
Ayah dan Ibu semakin penasaran ingin berjumpa dengan Ken. Terutama Ibu, karena selama ini hanya bisa melihat pujaan hatiku dari foto yang aku kirim. Sedangkan Ayah, waktu itu sudah sempat berbincang dengan Ken meski sebentar.
Pada dasarnya, Ayah dan Ibu setuju jika aku berhubungan dengan Ken. Bahkan mereka menyuruhku untuk segera menikah saja. Aku juga berharap begitu. Tetapi, aku ingin semua berproses hingga ajakan untuk hidup seatap muncul dari mulut Ken. Huft, aku seperti Cinderella yang menunggu sang pangeran datang membawakan sepatu kaca.
Aku bercerita kepada Ayah dan Ibu jika aku sudah menyatakan perasaanku di hari ke-3 mengenal Ken. Aku juga sampaikan hasilnya bahwa Ken menolak secara halus. Mereka malah menasehatiku. Kata mereka, seharusnya aku bisa lebih bersabar dan menjalani pendekatan dulu saja. Namun kekhawatiranku jelas, aku takut didahului perempuan lain.
Saat pergi ke taman kota, ke Mount Moiwa, dan di hotel, banyak perempuan yang berusaha mendekati Ken. Untungnya, dia hanya merespon mereka dengan tersenyum. Tak terbayang jika Ken juga mendekati mereka, dan kemudian berkenalan.
Bagiku, Ken pria yang akan mampu menyempurnakan hidupku. Dia tak memanfaatkan parasnya untuk memikat perempuan yang dia suka. Dia bahkan berkata hanya akan memberikan tubuhnya untuk orang yang dia cintai. Itu membuatku semakin mengaguminya. Aku percaya dia berkata jujur, karena sikap dan perilakunya juga selalu demikian.
Ken, rasanya tak bisa melewatkan satu hari tanpa memikirkanmu. Aku tak sabar menunggu keajaiban tiba. Kamu berbalik menyatakan cinta kepadaku.
Namun betul kata Ayah dan Ibu, segala sesuatu membutuhkan proses. Ken sudah menolakku, bahkan mengatakan mungkin tak akan menerima aku di hatinya. Semoga waktu dan usaha yang sabar bisa mengubah keadaan.
Perlahan tapi pasti, kemarin Ken tiba-tiba mengajakku makan siang. Mulutnya pun tak lagi kaku dalam membuka percakapan.
Aku pernah mengadu kepada Paman Yamada mengenai sikap Ken yang dingin. Kata Paman, Ken memang seperti itu. Dia pribadi yang tertutup. Perlu waktu untuk bisa akrab dengannya.
Lalu, aku mengatakan kepada Paman jika Ken sepertinya tidak akan menyukaiku. Saat itu aku nyaris mengatakan Ken sudah menolak pernyataan cintaku.
Paman mengatakan Ken bukan sosok yang mudah jatuh cinta. Namun, dia orang yang sangat setia.
Meskipun Ken tidak banyak bercerita tentang kisah asmaranya, tetapi Paman meyakini Ken memang sedang putus cinta. Aku menjadi sadar bahwa aku terlalu terburu-buru mengungkapkan perasaan. Tak mudah begitu saja masuk dalam hati seorang yang sedang patah hati.
Kali ini, aku tak mau berpikir seperti sebelumnya yang jika Ken menolakku setidaknya aku bisa menjadi temannya. Aku akan menunggunya jatuh hati kepadaku, walau harus melewati ratusan purnama. Ken sudah tahu perasaanku. Andai dia tak bisa mencintaiku, dia akan mencari perempuan lain untuk dikenalkan kepadaku sebagai kekasihnya. Sampai saat ini, itu belum terjadi. Semoga itu tak akan terjadi. Aku tak mau membayangkan lebih jauh jika itu terjadi.
Akan tetapi, Pria itu. Add! Dia mengganjal di pikiranku. Beberapa hari kemarin Ken hampir sehari semalam bersamanya.
Tidak! Pria itu mungkin menyukai Ken, tetapi Ken tak sedikit pun terlihat memiliki perasaan yang sama. Sayangnya, aku justru yakin Add tak akan menyerah begitu saja.
Ken kemarin sudah menjelaskan secara langsung dia hanya membantu Add. Dia memperlakukan Add sebagai pelanggan hotel saja, tak ebih dari itu.
Aku lihat Ken memang tidak memiliki ketertarikan kepada turis itu. Bahkan kemarin, dia seperti ingin menghindar dari Add. Tetapi, Ken bisa saja luluh jika Add terus menggodanya.
Oh, no! Kenapa aku menjadi paranoid Ken dekat dengan laki-laki itu? Ini pasti karena pengaruh cerita dari Minako. Dia salah satu sahabat dekatku sewaktu SMA. Kami satu kamar di asrama di tahun terakhir sekolah. Dia adalah seorang fujoshi kelas berat.
Fujoshi merupakan istilah yang digunakan untuk penggemar wanita yang menyukai hubungan romantis anatra laki-laki dalam cerita manga atau novel. Bahkan cerita tentang boys love tersebut kini lebih mudah ditemui dalam film atau serial drama. Biasanya laki-laki yang digambarkan dalam cerita tersebut merupakan sosok yang tampan dan nyaris sempurna. Sama seperti Ken, dan pria itu. Ken sudah jelas tipe idealku. Meski aku tak tertarik kepada Add, tapi aku tak bisa menyangkal dia juga cukup tampan. Jika aku bercerita kepada Minako atau dia ada di sini, pasti dia akan sangat mendukung Ken dan Add. Tidakkkkkkkk!!!!!
Aku tak peduli dengan laki-laki menyukai laki-laki, bahkan hingga mereka menikah. Namun, aku tak mau itu terjadi dalam kisah asmaraku. Aku bukan Minako yang rela pria yang dikaguminya bercinta dengan seorang pria juga selagi keduanya sama-sama tampan dan menawan.
Saat aku beradu argumen dengan Minako jika pria ditakdirkan berpasangan dengan wanita. Dia mengatakan cinta tak bisa seperti itu. Cinta hadir sebagai representasi hati sehingga tak bisa dipaksakan kepada siapa akan menjatuhkan pilihan. Kadang seseorang akan merasakan kenyamanan terlebih dahulu sebelum mengakui adanya perasaan cinta.
Aku setuju dengan pernyataannya, cinta hadir dari kenyamanan. Kenyamanan berawal dari kebiasaan mengahabiskan waktu bersama, bercerita keluh kesah atau pun bermanja. Namun aku mencintai Ken dari pandangan pertama, sebelum waktu saling mengenalkan kami lebih lama. Jadi, kita memang tidak bisa memaksakan cinta, namun kita bisa mengendalikannya. Begitu, kan?!
Pada titik ini aku menyesal mengingat sahabat penggila romansa laki-laki itu. Tetapi, aku bisa mendapatkan ide dari Minako untuk menjauhkan Add dari Ken. Aku harus segera melakukan hal tersebut.
Aku khawatir orientasi Ken berpaling karena serangan perhatian dan kenyawan dari Add. Minako juga pernah berkata bahwa seorang yang straight bisa saja menjadi gay apabila dia mengalami keputusasaan dalam pencarian cintanya. Selain itu, perubahan orientasi tidak terjadi hanya karena faktor trauma di masa lalu, namun hasrat seksual yang liar.
Argggggh, aku ingin mengutuk Minako menjadi Jayko di dalam serial Doraemon. Lebih baik dia membuat kisah romansa antara pria dan wanita saja, meski kadang ceritanya tidak nyambung.
Aku berusaha menghilangkan pengaruh cerita Minako dengan menelepon Ken. Tak kusangka, Ken begitu cepat menjawab panggilanku.
“Halo, Ken! Kamu sedang apa?”
“Aku sedang memeriksa laporan mingguan kas hotel.”
“Maaf ya Ken kalau aku ganggu.”
“Tidak. Ada apa, May?”
Tubuhku terasa ringan ketika dia mengatakan hal tersebut. Aku seperti bisa melayang terbang.
__ADS_1
“Ken, nanti siang kita makan siang bareng yuk.”
“Maaf, May! Siang ini aku tidak bisa keluar.” Suara Ken semanis wajahnya.
“Tidak di luar, Ken. Kita makan di hotel saja. Nanti aku bawakan makanannya ya. Ini aku sedang memasak. Bisa kan, Ken?”
“Iya. Aku bisa kalau begitu. Aku tunggu!”
“See you, Ken!”
Aku menutup telepon dengan perasaan sangat bahagia. Terlebih Ken mengatakan dia menungguku. Usaha memang tidak akan pernah mengkhianati hasil. Tentunya, ini juga buah kesabaranku dalam meraih hati Ken.
Aku akan membawakan Ken sajian yang bahan utamanya Wagyu Beef. Dari semalam aku sudah mempelajari jenis hidangan dan cara memasak Wagyu Beef agar Ken terkesan seperti menyantapnya di restoran kemarin. Aku yakin dia akan memberi banyak pujian untuk masakanku.
Kata Ibu, salah satu cara memikat hati pria adalah dengan menghidangkan masakan yang dia suka. Semua pria menyukai wanita yang pandai memasak. Jika dia mulai menyukai masakan kita, itu tandanya dia mulai membuka hati untuk kita. Aku tak sabar melihat ekspresi kepuasan Ken ketika menyantap hidangan penuh cinta ini.
Setelah memasukkan semua hidangan ke wadah yang juga spesial, aku bergegas menuju hotel di mana Ken berada saat ini. Waktu makan siang sebentar lagi, aku tak boleh terlambat. Ini akan menjadi makan siang yang juga romantis antara aku dan dia.
Aku tak bisa berhenti memutar lagu cinta sepanjang jalan. Apa ini sudah April? Indahnya Sakura membayang dalam pikiranku.
Sesampai di hotel, aku sudah tak sabar ingin segera menghidangkan makanan yang kubawa untuk Ken. Saat aku masuk, Ken kebetulan menoleh ke arahku. Dia langsung berdiri dan berjalan menghampiri. Apa dia menyambutku? Sepertinya begitu, karena aku sudah mengatakan akan datang.
“Hai, May!” Dia menyapaku telebih dahulu. Melihat senyumannya, aku nyaris pingsan. Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi wanita mana yang tidak akan terpana melihat Ken mengangkat kedua bibirnya hingga gigi putih bersihnya terlihat jelas. Kemudian, matanya menatap dengan manis. Aku seperti lilin yang sedang meleleh akibat dinyalakan api cinta.
“Sorry, Ken! Aku lama ya? Ayo kita ke resto.”
Aku melangkahkan kaki. Namun, baru sekitar dua langkah Ken menarik tanganku. Apa dia ingin berjalan berbarengan? Ini benar-benar romantis. Rasanya aku ingin menelepon Minako agar dia tahu adegan sahabatnya ini lebih romantis dari kisah boys love yang ada di memorinya.
“May…” Dia menyebut namaku dengan lembut.
Bolehkan adegan tersebut diulang? Aku belum sempat merekamnya. Aku bahkan ingin merasakan lagi hembusan nafasnya yang tadi sempat mengenai leherku.
“Iya, Ken.”
Aku tak jadi berkeinginan menelepon Minako.
“Oh…. I…i…iya Ken. Lalu, makan siangnya?” Aku mengangkat makanan yang kubawa agar Ken melihat jelas aku sudah bersusah payah menyiapkannya.
“Ma….af. Kamu makan duluan saja, May. Aku tidak lama kok. Tapi, aku juga tidak mau kamu menjadi semakin lapar karena menungguku.”
Aku pun merespon dengan tersenyum. Dia melepaskan tanganku. Aku masih terpaku. Anggap saja ini bagian iklan. Adegan yang dinanti akan kembali sesaat lagi.
Setelah beberapa langkah, Ken setengah berbalik dan melemparkan senyum ke arahku. Aku tak bisa menahan diri untuk tak membalas senyuman itu. Baiklah, aku akan menunggu. Bukankah aku sudah mengatakan kepada diri sendiri akan menunggu Ken?! Jadi, aku tak boleh kehilangan mood-ku.
Aku langsung menuju restoran. Kemudian, meminta tolong seorang pegawai membawakan piring dan wadah untuk menyajikan makanan yang aku bawa ini. Tanpa memeberikan penjelasan apa pun, mereka sigap membantuku. Ya, aku kenal hampir seluruh pegawai di sini. Bahkan ini terkadang seperti di hotelku sendiri.
Setelah lebih dari satu jam menunggu, tak ada tanda-tanda Ken pulang. Pegawai yang tadi membantu menawarkan untuk menghangatkan makanan yang aku bawa. Aku pun setuju dan meminta disimpan saja di dapur hingga Ken tiba.
Katanya ia pergi sebentar. Tapi, bukankah lebih dari 60 menit itu lama?! Ken pergi dengan siapa atau bertemu siapa? Ah, aku menjadi tak tenang. Skenario yang aku susun dalam bayanganku sebelum pergi ke sini mulai berantakan. Apa aku telepon saja dia?
Saat aku hendak menelepon Ken, salah satu pegawai lain mengabarkan jika dia sedang berjalan menuju ke restoran. Syukurlah. Aku pun bergegas memastikan sambil mengambil makanan yang aku titipkan di dapur tadi.
Tetapi dari balik kaca restoran aku lihat Ken tidak berjalan sendiri. Ia terlihat mengobrol dengan seseorang dan tampak menyunggingkan senyum kepada orang itu. Seseorang yang tak asing di mataku. Dia adalah Add.
Jadi Ken pergi dengan Add? Kenapa Ken tidak mengatakannya secara jujur tadi? Aku mohon Minako, jangan menyusup ke dalam pikiranku untuk mengubah alur cerita yang aku buat! Ini hanya kebetulan. Mungkin Ken bertemu Add saat masuk ke hotel. Ken tadi terlihat pergi sendiri. Tidak!!! Aku setengah berlari menuju Ken.
“May, maaf aku telat.” Dia tampak kaget. Sementara Add sudah tak terlihat.
Aku ingin menginterogasi Ken, namun dalam situasi ini justru dia mungkin akan marah kepadaku.
“Ayo, Ken!” Aku berusaha tersenyum. Semoga cerita yang tadi pagi aku rancang, ending-nya masih bisa diselamatkan.
__ADS_1
Sekarang kami sudah duduk berhadapan. Raut wajah Ken tampak ceria. Apa dia ceria melihatku atau karena baru saja pergi dengan Add seperti kecurigaanku? Nanti saja aku pastikan. Paling tidak, inti dari babak ini harus dilaksanakan dulu, yaitu makan bersama.
“Ken, aku siapkan makanannya dulu ya. Tadi aku minta dihangatkan soalnya kamu agak lama dan makanannya jadi dingin.”
“Tidak perlu, May.” Ken menyusulku berdiri.
Apa maksudnya berdiri? Apa dia yang hendak membantu mengambil makanannya juga? Ah, romantis! Baiklah. Aku pun kembali duduk. Begitu juga Ken, dia kembali pada posisinya. Apa? Kenapa Ken juga ikut duduk?
“Aku sudah makan tadi di luar,” ungkapnya.
Hah? Praaak!!! Seperti ada suara piring jatuh mengiringi penjelasan Ken. Aku begitu terkejut. Bukankah tadi dia bilang tunggu saja sebentar?! Itu artinya kita akan makan bersama, kan?! Lalu, kenapa dia makan di luar. Aku berusaha menahan kekecewaan.
“Oh. Sama siapa?” tanyaku sambil menahan air mata yang mendesak keluar.
“Teman.” Ia menjawab dengan menatapku seolah mengerti aku kecewa. Aku sedikit luluh dengan tatapannya. Namun, bayang pria itu merangsak masuk ke pikiranku. Aku pun memastikan siapa orang yang Ken sebut sebagai teman makan siangnya.
“Add?”
Sempat terdiam. Ken kemudian mengiyakan, “He…em. Kamu sudah makan?”
“Belum.” Aku menurunkan kepalaku.
“Kenapa?” tanyanya dengan halus. Suaranya memang menenangkan, namun aku terlanjur kecewa. “Aku kan tadi bilang kamu makan saja duluan.”
Jadi ucapan itu bukan basa basi? Dia memang sengaja, karena sudah punya rencana makan siang dengan Add. Tetapi, kenapa dia tidak menolak kedatanganku? Aku lebih baik kecewa tak bisa memasak makanan untuknya. Daripada sudah membawanya begini, namun dia malah pergi makan siang dengan orang lain.
“May, kamu nggak apa-apa? Aku benar-benar minta maaf?” Ken berusaha menatap wajahku yang tertunduk.
“Nggak apa-apa, Ken.” Aku menghela nafas untuk menenangkan diri. Ken sudah minta maaf. Aku harus bersikap dewasa. Aku tak boleh terlihat kekanak-kanakan di depan Ken. Paman Yamada mengatakan Ken suka wanita yang bersikap dewasa. “Kamu bisa kan makan makanan yang aku buat untuk makan malam nanti? Makanannya aku simpan di kitchen.”
“Iya. Tapi kamu nggak marah kan, May?”
Sebenarnya aku marah. Namun, aku tak bisa melakukannya kepada Ken.
“Tidak, Ken.” Tarik nafas sejenak, lalu aku pamit untuk menenangkan diri dahulu. “Aku pulang ya, Ken!”
Aku tak bisa memperlihatkan tangisanku di depan Ken lagi. Aku ingin pulang untuk menumpahkan air mata ini.
Sambil berjalan, aku menyeka air mata yang mulai mengalir. Tak lupa berpesan kepada pegawai yang tadi untuk menyajikan makanan yang aku buat untuk makan malam Ken.
Saat sudah berjalan jauh dari Ken, aku sesekali melihat ke belakang. Aku harap Ken mengejarku. Aku harap dia mengetahui jika aku sedang menangis. Aku ingin dia datang lalu menenangkanku. Jika itu dia lakukan, aku rela dia tak mau menyantap makan siang yang aku bawa.
Hingga sampai di parkiran mobil, tak terlihat Ken mengejarku. Apa dia tak mengerti jika dalam kondisi seperti ini wanita ingin dikejar? Oh iya, mungkin karena aku belum menjadi seseorang yang berarti di dalam hatinya.
Sepulang dari hotel, aku langsung masuk kamar dan mengeluarkan seluruh air mata untuk kejadian tadi. Add, kenapa dia hadir menganggu ceritaku? Aku juga salah. Harusnya aku memastikan Ken pergi dengan siapa. Jika dengan Add, aku bisa menghalanginya.
Kuambil ponsel dari dalam tasku. Aku butuh seseorang untuk memberikan saran atas tragedi yang terjadi ini. Minako? Tidak mungkin aku menghubungi fujoshi itu. Sudah jelas dia hanya akan membuatku semakin paranoid. Ya, Yuriko. Dia satu-satunya temanku yang sudah aku dongengkan tentang Ken.
Yuriko adaalah sahabatku yang minggu lalu menikah. Dia kebalikan dari Minako. Meski sama-sama penggemar cerita romance, Yuriko lebih terpengaruh kisah-kisah percintaan laki-laki dan perempuan di drama Korea. Yuriko penggemar berat So Ji Sub dan Gong Yoo. Dia juga sangat suka music K-Pop dan begitu menggilai Jin BTS. Aku tak tahu banyak tentang hal itu, namun yang pasti cerita kepada Yuriko tentang hal yang baru kualami akan lebih tepat.
Hampir dua jam aku teleponan dengan Yuriko. Dari membicarakan masalah asmaraku hingga hal-hal tak jelas. Bahkan di satu jam terakhir aku didongengkan tentang kegemarannya terhadap Korea. Saat perempuan seumuranku di Jepang, atau bahkan hampir di seluruh dunia, terkena demam Korea, aku tak memiliki banyak waktu mengikuti perkembangannya. Aku sibuk membantu bisnis ayah. Tapi kalau berbicara artis idola, aku sangat mengagumi aktor dalam negeri yaitu Masahiro Higashide. Dia sangat tampan dan aktingnya begitu memukau. Aktor kelahiran 1 Pebruari 1988 tersebut membuatku terpesona saat hadir sebagai peran utama di film horor berjudul Death Note: Light Up The New World dan film romantis Blue Spring Ride.
Aku sudah bisa tertawa lagi setelah puas berkeluh kesah kepada Yuriko. Terkait ceritaku, Yuriko menyarankan agar aku tak boleh lengah dalam mendekati Ken. Katanya, aku harus bisa membuat Ken sedikit demi sedikit bergantung kepadaku. Saat kutanya sarannya, dia juga sedikit bingung.
Menurut penuturan Paman Yamada, Ken tipe laki-laki yang sudah mandiri sejak kecil. Dia bahkan tidak suka berhutang budi kepada orang lain. Saat sakit saja Ken berusaha mengurus dirinya sendiri. Dia tidak mau merepotkan orang lain.
Lantas, bagaimana membuatnya merasa bergantung kepadaku? Dengan cara apa? Aku sudah melakukan pendekatan dengan agresif di awal perkenalan dengannya. Mengajaknya ke tempat-tempat yang mungkin dia sukai, memberikan perhatian dengan membawakan sarapan setiap pagi. Tetapi Ken malah berupaya mementahkan semua usahaku, bahkan dia juga tampak menghindari setiap perhatian yang aku beri. Padahal, aku berharap cara tersebut akan mengikat dia dengan rindu.
Ketika aku menceritakan sosok Add, Yuriko malah seperti tertular Minako. Dia mengatakan agar aku mendukung Ken dan Add saja jika mereka saling menyukai. Jika dia tidak mengatakan bercanda, aku sudah menutup telepon dan tak mau menghubunginya lagi.
Setelah mengobrol tak tentu arah, Yuriko menyarankan agar aku membuat Ken mabuk. Kemudian, aku mengantarkannya pulang dan tidur di sampingnya. Saat dia terbangun, aku berakting seolah telah berhubungan intim dengannya. Aku tinggal mendramatisasi sedikit jika Ken seolah tak sadar telah menyutubuhiku saat dia mabuk.
__ADS_1
Ide Yuriko sangat familiar. Aku seperti pernah melihat cerita tersebut di drama percintaan. Dia pun mengakui jika cara itu terinspirasi dari cerita dalam serial drama yang pernah dia tonton. Lebih lanjut, menurutnya itu cara terakhir untuk mendapatkan Ken. Laki-laki baik seperti Ken pasti akan bertanggung jawab dengan perbuatannya, sekalipun itu hanya drama yang dia tak tahu.
Aku sempat mengeluh jika cara yang disarankan Yuriko terdengar saat licik. Aku tak mau memilki Ken tanpa memiliki cintanya. Namun, Yuriko mengatakan Ken pasti akan bisa mengubah rasa bersalahnya menjadi cinta kepadaku. Semua hanya perkara waktu. Hal terpenting saat ini memiliki Ken sebelum orang lain memilikinya. Jika Ken dimiliki oleh perempuan lain, itu lebih baik ketimbang jatuh dalam pelukan Add. Tidak, aku tak sanggup memikirkannya.