
Cerita Add tentang pengalamannya membuat aku tertarik untuk mengikuti jejaknya. Bukan menjadi fotografer, melainkan menjadi seorang traveller. Gebrakan hidup yang memang tak mudah, tetapi mungkin sangat efektif untuk menyingkirkan pikiran tentang Dave dan mengisinya dengan hal-hal yang baru. Sesuatu yang suatu saat bisa membuat biasa saja ketika teringat maupun tanpa sengaja bertemu dengan Dave.
Oke, aku bisa memulai hal tersebut dengan bersepeda pagi ini. Trip pertama berkeliling di sekitar hotel sebagai permulaan.
Sesampainya di hotel, aku meminta izin kepada Paman. “Ken bersepeda dulu ya, Paman.”
“Good. Cuacanya sedang bagus untuk olahraga.” Paman mengiyakan.
Aku pun pergi setelah menyerahkan kunci mobil kepada Paman. Kenapa aku tidak terpikir tentang hal ini dari kemarin ya?! Ah sudahlah, jawabannya karena pikiran isinya tentang Dave semua. Hah, aku seperti tak punya kawan bicara, berbincang dengan diri sendiri.
Saat mengambil sepeda di parkiran, aku melihat Mayumi turun dari mobil. Untuk apa dia datang sepagi ini ke hotel, pikirku. Semoga tidak ada hubungannya denganku, meski aku tidak yakin.
“Ken…” Dia langsung memanggil ketika sadar posisiku tegak lurus dengan pandangannya.
Aku pun menyahuti panggilannya dengan menganggukkan kepala. Benar saja, dia menghampiriku.
“Kamu mau ke mana, Ken?”
“Bersepeda.”
“Dengan siapa? Aku ikut ya?” Dia memohon dengan memegang tanganku. Namun, aku merasa dia justru ingin supaya aku tidak pergi saja.
“Maaf, May. Aku sedang ingin bersepeda sendiri. Lagi pula, sedang tidak ada sepeda lain. Semuanya sedang dipakai tamu hotel.” Aku berusaha mengalihkan pandangan agar Mayumi tidak melihat ke parkiran sepeda, karena sebenarnya masih ada 2 unit lagi.
Dia menghela nafas, seperti ingin memberi tahu rasa kecewa atau kesal.
“Oh iya, Paman sudah menunggumu di ruangannya.” Aku juga terpaksa berbohong supaya bisa segera mengayuh sepeda.
“Paman?” Dia tampak heran. “Aku ke sini mau ketemu kamu, Ken?”
Memang sudah jelas dia mau menemuiku. Lantas, aku harus bagaimana?! Aku sedang ingin berburu pemandangan sendiri dengan bersepeda.
“I…iya.” Aku cukup kesulitan mencari kata-kata agar dia segera pergi. “Maksudkku, kebetulan. Paman sedang menunggumu juga. Kamu bisa menemuinya dulu.”
“Benarkah?”
“Heem.”
“Baiklah. Aku temui Paman dulu sambil menunggumu di sana ya. Jangan lama-lama, Ken!”
Aku tak bisa janji akan pulang cepat. Jika aku menemukan spot yang bagus dan nyaman, aku akan menikmatinya lebih lama.
Tetapi baru saja Mayumi membalikkan badan, seseorang mengudarakan namaku. Kontan langkah Mayumi terhenti.
“Ken…” Suaranya begitu lantang.
Aku dan Mayumi langsung menoleh ke arah sumber suara. Oh, Add. Dengan cepat dia mengayuh sepeda mendekat ke arahku.
“Kamu mau bersepeda juga? Kebetulan, ayo bareng!”
Aku melihat ke arah Mayumi. Dia memasang wajah masam. Aku tak berbohong kepadanya jika aku akan bersepeda sendiri. Add tiba-tiba saja datang, dan aku tak bisa menolak. Dia datang sudah dengan menaiki sepeda.
“Ayo!” Add menarik lenganku agar segera pergi.
“Aku pergi dulu ya, May!” Mayumi tak mengacuhkan ucapanku.
Add mengajakku ke bukit di belakang hotel. Panoramanya memang menyegarkan mata. Pemandangan yang selama ini aku lihat dari balik jendala kamar hotel terpampang lebih luas tanpa batasan.
Kulihat Add mulai menjepret beberapa gambar. Aku pun tak mau kalah meski hanya dengan kamera ponsel. Biasanya, aku lebih senang mengabadikan pemandangan dalam otak ketimbang menjadikan sebuah gambar.
“Add, kenapa memotretku?” Aku berusaha menutup wajah dengan tangan saat sadar Add membidikkan kameranya ke arahku.
“Sudah lama aku tak memotret objek manusia,” ucapnya sembari melihat hasil jepretan. “Bagus juga, sekali lagi ya. Tapi dengan pose yang lebih natural.”
“Add, kamu harus membuat kontrak terlebih dahulu jika ingin menjadikanku model pometratanmu.”
“Baiklah. Tapi sekarang lihat ke arah sana!” Add mengarahkan badanku agar tampak sedang menghadap ke pemandangan.
Anehnya, aku menurut saja. Bahkan saat ia memintaku melakukannya hingga tiga kali dengan gaya yang berbeda, aku mengikuti kemauannya.
“Coba lihat, Ken!” Add menghampiri sambil memperlihatkan foto diriku yang barusan dia tangkap.
“Iya.”
“Iya, apa?”
“Iya, bagus. Karena aku modelnya.”
“Haha…” Add tertawa sambil merangkul pundakku. Sejujurnya. aku merasa sedikit risih.
“Kita naik lagi sedikit yuk, sampai kuil di sana.”
Aku melihat kuil yang Add tunjuk. Sepertinya kuil tersebut menarik untuk dikunjungi.
“Oke.”
Kami mengayuh sepeda dengan berlomba untuk sampai kuil. Jangan meremehkanku, aku handal dalam bersepeda. Add jauh tertinggal dan terus berteriak memintaku menunggu. Aku membiarkannya. Dia kan yang tadi mengajak balapan.
Add tampak terengah-engah. Keringatnya bercucuran hingga kaos yang dia kenakan seperti kulit yang menempel di badan. Aku tahu dia kehausan. Kuperhatikan di sepedanya tidak ada air minum. Aku lantas memberikan air minum yang kubawa.
“Kamu hebat juga,” pujinya selepas membunuh dahaga.
Belum sempat aku menyombongkan diri sedikit di hadapan Add, Paman menelepon.
“Hello Paman, ada apa?”
“Mayumi menunggumu, apa kamu masih lama bersepedanya?”
Hem, sudah ku duga. Paman menelepon agar aku cepat pulang. “Ken baru sampai di Kuil atas bukit. Ken mau menikmati pemandangan di sini dulu, Paman.”
“Ken, kasihan Mayumi menunggumu dari tadi. Besok-besok kan kamu bisa ke sana lagi.” Suara Paman meninggi.
“Iya, Paman.”
Aku menutup telepon. Baru saja ingin menikmati keindahan alam lebih lama, tetapi Paman menyuruhku pulang. Bertemu atau mengobrol atau pun jalan dengan Mayumi kan bisa besok-besok juga. Ah, mood¬-ku langsung berubah.
Huh! Aku tak bisa membantah Paman. Dia sudah seperti ayahku sendiri.
__ADS_1
“Kenapa, Ken?” Add langsung bertanya ketika aku memasukkan ponsel ke saku celanaku.
“Paman menyuruhku pulang.”
“Oh. Ya sudahlah kita kembali ke hotel saja. Besok kan bisa kemari lagi.”
Kami bersepeda dengan lebih santai. Add terus berusaha membuatku tersenyum. Kenapa aku ini? Kita seumuran, tetapi dia terlihat lebih dewasa. Sementara aku, kadang merasa seperti masih remaja.
“Ken, perempuan yang di parkiran tadi pacarmu?” Aku nyaris kehilangan keseimbangaan saat di turunan Add tiba-tiba bertanya tentang aku dan Mayumi. Untungnya, aku ini kan pengendara sepeda handal, hanya butuh beberapa detik untuk menyeimbangkan posisi kembali.
“Bukan.”
“Syukurlah.” Add mengelus dada dengan tangan kirinya.
Aku dibuat bingung dengan reaksi tersebut. “Kenapa Add?”
“Tidak.”
Dia malah mempercepat lajunya dan memaksaku mengejar. Sudah lama aku tak merasa gembira seperti ini. Aku merasa jiwaku lebih hidup, tak lagi merasa sendirian.
Add langsung menuju kamarnya dan aku bergegas ke ruang Paman saat kami tiba di hotel. Sebetulnya belum puas bersepeda, karena masih banyak track yang ingin aku susuri. Tapi ya sudah, semoga hari ini hingga besok tidak turun salju.
Kulihat Paman sedang serius menelepon, sementara Mayumi tak tampak dalam pandanganku. Aku pun berpikir untuk mandi terlebih dahulu, baru kemudian balik ke ruangan ini lagi. Namun baru saja hendak membuka pintu, Paman memanggil.
“Ken, kamu kok lama sekali.” Kening Paman tampak mengerut.
“Memangnya ada apa, Paman?”
“Mayumi baru saja pulang, karena bosan menungggumu.” Jadi itu yang membuat Paman menyapaku dengan suara agak tinggi.
“Maaf, Paman. Nanti Ken telepon Mayumi.” Padahal aku hanya sekitar 45 menit bersepeda. Aku tak meminta Mayumi menungguku juga. Biarlah! Aku tak mau berdebat dengan Paman. “Ken mandi dulu, Paman.”
“Ya, mandi sana!” Terdengar suara Paman dari balik pintu.
Apa yang sebenarnya Mayumi inginkan dan harapkan lagi dari aku? Aku bukan tak suka berteman dengannya. Namun setelah aku tahu dia menyukaiku, ada pemikiran untuk sedikit menjaga jarak. Dengan dia terus mendekatiku seperti ini justru akan membuat pertemanan menjadi pelik. Paman akan mengira aku menyukainya, dan dia sendiri akan merasa aku hanya jual mahal.
Sejenak lupakan tentang itu, aku sudah tak sabar ingin membasuh badan yang lengket dan bau karena keringat yang bercampur bakteri. Kutengadahkan wajah ke atas bulir-bulir air yang dengan cepat mengalir dari rambut hingga jari-jari kakiku. Mandi kali terasa nikmat, karena didahului lelah.
Kuambil sabun, lalu meratakannya ke semua bagian tubuhku. Dada yang bidang, meski belum sixpack. Aku harus lebih rutin berolahraga, demi kesehatan dan penampilan.
Seusai mandi, aku bercemin tanpa menggunakan penutup tubuh sehelai benang pun. Kulihat sisi per sisi tubuhku dari rambut yang hitam lebat, mata yang bulat, hidung yang mancung, bahu yang lebar, hingga kakiku yang jenjang. Baru kali ini aku merasa diriku tampan. Aku harus bisa menjaganya. Aku ingin tubuhku menikmati dan dinikmati hanya oleh orang yang aku cinta.
Saat aku masih ingin narsis, suara ketukan pintu membuyarkan segala kata-kata pujian untuk diriku sendiri. Aku sudah menduga itu Paman.
Langsung saja kubalutkan handuk ke pinggang. Namun karena suara ketukannya berkali-kali, aku tak sempat mengeratkannya dengan simpul – hanya dengan genggaman tangan kiri.
“Ada apa, Paman?” tanyaku saat pintu kubuka. Melihat posturnya lebih tinggi sedikit dariku, aku dibuat kaget. “Oh Add, aku kira Paman. Ada apa, Add?”
“Aku bosan di kamar sendirian, Ken,” jelasnya sambil berusaha masuk ke kamarku, padahal aku belum mempersilakannya.
“Ya sudah, masuk Add! Aku pakai baju dulu.” Aku tadinya mau istirahat, tetapi tak ada kata untuk mengusirnya.
“Aku kira kamu sudah beres mandi dari tadi, Ken.”
“Tadi aku ke ruangan Paman dulu sebentar.”
Aku lupa bahwa handuk yang aku lingkarkan untuk menutupi bagian vitalku tak terikat di pinggang. Aku gunakan tangan kiri untuk mengambil celanaku yang tergantung di lemari belakang pintu, sedangkan tangan kananku menutup pintu.
“So…so…sorry Add, aku tak sadar.” Aku benar-benar gugup dan malu.
“Minta maaf? Haha…. Kita kan sama-sama pria.” Add tak berhenti tertawa melihat kekonyolanku ini.
Aku segera ke kamar mandi dan mengenakan pakaian serba panjang, baju panjang dan celana panjang. Itu untuk menutupi rasa malu, karena Add sudah melihat seluruh detil tubuhku. Dia orang pertama yang melihat aku dalam kondisi seperti itu semenjak aku tak lagi dimandikan oleh ibu.
Sekalipun Add benar kami sesama pria, tetapi tetap saja aku canggung bagian vitalku dilihat jelas olehnya. Huh, aku menyesal telah sangat lalai.
“Kenapa jadi canggung begitu, Ken?” tanya Add ketika aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian tertutup.
“Tidak. Udara kan lagi dingin.”
“Santai saja, tak perlu langsung menutupi begitu. Aku kan sudah lihat.” Add terus saja tertawa. “By the way, punyamu besar juga ya?!” tawanya makin keras.
Aku pun menjadi kesal dia membahas hal itu. “Add, kalau kamu masih membahas hal itu, lebih baik kamu keluar saja.”
“Ken, jangan marah begitu! Sorry, aku kan hanya bercanda.” Add menghentikan tawanya. “Begini Ken, aku mau minta kamu jadi model pemotretanku.”
Permintaan Add terdengar aneh. “Model?” tanyaku memastikan.
“Iya”, tegas Add sambil menarik tanganku agar duduk di sampingnya. Aku pun menuruti kode tersebut.
“Bukannya tema pemotretanmu tentang alam?”
“Iya. Tetapi melihatmu nude tadi, aku berpikir untuk menggabungkan keindahan alam dengan keindahan tubuhmu. Pasti akan banyak yang tertarik.”
Aku pikir dia serius. Aku mulai naik pitam mendengarnya masih membahas kelalaianku. Spontan tangan kiriku mencekik kedua pipinya hingga ia tak bisa tertawa. “Add, berhenti membahas yang tadi atau aku tak akan melepaskan tanganku ini?”
Mendengar ancamanku itu, Add malah memandangku. Ya, jarak antara wajah kami hanya beberapa inchi saja. Kurang dari satu jengkal tanganku. Kami terdiam dalam beberapa detik. Dia terus menatapku. Tatapannya mengingatkanku kepada Dave.
Sadar bahwa dia bukan Dave, aku langsung melepaskan tanganku. Yang aku lakukan ke Add biasa aku lakukan kepada Dave ketika dia berlebihan mencandaiku. Otakku begitu saja memberi rangsangan jika Add adalah Dave. Ah, aku menjadi canggung.
“Sorry Add, aku tak bermaksud…” Aku kesulitan untuk menata alasan.
“Iya nggak apa-apa. Sorry juga Ken kalau tadi bercandaku agak keterlaluan.”
Suasana kembali menghening beberapa saat. Aku tak bisa mengontrol diriku. Ternyata sangat sulit menyingkirkan Dave dari pikiran ini. Ada saja hal yang menggiring pemikiranku kepadanya. Atau aku yang sedang berusaha menghadirkan sosoknya dalam diri orang lain? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Dave tiba-tiba saja mampir kembali dalam memoriku. Niatku melupakan Dave, bukan mencari penggantinya.
“Ken, aku minta maaf,” ujar Add memecah keheningan. Dia juga berusaha menurunkan kedua tanganku yang melekat di kepalanya.
“Tidak. Aku tidak apa-apa. Oh ya, bagaimana kalau kita mengobrolnya sambil minum kopi di bawah?” Suasana di kamar ini mendadak dipenuhi tentang Dave sehingga aku ingin mencari tempat lain.
Add langsung berdiri pertanda dia menyetujui ajakanku. Aku merasa sedikit bersalah melihat wajahnya yang tadi ceria mendadak menjadi datar. Sepertinya aku terlalu sensitif menanggapi candaannya.
“Ken, siang ini mau kan mengantar aku keliling kota?” pinta Add sambil membawakan dua cangkir kopi untuk kami berdua.
“Tapi aku belum begitu paham seluk beluk kota ini Add.” Aku bukan berusaha menolak, aku hanya berkata sejujurnya.
“Justru itu akan membuat perjalanan kita seru. Kita akan hunting spot yang baru. Kamu juga mau kan jadi model buat foto-fotoku nanti?”
__ADS_1
“Add….” Aku memberikannya sinyal agar tak bercanda tentang itu lagi.
“Ken, tentang kamu jadi modelku, itu serius.”
Perihal tersebut aku tak begitu berminat. Namun, aku tak menemukan alasan untuk menolaknya dengan halus. Apa aku katakan saja sedang banyak pekerjaan atau Paman tak mengizinkan aku mengerjakan hal lain.?! Tidak mungkin. Haruskah membuat karangan untuk menolak? Jangan! Aku tak mau nantinya menjadikan kebohongan sebagai alasan untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
“Ken, kamu keberatan ya? Ya sudah, tidak apa-apa.” Nada suara Add terdengar kecewa.
“Iya, aku mau.” Jawaban tersebut keluar dari mulutku begitu saja. Kenapa? Karena aku merasa simpati melihatnya.
“Terima kasih banyak, Ken. Soal bayaran, kamu bilang saja mau berapa, tetapi berikan harga yang wajar ya,” ucapnya yang kembali riang.
“Santai saja. Aku ikhlas kok bantu kamu.”
“Tapi ini pekerjaan, Ken. Aku akan profesional.” Add berusaha merangkulku.
“Kamu atur saja!” Aku menghindari rangkulannya dengan meneguk kopi.
Tak lama, Mayumi tiba-tiba datang. Aku sangat terkejut melihatnya sudah ada di depanku. Aku pikir dia tidak akan kembali lagi ke hotel untuk hari ini.
“Ken, aku meneleponmu berkali-kali. Kenapa tidak diangkat?” Dia memasang wajah cemberut.
“Handphone-ku di kamar. Sorry, May!” Aku menurunkan cangkir kopi.
Kulihat Add melihat ke arah Mayumi.
“Oh ya, May. Ini Add. Dia dari Thailand tetapi kuliah S-1 di Indonesia seperti kamu.” Aku berusaha mengubah wajah cemberutnya dengan menebar senyum.
Add langsung menjulurkan tangannya untuk berkenalan. “Senang bertemu denganmu!”
Namun, Mayumi hanya menggerakkan kepalanya sedikit dan tak menyambut tangan Add. Terlihat Add berusaha menutupi rasa kecewa. Ada apa dengan Mayumi yang menjadi tak ramah begini?
“Ada apa, May? Duduk dulu!” Aku berharap bisa mendinginkan suasana yang memanas di antara kami bertiga.
Tak kusangka, Mayumi lebih memilih berdiri. Dia pun memonyongkan bibirnya sedikit, lalu menarik tanganku. “Ken, kita pergi yuk!”
Aku refleks menoleh kepada Add. Pasalnya, aku sudah lebih dulu berjanji akan menemani Add.
“Ken…” Mayumi menggoyangkan tanganku. Dia sepertinya sadar aku sedang fokus mencari kode dari Add.
“Emmm…” Aku bingung menanggapi permintaan Mayumi. Berpikir! Coba berpikir dengan sedikit tenang, pintaku kepada diriku sendiri. “Boleh, tapi siangnya kita pulang ya.”
Mayumi akan kecewa jika aku menolaknya. Di sisi lain, Add pun akan merasakan hal yang sama jika aku mengabaikan persetujuanku tadi.
“Kenapa? Aku mau ajak kamu seharian ini keliling kota, lalu kita pulang setelah makan malam. Bisa kan, Ken?”
Aku melihat Mayumi dan juga Add secara bergantian. Bagaimana ini?
“Maaf, tapi Ken sudah ada janji dengan saya siang ini.” Add menjadi juru bicaraku sekejap. Aku merasa diselamatkan, tetapi juga mungkin akan mendapat masalah.
“Ke mana?” Mayumi fokus menatapku.
“Keliling kota dan…” Belum sempat Add melanjutkan ucapannya, Mayumi langsung menyela.
“Benar, Ken?”
Aku hanya bisa mengangguk. Mayumi tampak jelas memperlihatkan kekecewaannya. Ia langsung melepaskan tanganku. Aku sendiri tak sadar jika sedari tadi dia menggenggam tanganku.
“Ya sudah, aku pulang.” Dia langsung berbalik badan.
“May…” Aku mencoba menghentikan langkahnya untuk memberikan penjelasan agar dia mengerti.
Aku bangkit dari kursi dan berusaha mengejar Mayumi. Namun, Add menghentikan niatku dengan menarik tanganku.
“Maaf, aku tak bermaksud membuat kalian ribut atau salah paham,” terang Add.
Aku kembali duduk. Ada benarnya yang diucapkan Add. Jika aku mengejar Mayumi, itu akan membuat kesalahpahaman antara aku dan dia. Seperti Add yang mengira kami menjalin hubungan.
Biarkan saja dulu Mayumi ngambek. Lagi pula, aku tak terpikir akan melakukan hal apa saja jika seharian jalan dengannya. Besok atau sore dia pasti akan kembali atau menghubungiku, nanti aku jelaskan pada saat itu saja.
Setelah Mayumi pergi, salah satu pegawai restoran menemuiku. Katanya, Paman mencariku. Tidak salah lagi pasti Mayumi mengadu ke Paman. Terkadang aku bingung sendiri, siapa di antara aku dan Mayumi yang masih bertingkah layaknya remaja.
“Ya sudah, aku kembali ke kamar. Jangan lupa jam 10 aku ke kamarmu! Kamu pakai pakaian yang casual dan cukup bawa pakaian ganti dua pasang,” jelas Add saat aku sudah berdiri untuk menemui Paman.
“Oke. Tapi nanti kita ketemu di lobby saja, Add.”
Aku merasa kurang nyaman bersama Add dalam satu kamar. Entahlah. Mungkin aku yang berpikir terlalu jauh saja. Aku terlalu percaya diri jika Add memiliki ketertarikan kepadaku. Ah, lupakan itu!
Aku berjalan setengah berlari menuju ruangan Paman. Sebelum bertemu dengan Paman, aku harus sudah mempersiapkan setidaknya satu buah paragraf untuk menjelaskan alasan menolak ajakan Mayumi tadi.
Saat aku masuk, mataku langsung mencari Mayumi. Namun sejauh mata berkeliling, dia tak terlihat. Mungkin dia langsung pulang setelah mengadu. Aku bersiap dengan segala kemungkinan ocehan Paman.
“Ken, kamu sudah menghubungi Mayumi?” tanya Paman dengan raut yang sepertinya sedang resah.
“Belum.” Aku berusaha tenang.
Paman memutar badannya dan mengambil kunci mobilnya. Lalu, saat berbalik lagi dia menghela nafas. “Apa Mayumi tadi ke sini?”
Hah? Berarti Paman tidak tahu Mayumi tadi ke sini. Aku sudah salah mengira kepada Mayumi. Ada perasaan bersalah, karena telah berburuk sangka kepadanya.
“Ya, tadi dia ke sini sebentar.”
“Oh…” Paman hanya berucap seolah terkejut. “Oh iya Ken, ini kunci mobil. Petang nanti Paman mau ke Seoul. Mungkin akan di sana selama dua minggu. Paman juga titip rumah dan hotel”
“Hah! Dua minggu, Paman?” Aku tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku. Dua minggu waktu yang cukup lama bagiku mengemban tugas yang Paman amanatkan.
“Iya. Ada apa, Ken?”
Aku mencoba menjelaskan keberatanku. “Kenapa Paman baru cerita sekarang? Ini sangat mendadak. Kalau cuma jaga mobil dan rumah, Ken siap. Tetapi kalau membantu mengurus hotel, Ken….”
Belum selesai berbicara, Paman langsung menyela. “Memang acaranya mendadak. Lagi pula, maksud Paman kamu bantu awasi saja kinerja para pegawai di sini. Kamu tak perlu stay di sini seharian. Kamu tetap bisa pergi ke mana pun dengan Mayumi.” Ekspresi Paman berubah lebih ceria ketika mengucapkan nama Mayumi.
“Iya. Tapi Paman ada acara apa di Seoul?” Aku penasaran.
“Urusan bisnis.”
“Semoga lancar ya, Paman.”
__ADS_1
“Terima kasih banyak, Ken.”
Padahal aku berharap Paman mengajakku ke Korea juga. Seperti kata Add, travelling bisa mengisi pikiran dengan kesenangan dan tantangan. Tapi ya sudahlah, aku akan berusaha menikmati Hokkaido dengan sepenuh hati. Aku pergi dari Indonesia untuk bersahabat dengan tempat ini.