
Sementara itu Ibu Rendra kali ini benar-benar merasa sangat terpukul saat mengetahui kondisi putranya yang kembali drop dan kritis.
Wanita itu tak henti-hentinya mengutuk perbuatan sang menteri.
Ia bahkan mendatangi kantor polisi dan untuk melaporkan sang menteri yang sudah menganiaya putranya hingga koma. Wanita itu nekat datang seorang diri ke kantor polisi meskipun tak di dampingi seorang pengacara.
"Aku mohon tangkap pak Menteri dan hukum dia seberat-beratnya. Bagaimana mungkin seorang yang seharusnya menjadi seorang panutan justru menganiaya seorang siswa SMA yang lemah, dan lagi kenapa guru dan kepala sekolah yang seharusnya melindunginya justru malah membelanya bahkan ikut menganiaya putraku, benar-benar anak yang malang!" ucap wanita itu begitu sedih.
Namun para polisi itu hanya mencatat laporannya tanpa berbuat sesuatu hingga membuat wanita itu naik pitam.
"Kenapa kalian diam saja dan tidak menangkapnya!" seru Marlina
"Tidak bis begitu Ibu, semua ada prosedurnya. Sekarang kami baru menerima laporan dari anda. Kemungkinan besok kami baru akan menginvestigasi kasus ini. Jika bukti-buktinya sudah lengkap maka kami baru akan menangkap pelaku dan menjebloskannya ke penjara." jawab seorang polisi
"Aku tahu kalian tidak akan pernah memihak rakyat miskin seperti kami!" seru Marlina
"Bukan seperti itu Ibu, semuanya ada prosesnya. Sekarang kami masih menangani kasus lain yang juga tak kalah penting jadi tolong anda bisa mengerti,"
Marlina kemudian meninggalkan tempat itu.
*Restoran tempat Sang Menteri mentraktir para karyawannya
Suasana hikmat saat semua orang tengah fokus menikmati hidangan makan siang mereka, tiba-tiba menjadi gaduh saat salah seorang dari mereka tak sengaja menemukan unggahan Barra yang di upload ke sosial media. Mereka kemudian memberitahu berita itu secara estafet kepada teman-temannya hingga semua orang tercengang melihat berita tersebut.
Tak sedikit dari mereka yang langsung mengeluarkan sumpah serapahnya kepada sang menteri setelah melihat tayangan video tersebut melalui sosial media ataupun yang ditayangkan dalam berita sela sebuah televisi nasional.
Seorang bodyguard Narendra membisikkan sesuatu kepadanya membuat pria itu segera membuka ponselnya.
"Brengsek, bagaimana video ini bisa tersebar di sosial media!" gerutu Narendra
__ADS_1
Semua mata tampak menatap pria itu seolah menyudutkannya atas apa yang dilakukan pria itu kepada siswa Madrid High School.
Melihat situasi tempat itu yang sudah mulai tak kondusif membuat sang menteri kemudian mendekati bodyguardnya dan memerintahkan pria itu untuk segera mengawalnya pulang.
Lelaki itu kemudian meminjamkan Hodienya kepada sang menteri dan menyuruh pria itu memakainya.
Narendra segera menutupi wajahnya dengan penutup kepala agar semua orang tak mengenalinya saat ia keluar dari ruang VIP.
Kendati sang menteri sudah berusaha menyembunyikan wajahnya tetap saja ada yang mengenalinya saat ia keluar dari ruangan VIP.
Beberapa orang tampak histeris dan melemparkan sesuatu kearahnya sembari mencibirnya atas apa yang ia lakukan kepada seorang siswa SMA Swasta.
Sang Bodyguard segera mengamankan Narendra dan menariknya dari kerumunan para pengunjung restoran.
Narendra kembali menutupi wajahnya saat ia menunggu sang bodyguard yang mengambil mobilnya.
"Bukankah dia si menteri perundung itu!" seru salah seorang wanita membuat semua orang langsung menghampirinya. Sebelum orang-orang itu melampiaskan kekesalannya kepadanya, Narendra langsung berlari meninggalkan tempat itu.
"Aku benar-benar membenci orang-orang jahat itu. Tega-teganya mereka membawa Rendra ke rumah sakit kecil seperti ini. Aku bersumpah aku akan membalas semua perbuatan mereka kepada kakakku," ucap Rendy dengan wajah bengisnya
Sore itu Rendy sengaja mendatangi sebuah kafe tempat tongkrongan anak-anak konglomerat.
Ia melihat Devano sedang bersenang-senang bersama teman-temannya.
Rendy mengepalkan tangannya saat melihat Devano sedang bercumbu dengan seorang wanita di sudut kafe.
Ia sengaja mendekati teman-teman Devano yang sedang beradu panco.
"Siapa yang berani melawan jagoanku!" seru salah seorang dari mereka mengangkat lengan seorang pemuda yang sudah mengalahkan semua orang yang beradu panco dengannya.
__ADS_1
"Aku menambah hadiahnya menjadi 3 juta bagi yang bisa mengalahkannya!" imbuhnya
Mendengar tantangan itu membuat Rendy langsung maju ke depan.
"Aku akan melawannya!" seru Rendy dengan nada dingin
"Ok, memangnya berapa banyak uang yang kau bawa sebagai taruhan?" tanya pemuda meremehkannya.
"Berapapun yang kau minta aku akan memberikannya, jika ia bisa mengalahkan aku," jawab Rendy
"Sungguh, memangnya siapa dirimu?" tanya pria itu
"Tentu saja, apa kau tidak percaya?" jawab Rendy membuat pria itu semakin tak percaya. Apalagi mereka belum pernah melihatnya di kafe itu
"Wah dia benar-benar sombong, memangnya anak Sultan mana lo, Lagipula kita belum pernah melihat wajah lo do sini,"
Rendy segera menurunkan tas ranselnya dan membukanya di depan pria itu.
Semua orang tampak terkejut saat melihat tas itu dipenuhi oleh uang.
"Meskipun aku bukan anak sultan, setidaknya aku bukan anak manja yang selalu menghabiskan uang orang tuaku dan menggunakan kekuasaannya untuk menutupi kejahatan ku," jawab Rendy
"Baiklah, kalau begitu mari kita buktikan seberapa besar kekuatan mu?"
Rendy segera duduk dan meletakkan tangannya untuk beradu panco.
Semua orang dibuat tegang olehnya karena ia sengaja membuat pertandingan terasa lama dengan mengulur waktu permainan.
Melihat lawannya begitu tangguh pria itu mencoba memainkan trik kotornya untuk mengalahkan Rendy.
__ADS_1
Namun dengan kekuatan Rendy, hanya dengan satu hentakan ia mampu mengalahkannya dengan mudah.
Suara tepuk tangan para pengunjung kafe membuat Devano penasaran dengan apa yang terjadi di kafe tersebut.