WELCOME TO HELL SCHOOL

WELCOME TO HELL SCHOOL
Bab 20. Kedatangan Induk Semang


__ADS_3

29 Januari 2021,


Seorang siswa tampak melindungi kepalanya dengan kedua tangannya saat beberapa orang siswa memukulinya.


Salah seorang dari mereka mengambil ponsel pemuda itu dan menghancurkannya.


"Kau pikir hacker seperti dirimu bisa menghancurkan aku, coba saja kalau bisa. Yang ada kau yang akan hancur dan menghilang dari sekolah ini!" cibir Dev kemudian meninggalkan Barra yang babak belur di sudut kelas.


Barra segera memungut kacamatanya yang hancur dan meratapinya. Saat bel jam pelajaran usai ia segera bangun dan kembali ke kelasnya.


Meskipun ia tak ada di kelas, namun tak satupun siswa atau guru yang mencarinya. Itu yang membuatnya semakin sedih dan terluka. Bahkan tak ada seorangpun yang berempati padanya manakala melihat luka di wajahnya.


Bagi mereka hal itu sudah biasa sehingga tak ada yang memperdulikan pemuda itu.


*Ciit!!


Sebuah mobil berhenti di depan gerbang Madrid High School, seorang gadis cantik histeris saat melihat kondisi kekasihnya yang babak belur.


"Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Zia


"Dev dan kawan-kawannya,"


"Kalau begitu aku harus melaporkan kejadian ini kepada kepala sekolah," ujar Zia


"Tidak perlu, percuma saja kita melaporkan kejadian ini karena itu tidak akan berpengaruh apapun pada mereka dan justru semakin membahayakan aku dan juga kamu. Tolong jangan beritahu ayah ku juga tentang kejadian ini, aku tak mau bajing*n itu mengusik keluarga ku," jawab Barra pria itu kemudian segera masuk kedalam mobil.


Setelah mengobati luka-lukanya Barra kemudian kembali ke rumahnya.


Namun betapa terkejutnya ia saat melihat ayahnya tergeletak di ruang tamu.


Ia kemudian menelpon ambulans dan menemaninya ke rumah sakit.


Barra tampak cemas saat beberapa tenaga medis membawa ayahnya ke ruang UGD.


"Ayah anda terkena serangan jantung dan maaf sepertinya karena penanganan yang telat kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya,"


Seketika tubuh Barra lemas dan tak sadarkan diri setelah mendengar kabar kematian sang ayah.


Ia kini hidup sendiri karena ayahnya telah menyusul sang ibu yang lebih dulu menghadap sang khalik.

__ADS_1


Setelah acara pemakaman selesai, assisten rumah tangganya menemukan ponsel sang ayah yang tergeletak di bawah sofa.


Barra kemudian menyalakan ponsel itu. Seketika tubuhnya bergetar saat melihat pesan singkat yang diterima ayahnya.


"Ternyata Dev yang membunuh ayahku," ucap pemuda itu mengepalkan tangannya


Ia kemudian segera masuk ke kamarnya dan membuka laptopnya.


Ia kemudian mengunggah semua bukti-bukti kekerasan yang dilakukan oleh Devano ke akun sosial media bahkan ke web sekolah dan juga dinas pendidikan.


"Jika aku harus kehilangan semuanya, maka kau juga harus mendapatkan hal yang sama," ucap Pemuda itu


Keesokan harinya pemberitaan mengenai kasus bullying di Madrid High School menjadi viral di sosial media hingga membuat sekolah itu di datangi oleh puluhan awak media yang ingin menanyakan kebenaran kasus tersebut.


Sekolah yang kacau membuat Bambang meminta bantuan kepada Narendra untuk meredam kekacauan yang terjadi di sekolah.


Sementara itu Devano segera meminta seorang asisten ayahnya untuk mencari tahu siapa yang sudah mengunggah video-video tersebut ke sosial media.


Mengetahui Barra pelakunya ia segera menyeret pria itu dan membawanya ke sekolah.


Ia dan teman-temannya memukulinya hingga jatuh pingsan.


Devano sengaja mengurungnya di gudang sekolah.


Pemuda itu membangunkan Barra dengan menyiramkan air ke tubuh pria itu.


"Kau pikir bisa membalas ku dengan meng-upload video-video itu, dasar bodoh!" seru Dev kembali menghajar Barra


Zia yang mencari keberadaan Barra terkejut saat menemukan Dev sedang menyiksanya di gudang.


"Sudah cukup Dev, lepaskan dia!" seru Zia terlihat memegangi tangan Dev yang hendak memukul pemuda itu dengan palu.


"Sebaiknya kau jangan ikut campur, jika tak mau mendapatkan hal yang sama dengan si bodoh itu. Kau tahu kan aku tak segan menyakiti siapapun yang sudah mengusik ku, bahkan seorang siswa perempuan sudah ku singkirkan karena terlalu berisik. Jadi minggir lah sebelum aku memukul wajah cantik mu dengan benda tumpul ini," ancam Devano mengacungkan sebuah palu kearah Zia


"Tolong lepaskan dia Dev, kau bisa membunuhnya jika terus menyiksanya!"


*Brakkk!!


Zia terjungkal saat Devano mendorongnya hingga kepala gadis itu berdarah.

__ADS_1


"Aku tak peduli!" jawab Devano segera menarik kerah baju pria itu dan bersiap mengayunkan palu di tangannya


Zia segera bangun dan bersimpuh di kaki Devano.


"Tolong lepaskan dia, sebagai ganti aku akan melakukan apapun asal dia bisa selamat," ucap Zia


Devano menyeringai dan menjambak rambut gadis itu.


"Baiklah kalau begitu, sekarang dengarkan baik-baik apa yang harus kau lakukan untuk membebaskan kekasih mu itu," Dev segera membisikkan sesuatu kepada gadis itu hingga tak terasa butiran kristal bening membasahi wajahnya.


"Apa kau bisa melakukannya?" tanya Dev memastikan kesediaan gadis itu


Zia mengangguk setuju dan kemudian membawa kekasihnya pergi dari tempat itu.


Keesokan harinya Barra dikeluarkan dari sekolah karena di duga sebagai pengedar narkoba di lingkungan sekolah, ia bahkan di tahan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut.


*Flashback off.


*Kosan Barra


"Jadi sebenarnya aku sudah memanfaatkan dirimu untuk membalaskan dendam kepada Devano dan teman-temannya. Karena semua dendam sudah terbayar aku ingin kembali hidup dengan normal," terang Barra


"Tidak masalah, kau boleh memanfaatkan diriku jika kau mau aku tidak peduli. Lagipula kau juga sudah banyak membantu ku selama di Jogja, jadi kita impas Bro," jawab Rendy kemudian memeluk sahabatnya itu.


Ia kemudian membantu membawakan barang-barang Barra menuju ke sebuah taksi yang sudah menunggu mereka.


"Hati-hati!" seru Rendy melambaikan tangannya.


Setelah kepergian Barra, Rendy kemudian kembali ke sekolah untuk mengikuti ekskul futsal.


Setibanya di sekolah ia segera menuju ke lapangan untuk melakukan pemanasan. Namun hingga jam 5 sore tak satupun dari Anggota team futsal yang datang.


"Mungkin hari ini libur buktinya tak ada seorangpun yang datang, tapi kenapa mereka tak mau memberitahu ku. Dasar brengsek!" Rendy kemudian mengambil tasnya dan bergegas pergi.


Saat pemuda itu hendak meninggalkan lapangan futsal tiba-tiba beberapa lelaki bertubuh kekar memasuki tempat itu.


Mereka semuanya membawa baton di tangannya membuat pemuda itu tersenyum sinis menatapnya.


"Bukankah selain siswa Madrid High School dilarang masuk, jadi sebaiknya kalian pergi sebelum satpam mengusir kalian," ucap Rendy

__ADS_1


"Dasar berandal cilik, apa kau merasa dirimu adalah siswa terhebat di sini hingga begitu sombong dan ingin menghabisi semua geng Naga Merah disekolah ini?" tanya salah seorang dari mereka


"Aku tidak mau menghabisi semua anggota geng mu di sekolah ini, andai saja mereka tidak menindas siswa yang lemah," jawab Rendy membuat Lelaki itu marah dan meminta anak buahnya untuk menghajar Rendy


__ADS_2