Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 20: Gejolak


__ADS_3

Keinginan menenangkan diri dengan winter di Hokkaido justru berbuah ketidaktenangan yang semakin menjadi. Aku dipertemukan dengan seseorang yang mencintaiku, seseorang yang merampas kehormatanku, dan seseorang yang sedang berusaha aku lupakan untuk selamanya.


Masalah datang secara bergiliran. Ketika aku berusaha berbesar hati tak menaruh dendam kepada Add, Dave muncul di hadapanku. Padahal aku sudah tak berharap lagi bertemu dengannya. Brengsek! Datang, kemudian pergi tanpa memikirkan perbuatannya. Perbuatan yang membuatku jadi sangat merindukannya. Aku benci mengatakan aku membenci Dave, karena yang kurasakan justru cinta yang semakin dalam.


Cinta yang aku rasakan kepada Dave, apakah layak aku sebut sebagai perasaan yang normal? Bukankah mencintai dan dicintai datang tanpa mengenal gender? Jika bisa memilih, aku ingin mencintai Dave sebagai sahabatku saja. Berhenti di situ. Karena sahabat tak akan berpikir untuk bisa tidur bersama sahabatnya, bukan?! Hah, tetapi Dave yang menciumku lebih dulu.


Aku belum bisa menyimpulkan Dave mencintaiku hanya karena dia berusaha menikmati tubuhku. Tak seperti si Keparat Add yang memanfaatkan kesempatan untuk membuncahkan birahinya. Seharusnya aku katakan saja kepada Dave bahwa seseorang telah lebih dulu memegang penisku. Jadi, aku bisa lihat seberapa jauh dia cemburu untuk mengukur kadar cintanya.


“Ken…. Ken….” Tiba-tiba Paman mengahancurkan lamunanku.


“Iya, Paman,” sahutku terkejut.


“Dari tadi kamu melamun, bukannya cepat sarapan. Sedang memikirkan apa, Ken?”


“Ng…nggak ada, Paman. Ken nggak memikirkan apa-apa,” jawabku sambil mengunyah roti yang lupa diolesi selai.


“Oya, Paman lihat sepertinya kamu dan Dave sudah saling kenal sebelumnya ya?”


Uhuuuk… Rotinya yang aku kunyah tertelan dan membuatku tersedak. Segera aku meneguk air putih. Pertanyaan Paman membuatku gugup.


“Ka….kami baru kenal pas di hotel kok. Kan Paman yang mengenalkan kami. Benar, Ken serius, Ken tidak bohong.”


Paman melongo. Aku coba ingat ucapanku. Bodoh! Aku harusnya berbicara biasa saja. Ini sama saja membuat Paman curiga.


“Tapi pas malam itu Paman lihat kamu dan Pak Dave….”


Cepat-cepat aku memotong pembicaraan Paman. “Wah, sudah siang nih Paman. Ayo berangkat!”


Aku bangkit dari kursi dan berjalan cepat menuju mobil. Paman langsung mengikutiku. Aku takut Paman terus mengorek kedekatanku dengan Dave.


Tadi, pernyataan Paman juga membuatku panik. Apa Paman melihat saat Dave mencumbuku di sofa? Gawat! Semestinya aku bersikap tenang, tidak perlu panik.


Di mobil, Paman kembali mengajakku berbincang tentang Dave. Aku tahu kesalahanku tadi. Jadi, aku sudah lebih santai menanggapi. Namun jantung masih berdebar dengan kencang, takut Paman berbicara tentang hubungan intimku dengan Dave.


“Kata Pak Dave dia kuliah di kampus yang sama denganmu dan satu angkatan pula.”


“Dia jurusan apa?” Aku kembali bersandiwara.


“Paman lupa menanyakan.”


“Yang namanya kampus kan besar, Paman. Isinya juga ribuan mahasiswa. Paman juga tahu Ken orangnya agak susah bersosialisasi dengan banyak orang. Jadi Ken nggak punya banyak teman.”


“Tetapi, Paman lihat kalian sepertinya sudah saling kenal. Buktinya Pak Dave sengaja datang ke rumah untuk menemuimu.”


“Itu kan Paman yang minta.”


“Paman tidak meminta dia datang ke rumah.”


“Maksudnya, Paman kan yang meminta Ken menemani Pak Dave selama dia di sini. Waktu itu dia datang karena i...i…ingin diantar keluar, cari makan malam. Cuma, kemudian, turun salju dengan lebat.” Aku sempat gugup mencari alasan.


“Kenapa tidak menelepon biar kamu saja yang datang ke sana?”


Paman kok seperti menginterogasiku begini.


“Kan Ken waktu itu belum sempat memberikan nomor Ken. Paman kenapa sih tanya-tanya soal itu? Apa Paman melihat waktu kami….” Astaga, mulutku nyaris tak terkendali.


“Melihat apa?” Paman menatapku. “Melihat kalian berdua?”


“Berdua apa, Paman?” Jangan-jangan Paman sedang memancing supaya aku cerita lebih dulu tentang hubunganku dengan Dave.


“Ya, tadi maksud kamu apa?”

__ADS_1


“Em…Em… Maksudnya Ken, apa Paman pernah melihat kami berdua sebelumnya, entah di kampus atau di tempat lain.”


“Aneh-aneh saja kamu, Ken. Paman tuh senang melihat pembawaan Pak Dave. Selain itu, kamu cepat sekali akrab dengannya. Ya, seperti sudah lama kenal. Padahal kamu orangnya kan sangat introvert. Mayumi saja bilang sampai sekarang kadang masih merasa asing denganmu. Jadi, entah bagaimana caranya Pak Dave mampu menembus dinding ego keponakan Paman yang tampan ini”, jelas Paman diikuti tawa.


Oh begitu. Syukurlah! Aku kira Paman sedang menggiring pengakuanku. Terlebih selama ini aku mengenal Paman jika berbicara langsung to the point. Atau mungkin karena aku saja yang paranoid.


“Paman juga kagum kepada Pak Dave. Dia masih muda, tetapi penuh ambisi. Katanya, dia sedang berjuang agar diangkat jadi direktur di perusahaannya. Dia memulai karir dari nol, dari karyawan biasa. Sekarang dia menduduki jabatan stategis sebagai salah satu decision maker. Di sisi lain, dia tampak bersahaja. Mungkin karena sudah menemukan kebahagiaan dengan menikahi wanita yang dia cinta. Ditambah sekarang istrinya sedang hamil.” Entah ada maksud apa Paman memuja Dave di depanku seperti itu.


“Paman sedang berusaha membandingkan aku dengannya?” Tanyaku agak sinis. Ya, siapa sih yang suka dibanding-bandingkan? Setiap orang punya jalan cerita dan sejarah hidup yang berbeda. Meski begitu, bukan juga tidak belajar dari kesuksesan hidup orang. People live in their own lives.


“Kamu jangan bawa perasaan dulu. Maksud Paman bukan seperti itu. Paman hanya ingat ayahmu. Pak Dave memiliki sifat yang sama dengan ayahmu, ambisius tapi tetap bersahaja.”


“Hem…” gumamku sambil melirik Paman.


“Ken, bagi Paman kamu juga orang yang sangat luar biasa. Kamu sangat mandiri dari kecil. Kamu tak pernah mau menyusahkan keluargamu. Kamu sangat berbakti kepada kedua orang tuamu. Mengurus mereka saat sakit hingga mereka tiada.”


Kulihat mata Paman berkaca-kaca. Aku sedih ketika mengingat orang tuaku sudah tidak ada. Terkadang karena terbiasa jauh dari mereka, aku berpikir mereka masih ada. Mereka sedang menungguku pulang dari perantauan.


“Paman, jangan bahas itu dulu ya!”


“Maafkan Paman, Ken! Paman jadi membuatmu bersedih.”


Kami terdiam beberapa saat. Sama-sama berusaha tegar menerima kenyataan orang terkasih kami sudah pergi untuk selamanya.


“Oya Ken, kira-kira kapan rencananya kamu dan Mayumi bertunangan?”


Brukkk! Aku menginjak rem mendadak. Pertanyaan Paman membuat pikiranku hilang kendali dan nyaris membuat kami celaka.


“Ken!!!”


“Sorry, Ken tidak sengaja menginjak rem.”


“Sini biar Paman saja yang menyetir!”


“Iya… Iya… Paman maafkan. Terus kapan keponakan Paman yang tampan rupawan ini menikah? Mau sampai kapan membuat wanita berharap dan kemudian patah hati?”


“Silakan deh kalau Paman sedang mau menyetir.”


Mungkin kalau Paman menyetir dia akan fokus pada jalanan saja, tak lagi bertanya hal-hal yang membuat jantungku berdebar sekencang aku melajukan mobil ini.


“Ayo jalan! Paman mau tidur dulu sebentar.”


Itu lebih baik, ucapku dalam hati.


Selepas mengantar Paman menghadiri acara peresmian sebuah waralaba milik temannya, aku pergi ke department store. Sebenarnya Paman meminta aku menemaninya juga, tetapi aku menolak dengan halus. Aku tak bisa berada dalam sebuah acara yang orang-orangnya tidak kukenal. Terlebih acaranya memakan waktu seharian.


Rencananya, aku ingin membeli ****** *****, celana panjang formal, kemeja, dan jaket. Aku tak membawa banyak items tersebut, karena memang aku berencana untuk membeli di sini.


Seusai belanja pakaian, aku sempat bimbang ke mana harus menepi. Sebenarnya aku sudah agak jenuh ke hotel, karena terkadang tak banyak yang bisa aku kerjakan juga. Di sisi lain, aku tak mungkin meminta diposisikan sebagai karyawan. Aku takut menggeser pekerjaan karyawan Paman yang sudah ada. Pun, aku memang sudah bertekad mencari pekerjaan lain yang bisa mengembangkan potensiku.


Tiba-tiba ponselku berbunyi saat baru saja aku menyalakan mobil. Aku pikir Paman yang meminta dijemput lebih cepat. Ternyata bukan.


“Halo," sapaku. Namun, tak ada respon dari penelepon. Aku cukup lama mengunggu dia berbicara, tetapi justru aku yang dibuatnya kesal. Tak ada satu kata pun yang dia ucapkan.


Nomornya juga disembunyikan. Setidaknya, jika nomornya muncul aku bisa tahu asal si penelpon tersebut. Hanya membuatku penasaran saja.


Dia menelepon lagi. Aku angkat dan dengan nada geram langsung menanyakan keperluannya. Namun, masih tak ada jawaban. Siapa yang berupaya mengerjaiku seperti ini? Sementara tak banyak yang tahu nomorku. Aku tutup lagi teleponnya.


Dia menelepon lagi. Kubiarkan saja, karena sudah jengkel meladeninya. Hingga sepanjang jalan, ponselku terus berdering sebanyak lima kali. Aku pun mencari tempat parkir yang yang aman, kemudian mengangkat teleponnya yang ke sembilan.


“Hello. You made me piss off. What do you want?”

__ADS_1


“Hello, Ken! Siapa yang membuatmu kesal?”


Jadi, yang dari tadi menelepon Mayumi?


“Kamu yang tadi menelepon?”


“Nggak, Ken. Aku baru saja meneleponmu.”


Aku tengok nama yang muncul di layar ponselku. Ya, tertulis Mayumi. Sementara yang tadi nomornya tidak tampil. Aku sudah salah kira.


“Maaf, May. Dari tadi ada yang meneleponku berkali-kali, tetapi saat aku angkat dia tak menjawab.”


“Kamu sudah telepon balik? Atau kirim nomornya ke aku, nanti aku lacak siapa pemiliknya.”


“Nomornya disembunyikan.”


“Apa mungkin temanmu dari Indonesia?”


Temanku di Indonesia? Dave? Aku berharap begitu, tetapi rasanya bukan. Dave tak tahu nomorku yang ini. Tak ada lagi yang tahu selain Paman, Bibi, Mayumi, dan Add. Hanya mereka berempat. Apa mungkin Add? Tetapi aku sudah memblokir nomornya. Tapi bisa jadi dia sedang berusaha menerorku dengan nomor lain? Rasa takut datang kala mengingat si bajingan itu. Aku tak sudi melihatnya masih berada di sekitarku.


“Ken… Ken… Kamu kok diam?”


“Oh sorry May, aku sedang di mobil soalnya.”


“Kamu sedang menyetir?”


“Nggak, aku sudah parkir. Ada apa, May?”


“Nanti siang kamu ke mana?”


“Nggak ke mana-mana, di hotel saja.”


“Aku ke sana ya sekalian mau membicarakan lowongan pekerjaan dari teman Ibuku di Tokyo. Sepertinya cocok untukmu. Kamu kan pernah cerita ingin mencari pekerjaan di Jepang.”


“Iya, May. Terima kasih banyak sebelumnya.”


“Sama-sama. See you!”


“Ya.”


Aku sebenarnya ingin mencari pekerjaan tanpa bantuan orang lain. Namun, aku juga tak bisa begitu saja menolak usaha May yang mau membantuku. Lihat nanti saja!


Aku melanjutkan kembali perjalanan menuju hotel. Baru saja tiba di parkirani mobil, ponselku berdering lagi. Hah! Masih dari si peneror yang tadi.


“Add. Aku tahu ini kamu. Apa tujuanmu menerorku seperti ini?” Aku langsung memarahinya.


“Aku tahu kamu merindukanku, Ken. Buktinya kamu bisa mengenali ini aku.”


“Jangan sampai aku mencarimu, kemudian membunuhmu!” Dia membuatku mengatakan kata yang menurutku tabu untuk diucapkan.


“Silakan! Dengan senang hati aku mati di pelukanmu,” sindirnya diikuti tawa.


Aku kira dia benar-benar sudah pergi. Rupanya dia hanya menghilang sesaat. Sekarang aku serasa dikepung masalah.


“BRENGSEK!!!” Dia telah mendidihkan darahku.


“Aku tahu kamu membenciku, tetapi aku juga yakin kamu mencintaiku. Kamu hanya menolak pernyataan perasaanmu, karena tak ingin keluargamu di sini tahu bahwa kita pernah saling memuncratkan kenikmatan bersama.”


Aku matikan saja ponselku. Sialan! Dia sudah sangat melecehkanku. Perkataannya membuatku sunguh-sungguh ingin membunuhnya.


Hidup tenang yang aku idamkan masih harus terus diperjuangkan. Melupakan Dave, menghadapi Mayumi, dan menghindar dari Add merupakan hal yang bergantian datang di hidupku kini. Mereka seolah berputar, mengitari roda hidupku, tetapi kecepatan putarannya tak bisa aku prediksi. Ketika masalah yang satu masih bertumpu, masalah yang lain sudah menyapa menunggu sambutan.

__ADS_1


Add sangat berdebah. Entah apalagi yang dia inginkan, namun yang jelas prasangka baikku terhadapnya melenceng jauh. Aku menyesal sempat mengagumi profesinya, dan memaafkan kebejatannya. Ternyata dia tak pantas dimaafkan. Aku pikir dia sudah keluar dari Jepang atau pergi jauh dari kota ini.


Aku hidupkan kembali mesin mobil. Aku pikir sebaiknya aku ganti nomor saja agar Add tak lagi menerorku. Kupacu mobil menuju tengah kota untuk mendatangi galeri operator seluler.


__ADS_2