
Andai aku tahu yang ada di pikiran suamiku, aku tak akan seresah ini. Dia bisa tiba-tiba diam, lalu menjadi romantis. Namun, aku tahu perubahan sikapnya menyimpan arti yang berkebalikan. Dia berusaha menutupi sesuatu dariku.
Sampai kapan larut dalam ketidaktenangan ini? Sementara setiap kutanya, dia selalu mengatakan tak ada hal yang disembunyikan. Aku juga tak memiliki bukti lagi untuk mengungkapkan kecurigaanku. Jika dipaksakan untuk terus dibahas, keributan menjadi hal yang tak bisa dihindarkan. Aku tak mau itu.
Pertengkaran dalam rumah tangga memang hal yang bisa dianggap wajar. Namun jika terus terjadi ketidakharmonisan tersebut, perceraian menjadi bayangan yang terus menghantui. Aku sangat mencintai suamiku. Hanya saja belakangan ini, sikapnya menunjukkan arah yang bertentangan.
Kemarin, dari pulang kerja hingga tidur, suamiku sibuk dengan ponselnya. Hal yang sangat tidak biasa aku lihat. Alasannya chatting dengan klien. Akalku menerima 50:50 untuk percaya.
Malam ini, aku menunggunya tidur lebih dahulu agar bisa memeriksa ponselnya. Namun, ia tak kunjung tidur. Aku coba sambil bergurau agar ia menyerahkan ponselnya, tetapi dia beralasan sedang ada hal penting, yaitu membalas pesan dari klien. Kesal menunggunya tertidur, justru membuat aku yang lebih dulu terpejam.
Kemudian, rasa haus membuatku terbangun. Aku lihat jam di dinding menunjukkan pukul 02.00. Ternyata masih dini hari.
Aku meraba posisi suamiku. Dia tak berada di tempat tidur. Dugaanku waktu itu dia mungkin sedang di kamar mandi.
Aku turun ke dapur. Saat melewati ruang tamu kulihat suamiku sedang duduk di sofa sambil memangku laptopnya. Setelah minum, aku langsung menghampiri.
“Ayah sedang apa?”
“Bunda?!!!” Ekspresinya begitu terkejut, “I…ini lagi menyelesaikan pekerjaan, ada beberapa proposal yang harus Ayah koreksi.”
Aku tahu telah mengagetkannya. Namun, mengapa dia langsung menutup laptopnya?
“Ayah belum tidur? Ini sudah jam 2 pagi loh.” Aku berusaha mengingatkan suamiku sambil memeluknya dari samping. Seolah aku percaya yang dia katakan.
“Iya, Ayah mau tidur kok ini. Ayo, kembali ke kamar,” ucapnya setelah mencium keningku.
Jika dia sedang overtime di rumah, kenapa saat aku hampiri langsung menutup laptopnya? Aku kembali dihadapakan dengan rasa curiga. Perasaan yang buatku sendiri sangat tidak nyaman. Aku tak menginginkan perasaan itu datang, tetapi bukan aku yang mengundang.
Aku mengikutinya ke kamar dengan rasa curiga yang semakin bertambah.
“Yah, kalau ada yang Bunda bisa bantu, Ayah ngomong saja,” ucapku sambil berusaha menarik laptop yang ditenteng suamiku. Aku sangat penasaran dengan yang dilakukannya tadi.
“Iya, Bunda.”
Dengan sigap suamiku menarik kembali laptop yang nyaris di genggamanku. Dia langsung memasukkannya ke dalam tas.
“Yah, Bunda mau tanya sesuatu boleh?” Aku bersuara dengan hati-hati saat tubuh kami sudah bersandar ke kasur.
“Iya, tentu boleh.”
“Apa ada yang Ayah sedang sembunyikan dari Bunda?”
Dia malah mencium keningku lagi.
“Ini sudah tengah malam, Bun. Ayo tidur lagi! Tidak ada yang sedang Ayah sembunyikan juga.”
“Tapi Yah….”
“Bunda jangan terlalu banyak pikiran ya!” pungkasnya, lalu memejamkan mata.
Setelah memastikan suamiku benar-benar pulas, aku pun dengan hati-hati mengambil laptopnya dan membawa ke ruang tengah. Aku sangat penasaran. Aku ingin memastikan di laptopnya hanya berisi file kerja.
Aku langsung dibuat tersentak saat menyalakan laptopnya. Apa? Masukkan password. Suamiku orang yang praktis. Dia tidak pernah mengunci devices-nya. Sejak kapan ini ia lakukan?
Aku coba memasukkan tanggal lahirnya, tanggal lahirku, tanggal pernikahan kami, nama lengkapku, semuanya tidak ada yang bisa membuka kunci laptopnya. Darahku seketika mendidih.
Aku pernah membaca sebuah artikel yang menuliskan salah satu ciri suami memiliki simpanan lain yaitu dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawainya. Dia juga mengunci gawai tersebut dengan password yang sulit diidentifikasi oleh pasangannya.
Kemudian, aku mencari ponselnya untuk memastikan hal yang sama terjadi atau tidak. Seluruh sudut kamar kutelusuri, namun aku tak menemukan ponselnya. Aku tak habis kira di mana ia menyimpannya. Padahal biasanya sering tergeletak begitu saja di samping lampu tidur.
Aku menyerah dan menunggu suamiku terbangun saja. Aku sudah kehilangan rasa kantukku.
Paginya, seusai sarapan, aku berpura-pura ingin meminjam ponsel suamiku. Aku berusaha menahan emosi. Jika aku ceritakan penyelidikanku semalam, dia pasti akan marah kepadaku.
“Yah, boleh pinjam handphone-nya?”
“Untuk apa, Bun?” Tidak biasanya dia bertanya.
“Kuota Bunda habis, mau searching tempat perlengkapan bayi.”
“Sebentar, Ayah isikan kuota Bunda.” Ia tak mau memberikan ponselnya.
“Kok Ayah tidak mau kasih pinjam handphone Ayah?” Aku tersulut emosi.
“Ada apa sih, Bun? Kan tadi katanya kuota Bunda habis, nggak bisa browsing. Mending sekalian Ayah isikan saja, kan?”
“Ya sudahlah.” Aku pasrah dan sedikit menyerah.
Aku masuk ke kamar dengan perasaan kesal. Ingin meluapkan amarah, tetapi takut menjadi bumerang untukku sendiri.
Suamiku mengikuti aku kamar.
“Bunda kenapa sih aneh banget?”
“Yang aneh itu Ayah. Bunda mau pinjam ponsel Ayah saja nggak boleh.”
__ADS_1
“Gara-gara itu? Ya sudah Bun, Ayah berangkat kerja dulu. Ayah sudah agak terlambat nih.”
Dia pergi begitu saja tanpa menciumku. Dia lupa rutinitas yang dilakukannya sebelum berangkat bekerja. Lagi dan lagi, aku yang harus menanggung kekesalanku sendiri. Hingga pagi berganti siang, suasana hatiku masih mendung.
Sampai kapan aku harus diperlakukan secara tidak jelas begini?! Kadang bahagia, kadang harus berpura bahagia. Jika perhatian suamiku terbagi dengan pekerjaan, aku bisa mengerti. Namun jika karena ada orang lain, aku tidak akan pernah sudi.
Hal yang harus aku cari tahu lagi yaitu orang yang mungkin tengah dekat dengan suamiku. Sejujurnya, aku masih curiga suamiku dekat lagi dengan Ken. Tetapi Tante Selly mengatakan Ken sedang di Jerman, dan kemungkinan besar dia tidak akan kembali ke Indonesia lagi. Aku yakin Tante Selly tidak berbohong. Lalu, siapa yang membayangi suamiku jika bukan Ken? Aku bisa merasakan seseorang sedang menyelinap untuk mencuri perhatian kekasih hidupku.
Daripada terus dirundung spekulasi, aku berpikir untuk menelepon Ferdi saja. Setidaknya, dia orang yang melihat aktivitas suamiku di kantor.
“Siang Fer, kamu sedang sibuk nggak? Sorry ya aku ganggu lagi.”
“Ngga kok, Fay. Ini baru mau makan siang. Mau tanya soal Dave?”
Tak heran jika Ferdi sudah bisa menebak maksudku. Jika bukan tentang suamiku, aku memang tak akan meneleponnya.
“Iya. Aku nggak tahu Fer harus tanya ke siapa. Sekali lagi, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud melibatkan kamu dalam rumah tanggaku.”
“Melibatkan apa sih, Fay? I’m fine, okay.”
“Terima kasih banyak ya Fer sebelumnya.” Ferdi satu-satunya teman yang bisa aku ajak curhat saat ini.
Aku tarik nafas sejenak untuk memaparkan tujuan intiku, “Belakangan ini sikap suamiku sangat aneh. Dia mem-password laptopnya, bahkan aku juga tak boleh meminjam handphone-nya. Sebelumnya, dia tidak seperti ini. Malah cenderung tidak terlalu peduli dengan gadget-nya.”
“Mungkin dia tak ingin privasinya diganggu, Fay.”
Privasi? Aku ini kan istrinya.
“Privasi seperti apa? Aku ini kan istrinya. Aku yakin ada orang lain yang sedang dekat dengannya. Aku mohon Fer, kalau kamu tahu, kamu cerita kepadaku. Jangan menutupi untuk menjaga perasaanku!”
“Gimana ya, Fay? Gue….”
“Fer, aku mohon!” Air mata mulai mendesak keluar.
“Gue beneran nggak tahu Fay siapa orang yang sedang dekat dengan Dave.”
“Kamu kan satu kantor dengan dia. Kamu juga cukup akrab dengannya, kan? Setidaknya kepada sesama teman lelaki, dia mungkin akan lebih terbuka.”
“Iya, tapi….”
“Apa dia sering makan siang di luar, Fer? Atau ada orang yang sering menemuinya ke kantor? Lalu, apakah dia terlihat bersama seseorang sepulang kerja? Aktivitas suamiku yang seperti itu kamu pasti tahu, kan?”
Aku mungkin tak bisa membaca isi pikiran suamiku. Aku juga tak bisa menerawang aktivitasnya. Tapi aku mengenal suamiku, mengenal segala kebiasaannya, dan peka terhadap perubahan sikapnya.
“Fay, sampai saat ini gue nggak pernah lihat Dave jalan sama perempuan lain. Nggak ada juga yang datang ke kantor mencarinya selain klien. Dave pun nggak pernah cerita tentang perempuan lain sama gue. Sumpah Pocong gue berani, Fay. Saran gue, coba ditanyakan baik-baik sama Dave! Sorry nih Fay, mungkin bawaan hamil saja jadi kamu agak paranoid.”
“Sudah, Fer. Aku sudah tanya baik-baik, tetapi dia selalu mengatakan tidak ada yang dia sembunyikan dariku. Namun, gelagatnya sangat kontras dengan ucapannya. Aku tidak akan seperti ini jika sebelumnya dia….” Tidak. Aku tidak boleh menceritakan kisah suamiku dan Ken kepada Ferdi. Itu sudah masuk kategori aib. Bukan hanya aib suamiku, tetapi juga aib rumah tanggaku.
“Teleponan dengan siapa Fer? Setelah makan siang aku tunggu kamu di ruanganku.” Tiba-tiba terdengar suara seseoang interupsi di dekat corong microphone handphone Ferdi.
“Gue tutup ya teleponnya!” kata Ferdi seperti berbisik.
Aku cukup familiar dengan suara yang membuat Ferdi tergesa-gesa menutup teleponnya. Ya, suara suamiku. Semoga Ferdi tidak menyampaikan curhatku kepada suamiku.
Dalam pikiranku, nama yang selalu muncul sebagai penyebab perubahan sikap suamiku, hanya Ken. Walaupun dia ada luar negeri, namun untuk bertemu bisa kapan saja melalui sambungan telepon atau video call, kan?!
Sekali lagi, hanya Ken yang berpotensi besar dekat dengan suamiku. Suamiku tak memiliki banyak mantan kekasih. Dia hanya cerita mantannya yang terakhir saat di bangku kuliah. Itu pun hanya menjalin kasih satu bulan. Jadi, tidak mungkin ada nama lain selain Ken.
Oh, Tuhan! Aku begitu takut suamiku menyimpang.
Aku memeriksa ruang kerja suamiku. Kemudian, aku mengobrak-abrik lemari pakaiannya dan semua tas yang biasa dia pakai ke kantor. Namun, tak ada petunjuk apa pun. Sepertinya petunjuk terbesar ada di ponselnya.
Jarum jam seperti kelelahan. Waktu terasa lebih lama. Apa pun yang nanti terjadi, aku sudah bertekad meminta ponsel suamiku untuk melihat isi panggilan telepon dan chatting-nya.
Saat aku berjalan menapaki anak tangga menuju kamar, terdengar suara mobil terparkir di depan rumah. Syukurlah, dia pulang lebih cepat. Jadi, lebih cepat pula aku menginterogasinya.
“Siang, Yah. Tumben Ayah pulangnya siang begini?”
Dia tak menjawab pertanyaanku. Pun, salamku diabaikan begitu saja.
“Ayah ingin ngomong serius dengan Bunda!”
Dia bergerak menuju ruang tengah. Jelas aku mengikutinya.
“Hal serius apa yang membuat Ayah sampai izin untuk pulang lebih awal?” Aku tak mau berbasa-basi lagi.
“Bun, Ayah sudah bilang kan berkali-kali, kalau ada hal yang ingin Bunda tanyakan, tanyakan langsung kepada Ayah. Bunda tak perlu bertanya atau bercerita kepada orang lain.” Tanpa ancang-ancang dia melantangkan suaranya.
Jadi Ferdi ketahuan sedang teleponan denganku tadi? Atau jangan-jangan dia yang cerita kepada suamiku? Padahal, aku selalu mengatakan untuk tidak memberitahu suamiku ketika aku meneleponnya. Dasar laki-laki, mereka lebih pro ke sesamanya. Mereka sulit memahami perasaan perempuan.
“Bunda sudah tanya sama Ayah, tetapi jawaban Ayah sama sekali tidak menjawab pertanyaan Bunda.” Aku tak mau terkesan aku yang bersalah dalam hal ini.
“Tanya apa? Jawaban seperti apa?”
Laki-laki memang cenderung lebih mudah melupakan ucapannya sendiri.
__ADS_1
“Bunda tanya, apa ada yang Ayah sembunyikan dari Bunda?! Ayah jawab tidak ada.”
“Ya berarti itu memang tidak ada.”
“Lalu kenapa Ayah mem-password laptop Ayah dan tak mau meminjamkan handphone Ayah kepada Bunda?”
Aku berharap ini menjadi pertengkaran yang terakhir.
“Sampai segitunya Bunda mencurigai Ayah? Sampai harus memeriksa laptop dan mematai-matai handphone Ayah segala.” Suamiku selalu bisa membalikkan keadaan seakan aku yang lancang.
“Kenapa memangnya? Sebelum Ayah pergi ke Jepang, Ayah tak pernah mempermasalahkan hal itu.”
“Iya, betul. Tetapi, kan Ayah juga privasi.”
Lagi, privasi! Apa itu yang menjadi landasan untuk membentengi diri ketika aroma perselingkuhan terendus? Dasar laki-laki!
“Hah? Ayah tahu kan Bunda ini istri Ayah? Sekarang Bunda lagi mengandung anak Ayah juga. Ayah tidak lupa hal itu, kan? Privasi. Apa seorang istri tidak boleh tahu privasi suaminya?”
“Setiap orang punya hak atas dirinya sendiri, Bun. Ayah juga tidak lupa siapa Bunda. Tetapi Ayah juga punya privasi, yang meskipun kita suami-istri, ranahnya bukan untuk Bunda sentuh. Sudahlah Bun, jangan terlalu berlebihan!”
Aku berlebihan? Aku tidak bermain drama. Aku sedang menyuarakan isi dari hati dan pikiranku. Menangis lagi! Ketika seorang wanita menangis, maka ia sedang bersusah payah menyemangati dirinya sendiri.
“Oke, sekarang mana handphone Ayah?” Aku menjulurkan tangan untuk menerima ponsel suamiku.
“Untuk apa?” Sudah kutebak dia akan menolak.
“Jika tidak ada apa-apa, boleh kan Bunda melihatnya?”
Jika dia masih tidak mau memberikannya, berarti dia memang menyembunyikan sesuatu dariku.
Dengan sorot mata yang mengindikasikan keraguan, dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Kemudian, meletakkan di tanganku.
Aku langsung menekan tombol power untuk menghidupkan layar ponselnya. “Password-nya apa, Yah?” Aku sudah yakin dia menggunakan kata sandi untuk membuka ponselnya juga.
Dia tidak merespon saat aku meminta untuk memberitahu akses membuka ponselnya. Dia hanya memandang lurus ke jendela, tak sedikit pun menoleh kepadaku.
Aku coba menebaknya, tetapi semua kata yang ada di pikiranku tak ada yang sesuai dengan kata sandi yang tertanam. Aku menyerah, dan kembali meminta suamiku mmeberitahu password-nya.
“Yah, password-nya apa?” Pintaku dengan lembut. Mungkin dia butuh kesopanan dalam alunan suaraku.
Praaaaakkkk!!!!! Suamiku mengambil ponselnya di tanganku, lalu membanting sekuat tenaga ke lantai. Casing ponselnya hancur dan mengeluarkan seluruh komponen di dalamnya hingga berserakan. Aku tak menyangka dia melakukan itu. Air mataku menjadi saksi amarah suamiku.
“Ayah tidak suka dicurigai terus seperti ini,” tegasnya dengan suara pelan.
Nadanya memang rendah, tetapi aku tahu ada emosi yang besar yang membalutnya.
“Apa Ayah dan Ken sebenarnya masih sering bertemu?” Pertanyaan pamungkas dariku.
Dia sempat diam hingga sekitar dua menit sambil menundukkan kepala.
Ketika dia mengangkat kepalanya lagi, wajahnya semakin menyala. Seperti bara yang baru ditinggalkan api.
“Kenapa Bunda selalu menyangkutpautkan kecurigaan Bunda dengan Ken?” Tiap kali aku menanyakan sahabatnya, dia tak bisa menjawab dengan lembut. “Ken sudah menetap di Jepang!”
Seperti ada peluru yang baru saja menyasar kepalaku mendengar kalimat suamiku. Jadi, Ken bukan di Jerman melainkan ada di Jepang. Pantas saja sikap dan perhatiannya berubah sepulang dari Jepang. Ternyata, di sana dia bertemu dengan si Pengganggu itu.
“Jadi Ayah ke Jepang bukan untuk urusan kerja, tetapi menemui Ken?”
Dia kembali diam begitu aku meminta klarifikasinya. Hanya menggaruk kepala dan memijat dahi.
“Padahal aku percaya sama kamu. Aku percaya pada semua janjimu. Mengapa kamu selalu saja bermain dengan kata-kata dan pandai menutup mataku? Kamu lebih memilih sahabatmu. Demi dia, kamu rela terbang dari Indonesia berjam-jam.” Aku akui kata-kataku sudah lepas kendali, tak lagi menggunakan pronoun mesra.
“Bunda lihat surat tugas Ayah, kan? Lihat juga kan kondisi Ayah selama di sana? Ayah ke sana karena urusan pekerjaan.” Dia memberikanku tatapan tajam, tampak penuh amarah.
Aku pun berhak marah karena sudah dibohonginya lagi. “Iya, aku lihat. Hanya saja bagaimana kamu dan si Brengsek itu bertemu, itu di luar penglihatanku. Jangan-jangan, kamu sebenarnya sudah tahu dia di Jepang kan, dan kalian merancang pertemuan di sana?”
Jika dia tak mampu menjawab, maka diam bermakna iya.
“Tidak!” Dia menjawab dengan keras, tetapi tak mengarahkan pandangannya kepadaku lagi.
“Bohong!”
“Sudahlah, sampai kapan mau meributkan hal seperti ini terus. Ayah capek!”
Dia berjalan menuju kamar, meninggalkanku. Dia bahkan tak memperhatikan air mata yang mengalir di kedua pipiku.
Katanya, capek meributkan hal seperti ini terus. Namun, mengapa terus saja memantik api yang pernah padam? Apa aku yang sengaja memancing amarahnya? Hah! Aku juga capek terus dibelenggu kebohongannya.
Kenapa Ken masih membayangi suamiku? Aku benar-benar tak bisa menahan tangis mempertanyakan kalimat tersebut.
Ataukah justru suamiku yang tak bisa melupakannya hingga menyusul Ken yang sekarang sudah menetap di luar negeri? Sudahlah, aku tak mau ada dalam permainan mereka lagi. Kali ini, aku menyerah!
Aku bergegas ke kamar. Kulihat suamiku sedang mengganti pakaiannya. Tanpa berbicara sepatah kata pun, aku menarik koper di bawar kasur. Kubuka lemari, dan kemudian menjejalkan semua pakaianku ke dalam koper. Suamiku hanya melihat. Itu membuatku semakin bernafsu untuk menunjukkan jika aku tidak main-main ingin kembali ke rumah orang tuaku lagi.
Namun saat aku menyeret koperku keluar kamar, suamiku menutup pintu dan menguncinya. Aku berusaha meraih kunci dari tangannya, tetapi ia lemparkan ke bawah kasur. Aku menatapnya penuh emosi, ia justru memelukku.
__ADS_1
Aku pun pasrah begitu dekapannya semakin erat mengikat. Kehangatan yang ia alirkan memang kerap membuatku tak berkutik.
Ya, aku sangat mencintainya. Jika harus tanpanya, aku tak yakin mampu menjalani hari. Namun, mengapa dia selalu memberiku teka-teki misteri?