Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 14 bagian 2: Asa


__ADS_3

Kehadiran Bibi dan Keigo membuat gairahku perlahan bangkit. Setidaknya, aku mulai bisa menata pikiran kembali dengan tak lagi terpaku pada Add dan kejadian waktu itu.


Pagi ini, Bibi sibuk menyiapkan hidangan untuk malam nanti. Malam pergantian tahun.


Aku mencoba menghampiri Bibi yang sedang mencuci sayuran “Ada yang bisa Ken bantu, Bibi?”


“Tak perlu, Ken. Oh ya, Bibi sudah siapkan sarapan.”


“Maaf, Ken malah merepotkan Bibi.”


“Kamu lakukan aktivitas lain saja.”


Aktivitas lain? Membereskan rumah sudah dilakukan Bibi. Olahraga? Aku sedang malas berolahraga. Bercengkrema dengan Keigo? Dia masih tidur dengan pulas.


“Baiklah. Ken sarapan di ruang tamu ya, Bi. Kalau Bibi butuh bantuan, panggil saja Ken.”


“Iya. Hari ini apa kamu tidak ke hotel?”


“Ken tunggu Keigo bangun sekalian nanti ke department store.”


“Ya sudah.”


Sebenarnya aku masih malas pergi ke hotel. Seakan di sana masih ada serpihan jejak mimpi burukku. Namun, aku sudah berjanji untuk men-cover posisi Paman sebagai supervisor.


“Ini Bibi buatkan susu hangat.”


“Bibi tak perlu repot-repot, Ken bisa buat sendiri.”


Bibi pun duduk di sampingku. Sepertinya dia ingin mengobrol denganku.


“Ken…” Nada bicaranya halus seperti ingin bertanya hal yang krusial.


“Iya, Bi.”


“Emmm… Gimana ya?” Tak biasanya Bibi tampak ragu berbicara.


“Bibi mau bertanya sesuatu?”


Rasanya tidak sopan menghalangi Bibi yang ingin mengajakku mengobrol, meski arah obrolannya sudah bisa aku prediksi.


“Emmm, Bibi tak bermaksud ingin ikut campur masalah pribadimu.”


Aku mengangguk. Tanda jika aku tak akan tersinggung dengan pertanyaan Bibi nanti.


“Ken, sebenarnya kamu kemarin ribut dengan siapa?”


“Emmm….”


Walaupun pertanyaan Bibi bisa aku tebak, tetapi tak ada jawaban yang aku persiapkan.


“Dengan pacarmu?”


Sekali lagi aku mengangguk. Namun, kali ini cukup ragu. Aku hanya ingin Bibi stop menginterogasiku. Aku harus bisa menyembunyikan tentang Add. Tentang perbuatan bejatnya.


“Apa Bibi boleh mengenalnya?” Apa yang Bibi maksud itu Mayumi? Hah!


Jawaban apa yang harus aku berikan kepada Bibi? Jelas Mayumi bukan pacarku.


“Ken, apa kamu keberatan? Bibi hanya sekadar ingin mengenalnya saja. Selama ini Bibi hanya mendengar tentang dia dari Pamanmu.”


“I….iya, bisa kok, Bi. Nanti Ken kenalkan kepada Mayumi.”


“Kenapa nanti? Bibi boleh minta nomor teleponnya?”


Mau bagaimana lagi, aku berikan saja nomor Mayumi. Entah apa yang akan terjadi nanti, terjadilah. Aku hanya bisa berdoa semoga Bibi hanya benar-benar ingin mengenal Mayumi.


Setelah mencatat nomor Mayumi di ponselnya, Bibi kembali ke dapur. Ada perasaan cemas dalam diriku.


Siangnya, aku dan Keigo ke hotel untuk mengecek kondisi di sana. Rasanya seperti sudah berbulan-bulan, padahal hanya beberapa hari tak berkunjung. Aku harus memastikan dekorasi hotel untuk tahun baru sudah sesuai. Ya, karena malam nanti pergantian dari Desember ke Januari.  Malam yang acapkali dipenuhi resolusi untuk menyongsong hidup yang lebih baik. Malam yang selalu dirayakan dengan spesial di seluruh penjuru dunia.


Setelah dari hotel, kami langsung menuju ke department store. Sepanjang jalan Keigo terus bertanya tentang kekasihku. Dia juga menyarankan agar aku cepat menikah. Ketika aku tanya balik tentang sekolahnya, dia tak mau menjelaskan. Hanya menjawab baik-baik saja, dan kemudian mengalihkan pembicaraan. Mungkin kalau kami seumuran, aku bisa curhat kepadanya tentang masalah hidupku.


Tak terasa hari cepat sekali beranjak malam. Padahal kemarin aku merasa setiap menit seperti hitungan jam lamanya. Cukup sudah bersenang-senang hari ini dengan Keigo. Membelikannya sepatu dan action figure The Avengers. Hal yang cukup lama yaitu mencari action figure yang Keigo mau tersebut. Padahal aku rasa di Tokyo lebih mudah mendapatkannya, tetapi dia berkata ibunya tak pernah memberi uang untuk membeli koleksi miniatur tiruan superhero favoritnya. Melihatnya senang, aku pun merasakan hal yang sama.


Setiba di rumah, Keigo langsung merebahkan badan di sofa. Dia tampak sangat lelah. Mungkin karena tadi terlalu aktif ke sana kemari mencari barang yang dia inginkan. Dari satu toko ke toko lainnya, entah di toko ke berapa action figure yang dicari baru didapat.


“Ken, sudah pulang?!” sambut Bibi sambil melihat barang belanjaan Keigo yang aku belikan. “Kenapa kamu belikan ini semua? Harganya pasti mahal.”


“Tidak apa-apa, Bi. Ini kan tidak setiap tahun.”


“Tapi Bibi takut Keigo nantinya tergantung kepadamu.”


“Dia bukan anak yang seperti itu kok, Bi.” Ya, menurutku, Keigo anak yang baik. Jika nanti pun dia banyak meminta kepadaku, itu bukan masalah besar. Kepada siapa aku berbagi, selain utamanya kepada keluargaku sendiri. “Ken mandi dulu ya, Bi.”


“Iya. Tapi jangan lama-lama, makan malamnya sudah siap.”


Sebelum mandi, aku berbaring sebentar di kasur. Pikiran seketika menerawang ke masa lalu. Tiga tahun belakangan ini, pergantian tahun baruku disisipi kenangan yang kurang baik. Tahun ini kejadian pelecehan yang menyakitkan, tahun lalu kehilangan ayah, tahun sebelumnya kehilangan ibu.


Semasa kuliah, 4 kali tahun baru dinikmati dengan suka cita. Malam pertama tahun baru aku habiskan selalu bersama Dave. Memang tanpa perayaan yang meriah. Kami hanya menghabiskan waktu di apartemen, makan malam, nonton film, hingga menghitung mundur pergantian tahun. Namun, semuanya terasa sangat spesial. Malam berikutnya atau di tanggal 2 dan 3 biasanya aku pulang ke Bali atau menyusul ke Jepang. Bagi masyarakat Jepang sendiri, tahun baru biasanya dirayakan hingga tanggal 3 Januari.


Aku rindu masa-masa indah dulu. Masa di mana masih ada orang tuaku lengkap. Ada juga Dave yang melengkapi ruang interaksi sosialku. Ah, lebih baik aku mandi dahulu agar tidak terjebak dalam kesedihan mengenang masa lalu. Setidaknya, ada Bibi dan Keigo di sini. Aku tak boleh menunjukkan kesedihan di depan mereka. Aku tidak boleh memenjarakan diriku dalam kesepian, sementara ada kerabat yang sudah rela menemani.


Saat sedang mandi, aku mendengar suara mobil parkir di depan rumah. Mungkin itu Paman. Terkaku.


“Ken, kamu mandi lama sekali!”


“Sebentar lagi, Bi. Memang ada siapa?”


“Cepat berpakaian saja. Makan malamnya nanti keburu dingin juga.”


“OK!”


Aku kira Paman. Tetapi dari suara Bibi tadi, sepertinya tamu yang datang merupakan tamu penting dan cukup dekat dengan keluarga ini. Paman Yamamoto? Suami Bibi kan masih di Selandia Baru. Ah, mungkin keluarga lain yang belum aku kenal atau mungkin juga teman Bibi yang tinggal di sini.

__ADS_1


Saat mengganti pakaian, aku mendengar Bibi mengobrol dengan tamu yang datang. Sayangnya, mereka berbincang menggunakan Bahasa Jepang sehingga aku tak paham obrolan mereka. Sementara itu, Keigo terus mengetuk pintu kamarku agar aku cepat menyambut tamu yang bertandang.


Setiba di ruang tamu, aku sangat terkejut meihat Mayumi duduk di samping Bibi. Mereka bahkan terlihat akrab. Aku baru memberikan nomor Mayumi kepada Bibi tadi pagi, sekarang dia ada di sini. Sepertinya aku kecolongan. Aku kira Bibi tidak akan seagresif ini mengundang Mayumi datang kemari untuk merayakan malam tahun baru bersama. Jika Mayumi yang tiba-tiba datang, rasanya mustahil. Terakhir bertemu, wajahnya sangat kecewa seakan tak mau melihatku lagi.


“Hai, Ken. Happy New Year!” sapa Mayumi.


Apa yang sebenarnya terjadi atau yang Bibi katakan kepada Mayumi? Aku melihat Mayumi menyapaku seolah dia lupa emosi terakhirnya kala bertemu denganku. Jalan ceritanya jadi sulit untuk aku prediksi.


“Hai, May!” balasku sambil duduk di hadapannya.


Di samping Mayumi, tampak Bibi sangat sumringah. Hal yang aku khawatirkan, Bibi mengatakan sesuatu yang membuat Mayumi berharap kepadaku.


“Ayo, kita mulai makan malamnya,” ajak Bibi.


Mayumi mulai menyiapkan piring dan menyajikan makanan untuk kami. Ini justru membuatku gelisah. Dengan cepat sikap Mayumi berubah seolah dia tidak menyimpan memori buruk tentangku.


Aku senang jika dia paham bahwa aku dan Add tidak ada hubungan apa-apa. Kejadian waktu itu sungguh di luar kendaliku.


Sekarang aku justru takut kehadiran Mayumi di sini, karena Bibi mengatakan hal-hal yang berlebihan. Setelah ini, aku akan mencoba men-clear-kan semuanya dengan Mayumi. Aku tak mau lagi ada kesalahpahaman..


Tiba-tiba Keigo berbisik kepadaku, “Your girlfriend is so pretty, Uncle.”


Aku balas dengan mengambil potongan ayam Teriyaki di piring Keigo. Spontan itu membuat Keigo sedikit berteriak.


“Uncle!”


“Keigo….” Tapi Bibi justru menatap Keigo dan memberikan isyarat untuk diam.


Aku pun tertawa kecil. “*Behave*!” ucapku kepadanya menimpali kode Bibi.


Taku kuduga, kemudian, Mayumi menaruh beberapa potongan ayam teriyaki di piring makanku.


Ehem…Keigo pura-pura batuk untuk kembali menggodaku.


Meski aku dan Keigo jarang bertemu dan berkomunikasi, tetapi kami sangat akrab. Dia yang sekarang sudah remaja, bahkan sudah mulai bisa menjadi temanku. Bukan lagi keponakan kecil yang bisa aku gendong dan cubit gemas.


Aku pikir, setelah kepergian Ayah dan Ibu, akan sangat sulit berkumpul dengan keluarga lain. Kondisi saat ini membuatku bahagia. Setidaknya, aku masih punya keluarga yang menerima kehadiranku kapan pun.


“Kamu suka masakan Bibi, May?” Bibi membuka obrolan.


“Suka. Bibi pandai sekali memasak.”


“Kalau sama Ken, kamu suka kan?”


Mendengar pertanyaan kedua, Mayumi sedikit tersedak. Aku langsung memberikannya air minum.


“Uncle....” Keigo menyodorkan gelasnya agar aku isi dengan air minum. Aku tahu dia hanya berusaha mengejekku. “It’s like de javu. This scene, I always saw in many romantic movies.”


“What? Do you like Romance? Kid, you should focus on your study. Watching Doraemon is much better for you.” Aku balas mengejek Keigo sambil mengacak-acak rambutnya.


“Keigo, just finish your meal!” Bibi pun memarahi Keigo. Kali ini dia menjadi diam. Lalu, Bibi melanjutkan ucapannya. “Mayumi, Bibi tak bermaksud ingin mencampuri urusan pribadi kalian. Tapi, Bibi hanya berharap kamu mau menerima Ken apa adanya. Ken sebenarnya sangat baik. Hanya mungkin kadang sedikit tempramen.”


“Maksud, Bibi?” Mayumi terlihat heran.


“Beberapa hari yang lalu kalian ribut, kan?”


“Oh… Itu… Tidak, Bi. Itu hal biasa. Mood Mayumi saja saat itu sedang tidak bagus. Jadi, Mayumi yang salah.”


Jawaban Mayumi malah membuat aku tak mengerti sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Sementara, aku mendengarkan percakapan mereka saja dulu.


“Selama ini Ken tidak pernah mau memperkenalkan kekasihnya kepada keluarga besar, bahkan ke orang tuanya sendiri.”


“Oh begitu, Bi.” Mayumi berusaha menanggapi.


“Makanya kemarin Bibi sangat terkejut melihat rumah berantakan. Pecahan gelas dan piring bertebaran di lantai. Ketika Bibi tanya kepada Ken, katanya dia ribut dengan kekasihnya. Pikiran Bibi langsung kepadamu. Siapa lagi kekasihnya kalau bukan kamu. Kata Paman Yamada, kalian berdua sudah sangat dekat. Maka dari itu, kemarin Bibi langsung menghubungi kamu. Maksud Bibi bukan ingin ikut campur, Bibi cuma ingin tahu bagaimana Ken bisa bersikap seperti itu kepada wanita sebaik dan secantik kamu?”


“Bi…” Aku berusaha meluruskan karena Bibi sudah salah alur.


“Ken, Bibi ingin mendengar penjelasan dari Mayumi biar kamu juga dengar dan bisa memahami perasaannya.”


Mayumi tampak tersipu. “Oh… Tentang pecahan kaca itu… Emmm… Sebenarnya Mayumi tidak tahu, Bi. Mungkin saat itu Ken kelelahan jadi pas ambil sarapan terjatuh. Kami tidak bertengkar sampai sejauh itu. Hanya sedikit salah paham. Maafkan aku ya Ken, Bi.”


“Kelelahan atau mabuk, Ken?” tanya Bibi agak sinis.


“Emm….” Jawaban apa yang harus aku ucapakan.


“Sejak kapan kamu minum alkohol, Ken? Bukankah kamu sangat fokus menjaga kesehatanmu selama ini.”


“Sebenarnya Bi, Mayumi yang me…”


Aku langsung memotong ucapan Mayumi. “Sesekali saja Bi, untuk melepaskan beban sejenak.”


“Iya, tapi jangan jadikan kekasihmu pelampiasan bebanmu. Setiap Bibi tanya, kamu tidak pernah mau cerita. Masih belum bisa move on dari mantanmu di Indonesia?”


Ya Tuhan, pembicaraan Bibi semakin ngawur. Atau karena aku yang membuat ceritanya seperti itu.


“Bi, tambah nasinya lagi dong!” Aku mencoba menghentikan pembicaraan yang berpotensi menimbulkan salah pengertian. Mending fokus untuk makan malam bersama saja tanpa embel-embel berbicara tentang perasaan.


“Cukup, Ken?” Justru Mayumi yang memberikan nasi tambahan ke piringku.


“*Oh, I’m so sleepy. I don’t understand what you are talking about*.” Keigo tiba-tiba bersuara lagi.


Kami semua menjadi tertawa karena ucapannya. Ya, dia seakan hanya jadi pajangan di antara kami.


“Go to sleep, Kid!” suruhku sambil mencubit pipinya. Hal yang biasa Ayah lakukan kepadaku ketika aku mengambek atau menginginkan mainan baru sewaktu aku kecil.


“Nanti kita sambung lagi pembicaraannya,” bisik Bibi kepada Mayumi.


“Ehem.” Aku memberikan kode jika aku mendengar ucapan Bibi.


“Ayo, lanjutkan makannya!” Bibi melemparkan senyum kepadaku.


Selepas makan malam, Mayumi pamit untuk pulang. Bibi berusaha menghalangi dan meminta Mayumi untuk tinggal lebih lama. Aku juga tak ingin dia pulang. Ada hal yang ingin aku tanyakan dan jelaskan kepadanya. Namun, dia mengatakan ayah dan ibunya sedang menunggu di rumah.

__ADS_1


“Aku antar pulang ya!” Aku menawarkan diri dengan harapan bisa mengobrol dengannya di jalan.


“Tidak usah, aku kan bawa mobil.”


“Nanti aku bisa pulang naik taksi.”


“Kamu istirahat saja, Ken. Kata Bibi, kamu seharian ini habis jalan-jalan dengan Keigo. Itu pasti membuatmu lelah.”


Mayumi menolak dengan halus. Aku tak ada cara lain agar bisa mengobrol dengannya.


“Ya sudah, Bibi masuk ke kamar. Kalian ngobrol-ngobrol saja. Bibi tidak akan mengganggu.” Entah apa yang ada dalam pikiran Bibi, tetapi dia seolah bisa membaca pikiranku. Aku memang ingin berbincang empat mata saja dengan Mayumi.


“Kita bisa mengobrol sebentar di depan? Sebentar saja, aku mohon!”


“Iya, Ken.”


Bibi ada di dalam kamar, tetapi aku harus bisa memastikan jarak yang tepat agar obrolanku dengan Mayumi tak terdengar olehnya. Maka dari itu, aku mengajak Mayumi mengobrol dengan jarak yang cukup aman, menjauh dari depan rumah.


“Mau bicara tentang kejadian itu ya, Ken.”


Mayumi bisa menerka maksudku. Aku pun mengiyakan dengan mengangguk.


“Tenang saja, aku sudah melupakan kejadian itu,” sambungnya.


“Ta…tapi May.” Aku mencoba menjelaskan. “Aku dan Add tidak ada hubungan apa-apa. Aku mohon kamu percaya itu saja dulu.”


“Iya, Ken.” Mayumi menanggapi dengan tersenyum.


Senyuman Mayumi justru memberikan misteri untukku. Dia berusaha percaya atau sudah tidak peduli lagi tentangku.


Kucoba yakinkan dia kembali, “Malam itu kamu tahu kan aku benar-benar mabuk. Aku tidak tahu Add yang membawaku pulang, dan lalu dia melakukan hal bejat tersebut kepadaku.”


“Ken…” Mayumi memegang lenganku. Aku tahu dia mencoba untuk menenangkanku.


“Sekarang aku tidak tahu harus seperti apa. Yang jelas aku tahu mungkin di matamu aku sudah sangat kotor. Di sisi lain, aku masih sangat marah jika mengingat Add. Namun, aku juga tak mau membebani pikiranku. Ada perasaan takut. Rasanya aku ingin pergi dari sini untuk melupakan segala yang terjadi.”


Aku pun mulai menitikan air mata. Selain di hadapan Dave, aku menunjukkan wajah menangis ini di depan Mayumi. Ini terjadi, karena aku sangat emosional.


Mayumi memelukku. Jelas aku terkejut. Ini pertama kalinya aku dipeluk oleh wanita di luar keluargaku dengan begitu erat dan emosional. Aku menjadi bimbang. Haruskah berusaha melepaskan pelukan Mayumi atau biarkan saja hingga dia yang melepaskan sendiri?


“Ken, aku minta maaf. Ini semua salahku. Jika malam itu aku tak membiarkanmu mabuk, kejadian tersebut tak akan terjadi. Aku juga tak bisa mencegah ketika tahu Add sedang melampiaskan nafsunya kepadamu. Aku mohon, maafkan aku!”


Mayumi menangis sambil memelukku. Wajahnya yang tadi selalu tersenyum berubah sendu.


Kami terdiam dalam rintik salju yang mulai jatuh. Tanganku masih sejajar dengan badanku. Aku tak berani membalas pelukan Mayumi.


“Rasanya aku gagal menjadi dewasa. Aku tak bisa melindungi diriku sendiri. Bagaimana aku bisa melindungi orang lain?” Aku utarakan hasil renenunganku.


“Ken…” Mayumi menatap wajahku. Tangan lembutnya mengusap air mata yang tertahan di pipiku. Aku bergetar merasakan sentuhan itu. “Jangan menyalahkan dirimu sampai seperti ini! Aku benar-benar minta maaf, karena curiga kamu dan Add…. Ken…. Aku juga mohon jangan pergi dari sini.”


“Entahlah, May. Aku tak menyalahkanmu untuk kejadian tersebut. Ini murni karena kebodohanku. Kelalaianku dalam menjaga diriku sendiri.”


“Sekarang Add di mana?”


“Aku sangat berharap dia tak berusaha menemuiku lagi.”


Ya, aku tak mau tahu dia di mana atau ada di mana.


“Aku akan mencarinya. Dia harus mendapatkan hukuman. Perbuatan dia sudah termasuk kriminal, Ken.”


Aku juga sempat berpikir melaporkan dia ke polisi. Tetapi justru itu seperti aku menceritakan masalahku kepada Paman dan Bibi, juga orang banyak. Belum tentu mereka bisa memahami kondisi sebenarnya. Aku dan Add sama laki-laki, sama-sama sudah dewasa pula. Aku tak mau peristiwa itu menyeruak hingga membuat Paman dan Bibi kecewa kepadaku.


“Tak perlu, May. Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Aku juga tidak mau jika sampai Paman dan Bibi tahu masalah ini.”


“Aku minta maaf sudah sempat membencimu setelah kejadian itu. Aku pikir, meski dalam kondisi mabuk, kamu masih sadar ketika Add melakukan….”


“May, entah sudah berapa kali kamu minta maaf.”


“Kamu mungkin tak akan bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu. Tetapi, aku tak rela jika harus kalah bersaing dengan laki-laki. Aku sudah terlalu jauh sempat mengira kamu itu…”


“Heem…” Aku tidak marah jika Mayumi mengira aku gay. Sejatinya, aku sendiri terkadang merasa dalam bayangan itu.


“Aku tidak tahu keributan apa yang terjadi antara kamu dan Add. Namun, cerita Bibi di meja makan membuatku lebih lega.” Mayumi menarik nafas perlahan diikuti senyuman yang manis. “Awalnya, Bibi meneleponku, meminta maaf atas namamu. Bibi mengira kamu bertengkar denganku. Aku sempat merasa bahagia. Bukan tentang pertengkarannya, tetapi andai saja kamu memiliki rasa kepadaku. Bibi dan Pamanmu sangat baik kepadaku. Bibi juga bercerita bahwa kamu sangat baik. Kamu sudah hidup mandiri dari kecil. Kamu juga yang merawat ayah dan ibumu semasa mereka sakit hingga mereka tiada.”


Keharuan mulai menyelinap dalam perbincangan kami.


“Apa lagi yang Bibi katakan tentangku?”


“Kami tak banyak bicara di telepon. Bibi, kemudian, mengundangku untuk makan malam. Itu saja.”


Aku sampai tak sadar Mayumi masih memelukku. Hingga kemudian ponselnya berdering. Ibunya menelepon karena khawatir dia belum tiba di rumah, padahal sudah sedari tadi mengirimkan pesan singkat sedang dalam perjalanan pulang. Pelukannnya pun terlepas.


“Aku pulang ya, Ken.”


“Kamu yakin tidak mau diantar?”


“Sudahlah, jangan buat aku semakin berharap.” Dia mengembangkan senyum lebar.


Sekarang, aku pun sudah lebih lega. Setidaknya Mayumi sudah paham aku dan Add tak pernah menjalin hubungan seperti yang dia sangkakan sebelumnya. Aku bisa bernafas dengan lebih tenang.


Salju makin lebat. Tubuhku pun mulai merasa kedingingan. Aku bergegas masuk ke rumah. Ternyata ada Keigo di balik pintu.


“What are you doing?”  tanyaku kepadanya yang terlihat mencurigakan.


“Emmm.. I… I… wanna open the door for you, Uncle,” jawabnya terbata-bata.


“Keigo, peeping is impolite. Don’t do that again!” seru Bibi yang muncul dari dapur.


“No…I on….ly…wanted te see the snow outside.”


Ah, entah sejak kapan Keigo mengintip. Sepertinya tadi dia hanya pura-pura tidur. Baiklah, aku gelitikin saja dia.


“Stop it, Uncle. Okay, I won’t do that again. I promise. Please, stop it, Uncle!”

__ADS_1


Semakin dia meminta berhenti, semakin aku menggelitikinya. Dia berusaha membalas dan memukul, namun aku masih lebih kuat darinya. Sementara Bibi hanya melihat sambil tersenyum. Aku merasa lebih hidup, memiliki teman bercanda lagi.


__ADS_2