WELCOME TO HELL SCHOOL

WELCOME TO HELL SCHOOL
Bab 37


__ADS_3

Rendy tak punya pilihan lain selain masuk kedalam mobil Luna.


Luna kemudian membawa pria itu kesebuah Restoran. Rendy tampak lahap saat menyantap makanan favoritnya. Luna begitu senang saat melihat pemuda itu tertawa lepas. Ia tak enggan-enggan menanyakan sesuatu yang konyol kepadanya.


Jujur Luna sebenarnya tak mengerti kenapa ia begitu bahagia saat bertemu dengan seorang Rendy. Bahkan ia begitu ingin tahu tentang mantan napi tersebut.


Selesai makan, Rendy terlihat menikmati pemandangan di sekitar kafe tersebut. Ia bahkan sengaja duduk di tepi kolam sambil memberi makan ikan.


"Apa kau sangat suka ikan?"


"Tidak juga, aku hanya suka melihat kebersamaan mereka. Mereka selalu rukun dan tampak bahagia saat bersama. Seperti sekarang mereka tampak begitu bahagia meskipun hanya menikmati sebuah makanan sederhana tanpa mempermasalahkan perbedaan diantara mereka," ujar Rendy


"Apa kau masih memikirkan tentang masalahmu dulu?" Tanya Luna


"Hampir sedetik pun aku tidak pernah melupakan Semuanya," sahut Rendy


"Tak bisakah kau memaafkan orang-orang yang sudah membuatmu seperti ini?" tanya Luna


"Sebenarnya aku sudah melupakannya. Namun sayangnya kau selalu mendekati aku. Itulah yang membuat ku kembali mengingat peristiwa itu,"

__ADS_1


Luna seketika memerah mendengar ucapan Rendy.


"Memangnya apa salahku sehingga membuat mu selalu mengingat kejadian di masa lalu?"


"Karena kau yang membawa aku ke sel itu, dan kau juga yang sudah membuat saudaraku bunuh diri. Jika bukan karena contekan sialan itu semuanya tidak akan begini!" sahut Rendy


"Tapi...."


Luna merasa sangat bersalah hingga tak bisa membela dirinya didepan Rendy.


"Meski aku tahu bukan maksud mu untuk membuatku seperti ini, dan itulah yang selalu memberiku batasan agar tidak terlalu dekat denganmu." jawab Rendy


Selesai makan Rendy bahkan meminta Luna mengantarnya ke makam Rendra.


Cukup lama Luna berada di dalam mobil hingga membuatnya penasaran dan turun dari mobil.


Gadis itu tersenyum saat melihat Rendy yang masih duduk di depan pusara kakaknya.


"Kalau sudah selesai miss call aku aja, sorry aku gak bisa stay di sini," ucap Luna

__ADS_1


Gadis itu kemudian membalikkan badannya, namun ia tercengang saat angin mengibaskan jacket Rendy.


Ia buru-buru menoleh ketempat pria itu duduk. Dan betapa terkejutnya Luna saat melihat sebuah ranting yang ditancapkan di depan pusara Rendra.


"Rendy!!" seru Gadis itu berusaha mencari Rendy


Gadis itu begitu sedih sekaligus kecewa saat menyadari Rendy telah pergi meninggalkannya.


celana tanpa menangis terseru seru sambil memegangin nisan Rendra meluapkan kesedihannya di depan makam renda sambil menceritakan betapa perihnya perasaan Gadis itu yang menerima kenyataan jika pria yang disukainya kini membencinya.


Rendy menatap dingin gadis itu dari kejauhan.


Meski sebenarnya Rendra tak ingin melukai perasaan Luna, namun Ia juga tak bisa berada dekat dengannya yang membuatnya selalu teringat akan nasib buruk yang menimpa saudara kembarnya .


Pemuda itu kemudian pergi menuju kediaman Ibunya Marlina. Namun ia tak menemui wanita itu di rumahnya. Bahkan ia melihat rumahnya seperti sebuah bangunan tua yang tak berpenghuni.


Saat ia memasuki rumah itu tampak begitu banyak sarang laba-laba yang memenuhi setiap ruangan.


"Dimanakah dirimu Ibu??" ucap Rendy mengusap foto Marlina. Ia memilih membersihkan rumah itu dan beristirahat di kamar Rendra.

__ADS_1


Entah kenapa bayangan masa lalu yang di alami Rendra.


Rendy segera bangun dan keluar dari kamar itu. Rendy melihat seseorang tampak mengawasinya dari kejauhan.


__ADS_2