
Semua napi segera minggir dan memberikan jalan kepada pria itu untuk mendekati Rendy.
Ia menyeringai saat melihat Rendy dari dekat.
"Aku kira kau benar-benar seorang jagoan yang harus di takuti, tidak ku sangka kau hanya seorang bocah ingusan!" tukas pria itu
Kemudian meludah seolah meremehkan Rendy.
"Meskipun aku hanya seorang anak ingusan, tapi aku bukan seorang pecundang seperti dirimu," singgung Rendy membuat pria itu seketika menghentikan langkahnya dan menoleh kearahnya.
"Ternyata kau punya nyali juga bocah. Baiklah mari kita lihat sampai sejauh mana kemampuan mu!"
Lelaki itu mengepalkan tangannya dan melepaskan tinjunya kearah Rendy. Rendy segera menghindar dan melepaskan pukulan keras ke perut pria itu.
*Buugghh!!
Seketika semua makanan yang baru saja di makanya langsung menyembur keluar dari mulutnya.
Lelaki itu tampak malu dan mulai mempersiapkan serangannya.
Kali ini ia mengeluarkan sebuah senjata tajam dan mulai menyerang Rendy.
Gerakan Rendy yang sangat lincah membuat pria itu kewalahan menghadapinya.
__ADS_1
Melihat lawannya kewalahan Rendy segera melepaskan tendangan keras kearahnya hingga pria itu roboh.
Lelaki itu berusaha bangun dan mengambil belatinya.
Saat ia bangun ia sengaja mengambil segenggam debu dan melemparnya ke wajah Rendy hingga ia kesulitan melihat. Saat itulah pria itu menikamnya, beruntung sipir penjara datang membubarkan mereka.
Mengetahui Rendy kembali membuat keributan, sang sipir kemudian memindahkan Rendy ke lapas khusus.
Ia dikurung seorang diri dimana tidak ada satupun napi di tempat itu.
""""*****""""""*****""""""
Sementara itu pihak sekolah memberikan surat panggilan untuk orang tua Rendra.
Marlina sudah merasakan firasat buruk saat mendapatkan surat undangan tersebut, sehingga ia memang sudah mempersiapkan mental jika sesuatu yang negatif terjadi padanya
Seorang guru mengantarnya menuju ruang kepala sekolah.
Di dalam Bambang sudah menunggunya. Lelaki itu bahkan membawa setumpuk berkas yang diletakan di depannya.
Bambang kemudian menyampaikan maksud dan tujuan ia mengundang Marlina. Tanpa basa-basi Bambang langsung memberitahu Marlina jika putranya Rendra dikeluarkan dari sekolah karena alasan memalsukan identitas dirinya. Marlina hanya pasrah dan menerima keputusan kepala sekolah.
Namun tidak begitu dengan Rendra, pemuda itu tak terima dirinya di keluarkan dari sekolah, karena merasa tidak tahu apapun tentang saudara kembarnya menyamar sebagai dirinya.
__ADS_1
Ia bahkan meminta maaf kepada Max dan Bambang, berharap mereka tidak jadi mengeluarkannya.
Namun sayangnya nasi sudah menjadi bubur, keputusan Bambang sudah bulat dan tidak bisa diubah lagi. Bahkan saat Rendra mengancam akan menjatuhkan dirinya dari lantai atas sekolahan, Bambang tak bergeming dan tetap pada keputusannya. Yaitu mengeluarkan Rendra tanpa mendengarkan penjelasan dari pemuda itu.
Merasa frustasi karena kehilangan semua impiannya membuat Rendra tanpa basa-basi langsung menjatuhkan dirinya dari lantai 3 gedung sekolahnya.
*Buugghh!!
Semua siswa wanita menjerit histeris saat melihat tubuh Rendra tergeletak di lantai bersimbah darah.
Marlina segera berlari menuju kerumunan siswa. Wanita itu seketika jatuh pingsan saat melihat sosok putra kesayangannya terbujur kaku di depannya.
Ia menangis tersedu-sedu meratapi nasib malang putranya.
Marlina merasa hidupnya seperti berakhir saat kehilangan Rendra. Ia bahkan sampai terguncang hingga tak mau berbicara dengan siapapun juga.
Rendy mendapatkan jatah cuti untuk menemui mayat kakaknya Rendra.
Rendy menjenguk ibunya yang sakit, sebelum ikut memakamkan Rendra.
Namun saat menemui ibunya, wanita itu justru melemparinya dengan benda-benda yang ada di sekitarnya.
"Dasar Iblis, gara-gara kamu aku kehilangan putraku. Gara-gara kamu putraku bunuh diri!" seru Marlina
__ADS_1
"Maaf jika sudah membuatmu sedih ibu. Tapi asal kau tahu meskipun kau sangat membenciku namun itu tak akan membuat ku membencimu karena kau adalah ibuku,"