
*Tak, tak, tak!
Terdengar langkah kaki mendekati ruangan itu membuat Rendy bersiaga.
*Kriet!
Pintu terbuka dan seseorang masuk mendekatinya.
Rendy memasang telinganya tajam-tajam.
Lelaki itu membuka penutup matanya.
Rendy menatap dingin pria paruh baya di depannya.
"Siapa anda, dan kenapa menyekap ku?" tanya Rendy
Lelaki itu menyalakan rokoknya dan menghisapnya perlahan.
"Apa kau ingin mendengar sebuah cerita?" tanyanya
"Katakanlah?"
Lelaki itu mulai menceritakan seorang putranya yang selalu di bully di sekolah. Ia bahkan harus bolak-balik ke sekolah untuk memastikan bahwa putranya tidak di rundung lagi. Hingga akhirnya saat ia mulai percaya putranya aman, ia justru menemukan putranya tewas disekolah.
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Rendy
Pria itu kemudian membuka ponselnya dan memperlihatkan aksi-aksinya saat menghajar para Perundung di sekolahnya.
__ADS_1
"Awalnya aku menolak pekerjaan ini, aku paling tidak suka jika harus berurusan dengan anak dibawah umur seperti dirimu. Tapi melihat video itu membuat aku berubah pikiran," ucap pria itu
Rendy menarik sudut bibirnya dan menatap nanar pria dihadapannya.
"Aku tahu kau pasti mengira jika aku adalah seorang Perundung. Aku tidak menyalahkan mu karena orang awam pasti akan beranggapan seperti itu. Asal kau tahu video ini sudah di potong dan hanya memperlihatkan bagaimana aku memukuli mereka tanpa memperlihatkan kenapa aku memukulinya," jawab Rendy
"Kau sangat pandai berbicara nak, memang orang seperti kalian selalu pandai mencari Alibi untuk membenarkan perbuatan kalian,"
"Aku tidak pernah mencari pembenaran atas apa yang aku lakukan, kalau kau ingin melihat video itu secara full, aku juga merekamnya saat kejadian itu. Kau bisa melihatnya di ponselku," jawab Rendy
Lelaki itu kemudian merogoh saku baju Rendy namun tak menemukan apapun.
Rendy memberikan isyarat untuk mengambilnya di saku celananya.
Lelaki itu segera menundukkan kepalanya dan mulai merogoh celananya.
"Bangsat!"
Rendy menendangnya saat pria itu hendak melepaskan pukulan kearahnya.
*Bruugghhh !!
Melihat pria itu jatuh terkapar Rendy berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
Ia merayap menuju ke pintu dan menggesekkan tali yang mengikatnya ke pengait pintu.
Ia berhasil melepaskan ikatannya dan saat ia berusaha kabur pria itu menghantamkan sebuah kursi kepadanya hingga ia jatuh terkulai ke tanah.
__ADS_1
"Kau pikir bisa mengelabui aku, dasar berandal ingusan!"
Lelaki itu kemudian memanggul Rendy dan membawanya masuk ke dalam bagasi mobilnya.
Ia kemudian menghubungi seseorang setelah menutup pintu bagasi mobilnya.
"Aku sudah membekuknya, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Bunuh dia, namun kau harus memastikan ia mati karena bunuh diri agar orang-orang tidak curiga,"
"Aku sudah menyiapkan surat wasiat terakhir yang mengatakan bahwa ia bunuh diri, jadi kau tidak perlu khawatir,"
Pria itu kemudian mematikan ponselnya.
Sementara itu seorang siswa laki-laki tampak mengamatinya dari kejauhan.
Ia tampak begitu bingung dan sangat tertekan.
Raut wajahnya menampakkan kekhawatiran dan rasa penyesalan.
"Bagaimana jika ia membunuhnya, apakah aku harus memberitahunya jika Rendy bukanlah seorang Perundung. Tapi apa dia akan percaya dan melepaskannya. Lalu bagaimana dengan aku?"
Ia terus berperang dengan nuraninya yang ingin menyelamatkan Rendy dari pria itu.
Lelaki itu kemudian masuk kedalam mobilnya membuat siswa itu segera berlari untuk mendekatinya.
"Aku tidak bisa membiarkan dia mati, aku tahu Rendra berbuat seperti itu karena ia juga adalah korban, baiklah apapun yang terjadi aku harus menyelamatkannya,"
__ADS_1
Saat ia akan memberitahu pria itu tiba-tiba mobilnya menyala dan pergi.