Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 21: Prasangka


__ADS_3

Suamiku tampak lebih dingin setelah kembali dari Jepang. Bahkan saat tiba di rumah, dia langsung tidur. Katanya sedang tidak enak badan dan kelelahan. Padahal, aku berharap dia memeluk dengan penuh rindu sebelum memutuskan merebahkan badan di kasur.


Seminggu tak bertemu terasa setahun bagiku. Aku yang antusias mendengar pengalamannya selama di Jepang, harus berpuas diri dengan sikapnya yang acuh tak acuh. Dia hanya menunjukkan foto-foto saat salju di Hokkaido, itu pun tak banyak. Ketika kutanya, dia menjawab tak memiliki cukup waktu untuk berkeliling. Namun, bukan itu yang ingin aku dengar. Aku menunggu dia bercerita tentang Winter di Hokkaido dengan wajah berseri.


Aku coba memahami dari berbagai sisi persepsi. Mungkin karena perjalanan ke Jepang merupakan perjalanan dinas terlama dan terjauh, suamiku benar-benar kehabisan sebagian tenaganya. Ya, aku mencoba mengerti akan hal tersebut.


Sayangnya, hari demi hari berlalu, sikapnya masih sama. Sepulang kerja, ia langsung beristirahat. Tak ada lagi canda atau kebersamaan yang coba ditorehkan.


Melihat sikap dia yang lesu, jelas membuatku gelisah. Sebelum dia pergi ke Jepang, semuanya baik-baik saja. Memang sempat terjadi perdebatan kecil, karena aku curiga dia kembali menemui sahabatnya. Setelah kecurigaanku terpatahkan, kami kembali harmonis seperti hari-hari sebelumnya.


Ketika dia di Jepang pun, tak ada tanda dia akan pulang membawa sikapnya yang terkontaminasi salju. Dia selalu mengabarkan kegiatannya setiap hari. Dalam panggilan video pun, dia tampak ceria menceritakan detil tempat yang dikunjungi. Entah itu di kamar hotel atau saat sedang menyaksikan festival salju di Sapporo.


Ada apa sebenarnya dengan suamiku? Apa terkait dengan pekerjaannya? Tetapi, dia mengatakan meeting-nya lancar dan sukses. Apa di sana dia bertemu seseorang yang membuatnya sendu?


Tiba-tiba bunyi pintu menyingkirkan semua sangkaanku.


“Tumben Ayah jam segini sudah pulang?” tanyaku lembut.


Waktu menunjukkan jam 3 siang saat aku membuka pintu untuk menyambut suamiku pulang kerja. Seperti hari sebelumnya, wajahnya masih belum berhiaskan senyum.


“Pekerjaan di kantor sudah selesai. Ayah ingin istirahat di rumah.” Dia mengucapkan kalimat tersebut sambil berjalan menuju kamar.


Aku senang dia pulang lebih awal. Itu artinya kami punya banyak waktu di rumah. Tetapi jika dia pulang, kemudian hanya istirahat, itu sama saja. Waktu kami menjadi tak berkualitas.


“Ayah mau minum kopi sekalian dipijat?” tanyaku kembali mengikutinya langkahnya.


“Nggak usah, Bun. Ayah mau tidur dulu ya.”


“Iya.”


Aku tak berani banyak bertanya lagi. Wajahnya menampakkan kelelahan, walau kurasa bukan karena pekerjaan. Tidak, aku tak mau berandai-andai. Aku takut pengandaianku menjadi kenyataan.


Aku berusaha tenang. Jangan sampai suamiku marah karena aku terlalu paranoid. Aku putuskan ke dapur untuk memecah spekulasi dengan mempersiapkan makan malam nanti.


Namun, dalam pikiranku tetap saja seperti ada yang menggantung. Sesuatu yang aku curigai, bercampur ketakutan yang berlebihan. Aku coba menengok suamiku dulu di kamar. Dia terlihat sudah pulas. Dia tidur dengan pakaian kerja yang berkeringat. Dasinya pun masih menggantung di leher. Dia hanya membuka tiga kancing kemeja untuk sirkulasi badan. Padahal, dia selalu mandi dan mengganti pakaiannya dahulu sepulang kerja, sebelum memutuskan untuk bersandar di kasur.


Aku kembali ke dapur dengan perasaan cemas. Perubahan sikap suamiku membuat tanda tanya yang sangat besar di otakku.


Aku coba telepon Ferdi. Mungkin saja dia tahu sesuatu.


“Halo, Fer. Masih kerja ya? Maaf ya aku ganggu.”


“Nggak kok, Fay. Aku sudah mau pulang kok. Ada apa?”


“Ini Fer…aku mau tanya-tanya sedikit.”


“Banyak juga boleh kok Fay, asal jangan tanya soal ujian sekolah aja.”


Aku tak mau sebenarnya orang lain tahu keadaan rumah tanggaku. Tetapi tak ada cara lain untuk membuat pikiranku lebih tenang, selain mengulik informasi dari orang yang aku anggap tahu dan bisa dipercaya.


“Aku serius, Fer. Kemarin kamu ikut ke Jepang?”


“Nggak, Fay. Kan gue udah bilang itu acara para bos besar. Lagi pula, lu kagak bujuk suami lu supaya gue ikut sih.”


“Hehe, sorry.” Aku masih canggung untuk to the point.


“Acaranya dari kantor itu berapa lama sih, Fer?”


“Seminggu. Emang kenapa?”


“Tujuh hari?”


“Iya, emang Dave kagak pulang ke rumah? Tapi dia sudah masuk kantor tuh dari semenjak pulang dari Jepang. Jangan-jangan dia….”


“Fer, jangan mulai deh. Maksudku bukan itu. Sikap suamiku semenjak pulang dari Jepang jadi dingin. Apa karena proyeknya gagal atau apa? Dia kayak orang yang kelelahan, tapi di satu sisi seperti sedang gelisah. Intinya, kayak memikirkan sesuatu yang berat.”


“Nah, gue juga kebetulan mau tanya itu sih. Kalau soal proyek, gue rasa bukan Fay. Ini kami sedang sibuk meninjau kembali budgeting dan proses awal restrukturalisasi. Pak Presiden Direktur bahkan memuji terus kinerja suami lu.”


“Tapi sikapnya aneh banget, Fer.”


“Nah itu, yang tadi gue mau tanya. Di kantor pun sikapnya dingin banget. Tiap diajak makan siang bilangnya duluan saja. Diajak ngobrol, jawabnya seperlunya. Padahal biasanya dia selalu terlihat paling semangat di kantor. Sorry nih Fay, gue kira mungkin dia lagi ada problem di rumah atau apa gitu.”

__ADS_1


“Justru karena aku juga nggak ada masalah sama dia, makanya heran lihat sikap dia begitu. Waktu dia di Jepang pun komunikasi kami baik-baik saja. Awalnya, aku kira dia hanya kelelahan. Namun berhari-hari sama saja, nggak ada perubahan. Dia nggak ketemu seseorang kan di Jepang?”


“Siapa?”


“Ya….” Aku gak mungkin menceritakan nama sahabat suamiku itu kepada Ferdi. “Ya, mantannya atau siapa gitu.”


“Nggak mungkin lah, Fay. Itu kan perjalanan dinas kerja. Emang ada mantannya Dave di Jepang?”


“Nggak tahu juga sih. Atau suamiku sering makan siang di luar nggak? Didatangi seseorang atau terlihat sering teleponan?”


“Nggak ada, Fay. Dia makan siang di kantin kantor terus kok. Nggak ada juga orang mencurigakan yang datang ke kantor mencari Dave. Terus kalau soal teleponan, dia kalau di kantor apa lagi kerja, kayak lupa kalau punya hp.”


“Serius kan kamu, Fer? Kamu nggak sedang konspirasi sama dia, kan?”


“Fay, masa gue bohong sih. Lu kayak baru kenal gue. Atau coba deh Fay, lu tanya dia pas lagi bercanda. Atau lihat hp dan laptop dia. Tapi gue gak yakin juga sih Dave ada main di belakang. Masa punya istri secantik lu dia masih jajan di luar.”


Ferdi tidak tahu tentang Ken. Justru orang itu yang sangat aku khawatirkan kembali dalam kehidupan suamiku.


“Iya deh Fer, terima kasih ya. Tapi kamu jangan….”


“Bun!.” Tiba-tiba suamiku memanggil. Posisnya di belakangku. “Teleponan sama siapa?” Aku lantas segera memutus sambungan telepon dengan Ferdi.


Aku tidak tahu sejak kapan dia berada di belakangku. Semoga dia baru saja datang dan tidak mendengar ucapanku. Kami sudah berkomitmen untuk tidak menceritakan masalah rumah tangga ke orang lain di luar keluarga. Kami sepakat jika ada masalah harus dibicarakan lebih dulu berdua, meski aku sudah merasa kesepakatan kami ternoda semenjak dia berbohong tentang Ken.


“Sama teman.” Aku posisikan kedua tangan di belakang pinggang.


“Ferdi?” terkanya dengan raut curiga.


“Feee…Ferdi? Bukan kok. Namanya Fera, teman SMA. Dia menelepon untuk membicarakan reuni.”


Padahal aku tak memiliki teman bernama Fera. Aku terpaksa berbohong. karena tak mau suamiku menginterogasi aku dan Ferdi nantinya.


“Oh… Di kulkas ada makanan nggak, Bun?”


“Ada Pudding, Yah. Ayah mau makan sekarang? Tapi Bunda masaknya belum beres.”


“Nanti saja. Ayah cuma butuh pengganjal lapar.”


Suamiku memakan Pudding dengan lahap.


“Tadi siang Ayah belum lapar.”


Karena takut merepotkan, suamiku sudah tak mau lagi aku buatkan bekal makan siang. Nemun, selama ini dia tak pernah melewatkan makan siangnya. Aku semakin khawatir dan sangsi melihat perubahan sikapnya.


“Ayah sedang memikirkan apa sih? Sejak pulang dari Jepang kayak gelisah banget. Ayah kelelahan?”


“Nggak ada apa-apa. Bunda jangan terlalu khawatir. Ayah mandi dulu ya!”


Katanya aku jangan terlalu khawatir, tapi dia tidak mau bercerita. Bahkan kali ini, dia sangat jelas menghindari topik yang aku sodorkan. Dia berhenti menyantap Pudding, padahal aku lihat dia tengah menikmati. Dia pasti pergi karena tak mau menjawab pertanyaanku.


Esoknya, semua berjalan seperti biasa. Kami sarapan bersama, lalu suamiku berangkat kerja. Hanya saja, sejuta pertanyaan masih belum terjawab. Aku bisa saja menunggu waktu yang akan menunjukkan, tetapi entah sampai kapan. Menunggu dalam periode yang tidak pasti hanya akan semakin menyakiti batin dan pikiran.


Setelah menunggu agak siang, aku berangkat ke Green Apartemen. Tempat di mana Ken tinggal. Aku tahu, ini jam kerja, mungkin dia tidak ada di tempat. Aku juga sedang tidak ingin bertemu dengannya. Aku hanya ingin memastikan dia ada di situ atau tidak. Aku takut penjelasan resepsionis di telepon waktu itu, bagian dari permainan Ken.


Setiba di depan apartemen Ken, aku langsung menekan bel. Tetapi yang kutekan bukan bel tempat tinggal Ken, melainkan di depannya. Aku sengaja.


Tak lama pemilik apartemen membuka pintu. Aku sudah menyiapkan kalimat untuk meminta maaf. Setelah itu bertanya tentang Ken. Semoga ada pencerahan.


“Selamat siang!  Ada yang bisa saya bantu?”


“Siang! Maaf mengganggu Bu. Mau tanya, apa Ken ada?”


“Ken?”


Aku mengangguk.


“Kamarnya yang depan situ,” tunjuk Ibu tersebut.


Aku nyaris terkunci oleh situasi. “Oh itu, maaf ya Bu.” Aku bergerak menuju pintu apartemen Ken. Haruskah aku tekan belnya? Bagaimana jika dia keluar? Aku malas melihatnya.


“Tapi orangnya tidak ada,” ungkap si Ibu.

__ADS_1


Syukurlah. Aku kemudian berbalik badan dan menghampiri ibu yang tadi.


“Kerja ya, Bu?”


“Bukan. Sudah pindah.”


Pindah? Ada perasaan lega, namun masih harus ditelusuri informasinya.


“Pindah ke mana ya, Bu”


“Katanya sih ke Jerman. Ayo deh masuk dulu, kita ngobrolnya di dalam saja.” Ibu tersebut sangat ramah. Dia juga tampak mengenal Ken.


Kami pun saling mengenalkan diri sebentar. Aku mengaku sebagai teman Ken, sedangkan ibu yang ramah ini bernama Ibu Selly. Ternyata dia teman dekat ayah Ken. Dia belum lama pindah ke apartemen ini. Sebelumnya, dia tinggal di Beijing mengikuti suaminya. Selama menetap luar negeri, apartemennya disewakan. Sekarang dia kembali ke Indonesia sehubungan mutasi kerjaa suaminya.


“Sudah berapa lama Ken pindah, Bu?”


“Sekitar dua bulan. Ibu juga kaget saat melihat dia di lobby menenteng koper. Saat Ibu tanya, katanya mau pindah ke Jerman. Tadinya mau ibu halangi dulu. Tetapi, sepertinya keputusan dia sudah bulat.”


Sudah dua bulan, dan ke Jerman. Jika aku me-rewind-nya, berarti mungkin dia pergi setelah kami bertengkar di telepon waktu itu. Syukurlah, dia mengerti maksudku agar menjauhi suamiku. Meski aku tak memintanya keluar dari negara ini.


“Maaf, kalau boleh tahu, dia cerita nggak ada urusan apa ke Jerman? Berapa lama gitu?”


“Itu yang Ibu nggak tahu pasti. Dia orangnya sangat tertutup. Waktu itu sih bilangnya mungkin selamanya. Kalau ada urusan apa Ibu juga ngga tahu. Setahu Ibu ya Mbak, dia nggak punya saudara di Jerman. Teman dekat, nggak ada juga kayaknya. Cuma Ibu lihat dia kayaknya lagi sedih banget waktu itu. Apa ditinggalin pacarnya atau bagaimana, entahlah. Ibu juga belum pernah lihat ada orang lain mampir ke apartemennya. Cuma kalau benar dia putus sama pacarnya, kasihan banget. Ken itu anaknya baik, tampan, rajin, istilahnya wanita mana sih yang nggak suka lihat dia. Ibu juga kalau masih single dan muda pasti ngejar-ngejar dia. Hehe…. Tapi ya itulah, dia orangnya sangat tertutup.”


Aku tak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya, bahwa aku, suamiku, dan Ken terlibat dalam konflik segitiga.


“Oh begitu ya, Bu.”


“Memang Ken nggak cerita ke Mbak dia lagi ada masalah apa atau kenapa mau pergi ke Jerman?”


“Justru saya ke sini, karena saya ngga tahu dia bahkan sudah pindah. Emmm…. Soalnya saya hubungi dia nggak pernah merespon.”


Aku terpaksa berbohong lagi untuk menutupi kejadian sesungguhnya, dan menyakinkan Ibu Selly bahwa aku ini benar teman Ken. Aku sangat yakin Ken pergi, karena terlibat konflik dengan suamiku juga. Waktu itu setelah terlibat perang Subuh dengan Ken, paginya suamiku langsung pergi setelah aku cerita. Ketika dia kembali, dia memeluk sambil berkata “Jangan khawatir, aku hanya mencintaimu”. Misteri mulai terpecahkan.


“Iya, soalnya kemarin ada juga yang ke sini mencari Ken. Dia sampai gedor-gedor pintu segala.”


“Kemarin?” Mendadak aku jadi tidak tenang.


“Iya. Beberapa hari yang lalu sih.”


“Laki-laki atau perempuan Bu?”


“Laki-laki.”


“Ciri-cirinya kayak gimana Bu?”


“Orangnya tinggi, ganteng, rambutnya rapi, ya sebelas dua belas lah kayak Ken gitu gantengnya.”


“Pakai kacamata nggak Bu?”


“Nggak.”


Bukan suamiku. Ke mana pun pergi, suamiku selalu memakai kacamata. Walaupun begitu, aku masih harus bertanya untuk lebih menyakinkan.


“Em, kira-kira berapa hari yang lalu itu, tanggal berapa ya, Bu?


“Tanggal berapa yah?! Malam sih. Waktu itu sempat ngobrol juga, cuma nggak sempat kenalan.” Ibu Selly tampak berpikir. “Tanggal 9 gitu ya?! Ya tanggal segitu deh kayaknya.”


Tanggal 9 kan hari ke-2 suamiku di Jepang, dan lagi ciri-ciri yang disebutkan Ibu Selly ada yang tidak sesuai dengannya. Syukurlah! Setidaknya, aku bisa bernafas lebih lega sekarang.


Setelah dirasa mendapat jawaban, aku dan Ibu Selly mengobrol hal lain, yaitu seputar kehamilanku. Dia memberikan banyak nasihat supaya aku tidak banyak melakukan pekerjaan berat dan perjalanan jauh. Juga, menyarankan asupan makanan yang baik untuk aku dan janinku. Hal yang penting lainnnya yaitu aku tidak boleh stress.


Saking nyamannya berbincang dengan Ibu Selly, aku lupa untuk pulang dan makan siang. Namun saat hendak pamit, dia melarangku pulang dan mengajakku makan siang dahulu. Aku senang bertemu dengn Ibu Selly yang begitu baik. Kegundahanku pun terjawab.


Kemudian, Ibu Selly menawarkan diri untuk mengantarkanku setelah aku bercerita datang ke sini naik taksi online. Dia mengatakan khawatir terjadi sesuatu kepadaku, terlebih aku seorang perempuan dan sedang mengandung. Namun, aku menolak tawarannya dengan mengatakan tidak akan terjadi apa-apa. Aku selalu memperhatikan kesesuaian mobil yang aku tumpangi, dari plat hingga driver-nya. Setidaknya, itu bisa memastikan taksi online yang dipesan satu level lebih aman.


Setiba di rumah, aku tak bisa berhenti mengembangkan senyum. Ken ternyata sudah pindah ke benua lain. Perasaanku sudah jauh lebih baik.


Sikap suamiku yang menjadi dingin mungkin benar karena dirinya sedang dalam masa yang penat dengan pekerjaannya. Bukan diakibatkan sahabatnya apalagi ada perempuan lain. Dari pacaran, suamiku tidak pernah cheating. Dia bahkan secara tegas mengatakan sudah memiliki pacar atau istri ketika ada perempuan yang mendekatinya.


Sebelum pergi ke Jepang, suamiku lembur berhar-hari. Namun, aku malah mencurigai dia bermain belakang dengan sahabatnya. Sekarang aku merasa telah banyak berburuk sangka kepada suamiku.

__ADS_1


Semoga besok atau lusa wajah suamiku akan kembali cerah. Tadi pagi pun dia sudah mulai sedikit menebar senyum. Sekali lagi, aku meyakini sikap dinginnya pasti disebabkan pekerjaan. Selama ini jika tentang pekerjaan dia tidak mau cerita, karena takut aku ikut terbebani.


Dia selalu bekerja keras, bahkan lebih keras ketika tahu aku hamil. Dia berusaha memberikan kehidupan yang baik untukku, dan juga calon anak kami nanti. Aku terlalu berlebihan menyimpan prasangka. Semestinya aku lebih bisa mengerti suamiku, menghiburnya sewaktu dia dilanda kepenatan.


__ADS_2