Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 8: Rasa


__ADS_3

Semalam aku nyaris tak bisa tidur, karena terus memikirkan Mayumi. Aku tak menyangka dia akan menyatakan perasaannya kepadaku hanya dalam beberapa pertemuan. Sedangkan aku memang belum merasakan ada perasaan terhadapnya, selain rasa suka sebagai teman biasa. Aku pun terpaksa jujur mengatakan hal tersebut. Kejujuran memang kadang membuat pilu, tetapi itu lebih baik daripada menaman bom waktu melalui kebohongan.


Siang ini aku berencana ke pusat kota untuk memperbaiki ponselku yang tiba-tiba mati total sepulang dari Mount Moiwa. Mungkin ponsel ini sudah mencapai masa habis pakainya atau efek terjatuh di Bandara Soetta dulu baru menjalar sekarang.


Aku menggunakan Iphone 6s sudah lima tahun. Meskipun banyak keluaran ponsel setiap tahun bahkan setiap bulannya yang canggih dan mewah, aku masih lebih suka menggunakan ponsel ini. Ukurannya pas, sangat ergonomis di genggaman. Selama masih bisa digunakan, aku tak akan membeli ponsel yang baru. Meski setiap ponsel memiliki spesifikasi yang berbeda sesuai rentang harganya, tetapi bagi penggunaanku semua saja saja. Aku bukan gamer, bukan juga yang gemar fotografi. Aku menggunakan smartphone sesuai fungsi dasarnya, telpon, sms, browsing, dan entertainment.


Aku menuju ke ruang kerja Paman untuk meminta izin. “Paman, Ken mau ke pusat kota dulu ya.”


“Untuk apa?” Paman tampak heran.


“Ponsel Ken rusak dari semalam. Ken mau coba perbaikinya” jelasku sambil menunjukkan ponselku.


“Coba Paman lihat!”


Aku menyerahkan ponselku kepada Paman. Paman terlihat memutar-mutar ponsel tersebut. Ia pun sedikit memonyongkan bibirnya.


“Anak muda ponselnya outdated begini. Kalah sama Paman”, ucap Paman sambil memperlihatkan Iphone-nya yang merupakan keluaran terbaru.


“Ponsel ini menyimpan banyak cerita, Paman.”


Ya, di dalam ponsel tersebut tersimpan riwayat pesan dan rekaman percakapan telepon dengan Dave. Banyak juga gambar dirinya yang diabadikan oleh kamera ponsel tersebut. Aku sempat ingin menghapus semuanya. Namun, aku belum siap sepenuhnya. Jadi, solusinya hanya mengurangi frekuensi membuka files tersebut.


“Ya sudah, biar Paman temani.” Paman menawarkan diri.


“Tidak usah Paman, Ken bisa pergi sendiri.” Aku tak mau merepotkan Paman.


“Yakin? Apa maunya ditemani Mayumi saja? Tapi dia kan sedang pulang ke Fukouka.”


Mayumi pulang ke Fukouka? Apa karena kejadian semalam?


“Mayumi pulang?” tanyaku memastikan.


“Kamu tidak tahu?” Paman tampak heran. Lalu, dia menatap ponselku di genggamannya. “Oh iya, ponselmu kan rusak. Mungkin dia menghubungi tapi tidak tersambung.”


Mayumi tak memiliki nomorku. Kecuali Paman yang sudah memberikannya. Tetapi, kami juga tak pernah berinteraksi melalui dunia digital . Dia selalu mendatangiku langsung ke hotel ini.


“Kenapa dia pulang?” Aku berusaha mencari tahu.


“Paman juga tidak tahu. Paman tahu dari ayahnya. Em…mungkin dia rindu ibunya”


“Oh, begitu. Syukurlah!” Aku menghela nafas.


“Kenapa, Ken?” Paman sepertinya curiga saat melihatku menghela nafas.


“Tidak apa-apa. Oh iya, Ken benar tidak apa-apa kok pergi sendiri, Paman.” Kucoba fokuskan kembali ke perbincangan yang tadi.


“Kamu lagi pengen sendiri?”


“Bukan seperti itu juga. Ken hanya tidak mau mengganggu pekerjaan Paman saja.”


“Kamu lihat kan Paman sedang santai. Ayo, kita berangkat sekarang. Sekalian kita makan siang di sana.”


Aku pun menyetujui dengan mengangguk. Aku sangat berharap ponselku bisa diperbaiki.


Sesampainya di pusat kota, Paman langsung mengajakku ke pusat service handphone. Dia menitipkan ponselku, lalu kami menuju foodcourt.


Tempatnya tak terlalu ramai. Kalau di Jakarta seperti ITC Roxy Mas, tetapi di sini lebih rapi dan tertata.


Saat melalui stand penjual ponsel, Paman terus menawariku sebuah ponsel baru. Aku menolaknya dengan halus. Kalau ponselku tidak bisa diperbaiki, baru aku membeli yang baru. Anehnya, Paman mendoakan ponselku tak bisa diperbaiki. Aku pun tertawa, meyakinkan jika doa yang tidak baik tidak akan dikabulkan.


Setelah makan siang kami kembali ke tempat ponselku diperbaiki. Paman berbincang dengan teknisi tersebut. Lalu, Paman mengatakan ponselku sama sekali tak bisa diperbaiki. Komponennya sudah banyak yang mati dan percuma jika diperbaiki, karena akan seharga yang barunya.


Mendengar penjelasan Paman, aku sempat curiga dia mengada-ada. Tadi kan dia tidak mau ponselku kembali berfungsi. Mereka juga berbicara dalam Bahasa Jepang yang sama sekali aku tidak paham.


Aku pun bertanya dalam Bahasa Inggris kepada teknisi tersebut. Untungnya dia mengerti dan bisa menjawab pertanyaanku, meski sedikit terbata-bata.


Teknisi tersebut menjelaskan hal yang sama dengan yang disampaikan Paman kepadaku tadi. Aku tetap meminta dia memperbaikinya berapa pun biaya service yang akan dikenakan. Namun, dia mengatakan sparepart-nya sedang kosong. Mereka harus memesan terlebih dahulu ke pusatnya di Tokyo atau impor dari China. Itu pun membutuhkan waktu berhari-hari atau bahkan hitungan minggu.


Paman sedikit mengejekku. Aku minta maaf kepadanya. Tak ada maksud berprasangka tidak baik. Aku hanya mengira Paman sedang menjahiliku saja.


Lalu, aku mengunjungi beberapa konter ponsel yang lain. Jawabannya sama dengan tempat pertama yang kudatangi. Akhirnya, aku merasa putus asa dan berhenti berkeliling.


“Ken, Paman capek. Beli saja yang baru ya?” Paman memegangi lututnya.


“Ken kan tadi bilang Paman tunggu saja.”


“Tidak semua orang di sini bisa berbahasa Inggris, Ken. Paman tidak mau kamu emosi, karena mereka tak mengerti maksudmu.” Aku jadi merasa bersalah kepada Paman. Dia mengikutiku untuk menjadi penerjemah. Dia begitu mengkhawatirkanku.


Memang tadi aku sempat emosi, karena ada teknisi mengatakan aku keras kepala. Sepertinya dia memperhatikan aku berpindah dari satu konter ke konter lain dan sampai kepadanya. Katanya, jika di konter sebelumnya saja yang lebih besar tidak ada, di konter kecil miliknya mana mungkin ada. Aku dianggap menghina dia. Jelas aku tak terima. Tak sedikit pun pikiran tentang itu terlintas.


“Kita membeli ponsel ke konter yang di sana saja ya!” tunjuk Paman ke konter yang tampak sedang ramai.


“Lain kali saja ya, Paman.” Aku jadi tak berminat lagi membeli ponsel baru. “Ken juga sedang tidak terlalu membutuhkannya.”


“Ken, bagaimana jika Bibimu atau Mayumi ingin menghubungimu?”


Paman terus memaksa. Jika aku tetap menolak, dia mungkin akan kecewa.


Saat tiba di konter yang ditunjukkan tadi, Paman langsung menanyakan ponsel keluaran terbaru. Dia justru yang begitu antusias. Tetapi, lagi, aku tak mengerti obrolan Paman dengan sales konter tersebut.


“Kamu suka warna apa, Ken?”


“Hitam.” Aku berusaha melihat ponsel lain.


Saat aku sudah menjatuhkan pilihan ponsel yang kurasa pas denganku, Paman tiba-tiba menepuk pundakku.


“Ayo, kita pulang!”


Aku lihat Paman sudah menenteng goodie bag berisi smartphone. Dia langsung memberikannya kepadaku.


“Paman, Ken tidak perlu handphone semahal ini.” Aku sedikit mengeluh. Ya, karena aku tahu ponsel yang dibelikan Paman seharga motor matic di Indonesia. Padahal, tadi aku sudah memilih ponsel dengan harga se-perlima dari yang Paman belikan.


“Katanya barang yang sudah dibeli tidak bisa di-refund. Hanya bisa tukar baru jika ternyata dalam satu minggu ditemukan cacat.” Paman malah tertawa menanggapi keluhanku.


Kami kembali ke hotel dan tiba pukul 05.00 sore. Ternyata cukup lama juga kami di pusat kota. Perjalanan pergi-pulang menghabiskan waktu 2 jam, berarti sisanya aku mengajak Paman mengunjungi banyak konter sekitar 3 jam. Wajar Paman mengeluh capek. Demi memperbaiki ponsel, aku sampai lupa waktu. Tetapi, hidup memang begini kan?! Kita tak akan pernah mau melihat waktu ketika memperjuangkan sesuatu yang berharga dalam hidup kita.

__ADS_1


“Paman, malam ini Ken tidur di hotel. Boleh, kan?” pintaku saat masuk hotel.


“Tentu. Paman kan memang sengaja menyiapkan kamar jika sewaktu-waktu kamu ingin menginap di sini.”


“Terima kasih banyak, Paman.”


Aku bergegas menuju kamar. Merebahkan badan yang lelah, karena perjalanan dan kenyataan ponselku tak bisa diperbaiki. Kupejamkan mata sedikit, lalu rasa kantuk menyebar hingga tak sadar terlelap.


Aku terbangun ketika mendengar suara telepon berdering. Ternyata salah satu staf resepsionis menawarkan untuk mengantarkan makan malam. Aku pun setuju, karena merasa malas keluar kamar. Tak lama, seorang pegawai mengetuk pintu.


Setelah makan, aku mulai membuka ponsel yang Paman belikan tadi. Aku coba mengambil ponselku yang rusak yang tergantung di saku celana jeans. Namun, aku kaget saat melihat simcard-ku tidak ada di slotnya. Aku tidak pernah membukanya. Kucoba cari di setiap saku celana. Rasanya tidak mungkin hilang begitu saja.


Aku menjadi kesal. Apakah jatuh saat ponselku dibuka di tempat reparasi tadi? Namun, tak mungkin kembali ke sana. Aku tidak bisa memastikan di konter yang mana simcard-ku hilang.


Setelah berkali-kali menghela nafas dan menenangkan diri, aku berusaha ikhlas. Mungkin aku memang harus mengganti dengan simcard operator negara ini.


Kemudian, aku terpaksa keluar kamar untuk menanyakan kepada pegawai hotel tempat penjualan simcard yang masih buka. Karena tempatnya agar jauh, dia bersedia mengantarkan.


Haruskah aku mengganti kewarganegaraan juga dan kursus Bahasa Jepang? Sepertinya keinginan untuk tinggal selamanya di negeri ini semakin terealisasi sedikit demi sedikit, walau disertai beberapa unsur yang tak disengaja.


Semua berkas di ponsel lama aku hubungkan dengan iCloud. Jadi, sekalipun ponselku rusak, aku tak kehilangan data-data penting.


Namun aku mengalami kesulitan login ke iCloud milikku. Ya, aku lupa password-nya. Aku mengulangi berkali-kali dengan password yang sama, namun selalu muncul keterangan jika password yang aku masukkan invalid. Bagaimana ini bisa terjadi?! Semua akunku memiliki kata sandi yang sama. Itu karena aku sadar bahwa aku memang pelupa. Betul, aku pelupa.


Aku merasa tidak pernah mengganti password iCloud-ku. Aku coba menggunakan bantuan forgot password, tetapi tidak ada notifikasi yang masuk ke emailku. Terus kuulangi hingga akhirnya kelelahan.


Hari ini mood-ku sedang tidak baik. Ada saja yang membuatku kesal. Tetapi, katanya, hari yang buruk menjadi semakin buruk, karena kita tak berusaha menenangkan diri sejenak untuk memperbaiki suasana. Maka, aku jatuhkan badan ke kasur untuk menenangkan pikiran.


Setelah beberapa menit, pikiranku lebih tenang, aku pun mencoba kembali. Aku ingat! Akun yang aku gunakan untuk iCloud akun khusus yang aku buat dengan menyisipkan nama Dave. Pun dengan password-nya yang merupakan julukan Dave sewaktu kuliah, intellegence.


Dia mendapat julukan, begitu karena penampilannya menggunakan kacamata lebih membuat dia terlihat sebagai anggota FBI. Alasan lainnya, meskipun dia berkacamata, namun penampilannya selalu trendy dan modis.


Setelah iCloud berhasil terbuka, hal pertama yang aku lakukan yaitu menelurusi Galeri. Kulihat foto-foto Dave dari yang terbaru hingga saat awal kuliah. Perubahan fisiknya dari kurus hingga proporsional seperti sekarang membuatku rindu menyaksikannya. Waktu terasa begitu cepat.


Aku tak berhenti tersenyum melihat kenangan virtual ini. Hah, saat melihat masa lalu, kita pasti selalu ingin bisa kembali ke masa itu. Mengulangi atau memperbaikinya.


Senyumku perlahan berubah menjadi kesedihan, menerima kenyataan  bahwa yang aku tatap di ponselku adalah kenangan yang tak mungkin terulang. Bahkan untuk sedikit sama pun rasanya mustahil. Dave meminta aku melupakannya. Aku bahkan tak boleh menghubungi dia. Jika istrinya yang meminta seperti itu, aku masih punya harapan,


Lalu, aku berpindah pada riwayat perpesanan WhatsApp. Aku nyaris pegal men-scroll ke atas untuk membaca ulang dari pesan pertama.


Namun saat setengah membaca, aku memutuskan untuk tak melanjutkan. Aku harus bisa move on. Ini hanya akan membuatku semakin sulit beranjak dari alasanku meninggalkan Indonesia


***


Saat aku sedang menyiapkan sarapan di dapur, ponselku terus berdering. Siapa yang menelepon sepagi ini. Yang tahu nomorku hanya Paman dan Bibi. Tetapi, Paman sedang tidur. Mungkinkah Bibi?


Kulihat bukan nomor Bibi. Aku menjadi semakin penasaran.


“Halo…” sapaku.


“Halo, Ken. Apa kabar?” Suaranya tampak ceria.


“Mayumi?” tanyaku memastikan.


“Ah, aku senang kamu mengenali suaraku.”


“Ken, aku baru pulang dari Fukouka. Aku rindu kamu. Nanti siang kita jalan ya, aku jemput kamu ke hotel.” Aku membayangkan wajahnya yang sumringah. Dia berbicara seperti tidak terjadi apa pun sebelum ini denganku.


“Ii..iya.” Awalnya aku sedikit ragu. Namun, aku tak ingin menghancurkan mood-nya seperti saat di restoran waktu itu.


“Oke. See you!” Mayumi menutup telepon.


Aku belum sempat menanyakan dari mana dia mendapatkan nomorku. Ah, pelakunya sudah pasti Paman.


Tepat waktu. Paman terbangun saat aku ingin menginterogasinya. Sarapan pun sudah tersedia.


“Pagi, Paman!” sapaku sebelum mulai bertanya.


“Setiap hari kamu menghidangkan sarapan yang lezat. Wanita mana yang tidak akan merasa beruntung menjadi istrimu.” Nyawanya saja kulihat belum sepenuhnya terkumpul, tetapi sudah berani menggodaku.


“Sudahlah Paman, lebih baik Paman cuci muka dulu. Ini masih terlalu pagi untuk mengejek. Lagi pula yang Ken masak setiap hari hanya ramen instan dan Tamagoyaki. Apa sebenarnya Paman sedang menyindir?”


Paman malah tertawa sambil menghampiri. Aku tak mengulur waktu untuk bertanya.


“Paman memberikan nomor Ken kepada Mayumi?” Paman tampak terkejut dan tak jadi mengambil potongan Tamagoyaki.


Tamagoyaki jika di Indonesia bisa disamakan dengan telur dadar. Bedanya ia digulung lebih tebal, dan ketika dipotong menjadi bagian-bagian kecil terlihat membentuk lapisan. Ciri khas Tamagoyaki sendiri teksturnya masih lembut, tidak kering seperti telur dadar.


“Iya,” jawabnya dengan polos.


“Kenapa tak bicara dulu dengan Ken?”


“Memangnya kenapa? Kamu dan Mayumi kan sudah saling mengenal.”’


“Tapi Paman…” Aku tak melanjutkan kata-kataku. Mengingat kami sedang menyantap sarapan sebagai bekal tenaga mengawali pagi.


“Maafkan, Paman!” Paman sedikit merengut. Mungkin dia sedikit tersinggung aku menanyakan hal tersebut.


Aku pun mencoba menetralisir keadaan dengan mengambilkan potongan Tamagoyaki ke dalam mangkuk ramennya. Hah, jadi aku yang malah merasa bersalah.


***


Mayumi mengajakku makan siang di luar. Saat aku meminta izin kepada Paman, ia tampak sangat senang. Semakin jelas Paman berencana menjodohkanku dengan Mayumi secara tersirat. Ada-ada saja Paman ini.


Di perjalanan menuju restoran aku bertanya ke mana Mayumi beberapa hari ini. Dia pun bercerita jika dia pulang ke Fukouka untuk menemui ibunya. Alasannya sederhana, rindu. Tetapi aku tak sepenuhnya yakin dengan alasannya tersebut, aku merasa ada alasan lain.


Ia, kemudian, bercerita jika ibunya seorang dosen. Ia dan ayahnya setiap minggu harus menempuh perjalanan panjang dari Hokkaido ke Fokuoka untuk bisa berkumpul sekeluarga. Terkadang, ibunya yang berkunjung ke sini jika sedang tidak sibuk. Pekerjaan membuat dia tidak bisa setiap hari berkumpul dengan ayah dan ibunya. Hotel yang ayahnya kelola di sini merupakan warisan keluarga yang sudah puluhan tahun, yang sebelumnya hanya penginapan. Sekarang sudah berkembang menjadi hotel yang megah. Maka dari itu, ayahnya tak bisa begitu saja membiarkan hotelnya dikelola oleh orang lain.


Lalu, aku bertanya tentang alasannya kuliah di Indonesia. Dia pun menjelaskan semua terjadi tanpa disengaja. Awalnya dia hanya penasaran dengan Bali. Dia mencari tahu tentang Indonesia. Lalu, meminta orang tuanya menyekolahkan dia di Indonesia saja. Ayah dan ibunya sempat tidak setuju, namun ada sepupunya yang sudah lama tinggal dan bekerja di Jakarta sebagai juru masak profesional. Mayumi pun meminta bantuan sepupunya tersebut. Berkat sepupunya itulah, orang tuanya mengizinkan dia kuliah di Jakarta.


Bagi Mayumi tinggal jauh bersama kedua orang tua merupakan hal yang biasa. Ia sudah melakoninya sejak SMP. Dia bersekolah di sekolah khusus perempuan dan tinggal di asrama. Maka, ketika dia bisa keluar dari lingkaran itu dengan berkuliah di Indonesia, dia merasa sangat bahagia. Menurutnya, ibunya sempat kecewa karena ia berharap anaknya masuk di University of Tokyo atau University of Hokkaido. Keduanya merupakan universitas terbaik di Jepang. Namun ayahnya berusaha berpikiran terbuka, ia tak mau terlalu memberikan tekanan pada anak sematang wayangnya. Ditambah saran dari sepupunya bahwa setiap orang harus diberi kesempatan untuk memilih agar bisa merasakan kebebasan dalam hidup.


Selama tinggal di Indonesia, dia juga mengatakan begitu nyaman. Orang Indonesia sangat ramah, pujinya. Meski jalan yang macet dan tata kelola sampah yang masih belum optimal menjadi pemandangan yang agak mengganggu matanya. Namun secara keseluruhan, dia senang berada di Indonesia.


Mayumi terus saja bercerita, dan aku memang lebih senang mendengarkan. Aku bukan orang yang mudah bercerita kepada teman atau orang baru. Aku butuh waktu lama untuk bisa luwes dengan seseorang.

__ADS_1


Selepas makan siang, Mayumi mengantar aku kembali ke hotel. Dia juga bercerita jika lusa akan pergi ke Tokyo untuk bertemu sahabatnya semasa SMA. Katanya, sahabatnya sedang mempersiapkan pernikahan, dan dia diminta membantu.


Lanjut, Mayumi memintaku mengantarnya ke bandara jika aku tidak keberatan. Aku pun menyampaikan kesediaanku. Ada perasaan bersalah yang mengiang di pikiranku, karena sudah menolak pernyataan cintanya. Dia terlihat seperti biasa, atau berusaha seperti biasa. Apa pun itu, aku tak mau membuatnya kecewa lagi. Dia sudah sangat baik mengenalkan aku dengan kota ini.


Saat hendak turun mobil, Mayumi mengatakan permohonan maaf. “Ken, aku minta maaf ya atas kejadian malam itu. Aku tak bisa mengendalikan perasaanku.”


Aku bingung harus menanggapi seperti apa. Kulihat wajahnya tiba-tiba melukis keharuan.


“Aku yang seharusnya minta maaf. Terima kasih kamu sudah mau bersikap seperti biasa.”


“Tetapi, apa yang aku katakan waktu itu jujur dari hatiku, Ken,” ucapnya sambil menggengam tanganku. Aku mau menghindar, tetapi khawatir dia akan tersinggung.


“Aku juga mengatakan hal yang sebenarnya. Aku belum bisa.”


“Berarti masih ada kemungkinan?”


“Maaf May, aku tidak bisa memastikan.”


“Apa kamu sudah punya kekasih?” Matanya tampak berkaca-kaca.


“Belum.”


“Apa ada seseorang yang sedang kamu suka?”


Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Kami diam cukup lama. Mayumi menggeser wajahku agar mau menatapnya. Aku mengalihkan pandangan, karena tidak mau larut dalam nuansa yang dia ciptakan.


“Sepertinya Paman sudah menungguku. Kamu mau ikut mampir?” Aku cukup berdebar saat mengalihkan topik pembicaraan dan berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya.


“Aku langsung ke tempat Papa.”


“Oke, kalau begitu hati-hati!”


Saat kedua kakiku sudah mantap menyentuh tanah, aku melihat dia menitikan air mata. “Terima kasih, May!” pamitku seraya tersenyum. Dia pun membalas dengan tersenyum tanpa kata.


Aku sudah menduga kepulangannya ke Fokuoka kemarin ada hubungannya denganku. Aku tak bisa untuk tak jujur tentang perasaanku kepadanya. Haruskah aku menjaga jarak dengannya? Aku tak mau dia terus berharap, sementara aku masih dihinggapi perasaan tak normalku.


“Ken, mana Mayumi?” Lagi dan lagi Paman mengagetkanku, dan sekarang ia lakukan di lobby.


“Paman, Ken mohon jangan terlalu sering mengagetkan begini,” ucapku lesu. “Jantung Ken cuma satu, apa Paman bisa menyambungkan kembali jika putus?”


“Paman juga mohon keponakan Paman yang tampan ini jangan terlalu sering melamun.” Paman malah menertawaiku.


Saat aku hendak merespon, ponselku berdering.


“Siapa, Ken?” tanya Paman.


“Bibi,” jawabku datar.


Saat ponsel sudah ditempelkan di telinga, aku langsung menyapa.


“Halo, Bibi, Apa kabar?”


“Kabar Bibi baik. Bagaimana kabarmu di sana? Bibi dengar kamu sedang dekat dengan seorang perempuan ya? Bibi senang sekali mendengar berita tersebut.” Suara Bibi memang terbayang sumringah.


Aku melirik ke arah Paman. Siapa lagi kalau bukan Paman yang berusaha menjodohkanku, lalu menyebarkan berita ini. Saat hendak kutanya, dia langsung melambaikan tangan dan pergi.


“Ken juga baik-baik saja. Kapan Paman Yamamoto dan Keigo pulang, Bibi?”


“Keigo seharusnya minggu depan pulang. Namun dia malah meminta izin untuk berlibur dengan teman-temannya dulu, padahal dia tahu ibunya sendirian di sini. Kalau ayahnya, mungkin bulan depan baru bisa pulang. Saat ini sedang berlayar di New Zealand.”


Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dan sepertinya berhasil.


“Apa Bibi tidak mengatakan ke mereka Ken sedang di sini?”


“Sudah. Tetapi Keigo memintamu menjemputnya ke Nara, sedangkan ayahnya berusaha bernegosisasi agar diberi waktu libur lebih awal untuk merayakan tahun baru di sini.”


“Sampaikan kepada Keigo nanti Ken ke sana, Bi.”


“Tak perlu ditanggapi. Dia memang sedikit nakal. Saat liburan bukannya menemani ibunya, dia memilih bersama teman-temannya. Bibi tahu, dia memintamu menjemput agar bisa lebih lama berlibur. Kamu kan selalu menuruti kemauan dia. Biar nanti Bibi yang ke sana dan menyeretnya pulang.” Bibi jadi mengomel.


“Baiklah kalau begitu.”


“Oh ya, kapan kamu ke Tokyo?”


“Bagaimana kalau Bibi ajak Keigo ke sini? Bibi juga kan perlu liburan.” Aku memberi tawaran lain.


“Oh, karena kamu sedang dekat dengan serorang perempuan di sana, jadi tak mau meninggalkannya? Sudah seberapa jauh hubungan kalian?”


Ternyata tawaranku berbuah ingatan Bibi ke topik sebelumnya. Ah, aku tak mau membicarakan ini.


“Bibi, nanti Ken telepon balik ya. Paman memanggil!” Aku terpaksa mencari alasan untuk mengakhiri percakapan.


“Ya sudahlah kalau kamu belum mau bercerita.” Bibi pun menutup teleponnya.


***


Dua malam ini aku meminta izin kepada Paman untuk tidur di hotel. Aku merasa butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku kembali berkecamuk.


Tadi pagi aku mengantarkan Mayumi ke bandara. Dia tak seperti biasanya. Mulutnya tertutup rapat. Tak terjadi banyak percakapan tercipta. Aku menganggap hal tersebut sebagai proses penerimaan untuk kami menjadi teman biasa saja.


Mayumi memang cukup sempurna untuk dijadikan pasangan. Aku meyakini banyak pria yang berusaha mencuri hatinya. Tetapi ketika dia menyampaikan perasaannya kepadaku, aku malah menolaknya. Aku bahkan tidak berpikir untuk mulai menyukainya sebagai calon pendamping masa depanku. Mata bisa mengagumi. Sayangnya, hati tak bisa dipaksakan.


Aku jadi teringat saat Fay menuduh aku gay. Aku terpancing untuk membuktikan kepadanya jika itu tidak benar. Ah, aku tak perlu mengingat kejadian itu lagi. Ada apa dengan diriku?


Aku tidak pernah berpikir untuk bisa hidup bersama Dave selamanya. Bukan karena dia sudah menikah, melainkan aku sadar dia harus memiliki hidup yang normal. Ya, kehidupan yang normal. Fase hidup dari lahir beranjak anak-anak menikmati masa bermain. Lalu, masa menempuh pendidikan untuk masa depan. Diteruskan masa bekerja sebagai kebutuhan hidup dan menikah untuk melengkapi kehidupan. Kemudian, memiliki keturunan untuk meneguhkan silsilah keluarga.


Definisi kehidupan normal mayoritas manusia di dunia ini membuatku terkungkung. Apa benar  aku ini seorang gay? Sementara aku kadang berpikir bahwa aku hanya tak punya tempat untuk bersandar. Sandaran untuk melepaskan kesepian. Dave pun hadir sebagai perwujudan harapanku.


Aku belum bisa merasakan kenyamanan dengan orang lain seperti saat bersama Dave. Ketika tak lagi bersamanya, aku lebih nyaman dalam kesendirian.


Ketika orang lain datang dalam romansaku, sementara aku tidak memiliki rasa, haruskah memaksakan rasa yang sebenarnya tak ada? Mungkin Mayumi dihadirkan sebagai tempat berbagi separuh rasaku, tetapi bukankah aku akan sangat menyakitinya jika berpura? Atau aku terlalu naif menyikapi pertemuan yang baru sebentar? Padahal rasa bisa tumbuh karena terbiasa. Entahlah!


Kenyamanan yang aku rasakan bersama Mayumi jauh berbeda ketika aku bersama Dave. Lagi, aku selalu tak bisa untuk tidak membandingkan saat aku bersama sahabatku itu.


Ingatanku menguat kembali tentangnya. Padahal aku sadar tak mungkin bersamanya lagi. Apa aku ini benar-benar ‘sakit’?

__ADS_1


Kucoba untuk membuka jendela. Salju perlahan menghiasi bumi. Aku sudah berusaha pergi sejauh mungkin untuk mendinginkan pikiran, tetapi ia malah beku. Ketika mencair, ia langsung membanjiri seisi kehidupanku. Ah, semua kenangan di Indonesia menyusulku ke sini malam ini.


__ADS_2