WELCOME TO HELL SCHOOL

WELCOME TO HELL SCHOOL
Bab 38


__ADS_3

Rendy menatap ke sekelilingnya. Ia kemudian berjalan menuju sebuah warung kelontong yang berada tak jauh dari area pemakaman.


Ia sengaja berjalan pelan sementara matanya terus memperhatikan pri yang terus mengawasinya.


Saat menemukan sebuah gang ia segera masuk dan menghilang di sana. Pria itu begitu terkejut saat tak menemukan Rendy di gang buntu tersebut.


"Sial, kemana bocah itu!"


Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Maaf Bos, sepertinya aku kehilangan jejaknya,"


Mendengar percakapan pria itu membuat Rendy tahu siapa orang yang sedang memata-matainya.


Ia kemudian keluar dan membekap pria itu.


Pria itu tak tinggal diam, ia berusaha melawan Rendy dan melepaskan diri darinya.


Keduanya terlibat baku hantam cukup lama hingga salah seorang dari mereka jatuh tersungkur ke jalanan.


Rendy mengambil ponsel pria itu dan menyuruhnya untuk membawanya menemui bosnya.


Lelaki itu tak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan Rendy.


Ia kemudian membawanya menemui sang Bos.


*Byuuur,!!


Seketika Rendy membuka matanya saat merasakan seluruh tubuhnya dingin di siram air. Ia menatap sosok pria yang berdiri di depannya.


"Apa kabar nak?" sapa Giandra menyunggingkan senyumnya


Rendy terkejut melihat pria itu.


"Bukankah Om yang waktu itu...." ucap Rendy penuh tanda tanya


"Benar, aku yang dulu kau selamatkan dalam penjara. Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu. Maaf kalau sudah mengejutkan dirimu," jawab pria itu


"Aku tahu kau pasti mengalami kesulitan setelah bebas dan penjara, apalagi kau sudah tidak memiliki keluarga lagi,"

__ADS_1


Rendy tercengang mendengar ucapan pria itu, "Apa maksud mu aku tak punya keluarga lagi?. Aku masih memiliki seorang Ibu, hanya saja aku belum menemukannya," jawab Rendy


Pria itu kemudian memberikan ponselnya kepada Rendy.


Ia terkejut saat membaca sebuah berita online yang memberitahu ibunya meninggal karena bunuh diri.


"Ada yang bilang jika ibumu bunuh diri karena tak kuat menanggung malu setelah pihak sekolah mengeluarkan Rendra karena prestasinya menurun. Ada pula yang mengatakan jika ibumu bunuh diri karena merasa bersalah terlalu mengekang Rendra selama hidupnya," jawab pria itu


Rendy tampak pucat dan duduk di kursi. Ia terlihat begitu sedih hingga beberapa kali harus mengusap air matanya menggunakan tisu.


"Jangan terlalu bersedih, tidak semua berita yang di publish semuanya benar. Jika kau ingin mencari kebenaran penyebab kematian ibumu maka kau harus kembali bersekolah di sana," jawab pria itu


"Tapi aku tak mau mencari bukti kematian Ibuku. Aku hanya ingin sekolah lagi agar aku bisa menjadi seseorang. Karena aku tahu tidak akan cukup membalas seseorang hanya mengandalkan kekuatan otot. Aku harus sekolah agar aku bisa merubah nasibku. Seperti pesan kakakku jika orang yang beruang memang bisa menguasai segalanya. Tapi orang yang cerdas bisa mengendalikan orang yang beruang. Tapi sayangnya aku mungkin sulit untuk mewujudkan keinginan ku untuk kembali bersekolah lagi," terang Rendy


"Jangan khawatir aku akan membantumu. Kau pernah menyelamatkan aku di penjara, jadi anggap saja itu sebagai bentuk terimakasih ku karena kau sudah menyelamatkan aku," jawab pria itu


Ia kemudian mengajak Rendy untuk beristirahat di kamar putranya.


"Anggap saja ini kamarmu sendiri. Dulu ini adalah kamar putraku," ucap pria itu


"Dimana dia sekarang?" tanya Rendy


"Maaf Om , jika perkataanku sudah menyinggung mu,"


"Tidak apa-apa, lagipula suatu hari nanti kau juga akan tahu," lelaki itu mengambil figura foto yang terpasang di di dinding.


Dengan wajah berkaca-kaca ia menatap sejenak foto itu sebelum memasukannya kedalam laci meja belajar.


"Mulai sekarang kau akan menjadi putraku," pria itu memberikan sebuah kartu tanda penduduk kepadanya


"Sekarang kau adalah Genta Aryan putra dari Giandra Aryan," ucap pria itu


Rendy menatap lekat kartu tanda pengenal yang tergeletak di depannya itu.


*********


Keesokan harinya Gi mengantar Genta ke Madrid High School.


Menginjakkan kaki di halaman sekolah elite itu membuat kenangan lama Rendy mulai kembali lagi.

__ADS_1


Pemuda itu menatap sekelompok siswa kelas XII yang melintas di depannya.


Seketika tangannya mengepal saat mengetahui siswa itu adalah Devano.


Meskipun Rendy sangat membenci Dev namun ia tak mau gegabah kali ini. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan mengingat kembali tujuan ia kembali ke sekolah itu.


"Aku harus belajar dengan rajin jika ingin mewujudkan semua impianku, semangat!" gumam Rendy


Hampir tak seorangpun guru yang mengenali Rendy, begitupun dengan Luna dan Devano.


Rendy merasa lega karena bisa fokus belajar.


Rendy bergegas menuju perpustakaan saat bel istirahat. Ia melihat sosok Luna juga tampak sedang menghabiskan jam istirahatnya dengan membaca buku di sana.


"Apa kau murid baru?" tanya seorang petugas perpustakaan menyapanya


Rendy mengangguk mengiyakan ucapan pria itu.


"Kenapa wajahmu mengingatkan aku kepada seorang siswa yang selalu rajin datang ke sini untuk belajar. Namanya Rendra, dia selalu bercerita jika ingin menjadi seorang yang sukses makanya ia memilih bersekolah di sini. Ia tahu jika hanya sekolah ini yang mampu mencetak lulusan terbaik yang selalu diterima di perguruan tinggi terbaik di Indonesia bahkan di dunia. Itulah sebabnya ia harus belajar mati-matian untuk mendapatkan beasiswa agar tetap bisa bersekolah di sini. Bersekolah di sekolah elite ini tidak mudah, selain biayanya mahal ia juga harus bersaing ketat dengan putra-putri konglomerat yang tak kalah pintar. Ia tahu jika saingannya sangat berat saat ia memilih mengajukan beasiswa. Namun berkat kegigihannya ia selalu menjadi peringkat pertama dan mendapatkan beasiswa kuliah ke OXFORD jika lulus nanti. Meskipun tanpa bimbel Rendra begitu pandai sampai bisa mengalahkan siswa pemilik sekolah ini," kenang pria itu


"Apa kau sangat dekat dengannya hingga mengetahui segalanya?" tanya Rendy


Pria itu menggelengkan kepalanya. Ia memberitahu Rendy jika ia mengetahui semuanya dari buku harian Rendra yang tertinggal di perpustakaan.


"Aku menemukan buku ini tepat di samping buku favoritnya di hari kematiannya," ucap pria itu


Seketika Rendy berkaca-kaca mendengar ucapan pria itu.


Ia bahkan meminta izin untuk melihat buku diary Rendra.


Meskipun awalnya ia menolak menunjukkan buku agenda kepadanya, namun melihat kesedihan di wajah Rendy membuat ia kemudian memberikan buku harian Rendra kepada Rendy.


Seketika Rendy merasakan dadanya sesak saat membaca halaman demi halaman buku itu.


Air matanya bahkan tak berhenti menetes membasahi wajahnya.


ia kemudian memilih menutup buku itu dan akan melanjutkan membacanya saat di rumah. Sebuah foto seorang perempuan terjatuh dari dalam buku itu. Rendy terkejut saat mengetahui foto itu adalah Luna.


"Sebenarnya apa hubungan Rendra dan Luna, apa mereka sepasang kekasih??"

__ADS_1


__ADS_2