Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 18: Birahi


__ADS_3

Esoknya, aku tak melihat Ken di hotel. Beberapa kali kutanya kepada resepsionis, mereka hanya mengatakan mungkin Ken akan datang sebentar lagi. Paman yang pasti tahu di mana Ken, juga belum kulihat.


Aku cukup gelisah menanti Ken. Suasana sudah mulai cair semalam, meski belum sepenuhnya seperti dulu. Sebelum besok pulang, aku harus bisa meng-clear-kan masalah ini. Aku tak mau membawa rasa bersalah sebagai oleh-oleh buatku sendiri.


Ketika sedang duduk di lobby menunggu kedatangan Ken, aku mendengar seorang wanita menanyakan Ken juga kepada resepsionis. Lalu, dia duduk di depanku. Wanita di hadapanku ini membuatku sedikit penasaran. Aku ingin menyapanya, tetapi dia langsung memainkan ponselnya. Saat pandangan kami beradu, dia melemparkan senyum.


Wanita yang ada di hadapanku sangat cantik. Dia memiliki kulit putih bersih khas wanita Jepang. Bibirnya merona, rambutnya terurai rapi. Caranya duduk pun sangat anggun. Apa dia kekasih Ken? Pikiran itu terbersit mengingat perkataan Paman jika Ken sudah memiliki kekasih. Walaupun saat kutanya semalam Ken menjawab tidak secara eksplisit, tetapi aku yakin dia hanya tak mau jujur kepadaku.


Jika benar wanita ini kekasih Ken, mereka pasangan yang serasi. Namun kenapa di bagian lain perasaanku, aku merasa sakit mengetahui sahabatku sudah memiliki kekasih. Apa sebenarnya alasan dia pergi bukan disebabkan olehku? Aku hanya bagian kecil dari alasannya, karena dia sebenarnya ingin menemui kekasihnya. Aku perlu membicarakan hal ini dengan serius kepada Ken.


Tak lama, Ken terlihat memasuki hotel. Aku langsung berdiri, dan berusaha menghampiri.


“Ken…” Aku memanggilnya, dan wanita yang tadi duduk di depanku pun memanggil bersamaan. Dia melirik ke arahku, tersenyum sambil membungkukkan badan.


Ada dua orang yang sedang menunggunya. Semoga Ken menghampiriku lebih dulu.


“May, kok kamu sudah ada di sini. Katanya, acaranya sampai lusa?” Ken justru lebih dulu menyapa wanita itu yang tampak benar kekasihnya. Memang wajar, tapi seharusnya dia berusaha menyapaku juga. Aku berada jelas di depannya. Hanya dua sekira langkah di belakang kekasihnya.


“Aku kangen tempat ini, dan juga kamu,” jawab wanita itu yang membuat Ken tersenyum. “Oya, kamu udah makan siang?”


“Belum.”


“Kita makan siang di luar yuk!”


Aku lihat Ken mengangguk.


Lalu kekasih Ken menjelaskan, “Oya Ken, sepertinya orang itu dari tadi menunggumu. Apa dia temanmu?”


Sayangnya, Ken tetap bersikap tak acuh.


Pelafalan Bahasa Indonesia kekasih Ken sempurna. Padahal, aku kira dia warga asli Jepang. Dia juga sangat ramah.


“Oh, itu Pak Dave, dari Indonesia. Kebetulan sedang menginap dan berlibur di sini,” papar  Ken tanpa melihat ke arahku. Kakinya seolah berat untuk melangkah menghampiriku.


Hal yang kemudian membuatku ingin menarik kerah kemeja Ken yaitu dia masih menyebutku dengan sapaan Pak. Ke mana sikapnya yang semalam sudah mencair? Apa karena di hadapan kekasihnya dia berpura seperti baru mengenalku lagi?


“Ken, coba kamu datangi dia. Sepertinya dia lama menunggumu. Sekalian saja ajak makan siang bersama,” saran kekasihnya.


Aku hanya bisa diam, berdiri, khusyu mendengar percakapan mereka. Semua kata membatu di dalam mulutku.


“Hello Pak Dave, saya Mayumi. Maaf, saya tidak tahu Anda juga sedang menunggu Ken.” Justru kekasihnya yang menghampiriku sambil menarik Ken turut serta.


“Saya Dave. Asli Jepang?” Ini pertama kalinya aku gugup berkenalan dengan seseorang.


“Iya. Heran ya saya fasih berbahasa Indonesia?”


Aku mengangguk.


“Dulu saya kuliah S1 di Jakarta,” terangnya.


Aku memandang Ken, tetapi dia menolak beradu pandang denganku.


“Pak Dave mau ikut kami makan siang?” Ken memulai interaksi. Namun, gesture dan sorot matanya tak mengindikasi ajakan yang serius. Aku paham, itu hanya basa-basi di depan kekasihnya.


“Tidak. Saya sudah makan siang,” tolakku halus. Aku tak bisa terus diperlakukan seperti orang asing oleh Ken di hadapan orang-orang terkasihnya.


“Pak Dave ikut saja sama kami. Katanya kan lagi berlibur, sekalian kita keliling kota. Mau ya?” Mayumi yang justru memaksaku dengan terus menebar senyum.


“Tidak, terima kasih. Saya tidak mau jadi pengganggu. Saya mau istirahat di kamar saja.”


Aku lihat Mayumi mau mengatakan sesuatu, tetapi Ken menariknya. “Baiklah, kami pergi dulu, Pak.”


“Sebentar, Ken!” Refleks aku menarik tangan kanannya. “Nanti malam kita bisa kan mengobrol. Aku tunggu kamu di kamarku ya. Atau tempatnya terserah di mana yang menurutmu nyaman. Aku akan menunggu. Aku mohon Ken, jangan perlakukan aku seolah kita tak pernah saling mengenal. Itu sangat menyakitkan buatku,” uraiku menahan sakit yang menyelinap di dada. Aku juga mengucapkannya dengan pelan. Aku tak mau Mayumi mendengar dan menjadi salah paham.


Aku masih memegang tangan Ken, menunggu responnya. Dia pun memperhatikan tangannya yang terlibat kontak denganku. Lalu, aku melepaskan tangan Ken saat Mayumi berbalik badan dan memanggil Ken. Tak ada senyuman, tak ada kepastian.


Ken dan Mayumi sudah tak terlihat lagi dalam jangkauan mataku. Maka dari itu, aku memutuskan untuk istirahat ke kamar sambil menunggu malam tiba.


Setiba di kamar, aku langsung merebahkan badan. Kemudian Fay menelepon untuk menanyakan kabar. Cukup lama kami menuai rindu di telepon hingga aku tak berdaya merespon ceritanya, karena kantuk membuat mataku tertutup.


Aku bangun ketika hari sudah gelap. Kulihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 21.00. Kemudian, rasa lapar menuntunku keluar kamar.


Setelah cukup kenyang makan di restoran, aku menuju lobby. Tujuanku bertanya kepada resepsionis tentang keberadaan Ken. Mungkin saja dia ke kamarku ketika aku sedang tertidur pulas.


Sayangnya, resepsionis mengatakan tak melihat Ken masuk ke hotel sejak sore hari. Aku meminta dia memastikan ke temannya yang lain, karena resepsionis yang aku tanya ini berbeda dengan yang siang hari. Dia pun bertanya ke temannya di meja resepsionis dan penjaga, namun katanya dari siang tak melihat Ken datang lagi ke sini. Andai aku tahu di mana Ken berada, aku akan langsung mendatanginya.


Aku mencoba meminta nomor telepon Ken. Sial, tak ada satu pun pegawai hotel yang tahu. Untungnya, ada salah satu pegawai yang memberiku nomor telepon rumah Paman Yamada.


Aku langsung menghubungi nomor telepon yang diberikan tersebut. Sayangnya, tidak ada yang mengangkat. Aku hubungi lagi hingga sekitar 5 kali, masih tak ada respon. Aku kembali ke kamar dan bersabar menunggu esok.


***


Dari pagi hingga siang, kemudian sore, Ken tak tampak di hotel. Seharian menunggu, bahkan dari kemarin, tak ada tanda-tanda dia mau bertemu denganku.

__ADS_1


Besok aku sudah kembali ke Indonesia. Aku harus memperbaiki hubunganku dengan Ken sebelum aku pulang. Harus bisa!


Kemudian, dalam benakku terlintas untuk menemui Ken langsung ke tempat tinggalnya. Jadi, aku tak akan sia-sia jika menunggunya di sana.


Aku bertanya alamat tempat tinggal Ken kepada resepsionis. Setelah menjelaskan tujuanku untuk silaturahmi sebelum pulang, dia pun memberikan alamat rumah Paman Yamada yang merupakan tempat tinggal Ken. Namun aku bukan penduduk kota ini, aku cukup kebingungan ketika dijelaskan patokan dan keterangan lokasi rumah yang hendak aku tuju tersebut.


Bodoh! Aku merasa bodoh. Aku kan bisa menaiki taksi dan memintanya mengantarkan ke alamat yang aku mau. Jika supir taksi juga agak kebingungan, aku bisa menggunakan Google Maps untuk memandu. Saking terlalu fokus kepada Ken, otakku menjadi sulit bekerja.


Ketika aku berjalan keluar hotel untuk menaiki taksi, resepsionis memanggilku. Aku pikir dia mau memberitahu Ken ada di hotel. Ternyata, ada pegawai yang mau pulang dan kebetulan rumahnya searah dengan rumah Pamannya Ken. Pegawai tersebut langsung mengajak aku menuju mobilnya. Aku merasa terus diliputi keberuntungan selama di Hokkaido.


Aku pun diturunkan di depan rumah yang tampak sederhana, sama seperti kepribadian pemiliknya. Tak tampak mobil atau kendaraan lain yang terparkir di samping rumah ini. Meski sederhana, tetapi rumahnya sangat terawat dan asri.


Tak mau membuang waktu. Aku langsung menandai kunjunganku.


Aku coba tekan bel sekali lagi. Total sudah tiga kali aku menekannya. Putus asa sempat mendera. Ditambah udara di luar sangat dingin dan perlahan turun salju cukup lebat.


Apa mungkin Ken sedang kencan dengan kekasihnya? Namun, aku berharap ada Pamannya atau orang lain di rumah ini yang mempersilakan aku masuk dan menunggu Ken. Aku sudah sangat kedinginan. Tak terpikir akan turun salju, karena cuaca sewaktu berangkat cukup cerah. Jadi, aku hanya memakai celana jeans dan kaos panjang.


Syukurlah! Aku mendengar suara langkah kaki mendekat dari dalam rumah. Setelah dibuka, itu Ken. Ternyata, dia ada di rumah. Wajahnya menunjukkan dia baru bangun tidur yang mungkin terbangun karena suara bel yang aku tekan.


“Sore, Ken,” sapaku dengan kondisi mulai menggigil.


“Iya. Ada apa?” Sikapnya lebih dingin dari salju yang sedang turun.


“Aku menunggu kamu dari kemarin.”


“Apa aku mengatakan ‘iya’?”


“Tapi kamu pun tidak mengatakan ‘tidak’.”


Dingin semakin menyerang tubuhku. Ken tampak sedang berdebat dengan nuraninya, menyuruhku masuk atau mengusirku pulang dengan kedinginan.


“Ayo masuk! Jangan sampai menjadi boneka salju di luar.”


Aku ingin tertawa, tetapi nada bicaranya tak menunjukkan ajakan untuk bercanda. Aku tahu ini bukan Ken. Dia sedang berupaya menjadi orang lain agar aku tak mengenali pribadinya. Meskipun kata orang dia pendiam, dingin, sulit diajak berbicara, tetapi bagiku, dia cerewet, periang, dan sangat ekpresif. Dia adalah Ken, sahabatku.


“Silakan duduk!”


Kemudian Ken membawakan aku teh hangat. Suasana di dalam rumah cukup hangat, karena memang sudah dilengkapi alat penghangat ruangan juga.


“Dari mana kamu tahu aku di sini?” Ken memulai percakapan setelah kami duduk berhadapan, namun tetap ada jarak yang lebar.


“Apa itu lebih penting dari pada menanyakan kabarku?” Sebenarnya aku ingin to the point saja.


“Sampai kapan kamu bersikap seperti ini? Masih tak mau mengenaliku? Selama ini aku mencarimu. Aku khawatir terjadi sesuatu kepadamu. Kamu begitu saja meninggalkanku.” Aku tak tahan ingin memborbardinya pertanyaan dari kemarin.


“Mencariku? Selama ini? Atau selama dua hari ini?” Ken malah membalas sinis pertanyaanku.


“Ken, apa yang membuatmu berubah seperti ini?”


Kali ini, dia menatapku dengan sorotan tajam.


“Aku sudah berubah, masalahnya di mana? Terakhir kamu bilang aku tidak pernah berubah. Sekarang aku berusaha berubah. Apa lagi? Bukankah hidupmu sudah bahagia. Apa pentingnya aku dalam hidupmu?”


Ucapan Ken membuat emosiku naik.


“Ken, kenapa kamu tak memberitahu kepadaku kamu ke Jepang? Kenapa kamu tidak pernah bercerita jika masih ada family di Jepang?”


Aku tak mau menjawab pertanyaannya. Jika dia tidak penting dalam hidupku, maka aku tak mungkin mencarinya seperti ini.


“Haha…” Ken malah tertawa, tetapi seperti mengejek. “Dave, jangan membuat lelucon! Aku harus memberitahumu ke mana aku pergi, sementara kamu yang menginginkan aku pergi dari kehidupanmu.” Dia menghela nafas. “Jadi selama ini kamu keberatan, karena aku sudah menganggapmu seperti keluargaku sendiri?”


“Ken, jangan berpikir melampaui batas pikiranku!” Spontan aku membentaknya.


Suasana hening sejenak.


“Aku tahu aku salah. Tak seharusnya aku masuk lagi dalam kehidupanmu. Tetapi, apa kamu pernah berpikir sakitnya aku ketika kamu meminta aku melupakanmu? Aku sadar, aku paham, di dunia ini tak ada yang abadi selain hubungan darah. Persahabatan kita cepat atau lambat akan menjadi kenangan, dan kita sibuk dengan hidup masing-masing. Namun, aku tak pernah menginginkan adanya ucapan untuk saling melupakan. Aku ingin kita tak lagi sedekat dulu, karena kesibukan yang mengatur jarak di antara kita.”


“Ken, aku benar-benar minta maaf jika aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu.” Aku menyela ceritanya. Jujur, memang ada rasa bersalah yang sudah cukup tebal menyelimuti batinku.


“Itu sindiran buatku? Tak masalah. Aku tahu seharusnya aku senang melihat kehidupanmu yang sekarang, yang lebih bahagia. Namun kamu juga harus tahu jika aku pernah tak mengharapkanmu, ketika jarak Jakarta dan Bali memisahkan kita. Saat itu kita tak punya masalah. Semua berakhir seperti cerita sebuah film dengan happy ending, meskipun penonton tidak tahu kehidupan selanjutnya. Hanya tahu semua pemeran sudah menjalani perannya sesuai alur cerita yang sudah di-skenario-kan. Tetapi, kamu menghubungikku di saat aku sudah tak berharap itu terjadi. Sadar atau tidak, itu membuatku memiliki asa untuk setidaknya mengulang cerita yang pernah kita lalui.” Nada bicaranya mulai mengalir seperti dua bulan yang lalu.


“Ken, setelah kamu pulang ke Bali aku selalu menunggumu menghubungiku. Tapi, itu tak pernah ada. Aku ingin menghubungimu lebih dulu, hanya saja aku takut menganggumu. Aku pun berpikir hidupmu sudah lebih bahagia.”


“Kenapa harus menunggu? Sementara dengan teman-teman yang lain kamu terus keep in touch.”


“Dari mana kamu tahu?”


“Haha…. Ketika kamu memberitahuku tentang rencana pernikahanmu, aku sudah lebih dulu tahu dari teman yang lain. Padahal aku pikir aku akan jadi orang pertama yang kamu kabari. Nyatanya, aku harus berbesar hati ketika ceritamu hanya basa-basi.”


“Ken, dari mana aku harus menjelaskan agar kamu bisa mengerti.”


“Sudahlah! Kembali ke inti perbincangan ini. Aku belum bertanya kan apa yang membuatmu datang ke sini?”

__ADS_1


Sekarang giliranku yang mengatur nafas.


“Ken, aku ingin hubungan kita seperti dulu lagi.”


“Hubungan? Hubungan seperti apa? Sudahlah, Dave! Aku tak mau lagi berselisih dengan istrimu. Kemudian, kamu datang menemuiku untuk memintaku supaya melupakanmu lagi. Aku tak mau berada dalam putaran itu terus. Aku cukup sadar diri, Dave.”


“Apa karena sekarang kamu sudah memiliki kekasih? Sejak kapan? Kenapa tak pernah bercerita kepadaku?”


“Boleh aku tertawa? Hahaha…. Maksudmu Mayumi itu kekasihku? Aku bahkan tak ada perasaan apa pun terhadapnya.”


Seharusnya aku mendukung Ken dengan Mayumi. Namun, mendengar jawaban Ken justru ada perasaan lega yang hinggap di kalbu.


“Baiklah, aku ulangi lagi. Tetapi, ini yang terakhir. Aku mencintaimu. Jelas, kan?” lanjutnya. Parasnya memberi penegasan yang serius jika pengakuannya benar dari hati.


Bimbang. Aku hanya bisa merespon dengan tatapan. Menyoroti kedua matanya yang bulat berkaca-kaca.


“Aku pikir, aku tak akan sejauh ini memendam rasa terhadapmu. Hingga aku harus meninggalkan Indonesia untuk melupakan perasaan ini. Aku bahagia melihatmu bahagia, tetapi aku tak bisa membohongi diriku jika aku menginginkan sebagian kebahagianmu itu ada denganku. Aku sadar tak akan lagi bisa memilikimu, karena sekarang kamu sudah berkeluarga. Namun, maaf, aku ingin bisa selalu bersamamu. Dulu, aku tak memikirkan hal tersebut, karena aku pikir waktu kebersamaan kita masih panjang.”


“Apa maksudmu mencintaiku?” Aku merasa gamang.


“Hah? Oke. Mencintaimu sebagai sahabat, saudara, ya itu dulu. Tetapi semakin dewasa, aku tidak tahu kenapa pikiranku menjadi liar. Aku berusaha menerima kita tidak mungkin bersama selamanya. Namun setelah kamu membuka lagi jarak di antara kita, aku semakin ingin memeluknya dengan perasaan yang lebih. Lalu merasakan hangatnya bibirmu.”


Mendengar pernyataan terakhirnya, aku refleks bangkit dari sofa dan menarik kaosnya.


“Mau marah? Silakan. Tetapi, yang seharusnya marah itu aku. Kenapa? Aku sudah melupakan hasrat itu, namun kamu justru membangkitkannya kembali. Kamu menyarankan aku untuk pindah ke Jakarta dan berjanji akan menemani. Yang terjadi? Aku harus patah hati. Kemudian, aku berusaha move on, meski sampai sekarang belum bisa. Setidaknya, menjauh sejauh mungkin darimu, itu akan membuat perasaanku membaik. Sekarang, kamu mengatakan kamu khawatir kepadaku. Ingin kita seperti dulu lagi. Karena kasihan melihatku selalu terlihat sendiri? Tak perlu, aku sudah terbiasa kesepian dari kecil.”


Aku semakin menguatkan cengkramanku. Nafasku menjadi tak teratur.


“Tak perlu khawatir. Kamu tak perlu cemas juga aku akan mengganggu rumah tanggamu, karena dari dulu aku tak punya niat itu sedikit pun. Oh iya, besok kamu pulang, kan? Aku harus berjuang lagi seolah kemarin dan hari ini, kita bertemu dalam mimpi.”


Jika bisa, aku ingin pulang bersamamu Ken. Begitulah suara hatiku ketika menatap wajah Ken yang sendu.


“Lepaskan! Jangan membuatku salah mengartikan sikapmu ini! Jangan terus menerus mempermainkanku!” Ken berusaha melepaskan cengkramanku.


“Tidak.” Aku terus mencengkram kaos Ken hingga nyaris sobek. Lalu, sedikit membanting tubuhnya hingga ia terbaring di atas sofa. Posisiku tepat di atas tubuhnya.


Tubuh kami beradu. Wajah kami hanya berjarak beberapa centimeter. Ken menatapku sambil berusaha mengangkat tubuhku. Aku dalam posisi menyerang, dan dia bertahan. Jelas, aku lebih bisa “menang”.


Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, aku menutup mata. Kemudian, menancapkan bibirku di bibir Ken. Dia berusaha menolak, tetapi itu membuat seranganku semakin agresif. Setelah itu, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Ken mulai memanaskan nafsunya.


Kemudian, kami dihentakkan dengan suara kedatang seseorang. “Sepertinya Pamanku pulang!” ujar Ken yang tampak begitu kaget.


Kami pun langsung merapikan pakaian dan tempat kami bercumbu agar tak dicurigai Paman. Nyaris perbuatanku membuat Ken akan menghadapi masalah.


“Paman pulang!” ucap Paman menyapa. “ Ada Pak Dave ternyata. Apa kabar, Pak Dave?”


“Baik, Paman.” Aku pun berdiri menyambut Paman. Semoga Paman tak melihat aksi kami tadi. “Dua hari ini saya tidak lihat Paman di hotel, sepertinya Paman sibuk?”


“Iya, Paman sedang berusaha mengembangkan bisnis Paman. Jadi beberapa hari ini sibuk meeting dengan calon-calon investor.” Paman pun duduk di samping Ken. Sementara Ken tampak canggung didekati Pamannya. “Pak Dave besok penerbangan jam berapa?”


“Sore, Paman.”


“Kalau begitu biar diantar Ken saja!”


Ken melihat ke arahku.


“Tidak usah Paman. Saya merasa tamu VIP jika terus merepotkan.”


“Jangan sungkan! Pagi atau siangnya Ken bisa antar Pak Dave keliling sebentar mencari oleh-oleh untuk istri tercinta di rumah. Mau kan, Ken? Siapa tahu kamu termotivasi untuk segera menikah setelah semakin akrab berbincang dengan Pak Dave,” papar Paman sambil menepuk bahu Ken.


Aku tak mengerti ucapan Paman. Semoga dia sama sekali tak melihat kejadian aku dan Ken tadi. Masih ada kekhawatiran jika buncahan nafsuku disaksikan oleh Paman.


“Iya, Paman,” respon Ken.


“Kalau begitu, Paman ke kamar dulu ganti baju. Kalian lanjutkan saja mengobrol.”


“Iya Paman, silakan.”


“Oya, Pak Dave sekalian makan malam di sini saja. Tadi Paman sudah memesan makanan, sebentar lagi mungkin datang. Nanti pulangnya diantar Ken. Atau kalau mau coba menginap di sini juga boleh. Anggap saja rumah sendiri.”


“Baik, Paman. Terima kasih banyak!”


Ken dari tadi diam saja. Sesekali dia memandangku. Setelah itu, ia mencoba mengalihkan pandangannya.


Aku mencoba mendekatinya. Perlahan merangkulnya. Ken menyandarkan kepalanya di bahuku. Ia tampak ingin menyampaikan sesuatu. Bibirnya sedikit bergetar menahan luapan cerita yang ingin diutarakan.


Ken mengangkat kepalanya kembali. Ia menunduk sambil menempatkan kedua tangannya di atas kepala. Apa yang sebenarnya dia rasakan? Aku tahu tadi tidak selesai? Tetapi, kenapa dia seperti takut? Takut karena aku akan meninggalkannya besok? Jika bisa, aku pun tak ingin pergi membiarkan dia sendiri.


“Ken, aku minta maaf. Aku harap kita bisa….”


Belum selesai aku berbicara, Ken langsung menyela.


“Aku gagal. Harusnya aku bisa teguh menggenggam perasaanku. Namun, kamu jangan khawatir,” lirihnya dengan masih menundukkan kepala.

__ADS_1


Aku tak mengerti maksud ucapan Ken tersebut. Kupeluk saja ia dengan erat.


__ADS_2