Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 19: Pengulangan


__ADS_3

Aku sudah bersusah payah melupakan Dave, tetapi dia malah menguat kembali dalam memoriku. Lagi dan lagi, saat aku nyaris sempurna menghapus masa lalu bersamanya. Dia hadir, memahat namanya kembali di pikiranku. Bahkan mewujudkan khayalanku terhadapnya yang selama ini aku rahasiakan.


Kejadian semalam terus mengiang di ingatanku. Dave tiba-tiba menyergap bibirku dengan penuh nafsu. Aku berusaha menolak untuk memastikan itu bukan amarah. Aku berharap dia melakukannya, karena memang memiliki rasa yang sama denganku.


Setelah gairah kami beradu, Dave meminta maaf. Sulit untuk menerka maksud ucapannya tersebut. Meminta maaf karena tak sempurna memuaskanku, atau karena kehilangan kendali. Aku takut arti nafsunya semalam hanyalah tanda terima kasih dan salam perpisahan. Dave sudah memiliki istri dan akan segera menjadi ayah. Peluang untuk bisa bersama seperti dulu, kini jelas, laksana lubang jarum.


Pahit dan manisnya bercinta menjadi getir setelahnya. Dave memberikan harapan hanya untuk membiarkannya memuai. Itu sangat menyesakkan batinku. Memulai kembali dari awal untuk melupakannya. Bahkan, kali ini akan jauh lebih sulit sebab dia meninggalkan jejak di tubuhku.


Ketika aku mengantarnya semalam pulang, tak ada pembicaraan yang menghangatkan suasana. Kami membeku di tengah guyuran salju. Kuperhatikan, Dave seperti menyesal. Wajahnya tertunduk selama perjalanan. Aku ingin bertanya, tetapi takut mendapati jawaban yang merobek asaku.


Aku heran, Dave mengatakan ingin kembali bersahabat denganku seperti dulu. Apa itu artinya dia menginginkan aku kembali ke Indonesia? Namun, dia tak menjelaskan sampai ke arah situ.


Ah, sudahlah! Aku juga tak ingin lagi kehadiranku dianggap penganggu oleh istrinya. Dari awal, tekadku sudah bulat, tak akan lagi menetap di Indonesia.


Kini, Dave, dia membuatku pusing setengah mati memikirkan sikapnya. Andai saja aku bisa melihat isi pikirannya, mungkin tak akan seberat ini berpikir. Haruskah aku bertanya maksudnya semalam yang tiba-tiba memulai menyetubuhiku?


Aku coba menghubungi Dave melalui telepon kamarnya. Sekalian memastikan dia kesiapan dia untuk aku antar berkeliling kota.


“Pagi, Dave.”


“Pagi, Ken .” Dia langsung mengenali panggilanku.


“Jam berapa kamu mau pergi?”


“Emmm… Aku pergi sendiri saja, Ken.” Tampak nyata dia seperti sedang berusaha menghindar dariku.


“Ya, sudah. Kalau pergi ke bandara jam berapa, Dave?”


“Penerbanganku sore,” jawabnya seperti kurang yakin.


“Baiklah, kalau gitu aku ke sana setelah jam makan siang ya.”


Dave tak merespon. Ia malah mematikan telepon. Padahal aku masih ingin bertanya tekait semalam. Mungkinkah itu bentuk jawaban dia tak serius meremas bibirku dengan perasaan. Hanya karena terdorong oleh ungkapanku, dan dia melakukannya dengan terpaksa. Aku benci dihadapkan dengan teka-teki.


Jika memaksakan emosi, aku ingin mendatanginya. Langsung bertanya maksud sesungguhnya yang sudah menggoda gairahku. Namun, itu hanya akan membuatku semakin terlihat sampah di matanya. Terus mengemis agar bisa selalu bersama dengannya, menegaskan aku tidak pernah bisa move on darinya. Aku mengenalmu sudah bertahun-tahun, tetapi mengapa kamu begitu licik mempermainkan perasaanku. Kesalku dalam hati.


Mungkin ini memang salahku juga. Akan tetapi, aku tak pernah berusaha menjadikan persahabatan sebagai topeng untuk menyembunyikan hasratku. Tak pernah terpikirkan aku akan mencintainya sedalam ini. Perasaan tersebut begitu saja aku rasakan ketika memasuki semester 5 kuliah, bukan dari awal persahabatan ketika di bangku SMA.


Aku berusaha menolak jika aku mencintai laki-laki, karena tak ada laki-laki lain yang aku suka selain Dave. Tak ada kenyamanan yang lebih baik dibanding saat aku bersamanya. Bahkan dengan keluargaku sendiri, aku tak merasakan itu.


Naas, aku tak pernah tahu bagaimana sebenarnya perasaan Dave kepadaku. Padahal kami sudah menjalani hidup bersama dalam hitungan tahun. Terkadang aku merasa dia memiliki perasaan yang sama denganku. Dia selalu mengutamakan aku dari temannya yang lain. Aku merasa seperti bagian dari prioritas utama hidupnya. Namun kenyataannya sekarang, Dave sudah menambatkan cintanya kepada orang lain.


Saat beberapa teman mengatakan kami ada hubungan, dan mereka mencoba mengejek kami sebagai pasangan serasi, Dave tak menghiraukannya. Dia justru berusaha menyakinkanku agar tak sakit hati dengan olokan teman-teman. Padahal, aku yang sebenarnya takut dia menjauhiku karena risih diejek.


Berawal dari rasa khawatir tersebut, aku pun menjaga jarak. Berangkat dan pulang kuliah sendiri. Namun, Dave mengatakan sikapku aneh. Dia juga mengatakan agar aku tak melakukannya lagi. Dia merasa takut aku akan meninggalkannya. Dari situlah kami berjanji untuk selamanya bersama, menjalin persahabatan sampai kapan pun.


Hal yang terjadi selanjutnya, saat kuliah kami di tahap akhir yaitu menyelesaikan skripsi, aku tak sengaja membaca pesan di ponsel Dave. Pesan itu bernada cinta. Ungkapan seperti sejoli yang dimabuk asmara, sedang apa, sama siapa, di mana, aku mencintaimu, honey, dan sebagainya. Batinku tertekan. Berusaha menerima kenyataan bahwa sepertinya kebersamaanku dengannya hanya sebatas di bangku pendidikan.


Aku sudah menduga Dave menjalin hubungan dengan perempuan yang tak lain teman sekelas kami juga. Setidaknya, beberapa teman pernah memastikan hal tersebut kepadaku. Aku kecewa, Dave tak pernah bercerita. Memang itu privasinya, tetapi kami telah berjanji untuk saling terbuka.


Aku sempat beberapa kali memastikan Dave dengan bertanya secara informal, melalui canda. Namun, Dave selalu menyangkal. Dia mengatakan tidak sedang dekat dengan perempuan mana pun apalagi menjalin hubungan. Bahkan dia marah ketika aku selalu bertanya hal tersebut. Katanya, aku seolah menuduhnya pembohong.


Fakta pun menyeruak. Semua teman satu kelas dan hampir satu jurusan tahu Dave berpacaran dengan teman sekelas kami. Berita tersebut menjadi perhatian, karena dia cukup populer di kampus. Dia aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan sebagai wakil ketua. Sangat kontras denganku, yang hanya mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang).


Marah, kecewa, kesal, aku pendam semua itu bersama perasaan yang semakin dalam kepadanya. Ada juga kesedihan ketika Dave terus berkilah kepadaku.

__ADS_1


Tak ingin mengakhiri persahabatan dengan permasalahan, aku putuskan tak lagi mengulik hubungannya. Aku berusaha cuek. Tak lagi menghubungi Dave, menanyakan dia di mana, meminta dia datang ke apartemen, atau pun mengajaknya makan di luar. Aku menjalani kehidupan kesendirianku seperti biasanya.


Aku memang sulit beradaptasi dengan teman lain, terlebih yang baru kukenal. Teman sekelas dari SMA hingga kuliah sudah hafal perangaiku tersebut. Maka dari itu, mereka juga jarang mengajakku hangout.


Namun Dave, justru kemudian, marah karena aku seperti tak peduli lagi kepadanya. Aku pun merespon kemarahannya dengan mengatakan jika aku mungkin sudah tak penting lagi baginya. Dia juga tak berusaha menjelaskan kepadaku setelah gosipnya berpacaran terdengar oleh semua teman kampus.


Aku sadar posisiku. Aku tak berhak menyodorkan pilihan apa pun kepadanya. Jika dia sudah tidak peduli lagi kepadaku, tak masalah. Waktu itu, aku memang bersiap menghadapi perpisahan.


Setelah aku bersikap apatis, konon, Dave memutuskan pacarnya. Saat itu, aku berusaha acuh tak acuh. Termasuk ketika dia mencoba memperat jalinan persahabatan denganku.


Dia semakin menunjukkan perhatian kepadaku. Dia sering muncul pagi-pagi di apartemenku dan membuatkan sarapan. Dia juga terus membuatku tertawa dengan banyolan atau pun kekonyolannnya. Dia mengisi hari-hariku dengan lebih riang.


Mengingat perasaanku kepada Dave mungkin tak seperti perasaanya kepadaku, aku memutuskan kembali ke Bali setelah wisuda. Aku tak ingin membuat perangkap untuk perasaanku sendiri. Pun, kondisi ibuku juga sedang sakit saat itu. Ayah juga memintaku untuk membantu bisnisnya. Sebagai anak satu-satunya, aku wajib membantu dan merawat orang tuaku.


Bukan hal mudah terbiasa tanpa Dave, tetapi lebih baik menguapkan perasaan kepadanya sedikit demi sedikit sebelum semakin sakit. Aku juga berusaha memperbaiki diri. Aku tak mau Dave mengetahui aku mencintainya lebih dari sahabat. Aku tak ingin dia membenciku. Lebih baik menjauh daripada harus menyesal karena jujur atas perasaan ini.


Pada akhirnya, menjauh dari Dave malah semakin menggumpalkan kerinduan hingga menggunung. Saat itu, aku berharap dia mengajakku bertemu. Setelah lama menunggu, dia mengucapkan keinginan bertemu pada pesta pernikahannya. Hatiku begitu hancur. Lalu, aku berusaha menyibukkan diri agar bisa melupakannya.


Kejadiannya sama persis seperti saat ini. Saat aku nyaris sempurna tak mengharapkan cintanya, dia malah menancapkan harapan. Dia bercerita tentang rasa rindunya kepadaku. Benteng kokoh yang dibangun mampu ditembus dalam satu pertempuran.


Mengingat masa lalu ternyata melelahkan. Aku mulai mengantuk. Tadinya, aku mau mengantar Dave mencari oleh-oleh pagi ini, namun dia ingin pergi sendiri. Lebih baik waktunya aku gunakan untuk menebus tidurku yang kurang semalam.


Tak terasa aku cukup lama tidur. Aku lihat jam di ponsel menunjukkan pukul 13.10. Aku langsung cuci muka dan mengganti pakaian.


Perutku berbunyi karena lapar. Melihat masih cukup waktu untuk mengantar Dave, aku putuskan untuk makan siang dahulu. Namun, di rumah hanya ada Ramen cup. Tanpa pikir panjang aku memutuskan menyantap itu saja. Di hotel memang banyak makanan, tetapi perutku tak bisa menunggu.


Sesampainya di hotel, aku langsung menuju kamar Dave.


“Dave, aku tunggu di mobil ya!” uapku setelah mengetuk pintu kamarnya berkali-kali.


Aku tak mau terbawa suasana. Biarlah kejadian semalam menjadi misteri yang semoga tak terus menghantui pikiranku. Dave pun bersikap seolah menyesal dan menginginkan aku tak terlalu serius mengartikan kejadian itu. Ketika dia mengatakan ingin bersahabat seperti dulu lagi, mungkin saja itu hanya basa-basi.


Jika benar Dave ingin memperbaiki dan mengulang persahabatan denganku, seharusnya dia berusaha menghubungiku atau menemuiku setelah peristiwa itu. Peristiwa saat dia mengatakan secara tegas supaya aku melupakannya.


Jarak dua bulan antara peristiwa tersebut dan kepergianku ke Jepang merupakan waktu yang cukup untuknya memberikan penjelasan. Namun, dia lebih memilih mengungkapnya dalam pertemuan yang tidak sengaja ini.


Entahlah! Fokusku sekarang mengantar dia ke bandara saja. Setelah itu, anggap semua ini mimpi.


Saat hendak menuju mobil, tiba-tiba Paman menghadangku.


“Ken, nanti malam jangan lupa! Orang tua Mayumi mengundang kita untuk makan malam”, ujar Paman membuat jantungku berolahraga.


“Iya, Paman. Tadi Mayumi juga sudah mengabari Ken tentang itu. Sekarang Ken antar Dave dulu ke bandara ya.”


Paman pun menggangguk. Kulihat di belakang Paman, ada Dave sedang berdiri menenteng kopernya. Hah, dua orang ini kenapa senang sekali muncul tiba-tiba dan mengagetkanku.


“Tak ada yang tertinggal?” tanyaku untuk memulai obrolan setelah kami masuk ke mobil.


“Ada,” jawabnya sambil melirikku.


“Oh ya sudah, ambil saja dulu. Aku tunggu di sini.”


Dave tak beranjak. Ia justru memandangku. Rasa berdebar dan takut campur aduk dalam perasaanku.


“Nanti aku beli saja di bandara.”

__ADS_1


Hah! Jadi, maksudnya oleh-oleh?! Mengapa harus memandangku? Dave membuatku berharap saja. Tanpa bertanya lagi, aku langsung menginjak pedal gas.


Suasana hening hingga kami sampai di bandara. Aku sudah jengkel, karena merasa dipermainkan oleh tatapannya sebelum berangkat. Dia sudah membuatku berangan. Ah, aku menjadi tidak konsisten begini.


Saat turun dari mobil, Dave akhirnya membuka suara.


“Terima kasih banyak sudah mengantarkanku, Sahabat.”


Dia mengatakan kalimat tersebut dengan tersenyum. Namun, kata “sahabat” langsung menguat ke dalam pikiranku. Ya, kami hanya sahabat. Tak lebih dari itu. Padahal, aku merasa lebih tenang jika dia tidak menyelipkan kata tersebut untuk penegasan. Aku sudah tahu posisiku.


Huh! Perasaan ini kembali hancur, tetapi berusaha kututupi. Ingin rasanya melayangkan pukulan ke dadanya agar dia tahu hatiku sedang sakit akibat ulahnya. Pengharapan yang lagi dan lagi dia buat.


“Oh ya, tentang kejadian semalam, aku mohon…” sambungnya.


Aku segera menyela. Aku bisa mengerti yang akan dia sampaikan. Aku tak mau mendengar dia melengkapi kalimatnya.


“Jangan khawatir, Dave! Tentang kejadian semalam, aku juga sudah anggap tak pernah terjadi. Aku tidak akan salah paham,” tuturku berupaya tegar.


Dave tampak ingin memberikan pernyataan lagi. Tak ingin mendengar kalimat penghiburan apa pun darinya, aku membalikkan badan lalu melangkah pergi.


Aku langsung kembali ke dalam mobil. Dave sialan! Dia muncul hanya untuk membuatku mengulang kesakitan ini, dan memaksaku kembali berjuang untuk melupakannya.


Selama beberapa menit, aku menunggu dia memanggilku. Namun, saat kutengok dia sudah berjalan menuju konter check in. Pikiranku menjadi kalut. Aku keluar dari mobil, dan berjalan cepat untuk mengejarnya.


Setelah tepat di belakangnya, aku memanggil dengannya pelannya. “Dave…” Lalu dengan spontan, sambil menahan air mata, aku mendorong tubuhnya. Dia nyaris terjatuh. Namun aku memilih berbalik badan, dan kembali ke mobil.


Aku tak langsung menginjak gas. Aku tumpahkan sedikit air mata yang sedari tadi kutahan.


Ternyata Dave mengikutiku. Dia terus mengetuk kaca mobil, tetapi aku berusaha menghiraukannya. Sadar kejadian ini bisa saja memancing keramaian, aku turun dari mobil.


Dave bergegas menghampiriku. Lalu, dia memelukku.


“Jika ada hal yang ingin kamu katakan, katakan saja. Please! Aku tak suka melihat sikapmu seperti ini,” ucapnya perlahan sambil mengeratkan pelukan.


Apa lagi ini? Aku sangat ingin membalas pelukannya. Namun, hanya air mata yang bisa kutumpahkan. Aku benci dia pergi setelah menyalakan api yang membuatku terbakar hingga sulit untuk memadamkannya.


“Ken, aku tak pernah sedikit pun bermaksud mempermainkanku. Selama ini kamu sudah banyak membantuku, dari belajar, hingga mencari pekerjaan. Aku tak bisa dijauhi oleh sahabatku sendiri seperti ini.”


Sahabat? Dia tegaskan kembali status tersebut Jadi, dia memang sudah membatasi hubungan ini hanya sampai situ.


Lalu, sudah jelas arti dari gairahnya semalam bukan dilandasi perasaan seperti yang aku rasakan kepadanya. Mengenaskan! Dia hanya berusaha menghiburku sebagai balasan hutang budi.  Tak perlu, Dave. Aku tak pernah mengutangkan kebaikan.


Aku pun melepaskan kedua tangannya yang mengikat tubuhku dengan perlahan. “Safe flight, Dave!” lirihku diikuti langkah kembali masuk ke mobil. Tak kusangka, Dave menarik tanganku.


“Kamu menganggapku sahabat, sedangkan aku sudah tak menginginkan itu. Aku tahu, tak seharusnya menginginkan persahabatan yang lebih darimu. Selama ini kamu sudah sangat baik kepadaku. Aku juga sadar, mungkin sekarang aku terlihat menjijikan di matamu. Tetapi, bukan berarti aku tak berusaha hidup normal. Lagi pula, perasaan ini hanya aku rasakan kepadamu. Mungkin karena aku sudah terlalu nyaman bersamamu. Aku tahu ini jelas salahku. Kamu tak pernah mempermainkanku. Aku yang salah mengartikan semua rasa ini.” Aku jadi terpancing untuk mengeluarkan emosiku.


“Iya, aku tahu itu. Aku sudah tahu tentang itu, Ken. Tapi aku mohon jangan….”


Jangan? Jangan apa? Jangan berharap balasan yang sama atas perasaanku? Aku juga tak mau dia melengkapi kalimat tersebut, maka kupotong saja ucapannya.


“Iya, iya, aku janji. Aku tak akan salah mengartikan sikapmu lagi, aku tak akan…..” Tarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-kata. “Kita hanya bersahabat. Hanya bersahabat. Tapi maaf, aku tak bisa lagi jadi sahabatmu. Aku tak baik buatmu. Semoga kita tak berjumpa lagi, Dave!”


Percakapan ini seperti menabur air garam di atas luka. Dengan cepat aku masuk lagi ke dalam mobil. Dave tak menahanku. Dia mematung tanpa bicara.


Sejujurnya, aku masih ingin bersamanya. Aku masih ingin merasakan lagi pelukannya. Hanya saja, semakin lama menatapnya, semakin besar muatan harapan yang kupikul.

__ADS_1


Setiba di Indonesia, Dave akan langsung disambut istrinya. Sementara di sini, dia titipkan jejak yang mungkin tak akan pernah dia teruskan.


__ADS_2