
Aku terbangun saat Paman berkali-kali mengetuk pintu kamarku. Kepalaku terasa sakit disertai badan yang menggigil.
“Kamu sakit, Ken?” sambut Paman dengan pertanyaan ketika aku membuka pintu.
“Nggak, Paman. Ken nggak apa-apa,” jawabku lemah.
“Mukamu pucat sekali, Ken? Kamu benar tidak apa-apa? Paman ambilkan sarapan dulu kalau begitu?”
“Nggak usah, Paman. Sebentar Ken ke resto. Ken ganti baju dan cuci muka dulu. Paman sudah sarapan?”
“Belum. Justru Paman ingin mengajak kamu sarapan bersama.”
Langkahku terasa berat menuju restoran. Badan terasa lemas dan kepala begitu sakit. Melihat makanan aku tidak berselera.
“Ken, suhu badanmu panas sekali,” ucap Paman selepas menyentuh keningku.
Kamu demam?”
Aku hanya mengangguk. Bahkan untuk berbicara energiku seperti habis.
Kemudian, Paman meminta salah seorang pegawai menopangku kembali ke kamar. Aku tidak tahu ke mana energiku terserap.
“Paman telepon Mayumi dulu ya.” Paman mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
“Jangan Paman, dia sedang di Tokyo.”
“Kapan? Kok kamu tidak bercerita kepada Paman?”
“Kemarin pagi kan Ken bilang pinjam mobil Paman untuk mengantar Mayumi ke bandara.”
“Oh iya, Paman lupa. Maklum sudah tua. Paman hubungi dokter dulu ya biar datang ke sini untuk memeriksa kondisimu.”
Aku menyetujui saja. Lagi pula, aku benar-benar merasa begitu lemas.
Setelah menelepon dokter, Paman melihat ke arah jendela. “Ken, kamu semalaman tidur dengan jendela terbuka dan AC menyala?”
Aku pura-pura tak mendengarkan dan menutup mata.
“Ken!!!” Paman terdengar sedikit marah.
“Ken lupa menutupnya.”
“Kapan Mayumi pulang? Paman mau minta tolong dia menjagamu,” tanya Paman sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhku.
__ADS_1
“Paman, dia sedang ada acara. Ken belum tahu kapan dia pulang. Sudahlah, Ken hanya butuh istirahat saja,” jawabku meringis.
Aku tak mau Paman menghubungi Mayumi. Aku tak mau dia merasa aku membutuhkannya. Itu akan menciptakan keadaan seperti aku memberikan harapan.
“Ya sudah. Biar Paman aja yang menjagamu,” pungkas Paman.
Sambil menunggu dokter tiba, Paman terus memijat kakiku. Aku mengatakan tak perlu, namun dia memintaku diam saja.
Tak berapa lama dokter pun datang. Dengan sigap dia memeriksaku. Menurutnya, aku sedang demam dan mengalami gejala hipotermia. Dokter pun menyarankan aku tak menyalakan AC.
“Ken… Ken… Mentang-mentang sebelumnya hidup di negara tropis, musim dingin pun kamu masih menyalakan AC. Musim dingin di sini beda dengan musim hujan di sana. Di Jakarta, meskipun hujan tapi udara di ruangan masih panas,” celoteh Paman.
“Maafkan Ken, Paman!”
***
Dua hari aku terbaring sakit. Bibi sampai berniat terbang ke sini untuk merawatku. Namun, aku memastikan kondisiku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat beberapa hari.
Bibi cukup cemas mendengar kabar aku sakit. Dia tetap bersikukuh ingin datang. Padahal, aku tahu dia juga sangat sibuk di Tokyo. Cukup alot memberikan keyakinan kepada Bibi jika aku baik-baik saja.
Di lain sisi, Paman memberitahu Mayumi aku sakit. Itu membuat dia terus meneleponku, bahkan dia berencana pulang ke Hokkaido. Untungnya aku juga bisa meyakinkan dia jika yang aku butuhkan hanyalah istirahat. Aku tak mau mengganggu acaranya. Kedatangannya juga akan membuatku tak bisa istirahat dengan semestinya. Paman memang ingin sekali aku terus bersama Mayumi.
Selama sakit, Paman tak mengizinkan aku ke hotel. Setelah diperiksa oleh dokter waktu itu, aku langsung dibawa pulang. Cukup membosankan! Pikiranku tak terisi dengan hal yang lain. Seharian tak ada yang bisa aku ajak mengobrol selain Paman atau Bibi yang menelepon, dan juga Mayumi. Isi percakapan dengan mereka bertiga tak jauh berbeda, menanyakan kondisiku, kegiatanku sedang apa, lalu mengingatkan agar makan dan minum obat. Aku beruntung memiliki orang-orang yang begitu peduli kepadaku. Tetapi, aku tak bisa memungkiri ada harapan besar bahwa perhatian itu juga datang dari Dave.
Mungkin rasa ini terjadi karena lebih dari separuh masa remaja hingga kini aku habiskan bersamanya. Rasa yang kami namai sebagai bromance, tetapi sekarang aku sulit untuk menamainya lagi.
Aku tidak pernah merasa egois. Aku ikhlas ketika Dave memberitahu dia akan menikah. Sebelumnya dia tak pernah bercerita kepadaku kapan berpacaran dengan istrinya kini. Mungkin itu disebabkan kondisi kami terpisah cukup lama antara Bali-Jakarta. Komunikasi pun terhambat, karena aku harus mengurus Ibu, kemudian Ayah. Sementara Dave mungkin sibuk dengan pekerjaan dan calon pendamping hidupnya kala itu.
Aku pun berpikir, Dave menikah, dia punya kehidupan baru, tetapi aku tetap bromance-nya. Mungkin persahabatan kami tidak bisa seintim dulu, tetapi kami tetap dua sahabat yang terikat dengan begitu dekat.
Kami tidak menunjukkan kemesraan apa pun di publik. Semasa kuliah, kami memang sering digoda sebagai pasangan, karena pergi dan pulang selalu bersama. Namun, itu hanya sementara. Kami memperlihatkan jika kami bersahabat bukan berpacaran.
Kami lebih banyak menghabiskan waktu di apartemenku. Kami sering bercanda hingga saling menciumi pipi dan melempar pelukan. Anehnya, aku merasakan kemaluanku tegang saat bersentuhan langsung dengan Dave. Di situlah aku mulai merasa seperti ada nafsu. Namun, setelah kusadari akan fatal jika membiarkan rasa itu tumbuh. Aku berpikir hal yang normal ketika alat vital tersentuh, maka akan memberikan respon. Itu bisa terjadi kepada siapa saja.
Lambat laun, aku seperti menginginkan Dave lebih dari sahabat. Karena itulah, aku berusaha menjaga jarak. Bukan menjauhi, melainkan tak terlalu menanggapi setiap perhatiannya dengan rasa.
Sifat Dave kebalikan dari sifatku. Dia mudah bergaul, sementara aku sangat pendiam. Dia sangat baik dan ramah. Dia juga dikenal begitu perhatian oleh teman-teman sekelas atau yang mengenalnya. Ya, dia memiliki banyak teman, walau waktunya lebih banyak dihabiskan denganku. Jadi, ketika dia memberikan perhatian kepadaku, aku mencoba lepas dari doktrin rasa yang berlebih.
Aku berusaha menepis rasa, namun justru ia semakin melekat. Aku mencoba menjauh saat getaran yang kurasa tidak wajar, namun ia semakin gencar menyerang dengan perhatian. Jadi, apa ini semua salahku? Di lain pihak, Dave terus memborbardirku dengan perhatian yang tak pernah aku dapat di luaran.
Itulah mengapa aku berusaha menjaga jarak juga dengan Mayumi. Aku tak mau dia memiliki pengalaman yang sama denganku. Merasa selalu diperhatikan, namun pada akhirnya ditinggalkan. Karena rasa yang ada hanya sebatas kawan, bukan cinta mendalam untuk bisa bersama sebagai pasangan.
***
__ADS_1
Secara psikologis, pikiran yang sakit akan memicu tubuh yang sakit. Namun secara medis, tubuh yang sakit akan memengaruhi kinerja pikiran menjadi tidak optimal. Apa pun itu, sakit tidak enak sekalipun mandapatkan banyak perhatian.
“Ken, apa Mayumi memberi kabar kepadamu kapan dia akan pulang?” tanya Paman, yang entah sudah ke berapa kali selalu muncul mengagetkan, dan selalu di saat aku sedang berkutat dengan data pengunjung di layar komputer.
“Tidak.”
“Hem….” Paman seperti melemparkan kode. “Apa kamu tidak menelepon dia?” Persis seperti yang aku perkirakan. Paman sebenarnya berusaha secara pragmatis agar aku melakukan kontak dengan Mayumi.
“Tidak,” jawabku hemat sambil menunjukkan jika aku sedang fokus dengan yang pekerjaan.
“Apa di sana dia baik-baik saja ya?!” Paman melirik ke arahku sambil memainkan bibirnya dan mengerutkan kening layaknya orang yang sedang cemas atau berpikir keras.
“Kenapa Paman tidak meneleponnya saja?” Aku berharap Paman tidak mengangguku.
Paman pun kemudian membalikkan badan sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
“Halo Mayumi, apa kabar?” sapa Paman dengan kencang. Sangat terlihat disengaja agar aku ikut mendengar isi percakapan mereka. Padahal berbicara lewat telepon tidak harus sampai menggema seperti itu. “Ken katanya rindu ingin berbicara denganmu. Cuma dia malu untuk meneleponmu lebih dulu,” imbuh Paman sambil tiba-tiba menempelkan ponselnya ke telingaku. Aku jadi tak bisa menolak, karena gerakannya begitu cepat.
“Hai, Ken. Apa kondisimu sudah pulih?” sapa Mayumi.
“I…iya.” Aku jadi canggung, karena memang aku tidak sedang ingin mengobrol dengannya. “Aku sudah mulai bekerja.”
“Syukurlah kalau begitu. Jaga kesehatan ya, Ken!”
“Iya.”
Aku yang mengobrol lewat telepon, tetapi Paman yang terlihat gemas. Dia juga terus mengajariku untuk bertanya kapan dia akan pulang.
“Kapan kamu pulang?” Aku tak kuasa melihat mulut Paman yang menyuruhku mengucapkan kalimat tersebut.
“Mungkin 3 atau 4 hari lagi, Ken. Kenapa?”
Paman menempelkan ponselnya ke telingaku sambil dia pegangi, lalu dia juga berusaha menguping. Hem, kenapa tidak di-loudspeaker sekalian?!
“Tidak.” Karena bukan pertanyaan dari otakku sehingga aku tak tahu feedback yang harus diberikan.
Paman kemudian melepaskan ponselnya dari telingaku dan kembali berbicara kepada Mayumi. “Ken bilang nanti kalau kamu mau pulang kabari dia. Dia akan menjemputmu di bandara. Saat ini dia sedang fokus dengan pekerjaannya. Jadi mungkin cukup sulit merangkai kata.” Paman, kemudian, pergi.
Aku ingin mengatakan supaya Paman tak perlu bertingkah berlebihan mengatasnamakan aku kepada Mayumi, namun aku takut dia tersinggung. Nanti saja aku jelaskan kepada Mayumi langsung. Aku rasa Mayumi akan lebih berlapang dada.
Aku bukan tak berusaha membuka hati untuk perempuan. Namun aku tak mau menjadikannya pelampiasan, memaksakan ketidakjujuran bersarang dalam sebuah hubungan.
Ah, memori kemarin kembali terbuka. Selain menyebut aku gay, ucapan Fay yang men-judge aku berbohong dengan menjadikan tameng persahabatan untuk selalu bersama Dave selalu terngiang-ngiang di otakku. Serendah itukah aku di matanya? Padahal aku tak akan mendekati kembali jika Dave tak membalas kehadiranku.
__ADS_1
Huh, tetapi meyalahkan orang lain bukanlah cara yang bijak. Aku yang bersalah. Semuanya salahku. Aku tak bisa membentengi rasa dengan mengidentifikasi setiap jenisnya. Aku pula terlalu bodoh dengan bersandar hanya pada satu tempat. Aku membuat dunia yang dihuni lebih dari 7 milyar manusia terlihat hanya ada aku dan Dave. Atau hanya ada aku dan kesepian. Duniaku di luar rumah mungkin hanya sebesar sangkar parkit.
Hah, aku menjadi kehilangan konsentrasi. Aku putuskan untuk keluar sejenak mencari fokus yang sudah berterbangan.