WELCOME TO HELL SCHOOL

WELCOME TO HELL SCHOOL
Bab 43


__ADS_3

Rendy mengepalkan tangannya saat mendengar cerita Tari. Ia kemudian berjanji kepada Tari untuk membantunya mendapatkan keadilan.


"Aku akan membantumu untuk bisa kembali menjadi siswa VIP di sekolah. Aku juga akan membuat Devano dan Luna bertanggung jawab atas semua yang mereka lakukan selama ini," ucap Rendy


Ia kemudian meminta Tari untuk tidak mengatakan apapun jika ada pihak sekolah yang menjenguknya.


Ia meminta gadis itu untuk berpura-pura trauma dan tak berbicara kepada siapapun.


Tari menuruti semua perkataan Rendy ia bahkan tak berbicara dengan dokter yang merawatnya sehingga dokter menyarankan untuk melakukan terapi.


Kepala sekolah merasa lega saat mengetahui kondisi Tari yang belum membaik. Begitupun dengan Luna dan Devano yang menjenguknya setelah kepala sekolah pulang.


"Sepertinya aman. Aku yakin Tari tak akan memberitahukan orang-orang tentang apa yang sudah kamu lakukan padanya," bisik Devano


Luna hanya tersenyum tipis kemudian bergegas pergi meninggalkan bangsal perawatan Tari.


Seperti rencana ia menghubungi Rendy dan memintanya untuk bertemu di sebuah mall.


Devano sengaja mengantar kekasihnya itu untuk menemui Rendy.


Ia sudah tak sabar untuk melihat kekalahan Rendy untuk kedua kalinya.


Sementara itu Rendy yang sedari tadi mengawasi ruangan Tari segara mengikuti mobil Devano menuju ke sebuah mall besar di jantung kota.


Ia sengaja melajukan kendaraannya lebih cepat agar bisa tiba lebih dulu.


Setibanya di mall, Rendy segera berganti pakaian dan menuju ke sebuah restoran cepat saji.


Tidak lama ponselnya berdering, ia memberitahu Luna jika dirinya sudah menunggunya di restoran cepat saji.


Luna segera menuju restoran tersebut diikuti Devano yang sengaja mengikutinya dari kejauhan.


Luna melambaikan tangannya saat melihat Rendy yang menunggunya.


Ia menghampiri pemuda itu dengan senyum mengembang. Luna mengatakan jika ini adalah saat yang tepat baginya untuk menjalankan rencana mereka.


"Jadi sekarang??" tanya Rendy memastikan


"Iya, aku yakin ini adalah tempat yang cocok untuk menyampaikan perasaan mu kepada ku," jawab Luna


"Ok," Rendy beranjak dari duduknya dan mengikuti Luna menuju tempat yang sudah dipersiapkan oleh Luna.


Ia segera duduk di meja yang sudah ditentukan. Luna kemudian memberinya isyarat dengan jarinya.


Rendy segera menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Luna.


Ia kemudian segera menyampaikan perasaannya kepada gadis itu.


Tak seperti yang mereka rencanakan Luna justru benar-benar dibuat baper oleh Rendy.


Gadis itu benar-benar tak bisa menolak saat Rendy mengeluarkan sebuah mawar merah dan memberikan kepadanya.

__ADS_1


Luna langsung menerimanya dengan senyum bahagia.


Rendy tak lupa memberinya sebuah gelang couple dan memakaikannya di lengan Luna.


Kini tiba saatnya Rendy menanyakan kepadanya apa ia menerima perasaannya atau tidak.


Luna terlihat beberapa kali berusaha membuka bibirnya, namun semuanya Gagal saat ia menatap wajah Rendy.


Entah kenapa ia begitu terpesona dengan ketampanan Rendy hingga lupa dengan tujuannya.


Tentu saja hal itu membuat bHlllllk


Bisa membuka bibirnya saat ia ingin mengatakan saat ia ingin mengatakan sesuatu untuk menolak perasaan dan tiba-tiba lidahnya kelu dan terpukau dengan ketampanan Rendy.


Devano yang kesal segera keluar dari persembunyiannya. Di luar dugaan . Diluar dugaan Rendy mencium bibir Luna hingga gadis itu tak bisa berbuat apa-apa.


Semua pengunjung mal tampak terkejut.


"Cium, cium, cium!" seru para pengunjung mall


Situasi tampak berbeda seperti yang sudah di rencanakan. Luna yang memang diam-diam mencintai pemuda itu, seolah terbius dengan pesona Rendy dan tak kuasa untuk menolaknya


"I love you Ren," ucap gadis itu meraih mawar merah dari tangan Rendy


Devano tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya saat melihat Luna justru menerima cinta Rendy.


"Dasar cewek sialan!" gerutunya


Setelah berhasil membuat Luna klepek- klepek. ia kemudian mempersiapkan sebuah serangan balik untuk gadis itu.


Luna tampak pucat pasi saat mendengar rekaman itu. Ia segera berlari meninggalkan tempat itu saat melihat ekspresi wajah para pengunjung mal.


Luna tak mengira jika Tari sempat merekam pembicaraannya, karena ketakutan Luna memilih pulang tanpa menghiraukan Rendy.


Pagi harinya Luna terlihat enggan masuk sekolah. Ia takut semua siswa di sekolah sudah mendengar rekaman suara Tari.


Jika bukan karena ayahnya Luna tak mungkin masuk sekolah.


"Ayolah sayang, jangan berpikiran sempit, aku yakin semua masalah akan beres jika dihadapi,"


Luna menuruti ucapan ayahnya. Ia segera ke ruang kerja ayahnya.


Meskipun ayahnya adalah pemilik yayasan sekolah namun ia tak bisa berkutik saat di depan ayah Devano Narendra.


Karena pemilik sebenarnya sekolah tersebut adalah Narendra. Ayah Luna hanya dijadikan sebagai boneka untuk menjalankan usaha dari money laundering uang haram Narendra.


Saat Luna sedang bermalas-malasan di sofa ia mendengar ada suara orang yang datang.


Luna segera bersembunyi di balik lemari.


Seorang dengan tubuh tinggi besar dan memakai safari memasuki ruangan itu.

__ADS_1


"Selamat pagi pak?" sapa ayah Luna menyambut kedatangan Narendra


Keduanya kemudian membahas tentang Luna. Narendra kemudian meminta ayah Luna untuk mengirim Luna ke Universitas bergengsi di luar negeri.


Lelaki itu hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa berani membantah apalagi menolak keinginan Narendra.


Luna begitu sedih saat tahu ayah Devano menyuruhnya kuliah di universitas lain.


Setelah pri itu keluar iapun menghampiri ayahnya dengan wajah gusar.


Ayahnya berusaha menghiburnya namun Luna justru meledak-ledak dan mengancam akan bunuh diri jika ia tidak bisa kuliah di Oxford.


"Aku tidak mau kuliah selain di Oxford ayah, kalaupun aku tidak diterima di sana lebih baik aku tidak kuliah tahun ini dan menunggu tahun depan!" seru Luna


"Tapi sayang, universitas yang ditawarkan oleh Pak Rendra juga tak kalah bagus kok dengan Oxford, ayolah nak jangan merajuk. Kau tahu kan kita tak bisa apa-apa jika mereka sudah memutuskan,"


"Aku bisa merubah keputusannya," ucap Luna sinis


Gadis itu kemudian keluar dari ruang kerja ayahnya. Lelaki itu mencoba mengejarnya ia yakin putrinya akan Melakukan hal-hal yang tidak baik.


Benar saja Luna menemui Devano dan mengancam akan mengungkapkan semua kebusukan kekasihnya itu jika ia tidak bisa kuliah di kampus kebanggaannya.


"Terserah kau saja Lun, lakukan saja apa yang kau mau aku tidak peduli," ucap Devano


"Really?"


"Of course,"


"Baiklah, aku akan memulainya sekarang," Luna segera membuka ponselnya dan mulai melakukan live di akun media sosialnya


Saat gadis itu mulai membicarakan bagaimana Devano mendapatkan nilai-nilai bagusnya, lelaki itu mulai kebakaran jenggot. Ia berusaha merebut ponsel Luna dan menghentikan Live.


"Kalian lihat kan, bagaimana reaksi sang putra mahkota saat kebusukannya diungkap oleh kekasihnya!" seru Luna


"Jangan main-main Luna!" Hardik Devano kemudian mendorong gadis itu hingga jatuh tersungkur.


Rendy yang melihat kejadian itu segera membantu Luna.


"Minggir dan jangan ikut campur urusan kami jika kamu masih ingin sekolah di sini!" bentak Dev saat melihat Rendy


Rendy yang berpenampilan berbeda segara membantu Luna bangun tanpa menghiraukan ucapan Devano.


Lelaki itu kemudian mendekati Rendy dan melepaskan tendangan keras kearahnya hingga Rendy.


Melihat kejadian itu Luna teringat pertama kali Devano merisak Rendra karena membelanya.


Melihat Rendy merintih kesakitan Luna segera menghampirinya.


Entah kenapa Luna melihat wajah Rendy begitu mirip dengan Rendra hingga ia mengira Rendy adalah Rendra.


"Apa kamu baik-baik saja Ndra, sebaiknya kamu jangan membela ku lagi Ndra. Karena Devano akan merundung mu terus menerus.

__ADS_1


Kau tahu kan kalau dia sangat posesif, jadi menjauhlah dariku dan jangan pernah pedulikan aku apapun keadaan ku Ok!"


Melihat wajah Luna yang begitu mengkhawatirkan Genta membuat Dev semakin marah. Sebaliknya Rendy justru semakin yakin alasan kenapa kakaknya di bully hingga nyaris mati karena cintanya kepada Luna.


__ADS_2