Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 14 bagian 1: Andai


__ADS_3

Aku berpikir untuk meninggalkan Jepang. Aku merasa tak punya lagi kehormatan. Tapi ke mana aku pergi? Ke Indonesia? Jika aku pulang, apa aku bisa menahan diri untuk tidak bercerita tentang kejadian yang aku alami kepada Dave. Hah, aku tak bisa pergi tanpa tujuan.


Di sisi lain, Mayumi tampaknya tahu perbuatan mesum Add kepadaku. Itulah yang mungkin menggiring opininya jika aku dan Add menjalin hubungan asmara. Haruskah aku menjelaskan jika yang terjadi tidak seperti yang dia pikirkan? Bagaimana jika itu justru membuat dia semakin salah paham? Dia bisa saja mengira penjelasanku sebaga penegasan aku meminta pengertiannya. Ah, otakku benar-benar seperti berhenti bekerja.


Menyesal, berandai-andai, berharap bisa kembali ke masa lalu untuk mencegah kejadian tersebut, semuanya hanya membuatku seperti orang gila. Aku mengutuk kebodohanku, tak seharusnya aku minum bir hingga mabuk berat. Tetapi jika Mayumi tak memancing aku melakukan hal tersebut, kejadian ini tidak akan terjadi. Lalu, ini salah Mayumi? Hah!!!


Ini karena Add yang ternyata bejat. Bukannya membantuku, tetapi malah memanfaatkan peluang untuk melampiaskan nafsunya. Ini salah Add? Tetapi jika aku tidak bodoh, ini semua seharusnya bisa aku cegah. Aaaaaaakkkkh, mengapa dalam kepala justru isinya cacian untuk diriku sendiri?!


Dinginnya Hokkaido tak mampu mendinginkan kepalaku, malah justru membekukan sensor motorikku. Beberapa hari ini, aku tidak tahu harus melakukan sesuatu. Andai saja aku bisa menghubungi Dave dan berbagi kisah pilu ini, otakku mungkin akan terasa lebih ringan. Sayangnya, keadaan sudah tak berpihak untuk bisa curhat lagi kepadanya. Aku harus bisa menghormati keputusannya. Aku juga harus memenuhi permintaan yang berkali dia sampaikan. Aku tak boleh lagi menghubunginya. Menyedihkan! Bagaimana rindu ini harus kualamatkan, dan kepada siapa sengsara ini kukisahkan?


Sejujurnya, aku berharap mendapati cerita mendetil dari Mayumi. Namun, dia justru sudah menunjukkan kekecewaan yang teramat kepadaku. Bahkan, dia tak berusaha menghubungiku lagi belakangan ini.


Apa ini hukuman karena aku berusaha melawan kenyataan jika aku sebenarnya gay? Tidak, aku bukan seorang gay. Buktinya aku sekarang sangat membenci Add. Bahkan aku sudah meminta dia dialihkan ke hotel lain. Aku tak ingin lagi bertemu dengannya.


Tapi jika yang melakukan itu Dave, apa aku akan membencinya? Lagi dan lagi. Pengandaian tersebut tak berhenti menyerang pikiranku. Aku harus bisa keluar dari lingkaran setan dalam orientasi seksualku sendiri.


Aku tidak sakit. Aku hanya terjebak dalam ruang sempit pertemanan. Aku hanya belum menemukan kehidupanku yang normal.


Pikiranku stuck dalam frasa kehidupan yang normal. Setiap hal di dunia ini diciptakan secara berpasangan. Ada kanan, ada kiri. Ada atas, ada bawah. Ada perempuan untuk menjadi pasangan laki-laki. Blank memory!


Saat ini, aku harus bisa mengendalikan pikiranku dahulu, lalu sedikit demi sedikit membangkitkan gairah hidup lagi. Akalku tidak boleh buntu. Logika harus tetap bekerja. Semua akan berlalu, meski prosesnya akan sangat berat.


Kuambil kunci mobil dan ponsel. Entah akan pergi ke mana, paling tidak keluar dari rumah ini akan membuat pikirankku lebih melebar. Lagi pula, dunia ini luas. Pikiranku harus seluas cakrawala yang bisa aku pandang.


Saat aku ke kamar untuk mengambil jaket, terdengar suara pintu diketuk beberapa kali. Apa Paman pulang lebih cepat? Tetapi ini kan rumahnya, ia tak perlu sampai mengetuk pintu berulang-ulang. Add? Aku tahu sempat ada keributan saat aku meminta staf hotel memindahkan Add ke hotel lain. Dia tidak terima, karena sudah membayar sewa kamar hingga beberapa minggu ke depan. Aku pun meminta agar staf tersebut memberikan refund uang kamar Add yang belum terpakai dua kali lipat. Aku akan mengganti dengan uang tabunganku. Namun, aku juga meminta staf tersebut tak bercerita kepada Paman.


Akhirnya Add pergi, tetapi tanpa mengambil uang sisanya sedikit pun dan tak mau dipindahkan ke hotel lain. Jika di depan rumah itu adalah Add yang masih belum menyerah menemuiku, aku sudah mengatakan tak akan mengampuninya lagi. Aku tak lagi bisa menjamin akan mampu menahan emosi seandainya dia ada di balik pintu itu.

__ADS_1


Dengan penuh amarah, aku bergegas membuka pintu. Aku sudah siap dengan bogem mentah untuk menyambutnya. Kemarin, dia masih beruntung karena aku menyalahkan diriku atas perbuatannya. Sekarang, amarahku sedang berada di ujung tanduk.


“Surpriseee!”


Dua orang di depanku menyapaku dengan ceria. Seorang ibu dan anaknya. Keduanya sangat aku kenal. Nyaris saja aku melemparkan pukulan kepada orang yang salah.


“Bibi… Keigo?”


“Iya. Kenapa kamu tampak tidak senang kami kemari?”


“Emmm. Bukan begitu, Bi. Katanya kan Bibi tidak jadi kemari. Ken benar-benar merasa surprised?”


“Pamanmu yang meminta Bibi ke sini. Dia mengkhawatirkan keadaanmu semenjak kemarin. Selain itu, Bibi juga tak yakin kamu akan ke Tokyo.”


“Tapi Ken memang baik-baik saja, Bi. Terus kenapa Bibi tidak bilang mau ke sini? Ken kan bisa jemput di bandara. ”


Bibi memperhatikan seisi rumah. Matanya tampak mengamati kondisi setiap sudut ruangan.


“Em, Ken sedang…. Em…. Belakangan ini…. Sebenarnya Ken sedang mau beres-beres rumah kok, Bi.”


Ah, ini seperti investigasi dadakan. Aku bahkan belum membersihkan kamarku dari tumpahan makanan dan kaca saat keributan dengan Add. Aku hanya menutupi dengan kain lap.


Di sofa ruang tamu berjejer pakaian kotorku, selimut, dan bantal tidur. Aku baru berancana membereskan rumah ini sore nanti setelah menghirup udara luar.


“Bibi dan Keigo duduk saja dulu. Kalian pasti lelah kan. Ken sambil beres-beres dulu. Maaf!” Aku berusaha menutup pintu kamarku.


Namun, justru Keigo masuk ke kamarku. “Uncle Ken, what is this? Is there a war in your room? Mama, look at this!”

__ADS_1


Habislah, aku akan dimarahi Bibi. Jika Bibi mengadu ke Paman, maka aku juga akan dimarahi olehnya. Tak sedikit pun terlintas dalam pikiranku akan ada investigasi dadakan seperti ini.


“Ken, kenapa banyak pecahan kaca di kamarmu? Juga bau makanan busuk. Apa yang terjadi sebenarnya?”


“Emmm....” Aku tak mungkin menjelaskan kejadian sebenarnya.


“Ini yang kamu bilang kamu baik-baik saja. Bibi sangat mengenalmu. Sejak kapan kamu berteman dengan kekacauan di dalam rumah?”


“Mmmm…maaf, Bibi. Ken segera bereskan!”


“Ken, Bibi sedang bertanya bukan menyuruhmu.”


Alasan apa yang aku gunakan untuk meredam kemarahan Bibi. Juga agar dia percaya tidak terjadi apa-apa sejak Paman pergi.


“Kei…Keigo how is your school?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Uncle, answer my Mom’s questions first!”


Keigo tidak bisa diajak kompromi. Sementara ibunya terus menatapku.


“Do you have a girlfriend?” Aku masih berusaha mengajak Keigo berbincang.


“Apa kamu sudah punya pacar, Ken?” Ibunya Keigo yang justru menjawab dengan pertanyaan balik kepadaku. Keigo tampak puas tertawa.


“Keigo, let’s go to the department store after this. I’ll buy you a new shoes!”


“Just clean up this home! Haha….”

__ADS_1


Anak itu sudah tumbuh remaja. Dia sudah mulai bisa mengejekku. Tingginya juga hanya berselisih sekitar 10 cm denganku.


Aku langsung menuju gudang untuk mengambil peralatan pel dan kantong sampah. Ini cara terakhir untuk lari dari pertanyaan Bibi, karena aku tak memiliki ide atau alasan agar terbebas dari pertanyaan lain (lanjutan).


__ADS_2