
Sore itu Rendy menepati janjinya dengan mendatangi kediaman Luna.
Ia berdiri menatap rumah mewah bercat putih itu.
Seorang wanita keluar membukakan pintu untuknya.
"Silakan masuk Mas,"
Rendy mengikuti wanita itu masuk kedalam rumah.
Tidak lama Luna keluar dan duduk di sampingnya.
Luna mengeluarkan buku paket matematika.
"Sekarang buka bukumu!"
Rendy segera mengeluarkan buku matematikanya dan mendengarkan gadis itu berbicara.
Meskipun ia sangat malas belajar dan tak suka mendengarkan gadis itu berbicara panjang lebar, namun ia tak ada pilihan lain selain mendengarnya.
"Dari penjelasanku tadi apa ada yang mau ditanyakan?" tanya Luna
Rendy menggelengkan kepalanya. Luna menghela nafas melihat tatapan datar pria itu.
Ia kemudian mengajaknya keluar,
__ADS_1
"Aku tahu pria sepertimu pasti tidak suka belajar, tapi kali ini kau harus belajar jika tidak mau identitas mu terbongkar,"
Rendy menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Luna. Ia benar-benar terkejut saat gadis itu mengetahui jika dirinya bukan Rendra.
"Bagaimana kau bisa tahu?" ucap Rendy mengernyitkan keningnya
"Semua orang bisa kau bohongi tapi tidak denganku. Aku sangat mengenal Rendra, meski kalian sangat mirip tapi skill kalian berbeda. Perangai mu yang cenderung kasar, meskipun kau kuat tapi kau sangat bodoh berbeda dengan Rendra yang lemah tapi genius,"
Rendy hanya tersebut getir mendengar penjelasan dari Luna.
"Lalu apa maksudmu mengundang ku ke sini?"
"Meskipun awalnya aku tak suka kau menyamar menjadi Rendra. Tapi aku tahu kau pasti punya alasan melakukan hal itu. Sebagai sahabat Rendra aku tak bisa membiarkan dia turun di kelas terbawah atau dikeluarkan dari sekolah ini hanya karena nilainya turun,"
Gadis itu menoleh kearah Rendy dan memberikan buku paketnya.
"Apa kau memiliki hubungan spesial dengan kakak ku?" tanya Rendy
Luna tertawa mendengar ucapan Rendy.
"Apa orang hanya orang yang memiliki hubungan spesial yang peduli dengan seseorang?"
"Biasanya sih begitu, mana ada orang yang tak ada hubungan apapun peduli dengan orang lain. Kalaupun ada itu hanya beberapa persen saja," jawab Rendy
Pemuda itu kembali ke ruang tamu untuk untuk mengambil tasnya dan berpamitan.
__ADS_1
Luna yang kesal mencoba menghentikannya, namun Rendy tak mengindahkan ucapan gadis itu dan tetap berlalu pergi.
Rendy memilih mengunjungi Rendra di rumah sakit.
Ia terkejut saat melihat Rendra sudah mulai siuman.
Untuk pertama kalinya ia bertatapan langsung dengan saudara kembarnya itu.
Rendra tersenyum melihat Rendy. Ia berterima kasih karena Rendy sudah berjuang untuk membalas dendam kepada musuh-musuhnya yang sudah membuatnya terbaring di rumah sakit.
"Terimakasih," ucap Rendra membuat Rendy seketika meneteskan air matanya.
Rendra menggenggam erat jemarinya saat ia berpamitan. Rendra bahkan menyelipkan sesuatu untuknya saat ia berpamitan.
Rendy tersenyum senang saat Rendra menggenggam erat jemarinya.
Pemuda itu mengepalkan tangannya seakan hendak memberinya semangat.
Rendra yang mulai sadar dan mengenalinya membuat Rendy terpacu untuk belajar matematika malam itu.
Seperti ucapan Luna, ia tak mau melihat Rendra tersingkir dari sekolah itu hanya karena nilainya yang turun.
"Aku akan berjuang semaksimal mungkin agar kamu tetap bisa bersekolah di sekolah itu!"
Keesokan harinya, Rendy tampak antusias saat soal ujian dibagikan.
__ADS_1
Namun wajahnya seketika berubah saat melihat soal-soal di depannya.