
Luna segera mengajak Rendy untuk melihat hasil ujian matematika begitu seorang petugas memasang nilai ujian mereka di papan pengumuman.
Rendy tersenyum simpul saat melihat namanya ada di urutan kedua setelah Luna.
"Thanks Luna," ucap Rendy
"Sama-sama, aku harap mulai hari ini peringkat mu akan naik lagi," jawab Luna
"Semoga saja begitu,"
Rendy segera kembali ke kelasnya setelah.
"Ndra, kamu diminta untuk menemui Pak Arman sekarang," ucap seorang siswa menghampirinya
Rendy segera menuju ke ruang guru dan menemui Arman.
Arman menunjukkan sebuah lembar jawaban, "Apa benar ini milikmu?"
Rendy terkesiap mendengar ucapan Pak Arman.
Sekali lagi Arman menanyakan tentang contekan yang ditemukannya.
"Meski kau tak mengakui jika contekan ini, tetap saja hal itu tak akan merubah pandangan ku terhadap dirimu.
"Aku tidak menyangka jika siswa cerdas sepertimu melakukan hal memalukan seperti ini. Siapa yang sudah memberikan kertas contekannya kepadamu?"
__ADS_1
"Contekan ini asli punyaku dan aku menjamin tak ada seorangpun yang terlibat dalam kasus pagi ini." ujar Rendy
Arman menghela nafas panjang mendengar pengakuan Rendra.
"Kenapa kau melakukan hal ini. Bukankah kau seorang siswa yang cerdas lalu untuk apa kau mencontek?"
"Sejak aku sadar dari koma, aku menyadari kemampuan ku mulai berkurang. Aku tak bisa lagi menghapal semua pelajaran dengan cepat. Aku tak mau kehilangan kehilangan kesempatan belajar di sini. Tapi sialnya baru sekali aku membawa contekan," terang Rendy
"Karena kau ketahuan membawa contekan maka kau akan diskorsing selama dua Minggu,"
Meskipun Rendy menanggap itu hal yang tidak adil. Namun tetap saja ia tak bisa melarikan diri dari hukuman itu.
Arman juga memberitahukan kepada Rendy jika hukumannya akan dimulai setelah jam istirahat selesai.
Rendy berjalan menuju kelas dengan langkah gontai. Ia segera mengambil tas ranselnya dan pergi meninggalkan ruang kelasnya.
"Aku ketahuan membawa contekan. Jadi sekarang aku harus menerima hukumanya." jawab Rendy
Ia berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah penuh penyesalan.
Dev yang melihat Rendy harus pulang saat siswa lain mengerjakan ujian membuat pemuda itu bertanya-tanya. Apa yang sudah diperbuat Rendy??.
Rendy memilih diam dan berlalu pergi meninggalkan Dev tanpa menjawab pertanyaannya. Merasa di abaikan oleh Rendy, Dev menghentikan langkahnya.
"Jawab pertanyaan ku jika kau ingin pergi dari sini?. Kenapa kau harus diskros?" tanya Dev
__ADS_1
"Aku ketahuan menyontek, apa kau puas?" jawab Rendy membuat semua Dev menganga mendengarnya.
"Apa...membawa contekan?, yang benar saja. Memangnya kau kenapa sampai membawa contekan?" tanya Dev
"Aku ingin menjadi terbaik di sekolah ini. Dan aku tak suka melihat jika harus kembali menjadi sampah saat perekonomian keluarga kami semakin memburuk," jawab Rendy
Pemuda itu kemudian bergegas meninggalkan Dev.
Dev yang tampak begitu Senang saat mengetahui alasan Rendra pulang lebih awal. Ia bahkan menyuruh beberapa orang kaki tangannya untuk mengganggu Rendy di hari terakhirnya.
Anak buah Dev sengaja membuat Rendy marah dengan memprovokasinya.
Rendy yang sudah tak bisa menahan emosinya segera menghajar para siswa itu hingga membuat mereka terkapar. Bahkan salah seorang dari mereka meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Dua orang polisi datang ke kosan Rendy dan membawanya ke kantor polisi. Ia ditahan dengan tuduhan pembunuhan.
Sementara itu Dev yang kesal dengan Rendy yang sudah membunuh anak buahnya, berniat membakar rumah Rendy.
Namun betapa terkejutnya Dev saat melihat sosok Rendra yang asli di rumah itu.
Dev menghubungi seorang sahabatnya yang berada di kantor polisi dan menanyakan tentang Rendy.
"Rendra ada di sini, dia sedang diinterogasi oleh pak polisi!"
Mendengar jawaban anak buahnya membuat Dev semakin terperanjat. Apalagi saat melihat Marlina menutup pintu rumahnya.
__ADS_1
"Jika Rendra ada di kantor polisi, lalu siapa pemuda itu. Kenapa wajahnya begitu mirip dengan Rendra???"