Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 7: Permulaan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan udara 1 jam 50 menit, aku tiba juga di Bandara New Chitose, di Ibu Kota Pefektur Hokkaido, Sapporo. Paman langsung menyambut ketika aku keluar dari pintu kedatangan.


“Paman rindu sekali kepadamu, Ken,” ucapnya sambil memelukku erat. Lalu, aku segera digiring masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan Paman terus bertanya tentang kehidupanku, mulai dari pekerjaan hingga percintaan. Terkait pekerjaan aku bisa bercerita dengan lancar, tetapi tentang percintaan aku tak tahu bagaimana harus bercerita.


“Sampai saat ini Ken masih sendiri,” terangku seraya sedikit tersenyum.


“Betulkah?” Paman memasang wajah terkejut. “Keponakan Paman yang setampan ini masih sendiri? Sepertinya kamu terlalu selektif.”


Paman seolah yakin banyak wanita yang mengejarku. Kenyatannya, aku bahkan tak memiliki banyak teman.


Aku kembali teringat Dave. Padahal kemarin ingatanku tentangnya sudah mulai memudar.


“Nanti Paman kenalkan dengan seseorang. Dia tak hanya cantik, tentunya baik dan pintar. Seperti itu kan tipemu?” sambung Paman.


“Paman, Ken ke sini untuk menenangkan diri bukan untuk mencari jodoh.”


“Menenangkan diri?” Ekspresi Paman mendadak cemas.


Astaga, aku keceplosan.


“Aaaa…apa, Paman?” Aku pura-pura lupa perkataanku sebelumnya. Ini untuk mengalihkan pembicaraan.


Seketika Paman menepikan mobil. “Ken, Paman sudah menyangka sesuatu terjadi padamu. Semalam Paman telepon Bibi Ayane, katanya kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Firasat Paman tak bisa dibohongi”, ucap Paman dengan menatapku serius.


Aku sudah salah tingkah. “Paman, maksud Ken, Ken ingin menenangkan diri dari rutinitas di Jakarta yang begitu crowded.”


“Baiklah, Ken. Paman tak bisa memaksa untuk bercerita sekarang, tapi jangan pernah menyimpan masalahmu sendiri. Ken masih punya Paman dan Bibi Ayane di sini.”


“Iya, Paman. Paman tenang saja.”


Saat tiba di rumah Paman, kulayangkan pandangan menyusuri setiap pemandangan yang terhampar. Sisa-sisa salju masih menempel di atap-atap rumah dan pepohonan. Hembusan angin membuat suasana terasa dramatis.


Rumah Paman berada di pinggiran kota dan di atas ketinggian. Kondisi tersebut memberikan pemandangan yang menakjubkan. Hokkaido memang memiliki kekayaan alam yang sangat indah.


“Hem, semoga winter di sini menenangkan seperti harapanku,” lantunku halus sambil menutup mata.


“Tapi Paman lebih suka musim semi. Pemandangan dan suasananya lebih menakjubkan.” Terdengar Paman menyahuti. Padahal aku pikir Paman sudah di dalam rumah. Aku pun hanya tersenyum menanggapi.


“Paman, Ken boleh tinggal di sini sampai tahun baru?” Aku memberanikan diri bertanya, walau jawabannya sudah bisa diprediksi.


“Tentu, Paman memang mengharapkan kamu tinggal di sini lebih lama, bahkan kalau bisa selamanya.”


“Terima kasih banyak, Paman!”


Ketika nantinya aku mantap untuk tak kembali ke Indonesia, aku sudah memiliki rencana mencari pekerjaan di sini. Lalu, mencari tempat tinggal yang terjangkau sesuai kemampuanku.


“Ini rumah Ken juga. Paman akan sangat bahagia jika Ken mau tinggal di sini sampai Paman tiada.”


Ucapan Paman menghidupkan keharuan. Aku pun memeluknya untuk menghentikan nuansa tersebut.


***


Beberapa hari berada di rumah Paman, aku merasa lebih baik. Ditambah aku pun memiliki aktivitas melayani pengunjung di hotel Paman. Awalnya, Paman tidak memperbolehkan aku bekerja. Menurut Paman, aku seharusnya menikmati liburan akhir tahun saja. Namun, aku meyakinkannya jika aku pun butuh aktivitas. Lagi pula, aku belum memiliki teman yang bisa mengajak aku keliling Hokkaido.


Paman juga ternyata telah mempersiapkan satu kamar hotel untukkku. Kamar dengan yang sangat luar biasa. Bukit, aliran sungai, pedesaan, semua terhampar dengan guratan yang pas. Sangat memanjakan mata. Paman seolah mengerti bahwa aku memang tengah menginginkan suasana seperti ini.


“Sebenarnya Paman ingin mengajakmu keliling Sapporo. Tapi belum ada waktu seharian yang  pas,” ungkap Paman saat kami sarapan.


“Ken kan datang ke sini bukan untuk merepotkan Paman. Nanti Ken bisa pergi sendiri.”


“Tapi Ken tak perlu juga menjadi pegawai Paman.”


“Ken ini kan keponakan Paman. Sudah sepatutnya Ken membantu Paman.”


Kami pun melanjutkan sarapan. Setelah itu pergi ke hotel. Paman tampak sangat antusias.


“Ken, katanya dia sudah menunggu di ruangan Paman.”


“Dia siapa, Paman?”


“Kita temui saja dulu. Semoga dia bisa menenami hari-harimu di sini”.


Aku pun menurut saja, meski merasa kurang nyaman. Aku bukan orang yang mudah berinteraksi dengan orang. Terlebih jika dari awal aku tahu dikenalkan untuk dijodohkan.


Seorang perempuan dengan rambut sebahu, kulit putih bersih, wangi, dan berpenampilan sangat feminim langsung menyambut kedatanganku dan Paman. Dia kah teman untukku yang Paman maksud?


“Ken, ini Mayumi,” jelas Paman sambil memberi sinyal agar aku menyapanya untuk berkenalan.


“Hi, I’m Ken. Nice to meet you.” Aku tidak tahu bagaimana seharusnya berkenalan dengan baik. Aku begitu gugup.


“Hai, saya Mayumi,” sambutnya mengurai senyum.


Hah, dia bisa Bahasa Indonesia! Meski logat dan aksennya masih belum sempurna, tapi pelafalannya sangat baik.


“Kenapa? Kaget ya aku bisa Bahasa Indonesia.”


Aku tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut. Aku pun mengiyakan dengan mengangguk.


“Mayumi dulu kuliah di Indonesia. Satu kampus dengan kamu, Ken.” Paman sepertinya cukup mengenal Mayumi.


“Ken, angkatan berapa?” tanya Mayumi.


“Aku angkatan 2008.”


“Wah, kita terpaut empat tahun. Aku angkatan 2012. Haruskah aku panggil Ken dengan Oniichan?”


Dia tampak lebih santai berkenalan denganku, sedangkan aku masih belum bisa menghilangkan rasa gugup ini. “Tak perlu. Panggil nama saja.”


“Tapi…” Dia berusaha menolak.


Oniichan merupakan panggilan Kakak dalam Bahasa Jepang. Untuk sekadar kata sapaan, setidaknya aku tahu sedikit.


“Biar lebih akrab saja.”


Paman melihat ke arahku. Dia tampak ingin mengatakan supaya aku tak perlu tegang.


“Kalian silakan mengobrol. Paman keluar dulu ada urusan ya.”


Paman meninggalkanku. Aku sangat tidak berpengalaman mengobrol berdua dengan seorang perempuan.


“Sudah berapa lama di Jepang, Ken?”


“Su….sudah hampir dua minggu.”


“Sudah pergi ke mana saja?”


“Hanya di sini.”


“Kalau begitu mulai hari ini aku bisa menjadi tour guide-mu. Kamu mau pergi ke mana?’


“Aaa...aku belum tahu.”


“Baiklah. Kalau begitu, aku saja yang menentukan ya. Aku jamin kamu akan suka tempat-tempat yang nanti kita kunjungi. Setuju, kan?”


“I..i...iya.”


Mayumi agresif bertanya kepadaku. Sementara, aku hanya bisa menjawab seadanya. Dia mengerti aku masih canggung.


Kami pun bergeas keluar dari hotel. Aku menawarkan diri untuk menyetir, tetapi Mayumi tidak mengizinkan. Katanya, aku ini turisnya. Jadi, dia yang akan melayaniku sepenuh hati.


Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu Shiroi Koibito Park. Aku pikir ini taman biasa. Namun, aku dibuat kagum melihat bentuk bangunan yang ada di sekitar taman ini. Bangunan di sini sangat unik, karena berdesain Eropa di tengah budaya Jepang yang terkenal kuat melekat di penduduknya.

__ADS_1


Kemudian, Mayumi mengajakku ke sebuah pabrik cokelat yang terletak di sekitar taman tersebut. Di sana aku melihat proses pembuatan cokelat yang sangat canggih dan higienis. Memang tak mengherankan jika Jepang selalu jadi panutan dunia terkait teknologi dan kedisipilinannya.


“Ken, kamu suka cokelat?” tanya Mayumi sambil memilih souvenir cokelat.


“Suka.”


Sebenarnya aku ingin bertanya balik, tetapi menjawab pertanyaannya saja sudah susah payah rasanya. Aku ini kenapa sebenarnya?!


“Ayo kita duduk di sana sambil makan cokelat ini,” tunjuk Mayumi ke deretan kursi di taman.


Selama setengah jam menikmati cokelat, aku belum bisa memulai percakapan. Mayumi pun tampak diam sejenak. Mungkin dia capek terus bertanya untuk menghidupkan suasana.


“Bagaimana kamu bisa kenal Pamanku?” Akhirnya, aku bisa memulai obrolan.


“Paman Yamada itu Pamanmu?” Mayumi malah tampak terkejut.


“Iya.” Aku pun dibalas terkejut atas responnya terhadap pertanyaanku. Aku kira dia sudah tahu aku keponakan Paman Yamada. Saat berbincang di hotel tadi. Dia dan Paman tampak sudah lama saling mengenal.


“Haha… Paman Yamada mengatakan kamu anaknya,” tawanya manis. “Pamanmu adalah teman dekat ayahku. Dia selalu mengatakan kepadaku akan mengenalkan anaknya suatu saat nanti.”


“Paman memang suka bercanda,” ucapku sambil menggeleng-geleng kepala.


“Pamanmu memang lucu. Sama sepertimu.” Mayumi tak berhenti tertawa.


Apa? Katanya aku ini lucu. Padahal dari tadi aku diam saja. Baru sekali bertanya, tapi itu sudah membuatnya tertawa.


“Aku lucu?” Aku berusaha memastikan pernyataannya.


Dia malah semakin tertawa renyah. Hingga tiba-tiba kepalanya menempel di bahuku dan tangannya memegang tanganku. Kontan aku melihat ke arah dia dengan polos.


“Maaf, Ken. Maaf. Aku tak sengaja.” Mayumi langsung merapikan posisinya.


“Iya, tidak apa-apa.”


Baru hitungan jam kita berkenalan, tetapi dia menunjukkan jika dia orang yang mudah akrab.


“Kebetulan ayahku juga punya hotel di kota ini. Lokasinya sekitar 1 jam dari milik Paman Yamada. Aku sendiri yang bertanggung jawab mengurusnya.”


“Ayahmu?”


“Aku bekerja padanya.”


“Sebagai apa? General manager-nya?”


“Bisa dikatakan begitu, walaupun sebenarnya masih Papaku yang mengurus semuanya. Aku hanya membantu saat dibutuhkan. Haha…” Sifatnya yang periang mampu menghangatkan suasana.


Aku juga diminta ayah membantu mengurus resort miliknya. Sayangnya, amanah itu gagal aku jalankan.


“Ken, kok kamu melamun?”


Aku teringat ayah dan ibuku. Hidup tanpa orang tua memang terasa begitu hampa. Aku rindu perhatian mereka.


“Nggak. Aku sedang menikmati pemandangan salju ini. Di Indonesia kan tidak ada.” Aku sedikit berbohong. Walaupun Mayumi terlihat sebagai sosok yang menyenangkan, tetapi aku baru saja mengenalnya. Aku belum bisa bercerita banyak tentang diriku.


***


“Ken, bagaimana Mayumi?”


Paman datang dan bertanya secara tiba-tiba.


“Paman, mengagetkan saja.”


“Maaf, Paman tidak sengaja.”


Aku pun kembali fokus kepada pekerjaanku, memeriksa pembukuan hotel, masuk dan keluarnya uang serta estimasi biaya yang diperlukan untuk perbaikan dan kerjasama dengan pihak penyedia konsumsi perhotelan. Ini hanya sementara sampai aku mendapatkan pekerjaan sesuai kualifikasiku.


“Ken, bagaimana?” Paman mengagetkanku lagi.


“Mayumi?”


“Oh, dia. Dia baik.”


“Itu saja?”


“Iya,” jawabku datar. Ya, karena memang hanya itu kesan yang aku rasakan. Lagi pula, kami baru saja berkenalan.


“Apa kamu tertarik kepadanya?”


Aku sudah paham arah pertanyaan Paman. “Belum.”


“Berarti masih mungkin dan akan. Iya kan, Ken?”


“Bisa juga tidak.” Aku memberikan kemungkinan lain.


“Ken. Kamu jangan terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan.” Nada suara Paman melemah.


“Paman, justru Ken sudah hampir sebulan tidak bekerja.”


“Iya, tapi kata Bibi, kamu di Indonesia terlalu sibuk bekerja hingga lupa mencari pendamping hidup. Apa sih yang kurang dari kamu, Ken? Tampan, pintar, pekerja keras, semua itu ada di dirimu.”


Aku mengangguk, mengamini pujian Paman.


“Jangan seperti Paman yang akhirnya harus hidup sendiri. Paman tak mungkin bisa punya keturunan. Karena itu, Paman diliputi trauma untuk menikah lagi. Takut menyakiti perasaan perempuan yang Paman nikahi. Paman dituduh telah berbohong jika Paman ini laki-laki normal. Laki-laki yang bisa memberikan keturunan.” Mata Paman langsung berkaca-kaca menceritakan segurat kisahnya.


Aku langsung berdiri memeluk Paman, mencoba menenangkannya. Aku tak mau dia mengingat terus luka hidupnya.


“Paman. Mulai sekarang Ken akan selalu ada untuk Paman. Menemani kapan pun Paman membutuhkan.”


“Dari dulu Paman ingin mendengar kamu mengatakan itu, Ken.”


“Sudah, Paman. Tak perlu sampai menangis.”


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Paman bergegas membukanya sambil menyeka air mata.


“Oh, Mayumi. Silakan masuk!”


“Iya, Paman. Maaf mengganggu! Apa Ken ada di sini? Soalnya tadi di resepsionis Mayumi tidak melihatnya. Makanya Mayumi ke ruangan Paman, karena mungkin Ken ada di sini.”


“Iya, dia ada di sini. Ken!” Paman memanggil. Padahal dari tadi aku cukup jelas mendengar percakapan mereka.


“Hai, Mayumi!”


“Ken, kita jalan yuk sekalian nanti makan malam. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Dengan cekatan Mayumi mengajakku tanpa berbasa-basi. “Apa bisa, Ken?’”


Aku melirik ke Paman. “Tapi aku sedang membantu Paman cross check data.”


“Ken.” Paman menepuk punggungku. “Sudah cepat sana bersiap-siap. Itu bisa dilanjut nanti. Sebentar, Paman ambilkan kunci mobil dahulu.”


Padahal aku berharap Paman mengatakan aku harus stay di sini. Jujur, aku masih canggung bersama Mayumi.


“Mayumi bawa mobil, Paman,” ucapnya menghentikan langkah Paman yang hendak mengambil kunci mobilnya.


“Kalau begitu Ken pergi dulu. Paman jangan lupa untuk makan malam!”


Paman merespon dengan tersenyum. Pun saat Mayumi pamit kepadanya, ia tampak sumringah. Aku mengerti rencana Paman. Ada-ada saja.


“Nanti biar aku saja yang menyetir ya.” Aku berusaha membuka obrolan agar Mayumi tidak menganggapku kaku.


“Memang kamu tahu tempatnya?”


“Kan kamu bisa menunjukkan arahnya!”


“Ambil saja kuncinya kalau kamu bisa.” Dia melemparkan senyuman dengan bibir merona.

__ADS_1


Aku berusaha mengambil kunci hingga tak sadar memeluknya. Dia pun hanya diam. Untung saja di parkiran sedang sepi. Jika ada pegawai yang melihat, mereka bisa mengadu ke Paman. Ini akan menimbulkan salah paham.


“Sorry.” Aku menjadi salah tingkah saat melepaskan pelukan.


“Nggak apa-apa. Ini kuncinya.” Dia memberikan kunci mobil dengan melemparkan tatapan manja kepadaku.


Momen ini mengingatku pada kejadian yang sama dengan Dave. Bedanya aku yang menjadi Mayumi dan Dave berperan sebagai aku.


Dalam perjalanan Mayumi bercerita tentang kerinduan terhadap Indonesia. Sejak lulus kuliah dia belum sempat lagi bertandang ke negaraku tercinta, negara kepulauan yang tak kalah indah dengan Jepang.


“Ken, aku belum pernah ke Bali. Padahal aku 5 tahun tinggal di Indonesia. Kata teman-temanku di sini dan di Korea, tak lengkap kalau ke Indonesia tanpa ke Bali. Mereka selalu mengejekku.”


“Hem… Kenapa tak pernah pergi ke sana?” Aku berusaha menanggapi.


“Setiap kali aku sudah menyusun rencana liburan ke sana, selalu saja ada halangan. Seperti Mama dan Papa menyuruhku pulang saja. Atau aku mendadak sakit.”


“Oh, begitu.”


“Ken, bagaimana kalau kita ke sana selepas tahun baru? Pasti lebih asik dan romantis, karena wisatawan sudah kembali pulang ke asalnya. Suasananya tak akan terlalu ramai, kan?”


Aku hanya mengangguk. Dia menyelipkan kata “romantis” dalam kalimatnya. Memang Bali dikenal sebaagai destinasi wisata dunia yang menyuguhkan pemandangan eksotis dan juga budaya lokal yang asri. Bali juga dianggap sebagai pilihan romantis bagi pasangan yang ingin menikmati kebersamaan dengan lebih intim. Tapi, aku dan Mayumi kan… Ah, biarlah. Aku tak perlu membahas itu.


“Jadi, kamu setuju?” Dia merangkul pundakku.


“Kita lihat nanti ya. Aku lihat daftar reservasi hotel Paman penuh hingga Valentine.”


“Baiklah. Aku akan menunggu.”


Aku menyunggingkan senyum agar Mayumi tak berkecil hati. Namun, aku pun tak mau berjanji.


“Ken, pertigaan depan belok kanan ya. Kita sudah mau sampai. Itu papan penunjuknya sudah terlihat.”


“Oke”.


Ketika menginjakkan kaki keluar dari mobil, lalu melayangkan pandangan, aku terpesona dengan lukisan alam yang langsung menyambut. Hamparan pepohonan yang begitu menenangkan dan pemandangan kota yang sangat memanjakan mata.


“Apa nama tempat ini, May?” Aku tak bisa menyembunyikan kegiranganku.


Dia malah tertawa. “May?”.


Aku segera sadar, karena sepertinya aku salah memenggal nama sapaannya.


“Aku salah memanggilmu?’”


“Tidak apa-apa.” Dia berusaha menutup mulutnya untuk menahan tawa. “Itu terdengar bagus. Oh ya, ini namanya Mount Moiwa. Kamu suka, kan?”


“Tentu.”


“Suka kepadaku?”


Aku tersedak. “Hah?” Mayumi merespon dengan senyuman lebar. Tapi mungkin dia memang suka bercanda. “May, aku sudah mulai lapar!”


Dia pun menarikku. “Tenang, aku sudah reservasi tempat dan makanan. Harusnya pas kita datang makanannya sudah siap. Itu. Di situ tempatnya,” tunjuk Mayumi.


The Jewel Restaurant, dari nama dan penampilan luar saja tampak bak restoran mewah. Tempat ini juga sepertinya favorit turis. Terlihat saat aku datang dan hari berganti gelap, banyak turis berdatangan.


Aku semakin terpesona melihat view yang ditawarkan restoran ini. Mayumi memesan tempat yang menghadap ke Pamandangan kota. Sejauh mata memandang terlihat bintang-bintang permukaan bumi. Kulihat spot lain, setiap sudut menawarkan scene serupa, namun dengan persepsi yang mungkin akan berbeda. Tergantung pada cara pengunjung mempersepsikannya.


“Ken, maaf aku tak bertanya kamu mau makan apa. Tapi kamu tenang saja, aku sudah memesan makanan terbaik dan terfavorit tempat ini,” ungkap Mayumi saat pelayan restoran membuka tutup hidangan.


“Tak perlu khawatir. Aku pemakan segala.” Padahal aku sebenarnya picky eater. Aku cukup memilih dan memilah makanan. Aku tak suka makanan yang terlalu berminyak atau berlemak, makanan dengan aroma jahe yang kuat, dan terkadang aku tidak cocok dengan semua seasoning yang ada pada makanan, khususnya olahan daging.


Untungnya makanan di sini masuk dalam list makanan yang bisa aku santap. Mayumi mengetahui yang kumau, atau mungkin selera kita sama?! Entahlah, aku tak mau memusingkan hal itu.


“Ken, kamu sudah punya kekasih?”


Pertanyaan Mayumi membuat aku nyaris memuntahkan makanan yang menuju kerongkonganku. Langsung saja kuambil air minum untuk mendorongnya kembali. Dia sangat to the point.


“Belum.”


“Aku juga belum.”


Aku berusaha tak merespon pernyataan baliknya. Aku fokus melanjutkan makan agar terlepas dari topik ini.


“Kamu sudah berapa kali berpacaran, Ken?”


Tanpa sengaja tanganku menjatuhkan air cola dan mengalir ke pahaku. Mayumi pun berusaha membantu membersihkan noda di celanaku dengan tisu.


“Nggak apa-apa. Aku ke toilet dulu ya.” Aku menolak bantuannya dengan halus.


Sambil membersihkan noda di celanaku, aku masih tercengang atas pertanyaan Mayumi. Kami belum lama saling mengenal, tetapi pertanyaannya sudah menjurus ke arah yang serius. Ah, aku pikir dia membawaku ke sini untuk memperkenalkan manisnya pemandangan dari atas langit tanpa obrolan romantis.


Aku berdiam cukup lama di depan kaca. Menatap wajahku sendiri yang masih menggambar kegelisahan.


“Ken, kamu kok lama sekali di toilet. Nggak kenapa-kenapa, kan?” tanya Mayumi dengan raut khawatir.


“Nggak apa-apa.”


Setelah aku kembali ke posisi dudukku, Mayumi ternyata masih melanjutkan arah pembicaraan.


“Ken, kamu belum jawab pertanyaanku?”


“Yang mana?” Aku pura-pura tak ingat, karena memang tak mau membahas itu.


“Yang tadi. Sebelum kamu ke toilet.”


Tampaknya aku harus mengalihkan pembicaraan. “Mungkin kalau musim semi atau musim panas pemandangan di sini lebih indah ya. Tapi, ini pun sudah sangat indah sih. Terima kasih sudah mengajakku ke tempat ini. Tempat yang menyajikan night spot  yang memanjakan mata.”


Niat mengalihkan pembicaraan berbuah ucapan panjang. Ya, ini agar pikirannya terkunci, tak kembali pada topik yang tadi.


“Ken…” Mayumi menunjukkan wajah sedikit cemberut.


“Iya. Kenapa, May?” Aku berusaha menebar senyum agar mood-nya tidak rusak.


“Aku boleh bicara serius?” tanyanya dengan senyum yang memudar.


“Apa?”


“Dari awal aku melihatmu.”


“Ya?” Jika aku halangi, dia mungkin akan marah padaku. Kemudian, dia akan bercerita kepada Paman.


“Tapi dengarkan sampai aku selesai ya,” pintanya.


“Iya.”


“Aku menyukaimu dari pertama melihatmu. Awalnya aku ragu saat Pamanmu ingin mengenalkanmu kepadaku. Jujur, aku masih belum sepenuhnya bisa membuka hati setelah setahun lalu aku dicampakkan oleh kekasihku begitu saja. Namun kamu sudah memberikan getaran yang berbeda, getaran hebat di hatiku yang selama ini tak pernah aku rasakan. Aku seperti menemukan kekasih hati yang selama ini aku cari. Apa kamu mencintaiku seperti aku yang sudah mencintaimu sejak kita pertama bertemu?” tuturnya.


Aku terdiam cukup lama. Aku tak tahu harus memberikan jawaban seperti apa agar tak melukai hatinya. Ini terlalu cepat.


“Ken…” Matanya sudah menyirat emosi hati sedari tadi.


“May, aku…”


“Aku bisa menunggu,” lirihnya.


Aku bukan orang yang cepat jatuh hati. Aku pun tak suka ditunggu.


“May, jujur, aku sangat senang bisa berteman denganmu.” Aku berusaha menata suara selembut mungkin. “Namun, kita baru beberapa hari kenal. Kita belum mengetahui lebih jauh pribadi masing-masing. Maaf, aku tak mau kamu menungguku. Aku juga tak bisa menjamin perasaanku akan berubah.” Hah, ada rasa tidak percaya aku mampu mengatakan paragraf tersebut dengan lancar.


Mayumi terlihat menyeka air mata. Aku tak mau orang salah kira, terlebih ini tempat umum yang tengah ramai.


Aku membantunya bangkit dari kursi dan mengajaknya pulang. Dia menurut. Namun selang beberapa langkah, dia memelukku. Aku biarkan itu terjadi selama beberapa saat. Lalu, aku memandu langkahnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2