
“Iya, Bibi,” sapaku saat mengangkat panggilan telepon darinya.
“Bagaimana keadaanmu sekarang, Ken?”
“Sudah sehat, Bi. Ken sudah bisa beraktivitas seperti biasa.”
“Syukurlah kalau begitu. Tapi, apa kamu sudah lupa sama Bibi?”
Pertanyaan Bibi sangat mengagetkan. Apa yang sudah kulakukan hingga membuatnya terdengar sinis? Ah, entahlah. Mungkin karena aku lupa meneleponnya balik kemarin.
“Kemarin Ken benar-benar lupa untuk menelepon Bibi.”
“Itu kamu akui kamu lupa. Tetapi, bukan itu yang ingin Bibi katakan.” Suara Bibi terdengar lebih kencang.
“Lalu apa, Bi? Ken tidak tahu kenapa Bibi tiba-tiba menelepon dengan sinis begini. Apa Ken ada salah? Ken minta maaf kalau begitu.”
“Bagaimana Bibi menjelaskan kalau kamu bicara terus. Dengarkan Bibi dulu sebentar!”
Padahal dari tadi aku menunggu Bibi langsung ke pokok pembicaraan. Baiklah, aku yang salah dan mengalah.
“Ken, kamu mau menikah tapi mengapa tidak memberitahu Bibi? Apa Bibi ini sudah tidak kamu anggap?” lantang Bibi. Tersirat kesal dan kecewa dalam setiap kata yang ia lontarkan.
Tapi… Hah? Menikah? Siapa yang mau menikah? Kekasih pun aku tak punya. Dari mana Bibi mendapatkan gosip tersebut?
“Bibi tahu dari siapa?”
“Kamu ingin memberikan kabar tersebut sebagai surprise tahun baru buat Bibi? Tapi, Bibi tidak suka kejutan. Seharusnya kamu memberitahu Bibi tentang rencanamu itu. Apa kamu masih merasa Bibi ini orang asing?”
Apalagi ini, kejutan? Atau Bibi sedang berakting agar aku segera menikah.
“Bibi, biarkan Ken menjelaskan sebentar.”
“Sudahlah, Bibi sedang ada pelanggan. Bibi cuma kesal dapat informasinya dari Pamanmu bukan dari kamu langsung. Untung saja, berita ini mengenai pernikahanmu. Jadi, rasa bahagianya melebihi rasa kesal dalam hati Bibi.”
“Bibi….” Aku belum sempat menjelaskan, telepon sudah terputus.
Menikah? Berita dari Paman? Kapan aku mengatakan kepada Paman? Aku tidak sedang mimpi kan? Atau aku sedang mabuk? Aku sudah tidak minum alkohol lagi semenjak kejadian waktu itu. Dari mana kesalahpahaman ini bermula? Aku harus selidiki segera.
Beberapa saat kemudian, aku ingat pernah mencium Mayumi dan mengatakan akan menikahinya. Padahal, kemarin, aku sudah memberikan penjelasan kepada dia jika aku melakukan hal tersebut tanpa dibubuhi perasaan.
Itu aku lakukan agar Add pergi dan tak lagi mengganggu hidupku. Setelah kejadian itu, aku hendak langsung menjelaskan dan meminta maaf kepada Mayumi, namun Add lebih dahulu menyerangku.
Sekarang beritanya sudah menyebar kepada Paman dan Bibi, juga sudah tentu ke keluarga Mayumi. Aku merasa sangat kecolongan. Apa kemarin aku lupa menuntaskan penjelasan? Ah, aku tak begitu ingat kejadian kemarin. Saat itu aku juga tengah fokus merespon calon pembeli apartemenku. Aku merasa sangat bodoh. Sebagian ingatanku bahkan sulit diirekatkan.
Aku segera mengunci rumah, kemudian mengendarai sepeda. At least, aku harus memberikan penjelasan kepada Paman terlebih dahulu. Ini tidak bisa dibicarakan melalui telepon, harus bertatap muka langsung.
Rasa lelah begitu terasa setiba di hotel. Keringat membanjiri seluruh bagian tubuh. Nafas pun tersengal-sengal. Padahal biasanya, perjalanan dari rumah ke hotel tak membuat tenagaku terkuras.
Aku mengetuk pintu ruangan Paman. Ia pun mempersilakan aku untuk langsung masuk.
Namun, aku kaget bukan kepalang melihat Paman tidak sendiri di ruangannya. Ada Mayumi, Ayahnya, dan tampak seperti Ibunya. Aku seperti menyaksikan acara keluarga.
“Ken, ada apa kamu ke sini?” Paman melihatku heran.
“Em….” Aku berusaha mengatur nafas.
Mayumi menyodorkan air minum untukku.
“Ken, kamu ke sini jalan kaki? Kamu kan sedang masa pemulihan. Bisa-bisanya kamu ke sini dengan pakaian tidur. Ada apa? Kenapa tidak menelepon Paman jika butuh sesuatu.” Paman tampak khawatir.
“Tidak, Paman. Ken naik sepeda. Em….begini Paman….” Aku tak mungkin menjelaskan tujuanku dalam situasi seperti ini. “Em…Ken sengaja ke sini, sekalian olahraga saja.”
Paman pun mengenalkan aku kepada orang tua Mayumi. Meski sebelumnya beberapa kali bertemu ayahnya Mayumi, tetapi aku merasa ini seperti berkenalan dalam acara resmi.
“Ken, you are more handsome than I expected and saw in the photo,” puji Ibu Mayumi. Ia tersenyum ramah kepadaku.
“Thank you, Auntie,” balasku sembari mengamati jejak pertemuan yang tengah berlangsung.
Dari cara ibunya Mayumi menatapku, aku merasa pembicaraan besar telah terjadi sebelum aku datang. Dia tampak sumringah. Mayumi pun duduk merapat terus denganku.
__ADS_1
Kemudian, Paman berbisik kepadaku jika kedua orang tua Mayumi baru saja mau menjengukku. Namun, aku tiba-tiba datang.
Aku balas berbisik kepada Paman menanyakan maksud pertemuan ini. Paman hanya tertawa. Tidak jelas maksud tawanya tersebut.
Kemudian, mereka melanjutkan perbincangan dalam Bahasa Jepang. Tak ada kalimat yang bisa kumengerti. Aku hanya jadi penonton yang ikut tertawa ketika mereka tertawa, dan mengangguk ketika mereka bertanya.
Sorot mata Mayumi dan kedua orang tuanya sangat berbinar-binar. Aku sangat berharap mereka tidak sedang membicarakan pernikahan.
Ini waktu yang tepat untuk menjelaskan, tetapi seolah tak ada kesempatan untukku berbicara. Satu sisi, aku tak mungkin mengacaukan suasana ceria ini. Kembali ke tujuan awalku datang, aku akan jelaskan kepada Paman terlebih dahulu setelah pertemuan ini selesai.
Namun obrolan mereka tampak semakin seru, tak tahu kapan akan berakhir. Sementara itu, Mayumi terus melemparkan senyum kepadaku. Aku benar-benar merasa kikuk.
Badan yang lengket karena keringat sudah mengeluarkan aroma tidak sedap. Aku pun pamit untuk mandi dan berganti pakaian. Aku tidak mau bau badanku merusak suasana.
Begitu membuka pintu kamar, harapan dan kepahitan menyekap pikiran. Pemandangan yang tersaji terasa hambar di mata.
Aku masih sangat ingat harapanku kala tiba di kota ini, yaitu membuka lembaran hidup yang baru. Melepaskan masa lalu untuk meraih masa depan yang lebih baik. Harapan yang semula tampak akan terkabul. Namun ternyata, ceritanya tak seperti yang di-skenario-kan. Masalah demi masalah sedang bergantian merangsak ke hidupku.
Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Aku tidak hanya melukai perasaanku, tetapi akan melukai perasaannya juga. Cinta memang bisa datang karena terbiasa. Meski begitu, ia pun tak bisa dipaksa.
Mayumi, bagaimana caraku untuk jujur tanpa menyakiti perasaanmu, tanpa menyakiti dua keluarga yang kudengar begitu bahagia? Aku sadar ini salahku yang tak berpikir panjang. Aku hanya memikirkan agar Add tak lagi mengganggu hidupku, tanpa menyadari dampaknya akan serumit ini. Aku terlambat memberikan penjelasan.
Namun, terlambat bukan berarti tak ada kesempatan, kan?!
“Ken!” Terdengar Paman memanggil dari luar kamar.
Aku segera menghampiri. “Ada apa, Paman?”
“Kamu masih belum mandi dan ganti baju?” Paman heran melihatku masih mengenakan piyama.
“Kepala Ken sedikit terasa sakit. Jadi, tadi Ken rebahan dulu. Memang ada apa, Paman?”
“Mayumi dan orang tuanya mau pulang. Tapi ya sudah, kamu istirahat saja. Nanti Paman ke sini lagi.”
“Iya, Paman.”
Aku kembali merebahkan badan. Nyeri di kepala mulai menyebar lagi. Aku pun melampiaskan kesakitan dengan memeluk bantal yang erat. Seketika, ingatan mengelana ke masa lalu. Mempersonifikasikan bantal membalas pelukan dan mengajaknya berbicara. Dave, nafsuku kepadamu tak bisa sedikit pun kukurangi.
Aku sudah meminta Tante Selly dan Om Syakir untuk mengatakan aku sedang bekerja di luar kota jika ada yang mencariku ke apartemen. Sekarang mungkin Dave sedang marah, karena aku membohonginya. Itu memang sudah bagian dari rencanaku untuk kebaikannya.
Dave memberitahu perasaannya terhadapku di saat dia sudah mengikat cinta dengan orang lain. Kenapa tidak dari dulu kami saling mengakui perasaan ini?!
Aku takut mencap diriku sebagai gay, tetapi kenyataanya aku mencintai dan pernah bercinta dengan sahabatku sendiri. Tidak bisakah aku kembali ke masa lalu untuk memberitahu jika di masa depan aku dan Dave memiliki hasrat yang sama?
Mengapa dulu sikapnya selalu membuatku ragu untuk mengikat cinta? Cinta yang bukan hanya sebagai sahabat atau saudara. Cinta yang menginginkan untuk bisa terus hidup bersama.
Pikiranku sesak. Aku masuk ke kamar mandi untuk menetralisirnya sekaligus membersihkan badan dari hasil pembakaran kalori yang tak sedap. Aku tidak tahu sampai kapan akan terbelenggu dalam kemelut ini.
Saar keluar dari kamar mandi, Paman berdiri di hadapanku.
“Katanya kepalamu terasa sakit lagi, kenapa kamu malah mandi?”
“Ken mandi pakai air hangat.”
Aku pernah membaca sebuah artikel mandi dengan air hangat dapat meredakan sakit kepala, terutama sakit kepala di bagian belakang.
“Setelah makan siang, kita periksa lagi kondisimu ke rumah sakit.”
“Iya, Paman.”
Aku memacu otak untuk mencari kalimat yang pas, memberikan penjelasan kepada Paman perihal kekeliruan pernikahanku dengan Mayumi. Namun, Paman lebih dulu membahasakan kebahagiaannya.
“Hari ini Paman sangat bahagia. Ternyata, Paman tidak sia-sia kan mencarikan jodoh untukmu. Andai saja Ayah dan Ibumu masih ada, mereka juga pasti sangat bahagia.”
“Maksud, Paman?” Aku berpura-pura tak paham arah pembicaraan Paman. Aku masih butuh beberapa detik untuk mengolah kata-kata.
“Pokoknya kamu tak perlu khawatir tentang apa pun. Semua acara biar Paman dan orang tua Mayumi yang persiapkan. Tadi mereka juga mengatakan sangat bahagia bisa memiliki menantu sepertimu. Akhirnya, cita-cita Paman terwujud. Dulu Paman berharap bisa memiliki anak laki-laki dan mengantarkannya menikah. Sayangnya, takdir tak mengizinkan Paman memiliki anak. Ah, tapi kan kamu juga sudah Paman anggap anak Paman, bukan sekadar keponakan.”
Sesungguhnya, aku tak tega menghancurkan kebahagiaan Paman. Namun, aku juga tak mau kesalahpahaman ini berlanjut. “Pa…Paman. Sebenarnya Ken ingin menyampaikan sesuatu.”
__ADS_1
“Iya, katakan saja.”
Guratan senyum di wajah Paman mungkin sebentar lagi akan terhapus oleh kata-kataku.
“Sebelumnya, apa Mayumi yang mengatakan Ken akan menikahinya?”
“Iya,” jawab Paman dengan mantap.
“Sebenarnya ada kesalahpahaman di antara kami.”
“Maksudnya?” Ekspresi Paman sudah mulai berubah suram.
“Sampai saat ini Ken tidak memiliki perasaan apa pun kepada Mayumi, apa lagi berencana menikah dengannya.” Dengan hati-hati aku menyampaikan klarifikasiku.
“Ken, jangan bercanda!”
“Paman, ini hanya salah paham.”
Paman memotong penjelasanku, “Salah paham bagaimana? Mayumi bercerita kamu mengatakan akan menikahinya sebelum kejadian penyerangan oleh orang asing itu. Jadi, maksud kamu Mayumi berbohong?”
“Bukan begitu, Paman. Biar Ken jelaskan dulu sebentar.”
Situasi semakin rumit. Paman tak memberi kesempatan untukku memberikan penjelasan hingga tuntas.
“Sekarang begini, Paman tanya, apa kamu mengatakan kepada Mayumi kamu akan menikahinya?”
Aku diam memikirkan cara untuk meredam Paman yang mulai emosi.
“Iya atau tidak?”
“Iya.” Aku menjawab dengan tegas bahwa aku memang pernah mengatakan kalimat tersebut. “Tapi….”
“Tapi apa? Itu hanya bercanda? Hah? Sekarang jelaskan kepada Paman motivasi kamu bercanda dengan kalimat itu apa?”
Semakin sulit untukku berkata-kata. Aku sudah melakukan kesalahan yang fatal untuk hidupku sendiri. Sekarang dampak itu mulai menyebar ke orang-orang terdekatku, seperti Bom Atom yang dijatuhkan Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945.
“Ken, selama ini Paman mengenal kamu sebagai orang yang tidak suka bercanda secara berlebihan. Apalagi ini terkait hal yang sangat penting. Paman benar-benar tidak mengerti.” Suara Paman mulai rendah, namun wajahnya masih terbakar amarah.
Aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima kemarahan Paman. Itu sudah konsekuensi yang pantas aku dapatkan.
“Ken tidak ada niatan untuk menjadikan itu lelucon atau candaan, waktu itu Ken hanya….”
Satu sisi, aku tak mungkin bercerita kejadian sebenarnya. Kasus penyerangan Add kepadaku sudah dianggap sebagai kasus penganiayaan salah sasaran. Jika aku jelaskan ada kaitannya dengan asmara, dan menjadikan Mayumi tameng waktu itu, ceritanya akan semakin complicated.
“Mayumi sudah menceritakan hal ini kepada orang tuanya. Kamu lihat sendiri kan ekspresi Ayah dan Ibunya begitu melihatmu? Mereka mengatakan tak bisa lagi mengucapkan bahagia dengan kata-kata. Mayumi sangat mencintaimu. Dia bahkan berhari-hari tidak tidur untuk menunggumu terbangun dari koma kemarin. Apa yang kurang darinya?” Paman tampak menitikan air mata.
“Masalahnya Ken tidak mencintai Mayumi. Ken berusaha ingin menjelaskan kepada Mayumi, tetapi berita ini sudah lebih dulu menyebar, bahkan kepada Bibi.”
“Paman tak pernah mendengar Bibimu sebahagia kemarin saat Paman ceritakan kamu akan menikah dengan Mayumi. Kami sangat menyayangimu. Kami pikir ini jalanmu menuju kebahagiaan juga. Kami bahkan terkadang merasa gagal, karena tak bisa selalu ada untukmu.” Sesekali Paman menyeka air mata. “Jika kamu tidak mencintai Mayumi, apa ada orang lain yang sedang kamu cintai?”
Ada. Hanya saja, jelas tak mungkin aku menceritakannya kepada Paman.
“Paman, selama ini Ken mencoba membuka hati untuk Mayumi, tetapi Ken tidak bisa. Ken tidak ingin menikah dengan orang yang tidak Ken cintai. Itu tidak hanya melukai Ken dan dirinya juga. Jadi, Ken mohon Paman untuk sedikit mengerti kondisi ini. Ken nanti akan mencoba menjelaskan ini perlahan kepada Mayumi.”
“Kami sudah membicarakan lebih jauh tentang pernikahan kalian.”
Aku seperti masuk dalam pusaran topan. Pikiranku tergulung angin ke sana kemari. Kosakata di otakku berhamburan.
“Coba pikirkan tentang Bibimu, Mayumi dan keluarganya juga keluarga besarnya yang sudah mengetahui kabar yang kamu bisikkan ke telinga Mayumi. Paman bisa menerima penjelasanmu, namun Paman tak yakin bisa menjelaskannya kepada mereka.” Air mata semakin deras mengalir dari kedua sudut mata Paman.
Aku sudah buntu. Aku bingung menghadapi semua ini. “Maafkan Ken, Paman!” Kata maaf memang tak semudah itu menggantikan kebahagiaan, tetapi cuma itu yang bisa aku ucapkan.
“Cinta itu butuh yang namanya adaptasi. Ia bisa hadir lewat kebiasaan. Bahkan cinta yang hadir lewat kebiasaan akan lebih kuat, karena ia mengenalnya dari hati bukan dari mata. Sejauh mana kamu mencari cinta, sejauh itu kamu akan dibelenggu olehnya.”
Paragraf Paman mengingatku kepada Add yang nyaris membunuhku atas dasar cinta, katanya. Mungkinkah cinta bisa tega menyakiti? Aku mencintai Dave, dan itu membuat Fay tersakiti. Ah, ini sangat pelik.
“Coba pikirkan ucapan Paman sekali lagi!” lanjutnya.
Paman berjalan keluar kamar. Matanya begitu merah. Aku sudah membuat dia menangis. Hatinya pasti begitu kecewa atas kejujuran yang baru saja aku uraikan.
__ADS_1
Paman pun menutup pintu kamarku dengan membantingnya cukup keras.