WELCOME TO HELL SCHOOL

WELCOME TO HELL SCHOOL
Bab 28


__ADS_3

Rendy memang tidak memiliki otak encer seperti saudara kembarnya Rendra. Wajar saja jika ia tak mendapatkan nilai bagus seperti yang selalu di raih oleh Rendra selama ini.


Rendy duduk di depan kelas merenungi kegagalannya kali ini.


"Padahal aku sudah belajar mati-matian semalam tapi kenapa aku masih saja mendapatkan nilai jelek. Padahal aku sudah sering mendapatkan jelek, tapi kenapa kali ini rasanya sakit sekali," Rendy terlihat memukul-mukul dadanya yang terasa sesak


Sementara itu Luna terus memperhatikannya dari kejauhan. Gadis itu tak merasa terkejut sama sekali saat melihat penurunan nilai Rendra yang drastis karena ia tahu jika pemuda yang ada di depannya bukanlah Rendra.


"Sudah ku duga kau bukan Rendra, apapun alasanmu menyamar menjadi Rendra aku tak bisa membiarkan kamu berada di sekolah ini. Aku harus memberitahu pak Bambang,"


Luna bergegas menuju ruang kerja kepala sekolah. Kali ini gadis itu memilih berhadapan dengan kepala sekolah langsung agar Rendra bisa dikeluarkan secepatnya tanpa seorangpun yang tahu.


Saat tiba di depan pintu, ia mendengar ada suara seseorang sedang berbincang dengan kepala sekolah.


Ia mencoba menunggu orang itu keluar dari ruangan tersebut karena tak bisa menyerobot masuk mengganggunya.


"Aku harap kau segera mengeluarkan dia dari sekolah ini. Aku tak mau lagi melihat wajah bajing*n itu di hari Dev kembali masuk sekolah,"


"Baik Pak Menteri, aku akan melakukan apapun untuk mengeluarkan dia dari sekolah ini."


Luna mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan kedua pria itu.


"Sepertinya percuma saja aku melaporkan identitas asli pria itu. Ia tetap akan di keluarkan dari sekolah ini tak peduli ia memiliki prestasi di sekolah ini atau tidak. Bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana bisa menyenangkan hati seorang donatur sekolah yang selalu memberikan bantuan yang melimpah kepadanya,"

__ADS_1


Luna membuang dokumen yang ia bawa ke tempat sampah.


Dalam perjalanan pulang, ibunya menghubunginya untuk datang ke rumah sakit tempat tempatnya bekerja.


Luna memesan ojek online dan melesat menuju rumah sakit tempat ibunya bekerja.


Setibanya di rumah sakit ia melihat seorang pasien yang terbaring di sebuah brangkar didorong beberapa orang tenaga medis menuju ruang operasi.


Seorang wanita tampak terisak dan duduk di depan ruang operasi.


"Kamu sudah datang sayang," sapa seorang dokter yang sudah memakai pakaian seragam operasi


Luna mengangguk.


Lagi-lagi gadis itu mengangguk pelan.


Luna menghentikan langkahnya saat melewati seorang wanita yang tengah khusuk berdoa di depan ruang operasi.


"Tante Lina??"


Ia mendekati wanita itu untuk memastikan jika ia tidak salah lihat.


"Tante Lina??"

__ADS_1


Wanita itu membuka matanya dan menatap gadis cantik di depannya.


"Luna??, bagaimana kau ada di sini?" jawab Marlina balik bertanya


"Tidak Tante, aku datang ke sini untuk menemui ibuku?"


"Ibumu seorang dokter??"


Luna mengangguk.


"Tante sendiri kenapa ada di sini?"


Marlina tampak gelagapan menjawab pertanyaan Luna. Bagaimana ia bisa memberitahunya jika ia sedang menunggu Rendra yang tengah berada di ruang operasi


Ia takut jika identitas Rendra diketahui oleh Luna maka itu akan berbahaya bagi Rendy.


"Aku sedang menunggu putra temanku yang sedang dioperasi," jawab Marlina


Namun pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka. Beberapa orang tenaga medis membawa Rendra keluar.


Seketika Luna terperanjat melihat sosok pemuda itu.


"Rendra??"

__ADS_1


__ADS_2