapi di sana.


Selama ini Rendy memang tidak pernah suka membaca. Jangankan membaca bahkan menyentuh buku pelajaran pun ia tak pernah. Selama ini ia hanya mengandalkan Barra saat mengerjakan semua tugas-tugasnya.

__ADS_1


Baginya sekolah adalah ajang untuk mendapatkan ijasah tanpa harus susah-susah belajar. Baginya mendapatkan ijasah sudah cukup meskipun nilai yang ia dapatkan tidaklah bagus. Karena ia berpikir untuk mendapatkan pekerjaan tidak diperlukan nilai yang tinggi.


Perusahaan hanya memerlukan orang-orang yang berpengalaman dan memiliki koneksi dengannya.


Ada faktor lain yang selalu membuatnya percaya diri untuk tidak belajar. Faktor keberuntungan, Rendy yakin selalu beruntung dalam segala hal saat bersama Barra.


Namun semua paradigmanya berubah saat ia mulai berada di level terbawah di kelasnya.


Rasa percaya dirinya mulai runtuh dan ia mulai ragu untuk bisa melanjutkan rencananya untuk menjadikan sekolah itu sebagai sekolah yang aman untuk semua orang.


Kini mimpi-mimpinya hampir sirna dan ia sudah siap terbangun dengan kenyataan memilukan.


"Andai saja ada seseorang yang membantuku belajar, aku janji akan menjadi siswa yang rajin mulai sekarang. Aku tidak lagi menjadikan tinjuku sebagai satu-satunya kekuatan ku. Aku akan belajar dengan giat untuk mewujudkan semua mimpiku!"


Luna yang mendengar ucapan Rendy mendekati pria itu. Ia kemudian memberikan sebuah buku pelajaran kepadanya.


"Kalau kau tidak keberatan datanglah ke rumah ku sore ini,"

__ADS_1


__ADS_2