Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 4 bagian 1: Pilihan


__ADS_3

Kata orang rasa nyaman maupun cinta bisa muncul dari paksaan dan kebiasaan, seperti cekungan pada batu yang keras akibat ditempa air setiap hari. Atau pun seperti karang yang kokoh nan gagah berani yang terkikis, karena dihajar gelombang secara terus menerus. Segigih apa pun berjanji untuk setia, jika menikmati pemberian rasa di luar, maka akan lupa rasanya masakan di rumah. Kurang lebih begitu yang aku pahami.


“Aku bukan takut kehilanganmu, tetapi aku takut itu terjadi karena aku lalai menjagamu. Menjaga ikatan yang kita tautkan atas nama cinta,” ucapku sambil mempersiapkan sarapan.


Suamiku memberikan tanggapan dengan mengangguk. Mungkin dia lelah mendengarkan ucapanku dari semalam yang begitu panjang.


Suamiku memang telah kembali seperti yang kukenal saat awal-awal menikah. Dia begitu perhatian dan romantis. Tetapi, masih ada yang mengganjal dan mengganggu pikirannya. Tentang pria itu. Hingga aku harus menyampaikan keresahanku lagi dengan panjang lebar semalam.


Bayangkan, istri mana yang mau cinta suaminya terbagi. Mungkin masih ada yang menerima jika dengan wanita, tetapi jika dengan seorang pria. Aku tak pernah sanggup membayangkan jika kondisi tersebut menimpa badan.


Sampai detik ini, aku sangat tidak mengerti jalan pikiran pria itu. Pria yang katanya sahabat suamiku. Oleh karenanya, aku harus menjaga suamiku dari kemungkinan orang-orang yang ingin merebut dia dari sisiku. Mempertahankan rumah tangga adalah mutlak harga diri seorang istri.


Pada dasarnya aku tak masalah ketika suamiku bersahabat dengan siapa pun, pria atau wanita. Aku sadar suamiku butuh interaksi dengan dunia luar, dengan orang-orang yang bisa mewarnai kisah hidupnya. Namun, tidak dengan Ken.


Ah, rasa kesal selalu menyergap jika aku menyebut nama itu. Dia seperti tiba-tiba muncul di hadapanku. Apa mungkin seorang sahabat sampai begitu posesif terhadap sahabatnya, padahal sahabatnya itu sudah memiliki istri? Mencuri-curi waktu sahabatnya padahal istri sahabatnya sedang menunggu di rumah.


Jika sesekali atau di akhir pekan bertemu, lalu hangout bareng, aku masih bisa berpikir wajar. Tetapi bertemu setiap hari dan bermesraan lewat pesan WhatsApp seperti, “Kamu sudah makan?”, “Kamu sudah sampai rumah?”, hingga “Janji ya jangan pernah tinggalin aku!”, belum lagi yang lainnya. Aku tak bisa mencerna semua itu sebagai hal yang lazim dalam persahabatan pria.


“Fay, dari tadi kamu diam saja. Ada yang sedang dipikirkan?” Suamiku menghentikan renunganku.


“Nggak, Mas.” Aku berusaha menutupi.


“Oh, ya sudah. Mas sudah mau berangkat nih.”

__ADS_1


“Iya. Sebentar Mas, aku siapkan bekalnya dulu.” Padahal ketika aku tadi mengatakan tidak memikirkan apa pun, aku berharap dia bertanya lagi. Merayuku hingga aku memiliki kekuatan lebih untuk menyambung cerita semalam. Memang tidak mungkin juga aku sambung di pagi ini. Suamiku harus segera berangkat bekerja. Aku juga tidak mau memupuk benih pertengkaran lagi.


Suamiku sudah melaju dengan mobilnya menuju tempat bekerja. Aku merasakan kecemasan jikalau pria itu datang lagi ke kantor suamiku. Haruskah aku mendatangi pria itu lebih dahulu untuk memperingatkannya supaya tak mengganggu suamiku dan rumah tangga kami?


Hah, setelah kupikir ulang, itu cukup berisiko. Aku tidak tahu apa yang nantinya akan dia adukan kepada suamiku.


Suamiku memang percaya kepadaku, tetapi dia juga tampak begitu percaya dengan setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu. Hem, aku tak bisa berhenti memikirkan hal ini.


***


Hari-hari berlalu dengan cukup harmonis. Bahkan aku merasa kembali seperti pengantin baru. Tak seperti biasa, setiap pagi dan malam dia selalu membisikkan kata-kata cinta. Membuaiku dengan belaian nan mesra. Bahkan dia berencana mengambil cuti supaya kita bisa berbulan madu lagi.


“Jadi kamu pengennya ke mana, Fay?” tanya suamiku sambil memainkan ponselnya. Dia tampak tengah browsing mencari destinasi bulan madu yang pas. Aku lantas menghampirinya usai membereskan sisa sarapan.


“Kalau ke Bali? Suasana di sana selalu jadi favorit kan untuk bulan madu,” terangnya sambil memperlihatkan pesona Bali di layar ponselnya.


Aku belum pernah ke Bali. Sebelum menikah aku tak pernah ingin jauh dari Ayah dan Ibu. Tentang liburan, aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Atau sesekali berlibur ke luar negeri saat merasa benar-benar perlu refreshing. Bukan tidak tertarik dengan destinasi wisata di Indonesia, tetapi setiap berlibur aku selalu ingin merasakan atmosfer yang berbeda. Atmosfer dari berbagai negara luar.


“Bagaimana kalau jangan ke Bali, Mas? Sekarang kan di Asia Timur lagi winter. Mending ke negara-negara di sana saja.” Tiba-tiba aku terpikir negara Jepang. “Kita Hokkaido saja ya, Mas!”


“Hem, tadi katanya terserah. Giliran aku pilih, malah ditolak,” ketusnya.


“Iiih, jangan cemberut dong!” Aku berusaha menggoda dengan mencubit pipinya. Ya beginilah wanita, selalu punya naluri untuk dipaksa kalau tidak ingin menerima sanggahannya.

__ADS_1


“Tapi Fay, Mas nggak suka winter. Kamu juga kan belum pernah ke Bali. Mas yakin, sekali kamu ke sana kamu bakal jatuh cinta seperti waktu kamu pertama kali melihat Mas,” rayunya hingga aku meleleh dengan kalimat terakhir yang dia senandungkan.


Aku tahu suamiku tidak suka winter. Dulu, sebulan setelah menikah, kami bulan madu ke Seoul, Korea Selatan. Niatnya satu minggu berkeliling ke berbagai destinasi seperti Gwanghwamun Square dan Han River. Sayangnya, dia mengalami demam dari semenjak datang hingga akhirnya kembali ke Indonesia, karena tidak cocok dengan cuaca dingin di sana.


Kali ini, aku sangat ingin ke Hokkaido. Aku pernah ke sana saat musim semi, dan itu sangat indah. Aku ingin merasakan nuansa musim salju di sana. Aku pernah berkata dalam hati bahwa akan kembali saat winter bersama suamiku. Sekarang waktu yang tepat untuk mewujudkan janji dalam hati tersebut.


“Winter di sana suhunya sedang tidak terlalu ekstrem kok, Mas. Standar-standar saja. Yang menarik, suasana musim dingin di sana itu sangat romantis, Mas. Kalau Mas kedinginan kan bisa peluk aku sepanjang waktu.” Aku balas merayunya dengan tatapan genit.


“Kamu masih ingat kan waktu kita ke Seoul saat winter dan Mas sakit?” Aku sudah yakin dia akan menggunakan kenangan tersebut sebagai pamungkas.


“Kata orang sih Mas, sakit itu berasal dari pikiran. Jadi kalau kita berpikir akan sakit ya pasti sakit, begitu pun sebaliknya. Lagi pula, waktu itu Mas dari sininya kan sudah kurang fit. Hanya karena bulan madunya nggak mau di-pending, makanya kita tetap berangkat. Yang terjadi malah bulan madunya gagal. Padahal dari rumah sudah membayangkan membuat boneka salju, main lempar salju, berjalan di pinggir Sungai Han, kemudian menikmati festival musim dingin dengan romantis seperti di Drama Korea.” Dia tidak tahu kalau wanita punya lebih banyak amunisi.


“Iya, iya, lusa kamu urus visanya ya. Memang kamu istri Mas yang paling pintar.” Dia mencium keningku. Ah, senangnya berhasil mengalahkan pilihan suamiku, walaupun aku yakin pada dasarnya dia akan mengikuti kemauanku.


Meskipun dia pernah menamparku, tetapi dia tetap suami terbaik. Setelah kejadian itu, dia semakin romantis, membuatku merasa mungkin aku yang sedikit keterlaluan waktu itu. Dia melakukan hal tersebut karena begitu menyayangiku, katanya. Sudahlah, aku tak ingin mengenang masa lalu yang kurang baik. Hidupku sekarang sudah kembali bahagia.


Negosiasi bulan madu sudah selesai. Bahkan ini bukan negosiasi sepertinya, hanya basa-basi suamiku saja.


“Ya sudah, Mas mau cuci mobil dulu,” ucapnya sambil beranjak dari sofa.


“Aku juga mau cuci baju, terus beres-beres kamar deh,” kecupku di keningnya dengan manja.


“Kok beres-beres kamar sih? Sudah nggak tahan nunggu nanti malam ya.” Dia malah menggoda sambil tertawa dengan tatapan jahil.

__ADS_1


Kulemparkan saja bantal sofa ke arah badannya, lalu memutar langkah untuk mencubit pipinya. Selain semakin romantis, dia menjadi sedikit genit. Semoga saja selamanya dia begitu hanya kepadaku.


__ADS_2