Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 27: Rindu


__ADS_3

Pagi sebelum ke kantor, siang saat jam makan siang, dan sore setelah pulang kerja rutinitasku berhari-hari ke apartemen Ken. Namun, dia selalu tak ada di tempat. Tak ada nomor teleponnya yang juga bisa dihubungi. Ini membuatku frustasi.


Satu minggu sudah berlalu dari janji kami untuk bertemu. Aku curiga dia kembali ke Jepang. Mungkin dia sengaja meninggalkanku, karena sejatinya ada orang lain yang dia rindukan di sana. Jika benar, Ken sudah menjadi pembohong besar.


Dia mengatakan tidak akan meninggalkanku, nyatanya dia pergi tanpa memberitahuku. Padahal aku sudah berjanji untuk memperbaiki hubungan ini. Membagi hati di dua tempat, meski potongannya mungkin tak akan sama.


Aku tak bisa memilih antara Ken dan Fay. Mereka berdua orang yang aku sangat cintai. Aku berjanji kepada istriku akan menjadi suami dan calon ayah yang bertanggung jawab. Juga, meski tak bisa seintim dulu, tetapi aku sudah berjanji kepada Ken akan berusaha mengatur waktuku untuknya.


Tadinya, pagi ini, aku berniat ke apartemen Ken lagi. Sayangnya, aku kesiangan dan harus segera menuju kantor karena ada meeting pagi.


Aku masih sangat penasaran dia benar-benar pergi atau hanya bersembunyi. Tetapi untuk apa Ken bersembunyi dariku? Sementara hubungan aku dan dia sudah kembali mencair. Kotak misteri apa yang dia berikan untuk aku pecahkan?


Perjalanan ke kantor aku isi dengan mengingat kejadian di Hokkaido. Waktu itu, di hadapan Pamannya Ken berpura-pura tak mengenalku. Aku pikir dia hanya mencoba mengerjaiku saja, tetapi sandiwara berlanjut hingga hari berikutnya. Hingga aku harus menemuinya langsung ke rumah Pamannya untuk meminta penjelasan dia mendiamkanku. Rupanya, dia menyimpan luka karena aku pernah memintanya untuk melupakanku. Dia sengaja pergi dari Indonesia untuk menghapus semua memori denganku.


Ken tidak tahu bagaimana khawatirnya saat aku mendengar dia ke Jerman. Aku pikir tak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi. Untungnya, takdir mengerti keinginanku. Kami bertemu dalam situasi yang tak terbayangkan olehku sebelumnya.


Lalu, aku semakin merasa bersalah ketika Ken mengatakan dia sangat mencintaiku. Kata cinta memang tak asing aku dengar dari mulutnya. Dari dulu dia kerap mengatakan itu, terutama dalam kondisi sedih atau tengah kesepian.


Aku tak terlalu dalam menanggapi pernyataannya tersebut. Persahabatan kami terjalin sangat dekat. Jadi, aku merasa hal yang wajar jika Ken meminta aku tak meninggalkannya.


Namun di malam itu, Ken menumpahkan segala hasratnya kepadaku. Aku tak percaya dia memendam perasaan yang begitu penuh nafsu kepadaku. Perasaan yang dia inginkan lebih dari sahabat. Aku jelas marah mendengarnya. Aku coba berpikir dia hanya sedang diselimuti emosi sehningga ucapannya menjadi ngawur.


Semakin aku ingin memarahi Ken waktu itu, semakin kuat perasaanku. Dia menutupi perasaannya dengan begitu apik. Atau aku saja yang tak peka tentang arti cinta sebenarnya yang kerap dia ungkapkan.


Satu hal yang pasti, aku sangat merindukannya. Aku tak ingin dia pergi untuk melupakanku. Ada ruang kosong dalam hidupku saat tak bersamanya. Dia selalu ada saat kubutuhkan, namun aku tak bisa memahami kebutuhannya dengan bijak. Ribuan hari telah kami jalani bersama, aku hanya tahu dia sahabatku yang berharga.


Aku pikir, kami sudah saling mengenal perasaan satu sama lain. Tentang hasrat bercumbu, ternyata aku juga memilikinya. Bahkan setelah Ken mengeluarkan segala perasaannya dan aku lihat hasratnya mulai padam, aku tak rela itu terjadi. Bukan ucapan terima kasih atau salam perpisahan, aku menciumnya dengan penuh perasaan.


Hah, apa yang sebenarnya ada di pikiranmu, Ken?


Kemacetan yang meski setiap hari dilalui, pagi ini terasa tak mengganggu. Seperti menembus ruang dimensi, tiba-tiba saja sampai di kantor. Tangan dan kaki memandu mobil tanpa banyak interupsi.


“Pagi, Pak Dave!”


“Pagi, Fer! Tumben kamu menyapa, ada apa?”


“Yaelah Dave, tiap hari juga gue sapa lu.”


“Ya sudah kalau gitu, aku ke ruangan kerjaku dulu.”


Aku sempat ingin bertanya tentang hubungan antara Ferdi dan Ken. Waktu itu mereka terlihat akrab makan siang berdua. Namun, aku takut justru Ferdi yang akan bertanya balik kepadaku.


Ah, lupakan saja! Ken sudah mengaku baru mengenal Ferdi hari itu. Aku percaya pada penjelasannya. Walau sekarang dia membohongiku dengan mengingkari janji yang dia buat.


“Dave, nanti makan siang bareng ya?” Selang beberapa langkah, Ferdi menghentikanku.


“Masih pagi sudah membicarakan makan siang.”


“Ada hal penting yang gue pengen bicarakan sama lu.”


“Sekarang saja!”


“Nggak enak, nanti siang saja di kafe sebrang ya.”


Aku tak mengiyakan ajakannya. Lihat nanti siang bagaimana mood-ku.


Aku berusaha fokus pada dalam rapat. Tetapi, pikiranku berjalan menyambung cerita yang tadi.


Andai Ken tahu, sebenarnya aku lebih dulu penasaran untuk bisa menikmati tubuhnya. Saat dia menyandarkan kepala di bahuku, tidur di bawah ketiakku, dan bercanda sambil memelukku, aku membayangkan untuk bisa melakukannya lebih. Namun, aku dilanda rasa takut dia akan membenciku jika nafsu tak bisa kutahan. Kemudian, asal selalu bersamanya aku merasa lebih baik.


Setelah lulus kuliah, Ken kembali ke kampung halamannya. Aku pun dipaksa harus terbiasa tanpanya. Lalu, aku bertemu dengan Fay yang saat itu sama-sama berstatus karyawan baru. Lama kelamaan aku menyukainya. Hanya dalam hitungan bulan, aku memutuskan untuk menikah dengannya. Aku tidak bisa hidup tanpa orang yang mendampingi setiap hari.


Fay mampu mengisi hariku dengan kebahagiaan. Namun di saat bersamaan, Ken kembali ke Jakarta. Aku berhadapan dengan dua hati secara dilematis.


Naas, aku menggali kembali perasaan untuk dan kepada karibku. Awalnya, aku kira hanya perasaan empati melihat Ken ditinggal kedua orang tuanya. Sebagai orang yang pernah sangat dekat dengannya, tak mungkin aku biarkan dia sendiri menghadapi kesepian.


Gairahku terhadapnya justru kembali mencuat. Sementara cinta sudah ditambatkan kepada Fay. Aku begitu bimbang. Tentang cinta, aku merasa sangat dungu.


Lantas, aku mengenalkan Ken kepada istriku sebagai sahabat biasa. Aku ingin mereka akrab agar aku bisa membagi rasa tanpa terjebak dalam dimensi kata. Kata cemburu atau pun kata posesif.


Sekarang aku sudah jatuh terlalu dalam, terjerembab dalam di dua hati yang berbeda. Fay memintaku memilih, aku secara tegas mengatakan memilih dia. Sedangkan Ken berkata tak akan memintaku memilih, tetapi aku sudah menikmati kenikmatan di tubuhnya. Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku itu. Aku tak mau dia menderita. karena berpikir aku hanya penasaran dengan lekuk tubuhnya.


“Dave.”


Lamunanku terhenti ketika Ferdi berbisik memanggil namaku.


“Kenapa, Fer?”


“Dari tadi gue lihat lu melamun terus. Kesambet lu?”


“Kagak. Aku lagi fokus memperhatikan pengarahan Pak Direktur.”


“Pengarahan dari mana? Itu lu diminta menyampaikan progress proyek yang sedang kita kerjakan.”


Ekspresiku langsung berubah kaget, “Seriusan?”


“Ya lu lihat aja Boss Besar sedang melihat ke arah siapa!”

__ADS_1


Aku segera melakukan recovery pikiranku. Aku sadar sedang berada dalam rapat, namun aku lupa harus presentasi.


Untung saja, aku tidak kena damprat Pak Direktur. Aku mampu mengembalikan fokusku dengan cepat sehingga rapat berjalan lancar sesuai substansi.


Rapat selesai pas jam istirahat. Ferdi langsung mengajakku makan siang.


“Lu tadi melamun kenapa sih?” tanya Ferdi sembari menunggu pesanan makan siang kami datang.


“Siapa yang melamun, Fer?” Aku berusaha membantah. “Kan tadi aku bilang lagi fokus sama meeting-nya.”


“Lu nggak lagi memikirkan selingkuhan lu, kan?” tanyanya lagi curiga.


Pertanyaan itu membuatku tersedak. Selingkuhan? Aku tidak punya selingkuhan. Ken bukan selingkuhanku.


“Ada-ada saja kamu, Fer. Tadi katanya mau bicara hal penting. Hal penting apa?”


Aku berhasil mendesak Ferdi untuk fokus pada topik yang ingin dia sampaikan.


“Begini loh Dave, gue mau pinjam uang sama lu, seratus aja,” ungkapnya sedikit memelas.


Aku langsung mengeluarkan dompet. Aku heran, mau pinjam seratus ribu saja sampai harus seserius ini.


“Nih.” Aku langsung menyodorkan selembar uang merah yang diinginkan Ferdi. “Nggak usah diganti.”


Tetapi, Ferdi malah mengembalikannya dengan nada kesal. “Dave, jangan menghina gue! Kalau cuma seratus ribu di dompet gue juga banyak.”


“Lah, terus kenapa kamu pinjam ke aku?”


“Makanya sahabatku yang baik hati, cerna dulu baik-baik omongannya. Maksud gue tuh seratus juta.”


Aku terkejut mendengar nominalnya, “Gila, buat apaan?”


“Begini loh Dave….”


Makanan datang ketika Ferdi mau menjelaskan. “Bentar, aku makan dulu.”


“Ya lu makan tinggal makan aja, tapi lu bisa sambil dengar cerita gue kan?”


“Iya, iya.”


“Pacar gue pengen pindah ke apartemen yang dekat tempat kerjanya. Nah, gue ketemu tuh apartemen yang cocok. Terus pacar gue langsung suka pas gue kasih lihat foto-fotonya. Tapi sayang, yang punya maunya jual bukan sewa. Padahal gue udah nyodorin duit sewa ke orangnya buat setahun langsung. Tapi gue aneh juga sih Dave, apartemennya dia jual jauh di bawah harga pasaran.”


“Ya kalau begitu, kamu langsung beli saja.”


“Makanya gue pengen pinjam uang ke lu, seratus atau dua ratus juta deh, nggak apa-apa.”


“Tadi katanya seratus saja. Nggak sekalian satu milyar?” Aku coba sarkas kepadanya.


“Saran aku ya Fer, mending kamu nikah dulu saja sama pacarmu.”


“Justru dia pengen cari tempat tinggal dulu.”


“Ah dasar,  playboy.”


“Jadi bagaimana, Dave?”


Aku fokus menghabiskan makananku dulu, sedangkan dari tadi Ferdi hanya mencicipi makanannya. Sibuk memohon agar aku meminjamkan uang kepadanya.


“Emang berapa dia mau jual? Coba aku lihat foto-foto apartemennya!”


Ferdi pun langsung menunjukkan foto-foto tersebut. Sekilas aku nampak familiar. Dari posisi tempat tidur, warna ruangannya, dan peletakkan furniture lainnya.


“Dia buka di harga 350 juta. Cukup worth it banget kan kalau dari penampakan dan lokasinya? Mana ada yang mau jual apartemennya seharga itu di Green Apartment. Lu tahu sendiri kan tempat itu salah satu cincin emaasnya Jakarta, strategis kalau mau ke mana-mana.”


Ferdi mengatakan itu unit di Green Apartment. Aku langsung menelusuri profil si pengiklan.


Aku kira apartemennya hanya mirip dengan milik Ken, tetapi itu benar apartemen sahabatku. Foto dan nama si pengiklan mempertegas hal tersebut.


Aku tidak percaya Ken mau menjual apartemennya. Dia pernah mengatakan tak akan menjual apartemennya dalam kondisi apa pun. Alasannya, pertama itu hadiah dari ayahnya. Kedua, banyak kenangan aku dan dia yang tersimpan di situ.


Aku lihat lagi status waktu iklan tersebut dipasang. Waktunya pagi hari di tanggal aku melihat dia dan Ferdi makan siang bersama tepat di kafe yang aku duduki sekarang. Jadi, mereka bertemu karena terkait jual beli apartemen. Padahal Ken dan aku sempat melepaskan keringat malamnya, tetapi dia tidak bercerita tentang ini.


“Dave, bisa kan?”


“Em….”


“Seratus juta doang kok, bulan depan gue bayar setengahnya. Setengahnya lagi gue cicil ya?”


“Sorry, Fer. Aku nggak bisa kasih kamu pinjaman.”


“Please, Dave. Kali ini gue mohon banget bantuan lu.”


Ferdi terus memelas. Aku bisa meminjamkan uang sebanyak yang dia minta, namun aku tidak rela apartemen Ken jadi miliknya.


“Mending kamu cari yang lain yang memang untuk disewakan. Di daerah situ kan banyak apartemen.”


“Tapi gue sama pacar gue klop sama yang ini.”

__ADS_1


“Aku duluan ya, Fer. Ada berkas yang harus direvisi segera.”


Ferdi memanggil-manggil namaku, tetapi aku tak menghiraukannya. Aku tak habis pikir Ken tiba-tiba meludahkan semua janjinya. Masalah apa yang sebenarnya dia hadapi?


Hingga tiba waktunya pulang, aku masih tak mengerti Ken melepas apartemennya begitu saja. Apa dia sedang memerlukan biaya untuk sesuatu ataukah ada alasan lain?


Segeralah aku unduh aplikasi di mana Ken mengiklankan apartemennya. Aku sempat bingung saat hendak mengirimkannya pesan, dengan nama asliku atau tidak. Akhirnya, aku memutuskan berpura menjadi orang lain. Tujuannya untuk memperoleh informasi mengenai alasan Ken menjual apartemennya. Mungkin dia akan terbuka kepada calon pembeli.


Aku mengirimkan pesan kepada Ken via menu chat di aplikasi jual beli tersebut.


[Selamat sore Pak Andy. Mohon maaf baru membalasnya pesannya. Silakan jika ada hal yang ingin ditanyakan terlebih dahulu!] – Ken


[Apa harganya bisa kurang, Pak Ken?] -Andy


Aku berusaha se-natural mungkin sebagai calon pembeli. Agar nantinya Ken nyaman saat aku tanya-tanya.


[Maaf Pak Andy, sudah harga nett.] – Ken


[Kalau begitu, kapan kita bisa bertemu? Saya serius ingin membelinya.] – Andy


[Saat ini saya sedang di Jepang, Pak Andy. Bila Pak Andy berminat serius bisa bertemu Tante Selly. Nanti saya berikan nomornya agar bisa melihat-lihat langsung terlebih dahulu.] - Ken


Benar. Ken kembali ke negeri matahari terbit itu.


[Wah, saya kira di Indonesia. Tadinya saya berharap kita bisa bertemu langsung. Kapan Pak Ken pulang dari Jepang?] – Andy


[Maaf, saya belum tahu kapan ke Indonesia, Pak Andy.] - Ken


Seketika aku berpikir untuk terbang ke Jepang dan mengajaknya kembali ke Indonesia.


[Mohon maaf, kalau boleh tahu kenapa apartemennya dijual ya Pak, tidak disewakan saja?] - Andy


Hampir 10 menit Ken tidak membalas. Aku sempat khawatir dia tak berkenan dengan pertanyaan tersebut.


[Saya sedang menata hidup yang baru. Saya menjualnya untuk keperluan melanjutkan studi.] - Ken


Menata hidup yang baru, katanya. Alasan yang absurd buatku.


[Untuk keperluan menikah, studi, dan tinggal di Jepang ya Pak?] – Andy


[Untuk studi saja. Saya baru ditinggal menikah oleh kekasih saya.] - Ken


Ken membuka pembicaraan ke arah yang aku mau. Ternyata lewat dunia maya, kepada orang yang dianggap tidak dikenal, dia justru menjadi lebih terbuka.


[Atau sekalian ya Pak pindah ke Jepang agar bisa move on? Di sana kan perempuannya cantik-cantik juga.] - Andy


[Tidak seperti itu juga. Saya dan kekasih saya masih saling mencintai. Tetapi saya harus meninggalkannya, karena tak ingin dianggap pengganggu dalam rumah tangganya.] – Ken


[Pak Ken sebelumnya tidak tahu dia sudah menikah?] – Andy


[Sebelumnya kami bersahabat lama. Namun, saya terlalu pengecut. Saya baru mengakui perasaan saya setelah dia mengikat janji dengan orang lain.] – Ken


[Kalau Pak Ken dan mantan kekasih Pak Ken saling mencintai, kenapa tidak saling memperjuangkan cinta kalian?] - Andy


Ini seperti curhat di acara radio.


[Sekarang saya hanya berharap dia selalu bahagia.] – Ken


[Tetapi jika dia seandainya lebih bahagia bersama Pak Ken, bagaimana?] ¬- Andy


[Saya akan tetap melupakannya. Saya yakin dia juga akan cepat melupakan saya.] – Ken


[Apakah Pak Ken bahagia dengan keputusan yang Pak Ken buat?] – Andy


[Tentu tidak. Setiap hari saya memikirkannya. Saya selalu terbawa kembali ke masa lalu saat masih bersama dia. Sekarang, kami sudah tak mungkin bisa bersama. Saya harus mengalah untuk keutuhan dan kebahagiaan rumah tangganya.] – Ken


[Kalau menurut saya, Pak Ken tidak seharusnya pergi.] – Andy


[Maaf Pak Andy\, saya jadi cerita masalah pribadi saya. Ini nomor Tante Selly 08786673****. Nanti silakan bertemu langsung dengan beliau terkait proses jual belinya.] – Ken


[Baik Pak, Ken. Kalau boleh saya juga minta nomor Pak Ken. Sepertinya lebih enak bicara lewat telepon.] – Andy


[Tentu boleh. Ini nomor saya +8181606****.] – Ken


[Kalau begitu nanti saya hubungi Pak Ken.] – Andy


[Silakan, saya tunggu!] – Ken


[Selamat malam dan selamat beristirahat Pak Ken.] - Andy


Ternyata Ken pergi karena takut aku tak bisa membagi waktu dengannya. Dia memang pengecut. Ketika dia pergi, dia yakin aku akan bahagia. Padahal aku sudah mengatakan separuh kebahagiaanku ada padanya juga.


“Ayah, lagi chatting sama siapa?”


Aku kaget ternyata istriku belum pulas. “Oh, ini klien.”


“Boleh Bunda lihat?”

__ADS_1


“Yah, handphone-nya low-batt, Bun. Ayah charge dulu ya!” Aku charge ponselku di meja rias yang jauh dari jangkauan istriku. “Ayo tidur lagi, Bun. Ayah juga sudah mengantuk.”


Aku tidak bisa membayangkan jika istriku menemukan kebohonganku. Beruntung dia tak memaksa untuk memeriksa ponselku.


__ADS_2