
Seminggu kemarin hatiku sangat terguncang. Di depan mata, aku lihat Ken dianiaya. Darah mengucur deras dari kepalanya akibat dibenturkan berkali-kali ke dinding. Aku nyaris pingsan, karena tak tega melihatnya merintih kesakitan.
Ketika aku mencoba membantu, Add malah semakin menyakiti Ken. Dia mengancamku hingga tak berdaya melakukan penyelamatan. Untung saja, ada beberapa warga yang datang untuk menolong dan menelepon polisi. Awalnya, semakin didekati, Add semakin beringas menyakiti Ken. Di situ aku sangat ketakutan, terlebih Ken tergelak di lantai yang basah oleh darahnya.
Berulang-ulang kali aku menjerit agar Add melepaskan Ken. Terutama saat Add mengatakan tak boleh ada yang memiliki Ken jika dia tak bisa memilikinya. Suasana benar-benar mencekam. Air mataku bahkan sampai tak bisa lagi keluar. Beruntung, nyawa Ken bisa diselamatkan setelah polisi membekuk Add dari belakang dengan bergerilya.
Ken pun langsung dibawa ke unit gawat darurat. Dia kehilangan banyak darah. Dokter bahkan mengatakan kondisi Ken sangat kritis. Aku juga panik. Aku sempat takut untuk memberitahu Paman Yamada.
Lalu, aku putuskan untuk bercerita kepada Ayahku terlebih dahulu. Ayah yang kemudian menghubungi Paman Yamada. Sore harinya, Paman datang dari Tokyo bersama Bibi Ayane dan keluarga.
Pada saat kejadian, Paman mengirimkan pesan WhatsApp kepadaku untuk membawakan Ken sarapan. Tentu saja aku tidak keberatan. Tetapi pagi itu, kemudian, menjadi pagi yang sangat suram. Menu sarapan darah yang tak pernah ingin aku lihat lagi.
Dokter mengatakan nyawa Ken tertolong, tetapi masih butuh waktu agar kesadarannya pulih. Setelah hampir 24 jam menunggu Ken terbangun, tanda-tanda itu tak ada. Detak jantungnya tidak stabil. Kondisi tersebut semakin membuat keluarga Ken bersedih. Aku pun menjadi orang yang paling merasa bersalah, karena saat kejadian tak bisa cepat menyelamatkannya.
Dokter mendiagnosa kesadaran Ken dengan GCS atau Glasgow Coma Scale yang meliputi penilaian mata, respon verbal, dan respon gerak (motoric). Hasilnya Ken berada diangka 5. Itu artinya Ken mengalami koma. Dalam diagnosa tersebut jika nilai dari pasien 3-7 maka dikatakan koma, dan nilai maksimumnya yaitu 15.
Kondisi Ken saat itu semakin membuat kami terpukul, terutama keluarganya. Bibi Ayane bahkan sempat pingsan hingga dua kali. Pertama ketika melihat Ken di ruang ICU (Intensive Care Unit) dan kedua ketika dokter memvonis Ken koma. Ken mengalami hal tersebut akibat benturan yang keras dan berkali-kali sehingga membuat cedera pada otaknya atau traumatic brain injury.
Berhari-hari aku dan keluarga Ken bergantian menunggunya terbangun. Kami berusaha mengajaknya mengobrol dan memutarkan music Jazz kesukaannya, namun tak ada respon. Dalam hidupku, itu memori tersedih yang tak ingin terulang atau terjadi kepada orang-orang terdekatku.
Kini Ken telah terbangun. Itu membuat kami sangat bahagia dan bersyukur. Add juga sudah mendapat ganjaran yang setimpal. Aku terpaksa berbohong kepada keluarga Ken jika pelakunya orang asing yang begitu saja datang mencekik dan melukai Ken. Aku juga meminta bantuan Ayahku untuk menutupi kasus ini. Meskipun bukan salah Ken, tetapi aku mengerti Ken tak ingin masalah ini diketahui keluarganya.
Ayah, kemudian, berhasil menyakinkan keluarga Ken untuk tak perlu menemui Add. Dia sudah mendekam di penjara dengan dakwaan penyerangan.
Hal terpenting saat ini yaitu merawat dan menjaga Ken.
***
Paska terbangun dari koma, Ken menjalani perawatan selama tiga hari. Kondisi kesehatannya berkembang pesat. Kata dokter, itu karena kemauan Ken sendiri untuk segera pulih sangat tinggi. Ken juga mengatakan tak mau lagi sakit dan menyusahkan orang lain. Kejadian yang menimpanya memang sangat di luar dugaan. Kami akan selalu ada kapan pun dan dalam kondisi apa pun untukmu, Ken.
“Terima kasih banyak ya May sudah mau merawatku selama aku sakit. Kamu juga sudah menolongku,” ungkap Ken saat tiba di rumahnya. Senyumnya saat mengatakan kalimat tersebut berhasil melelehkan perasaanku.
“Sudah semestinya aku melakukan itu, Ken. Sekarang aku pulang dulu, besok pagi aku kembali lagi. Jangan lupa minum obat dan beristirahat!”
“Iya, May. Kamu juga istirahat yang cukup ya.”
Balasan kalimatnya membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat, ditambah dia juga mengusap telapak tanganku. Aku merasakan aroma kebahagiaan akan semakin kuat meliputi hariku. Hopefully!
Setiba di rumah, Ayah langsung bertanya mengenai wajahku yang tampak bahagia. Kondisi Ken yang berangsur baik sudah pasti sebuah kebahagiaan. Selain itu, aku belum bisa cerita banyak kepada Ayah.
Di balik peristiwa tragis yang menimpa Ken, aku teringat bagaimana dia memeluk dan menciumku. Hal yang sebelumnya hanya bisa aku khayalkan, tak berani aku yakinkan akan terjadi.
Dia meraba bibirku dengan lembut, mengalirkan kehangatan hingga ke seluruh tubuh. Sebelumnya, aku sempat takut dia menerima tantangan Add untuk menciumnya.
Tak disangka, Ken berbalik dan melakukan itu kepadaku. Itu membuat Add marah, lalu kemarahannya semakin bertambah ketika Ken mengatakan akan menikah denganku dalam waktu dekat. Seperti dihujani jutaan cinta, aku tak bisa mengungkapkan kebahagiaan ketika mendengar pernyataan Ken tersebut. Walau sempat terselingi oleh peristiwa kejam, namun sekarang dia sudah sehat, dan orang yang telah melukainya tak akan pernah kembali ke sini.
Besok pagi aku akan menemui Ken kembali. Aku berpikir untuk memastikan ucapannya waktu itu. Pikiran itu terlintas mengingat Ken pernah mengatakan tidak akan pernah bisa mencintaiku lebih dari teman. Apakah besok waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini? Tetapi, aku tak bisa menunggu kebahagiaan ini digantung lebih lama.
Jika pernyataan Ken hanya agar Add pergi, kenapa aku merasakan ciumannya begitu nikmat?! Ken tidak hanya menempelkan bibirnya, dia juga memainkan rasa di dalamnya. Itu yang membuatku yakin perasaan Ken sudah bisa aku tembus. Dia pun tak mengklarifikasi itu tidak serius. Tidak mungkin juga Ken menciumku hanya untuk main-main. Dia tak mungkin mempermainkan perasaan seseorang.
Meskipun itu bukan ciuman pertamaku, tetapi itu yang pertama membuat hatiku luluh. Benar kata kedua orang tuaku, waktu dan kesabaran bisa mengubah batu yang keras menjadi pasir yang lembut. Hati Ken telah terbuka.
Keesokan paginya, aku datang ke rumah Paman Yamada dengan senyum yang cerah. Salju turun cukup lebat, tapi aku tak merasakan kedinginan. Kekuatan cinta memang luar biasa, bisa membalikkan keadaan dan menghadirkan kegembiraan.
“Pagi, Paman!
“Pagi, Mayumi. Kamu terlihat sangat ceria hari ini.”
“Hehe…. Ken sudah bangun, Paman?”
Aku tak sabar ingin bertemu Ken.
“Masih tidur. Semalam tidurnya sempat terganggu, karena dia mengeluh sakit kepala.”
“Apa parah, Paman?”
“Sepertinya tidak. Setelah minum obat dia bisa tidur lagi.”
__ADS_1
“Oh syukurlah kalau begitu.” Aku tak bisa menahan diri untuk tidak menceritakan kebahagiaanku. Awalnya, aku mau menyimpan berita ini hingga aku mendapat konfirmasi dari Ken.
“Paman, aku boleh cerita?”
“Tentu saja.” Paman begitu antusias.
“Begini, Paman. Sebelum kejadian Ken koma….” Tetapi aku tiba-tiba ragu dan takut. “Ken mengatakan akan menikahiku dalam waktu dekat. Apa tiga hari ini dia ada menceritakan hal itu kepada Paman?”
“Benarkah? Ken belum mengatakan mengenai hal tersebut kepada Paman”, respon Paman memastikan.
“Apa aku terlihat mengada-ada, Paman?”
Paman pun hanya tersenyum menanggapi.
“Bukan begitu maksud Paman. Paman sangat bahagia mendengar ini. Kalau begitu nanti Paman langsung tanya ke dia kalau dia sudah bangun.”
“Mungkin karena keadaannya belum pulih, jadi Ken belum cerita hal ini. Menurut Mayumi, Paman jangan dulu tanyakan kepada Ken. Biar Mayumi saja yang memastikannya lagi.”
“Kenapa sekarang jadi kamu yang ragu? Ken itu orangnya tegas. Dia memang pendiam. Tapi jika dia mengatakan hal tersebut, sudah pasti itu benar. Ken tidak pernah main-main dengan ucapannya.”
“Iya, Paman.” Perkataan Paman semakin menambah kadar kebahagiaanku.
“Oya, kamu sudah cerita sama ayah dan ibumu?”
“Mayumi belum cerita kepada siapa pun, selain Paman.”
“Paman sangat bahagia menjadi orang pertama yang mendengarnya. Oya, Paman mau lihat Ken dulu sebentar ya sepertinya dia sudah bangun.”
“Iya, Paman. Mayumi siapkan sarapannya dulu kalau begitu.”
Terlihat Ken keluar dari kamar dengan tangan kanan memegang gelas, dan tangan kiri memegang kepala.
Sepertinya ia ingin mengambil air minum. Dengan cepat aku menghampiri dan membawakannya.
“Terima kasih, May.”
“Kepalamu masih sakit, Ken? Kalau ada yang kamu perlukan panggil Paman saja.” Paman berusaha mendudukkan Ken di sofa.
“Sekalian sarapan ya, Ken. Sebentar aku bawakan ke situ.” Aku menawari dengan sedikit memaksa, karena Ken harus makan tepat waktu agar bisa meminum obat tepat waktu pula.
Aku mencoba menyuapi, tapi Ken menolak.
“Kamu sudah sarapan?” tanyanya.
“Belum.”
“Lalu, kenapa mau menyuapiku?”
“Setelah kamu sarapan, aku juga sarapan.”
“Lebih baik kita sarapan di meja makan bersama-sama.”
Ken membawa makanannya kembali ke meja makan. Sikapnya tak pernah gagal membuat hatiku meleleh.
Selesai sarapan Ken kembali ke kamarnya. Kondisinya pagi ini tampak lebih lesu. Aku berharap penglihatanku yang salah. Aku sedih melihat dia dalam kondisi sakit.
Niat untuk memastikan ucapan Ken, aku pending dahulu. Ini bukan saat yang tepat untuk meminta penjelasan Ken terkait niatnya menikahiku. Tenang saja Ken, aku bisa menunggu sampai kamu pulih. Di saat itu, kita akan mengikat janji sehidup semati. Jariku sudah tak sabar ingin segera disematkan cincin di altar nanti.
“May, Paman pergi dulu ya sebentar. Paman mesti ke hotel karena ada tamu yang mencari.”
“Iya, Paman. Hati-hati di jalan,” sahutku sambil membereskan sisa sarapan.
Sayup-sayup terdengar Ken sedang menelepon ketika telepon rumah berbunyi. Aku sempat ragu untuk mengangkatnya, namun Ken juga sedang sibuk.
“Halo….” Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengangkat telepon.
“Pagi, Mayumi! Bagaimana kondisi Ken hari ini?”
__ADS_1
“Pagi, Bibi! Kondisi Ken sudah semakin membaik.” Aku tahu itu Bibi Ayane karena suaranya sudah tidak asing lagi di telingaku.
“Syukurlah. Kalau ada apa-apa kabari Bibi ya Mayumi!”
“Tentu, Bibi.”
“Kalau begitu Bibi tutup dulu teleponnya ya. Nanti tolong sampaikan kepada Ken untuk menelepon Bibi!”
“Baik, Bibi.”
Saat aku menutup telepon, Ken mengejutkanku dengan tiba-tiba ada di belakangku. “Ada apa Bibi menelepon?”
“Ken….” Aku mengelus dadaku.
“Sorry, aku mengagetkanmu ya?”
“Tidak apa-apa. Tadi Bibi hanya bertanya tentang kondisimu. Terus katanya nanti kamu diminta telepon balik.”
“Okay.”
Lalu, Ken duduk di sofa. Aku kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.
Berdua dengan Ken di dalam rumah rasanya sangat bahagia. Aku semakin tak sabar untuk menikmati situasi ini setiap hari.
Untuk mencairkan suasana, aku coba hidupkan televisi. Sementara Ken sibuk menatap layar ponselnya. Entah kenapa, aku merasa canggung untuk mengajaknya mengobrol.
“Ken, kata Paman, kepalamu semalam mendadak sakit lagi? Hari ini kita ke rumah sakit ya.” Akhirnya aku mendapatkan topik pembicaraan juga.
“Oh, it’s not a big deal. Aku sudah pulih.”
“Syukurlah kalau begitu. Tapi, aku rasa nanti siang kamu harus tetap control ya!”
Ken mengangguk. Lalu dia meletakkan ponselnya di meja. “Oya May, ada hal yang ingin aku katakan.”
Semoga yang ingin dia katakan sesuai dengan yang aku pikirkan. “Silakan, Ken!”
“May, aku minta maaf tentang kejadian itu.”
“Maksudnya yang mana?”
“Yang itu....”
Sepertinya tentang ciuman itu, tetapi mengapa ekspresi Ken tampak tak bahagia. Aku berusaha menghindari untuk menatap wajahnya. Aku tak mau terpengaruh membaca raut tersebut.
“Iya, Ken?”
“So…al kelancanganku waktu itu. Sejujurnya aku ingin mengatakannya lagi dari kemarin, tapi….”
“Ucapanmu waktu itu serius kan, Ken?”
Ken tampak diam. Aku coba melirik, ternyata dia sedang memainkan ponselnya lagi. Sepertinya sedang membalas pesan. Terlihat jarinya menari di atas layar. Aku tunggu saja sampai dia selesai.
“I…iya, May…. “
Setelah mengucapkan dua kata itu, Ken berdiri, lalu berjalan ke kamarnya.
“Sorry, aku charge ponselku dulu ya.”
“Iya, Ken.”
Rasanya ingin teriak gembira. Berkali-kali aku mencubit pipiku menyakinkan diri bahwa tadi Ken benar mengucapkan “Iya”. Ini perasaan yang luar biasa. Benar kata Paman, Ken tidak mungkin mengucapkan kalimat tersebut jika dia tidak serius.
Aku menunggu Ken keluar dari kamarnya, namun ia tampak sibuk menelepon. Aku tak mau mengganggunya. Aku fokus menonton TV saja.
Terhantar suara Ken berbicara tentang apartemen, harga, dan fasilitasnya. Apa Ken sudah sejauh itu memikirkan untuk tempat tinggal setelah kami menikah? Aku tak sabar ingin menelepon Ibuku. Juga, ingin segera pulang untuk menyampaikan berita ini langsung kepada Ayah.
Aku tidak memiliki target untuk menikah di usia tertentu. Orang tuaku pun tak terlalu sering menanyakan hal tersebut. Namun setelah berjumpa dengan Ken, hasrat menikah begitu saja menguat. Aku ingin menghabiskan hidupku selamanya dengan dia.
__ADS_1
Keinginanku menjadi nyata. Hal yang awalnya terasa sulit, bahkan seperti tidak mungkin, sudah dikonfirmasi oleh Ken itu akan terjadi. Tanpa menyatakan perasaannya, Ken langsung ingin menikahiku. Sudah sangat jelas jika dia pria yang setia.
Untuk tanggal dan tempat pernikahan nanti, aku serahkan kepada Ken dan keluargaku saja. Watashi wa anata o aishite, Ken. (I love you, Ken).