
Selusin pria berjas berlari menghampiri Rendy di lapangan futsal. Ditangan mereka tampak sebuah senjata yang siap dipakai untuk menghujam sang lawan.
Sepertinya lawan yang akan dihadapi adalah pria kuat hingga mereka harus dilengkapi dengan senjata.
Rendy menatap dingin para pria itu seolah menangkap pesan kematian yang di bawa olehnya.
"Jadi kalian ingin membunuhku?" tanya Rendy mengatupkan giginya
salah seorang dari mereka mulai membuka mulutnya dan mengatakan jika dirinya sudah berusaha melukai beberapa orang anggota geng sehingga membuatnya marah.
"Kenapa kau membuat keributan dengan anggota geng kami, bukankah siswa pandai seperti mu harusnya belajar saja dengan rajin dan tidak perlu ikut campur urusan kami," ucap pria itu dengan wajah serius
Mata Rendy seketika melebar dan menatap nyalang pria itu.
"Apa kau akan diam saja jika orang lain memukuli mu hingga nyaris mati??. Apa aku masih bisa konsentrasi belajar dengan tubuh penuh luka dan tekanan??. Aku tidak tahu siapa anggota gengmu yang jelas aku harus membalas siapapun yang sudah menyakiti ku,"
Lelaki itu mengerutkan keningnya,
"Apakah kau cari mati??"
Rendy masih bersikap santai dan kini mulai serius saat mendengar pria itu mengancamnya.
Ia tampak mengepalkan tangannya saat melihat para pria itu mulai memukul-mukulkan baton di telapak tangannya.
"Bunuh dia, Bunuh dia!!"
Suara pria itu terdengar begitu lantang saat memerintahkan anak buahnya untuk menghajar Rendy.
Tubuh Rendy terpelanting ke lantai saat sebuah tendangan keras menghantam dadanya.
Ia segera bangkit dari lantai dan melompat meninju siapapun yang ada di dekatnya.
Rendy tampak terengah-engah dan kekalahan, ia sudah sering bertarung sendirian menghadapi puluhan siswa sebelumnya tapi tak ada yang lebih kuat dari mereka hingga membuat tenaganya terkuras habis.
"Aku bisa mati jika begini, aku harus mencari bantuan, tapi apakah ada yang akan membantuku?"
Rendy melambaikan tangannya saat melihat seorang melintas tak jauh darinya.
Namun ia harus kecewa karena pria itu hanya mengabaikannya.
Melihat Rendy yang mulai kewalahan menghadapinya seorang pemimpin geng memukul punggungnya dengan baton di tangannya.
__ADS_1
Rendy ambruk di tanah dan merintih kesakitan.
Belum reda rasa sakit di punggungnya pria itu kembali menendangnya hingga darah segar menyembur dari mulutnya.
Ia mendongakkan wajahnya ke atas dan memegangi dagu Rendy.
"Jangan pernah menjadi sok jagoan apalagi berurusan dengan geng kami jika kau masih ingin hidup!" ancam pria itu kembali meninjunya
"Si pecundang ini sudah tamat, sekarang kita hanya tinggal mencari hacker itu dan menghabisinya!"
Mendengar para gengster itu akan membunuh Barra, Rendy segera bangkit dan melepaskan tendangan ke punggung pria itu.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti sahabatku!" ucap Rendy dengan wajah memerah
Ia melangkahkan kakinya dan melepaskan tinjunya kearah musuh-musuhnya meskipun tubuhnya sudah tak bisa berdiri kokoh lagi.
Seorang lelaki melihatnya dari kejauhan.
Ia terus mengamati pertarungan satu lawan dua belas dengan seringai senyum di wajahnya.
Melihat seseorang hanya mengawasinya tanpa membantunya membuat Rendy semakin meradang.
Kepalanya hampir meledak melihat kegilaan di sekolah itu.
Seketika ia membayangkan jika dirinya adalah Rendra yang di pukuli oleh Dev hingga koma.
Wajahnya memerah dengan rahang yang seketika mengeras. Ia melepaskan tendangannya kearah musuh-musuhnya dan terus menyerang mereka untuk meluapkan kemarahannya.
Satu persatu para anggota gengster berjatuhan.
Rendy mengendurkan kepalan tangannya saat seorang menodongkan senjata ke lehernya.
"Aku sudah sering menghadapi bajing*n sepertimu, jadi jangan bermimpi bisa mengalahkan aku,"
Rendy memasang senyum lebar dan meninggikan nada suaranya.
"Aku meminta maaf jika sudah membuatmu kesal, kau tahu kan jika aku melakukan semua ini karena para bajing*n itu terus merundung ku bahkan setelah tahu aku hampir mati. Aku minta maaf jika sudah menyakiti anggota gengmu, tapi aku juga tidak tahu jika mereka anak buahmu, jadi kita impaskan?"
Lelaki itu tertawa keras mendengar ucapannya. Rendy segera menyikut pria itu hingga pisau di tangannya terjatuh.
Ia berbalik dan meninjunya hingga pria itu terhuyung-huyung menjauh darinya.
__ADS_1
Rendy mengambil baton yang tergeletak di tanah dan memukuli pria itu tanpa ampun.
Setelah memastikan tak ada satupun dari mereka yang bangun lagi ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Sebuah taksi berhenti saat ia melambaikan tangannya.
Rendy bergegas naik dan meminta sang sopir mengantarnya ke Bandara.
*Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Beberapa orang bertubuh kekar berlarian menuju ke depart keberangkatan domestik.
Barra tampak duduk bersama Zia menunggu kedatangan maskapai.
"Itu dia orangnya!" seru Seorang gengster memerintahkan teman-temannya untuk meringkus Barra.
Salah seorang dari mereka menghampiri Barra dan berusaha membekapnya.
Melihat seseorang berusaha menyakiti kekasihnya Zia tak tingga diam.
Ia memukul pria itu dengan tasnya. Zia menggandeng lengan Barra dan berlari meninggalkan para preman itu.
Baru saja beberapa langkah mereka pergi puluhan lainnya menghadangnya.
*Buugghh!!
Barra jatuh tersungkur ke lantai saat sebuah baton menghantam punggungnya.
Saat ia mencoba bangun seseorang menikamnya hingga ia jatuh terkulai ke tanah.
Zia berteriak histeris melihat para gengster itu menyakiti Barra dan mencoba melarikan diri. Seorang gengster mengejarnya membuat gadis itu mempercepat langkahnya.
Ia buru-buru keluar Bandara dan berusaha menghentikan taksi.
Namun tak ada satupun taksi atau Bus yang berhenti.
Sebuah Taksi melintas dengan cepat di depan Zia.
Rendy segera membuka pintu taksi dan menarik Zia masuk.
"Cepat jalan pak!" seru Rendy
__ADS_1
Puluhan orang berjas hitam berjalan memasuki lapangan futsal.
Mereka tampak membawa baton di tangannya dengan langkah yang terburu-buru seperti hendak menghadapi musuh berbahaya.