
Karena kasus Tari hampir sama dengan kasus yang menimpanya dua tahun lalu membuat Rendy mulai berpikir jika dulu ia juga di jebak oleh Luna.
Siang itu ia sengaja mengikuti Luna diam-diam.
Ia mengikuti Luna yang pergi bersama Devano ke bimbel.
Keduanya segera menemui tutor mereka di ruangannya.
Rendy yang tak bisa mendengar percakapan mereka terpaksa harus menunggu sampai mereka keluar.
Rendy baru tahu jika tutor Dev dan Luna adalah orang yang sama yang juga menjadi tutornya.
Saat ketiganya keluar Rendy diam-diam masuk ke ruangan itu untuk melihat apa yang diberikan oleh Luna dan Dev kepada sang Tutor.
Ia membuka amplop coklat yang ada di meja sang tutor. Rendy terkejar begitu tahu isi amplop coklat tersebut.
"Soal ujian, darimana mereka mendapatkan soal ini??"
Rendy segera keluar saat mendengar suara derap langkah sang tutor mendekati ruangannya.
Rendy sengaja menghubungi Luna dan mengajaknya bertemu.
Kali ini Rendy melepas semua aksesoris dan riasan yang biasa di pakai saat ia menjadi seorang Genta.
Ia menunggu kedatangan Luna di sebuah taman. Ia melihat kedatangan Luna seorang diri mengenakan pakaian casual ya memperlihatkan sisi kecantikan alami gadis itu.
Luna begitu bahagia saat melihat Rendy menunggunya. Senyumnya terus mengembang saat menatap pria di depannya itu. Berbeda dengan Luna Rendy berusaha bersikap biasa saat bertemu dengan Luna.
"Kamu apa kabar?" sapa Luna
"Alhamdulillah aku baik, kamu sendiri gimana?"
"Alhamdulillah aku baik juga, btw ada perlu apa kamu mengajak ku bertemu?" tanya Luna
Rendy kemudian memberikan kotak Luna yang ditinggal di makam Rendra.
Seketika wajah Luna berubah merah saat menerima kotak itu.
"Harusnya kau simpan saja surat-surat ini atau bila kau tidak menyukainya kenapa tidak membakarnya saja," tandas Rendy membuat gadis itu salah tingkah di buatnya
"Bu...bu...bukan itu maksud ku!" ucap Luna tampak gugup
__ADS_1
"Lalu untuk apa selama ini kau menyimpan semua surat-surat itu?" tanya Rendy
"Karena aku tidak bisa menyakiti Rendra, aku tidak mau persahabatan kami yang sudah terjalin begitu dekat rusak hanya karena aku menolak perasaannya,"
"Tapi tetap saja kau selama ini kau hanya memberinya harapan palsu. Kenapa kau begitu pengecut Lun," Rendy beranjak dari duduknya dan mencoba pergi, namun Luna menghalanginya
Gadis itu mengatakan jika selama ini ia memang tidak bisa memberikan jawaban kepada Rendra karena takut dengan Devano. Ia tak mau membuat kekasihnya itu semakin membenci Rendra dan terus membullynya karena sudah berani menyukainya.
Rendy hanya tersenyum kecut menanggapi pembelaan Luna. Ia tahu benar bagaimana hubungan Luna dengan kakaknya setelah membaca buku diary Rendra.
"Aku mohon jangan benci aku Ren,_" Luna berusaha menggenggam jemari Rendy dan berusaha untuk meyakinkan pemuda itu jika semua yang ia pikirkan salah tentang dirinya.
Luna bahkan membujuk pria itu dan mengajaknya untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan taman.
"Kau tahu hari ini aku benar-benar bahagia karena bisa ketemu kamu lagi meskipun sedikit canggung," ucap Lina
Gadis itu beberapa kali harus mengusap keningnya yang mulai berkeringat.
Saat melihat seorang penjaja makanan, Rendy membeli sebotol air mineral dingin dan memberikannya kepada Luna.
"Thanks Ren," ucapannya berbinar-binar
Ia kemudian memberikan botol itu kepada Rendy, dan pria itu kemudian meneguknya tanpa ragu.
Rendy melihat ponsel Luna terus berdering namun gadis itu mengabaikannya bahkan mengganti mode getar agar ia tak terganggu dengan bunyinya.
"Kenapa tidak diangkat??"
"Ah gak papa, gak penting juga," jawab Luna kemudian memasukkan ponselnya kedalam tasnya.
Gadis itu kembali menggandeng lengan Rendy dan berjalan melintasi rerimbunan bunga-bunga yang mulai bermekaran.
"Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kamu pulang,"
Rendy kemudian mengajak Luna pulang, ia bahkan mengantar Luna hingga ke rumahnya.
Meskipun harus menggunakan angkutan umum namun Luna tampak begitu bahagia.
Ia merasa jika Rendy sudah mulai melunak hingga memberikan perhatian padanya meski hanya sebotol air mineral ataupun mengantarnya pulang itu sudah membuat gadis itu bahagia.
Keesokan harinya Luna terlihat begitu bersemangat saat tiba di gerbang sekolah.
__ADS_1
Tanpa sengaja ia tiba bersamaan dengan Rendy. Namun gadis itu tak mengenalinya karena Rendy memang sengaja merubah penampilannya saat menjadi Genta.
Meskipun berjalan berdampingan Luna bahkan tak menoleh sedikitpun kepada pria itu. Pandangannya begitu fokus ke depan, apalagi saat melihat Devano sudah menunggunya di depan kelasnya.
"Sepertinya kekasih ku sedang bahagia, kira-kira apa yang membuatmu begitu bahagia pagi ini?" tanya Dev
"Tentu saja karena aku sudah siap untuk mengerjakan ujian terakhir hari ini," jawab Luna
"Semoga saja begitu," jawab Dev kemudian menggandeng Luna memasuki kelasnya
Saat ujian di mulai, Dev segera menyalin semua jawaban yang di berikan oleh pihak bimbel, setelah itu memberikannya kepada Luna.
Karena hari ini adalah hari terakhir ujian Devano sengaja mengajak Luna untuk berkencan.
Mengetahui hal itu, Rendy sengaja menghubungi Luna dan memintanya untuk menemani membeli buku.
Luna kemudian mencari cara untuk menolak ajakan Devano. Ia kemudian berpura-pura sakit untuk menolak ajakan Devano.
"Maaf ya Dev, sebenarnya aku pengin banget nonton sama kamu, tapi tiba-tiba saja migrain ku kambuh. Jadi sorry banget ya sayang kalau aku gak bisa nonton sama kamu," ucap Luna berpura-pura sakit Kepala
Devano yang tak curiga kemudian mengantar gadis itu pulang dan menyuruhnya beristirahat.
Di hari berikutnya juga seperti itu, Rendy sengaja ingin membuat hubungan keduanya renggang dengan selalu memisahkan mereka saat hendak pergi bersama.
Hingga suatu hari Devano yang mulai curiga sengaja mengikuti Luna.
Ia begitu terkejut saat melihat Luna bergelayut manja di lengan Rendy. Seketika rahangnya mulai mengeras dan tangannya mengepal saat Luna begitu nyaman menyandar di bahu Rendy.
"Dasar munafik, kau bilang tidak menyukai Rendra, tapi kau malah lengket dengan adiknya!"
Devano yang sudah mengetahui kebusukan Luna, segera mengirim anak buahnya untuk mengawasi Luna.
Devano begitu kesal.saat mengetahui Luna berkencan dengan Rendy.
Ia kemudian meminta anak buahnya untuk menyingkirkan Rendy.
Pagi harinya semua siswa segera berkumpul di depan papan pengumuman. Semua tampak antusias menunggu nilai hasil ujian semester di pajang. Tidak lama seorang guru memasang hasil nilai mereka.
Luna begitu shock saat melihat nilainya.
Belum sempat ia memastikan nilainya ia dipanggil untuk menghadap kepala sekolah.
__ADS_1
Kali ini Luna benar-benar hampir pingsan saat mengetahui pihak sekolah mencabut beasiswanya untuk kuliah di Oxford karena nilai satu mata pelajarannya mendapatkan nilai di bawah KKM.