
Aku memang belum punya bukti Add seorang gay. Itu hanya dugaan. Tetapi saat aku cerita kepada Yuriko cara Add melihat Ken, kemudian saat dia mengobrol dengan Ken, Yuriko pun menduga hal yang sama denganku tentang Add. Perlukah pendapat Minako? Yuriko menyarankan aku menelepon Minako untuk meminta pendapat tentang hal tersebut. Setidaknya, Minako sudah banyak membaca dan melihat awal mula kisah percintaan laki-laki dengan laki-laki. Dia pasti paham dan memiliki banyak referensi. Baiklah, mungkin aku akan meneleponnya nanti.
Bagiku, cara Add melihat Ken tidak seperti seorang teman. Add terus memandang wajah Ken sambil tersenyum.
Tatapan Add tak lepas dari wajah Ken. Dia juga selalu berusaha untuk bersentuhan dengan tangan atau bagian tubuh Ken yang lain. Ya, itu karena aku pun melakukan hal tersebut kepada Ken.
Aku memang tak punya banyak pengalaman tentang boys love, tetapi aku cukup peka untuk membedakan laki-laki yang mencintai sahabat laki-lakinya atau hanya sekadar bersahabat. Meski cara menunjukkan rasa cinta antara perempuan dan laki-laki berbeda, namun cara menatap orang yang dicintai sama. Ketika kita cinta atau memiliki ketertarikan kepada seseorang, maka kita akan mendengar ucapannya dengan memperhatikan wajahnya.
Kalau bukan karena suami Yuriko pulang dari bekerja, mungkin kami masih akan terus berbincang hingga lupa waktu. Setelah telepon ditutup, aku langsung memutuskan untuk mandi. Setidaknya aku butuh kesegaran untuk menelepon Minako.
Sewaktu mandi, aku berpikir untuk mengurungkan niat menelepon Minako. Aku yakin dia akan menertawaiku bahkan mengejekku dulu. Tetapi, aku juga butuh sudut pandangnya untuk menguatkan dugaanku. Aku menjadi sangat bimbang.
Selesai mandi dan berpakaian, aku langsung mengambil ponsel untuk menelepon Minako. Namun saat ponsel dinyalakan, ternyata ada 3 panggilan suara yang tak terjawab. Aku menunda niat untuk menelepon sahabatku.
Ada 3 missed calls dari Ken? Benarkah ini panggilan dari dia? Ada apa dia meneleponku sampai beberapa kali? Apa dia masih merasa bersalah kepadaku?
Benar juga kata Yuriko, laki-laki seperti Ken sangat bisa diliputi rasa bersalah. Ah, menyebalkan! Mengapa aku tak mendengar ponselku berdering saat ada panggilan darinya? Semoga dia menelepon lagi agar mengira aku masih marah dan sengaja tak mau menjawab panggilannya.
Harapanku terkabul, Ken menelepon kembali. Aku coba diamkan sebentar sambil memikirkan kata-kata yang akan diucapkan kepadanya.
“Halo, May!” Suaranya terdengar cemas.
“Halo. Ada apa, Ken?” Aku berusaha dingin. Padahal otak berusaha menahan kaki agar tidak meloncat kegirangan.
“May, kamu masih marah hingga baru angkat teleponku?”
“Tidak,” jawabku dengan pendek. Ini jurus pertama atau jurus umum wanita untuk memancing usaha pria.
“May, aku tak bermaksud untuk tidak menghargai masakanmu. Tapi…”
Aku langsung memotong. Ini jurus kedua agar pria merasa bersalah, kemudian merayu. “Aku tidak apa-apa. Seperti yang tadi aku katakan, kamu bisa memakannya untuk makan malam. Itu pun jika masih layak atau kamu masih mau memakannya.”
“Iya, May. Tapi, aku benar-benar tidak punya rencana untuk makan di luar.”
“Heem…” Jurus ketiga, menjawab dengan gumaman. Ini untuk mempertahankan posisi bahwa si pria lah yang benar-benar salah. Mengatakan seolah tidak masalah, tapi nada dibuat meliuk sedikit untuk menggemakan rasa kecewa. Emmm, agak sulit untuk dijelaskan tata caranya. Ini mungkin jurus alamiah yang dimilki semua wanita.
“May… Emm... Em…” Ken seperti kesulitan merangkai kata-kata. Tandanya ketiga jurus tadi ampuh. Maafkan aku, Ken. Aku memang sengaja mencari perhatian dengan tiga jurus tersebut.
“Ken, aku mengantuk. Aku mau tidur dulu ya.” Padahal ini baru jam 7 malam. Tetapi, ini jurus pamungkas agar Ken mengejarku.
Jurus yang diceritakan Yuriko tadi di telepon terpakai sempurna. Padahal, Aku sebenarnya masih ingin mengobrol dengan Ken.
“Oh ya sudah, selamat tidur. Sekali lagi aku minta maaf, May.”
Ken, aku masih ingin mendengar suaramu. Namun tak masalah untuk merindu sebentar, jika itu akan membuat Ken berbalik merinduku. Hal yang bermula dari rasa bersalah.
Entah mengapa setelah menutup telepon dari Ken, aku merasa terhipnotis alasanku sendiri. Aku menjadi sangat mengantuk. Padahal sebelumnya tidak begitu. Aku pun terkapar di atas kasur.
Karena tidur terlalu awal, aku terbangun jam 4 pagi. Aku merasakan lapar yang cukup kuat. Wajar saja, dari siang kemarin aku tidak makan.
Kulihat ayah tertidur di ruang tamu di depan televisi. Sepertinya dia habis begadang menonton pertandingan sepak bola.
Aku ke dapur menyiapkan sarapan. Kemudian, terlintas untuk membawakan Ken sarapan hasil masakanku juga. Betul. Jika makan siang kemarin gagal, masih ada makan pagi sebagai harapan pengganti.
Waktu terasa cepat berlalu ke arah jam 7 pagi. Ayah berkali-kali kubangunkan, namun dia malah menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Padahal, aku hanya ingin mengatakan sarapan sudah siap dan pamit untuk ke tempat Ken.
Saat sudah di dalam mobil, aku mengirimkan pesan kepada Ken bahwa akan membawakannya sarapan. Juga memastikan dia di rumah atau di hotel. Dengan cepat Ken membalas ada di hotel. Aku pun dengan cepat pula melaju.
__ADS_1
Setelah tiba di hotel, Ken terlihat sedang melayani pengunjung. Aku duduk di kursi tunggu berharap dia melihatku sudah datang. Tak lama dia pun menyadari, lalu mengajakku langsung ke restoran.
Ketika tiba di pintu restoran, salah satu pegawai langsung menghampiri. Dia membantu menyiapkan makanan yang aku bawa ke dalam pring saji. Di hadapan Ken, aku masih berusaha dingin.
Ken memulai percakapan dengan mengucapkan terima kasih ketika makanan yang aku bawakan sudah siap untuk disantap. Kemudian, aku menjelaskan makanan yang kubawa dimasak dari jam dari 4 pagi. Itu memang terdengar berlebihan, karena untuk membuat Sup Miso, Tamagoyaki, dan salad buah tak memerlukan waktu yang lama. Tetapi aku tidak berbohong, yang lama buka waktu membuatnya, melainkan proses hingga terpikir membawa makanan tersebut untuk sarapan kami bersama.
Rasa lelahku terbayar. Aku lihat Ken menikmati sajian yang aku buat. Namun, seseorang yang tak diharapkan mendadak menghampiri tempat duduk kami.
“Aku boleh duduk di sini?” tanyanya.
Ken langsung menurunkan mangkuk supnya dan menjawab, “Silakan, Add!”
Aku merespon dengan tersenyum sambil berusaha sabar. Ada saja gangguan. Tetapi, aku harus bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan ekspresi terganggu.
“Wah, Tamagoyaki. Boleh aku mencobanya. Tadi aku tidak melihatnya di barisan menu sarapan,” ucap Add sambil menyilangkan tangan di antara kedua tangan Ken. Ia meraih potongan hidangan telur tersebut dengan sumpit. Caranya mengambil makanan tersebut terlihat dibuat-buat agar bisa bersentuhan dengan Ken.
“Ini Mayumi yang masak di rumahnya,” jelas Ken merespon Add yang genit.
“Iya. Silakan!” Aku berusaha menimpali dengan sedikit cemberut. Tak mudah menahan ketidaksukaanku melihat Add ada di samping Ken.
Kemudian, aku perhatikan Add menatap Ken dengan begitu dalam. Kali ini, sangat jelas. Semalam aku ketiduran untuk menelepon Minako. Rupanya, aku memang tak perlu menelepon dia. Pemandangan ini sudah menguatkan dugaanku terhadap Add.
Untuk mengaburkan tatapan Add kepada Ken, aku pun berpura menjatuhkan sendok. Lalu, Add mengambilkan sendok tersebut. Jarak jatuhnya memang lebih dekat kepadanya.
“Wah, ternyata Mayumi pandai memasak ya. Apa kamu memiliki restoran?” tanya Add.
“Tidak. Mengapa?”
“Aku pikir jika kamu membuka restoran pasti akan cepat mendapatkan banyak pelanggan. Salah satunya aku yang akan berkunjung setiap hari. Sajian Wagyu beef yang kamu buat kemarin, itu sangat lezat.” Eskpresinya memang memuji, tetapi justru membuatku kesal.
Aku memandang Ken saat Add melemparkan pujian kepadaku. Ken seperti salah tingkah. Dia sudah tahu aku membuatkan makanan tersebut khusus untuknya.
“Kalau menurutmu bagaimana, Ken? Apa masakanku enak?” Aku berharap Ken memberikan pujian juga. Bahkan pujian dari Add seharusnya keluar dari mulut Ken.
“Em… Enak kok… Enak.” Tanggapan Ken agak meragukan.
“Enak bagaimana?” Add menepuk pundak Ken. “Ken tidak mencicipi makanan itu. Katanya dia tidak terlalu suka olahan daging. Jadi, dia meminta aku menghabiskannya semua. Karena sangat lezat, dengan senang hati aku menghabiskannya,” ungkap Add membuat batinku tersentak.
Penjelasan Add membuat tubuhku mendadak kaku. Padahal aku menghidangkan makanan tersebut, karena sebelumnya melihat Ken sangat menikmati olahan daging sapi. Mengapa dia mengatakan hal yang kontras kepada Add? Aku lebih baik tidak mengetahui kebenaran daripada harus menelan pil pahit. Terkadang tidak tahu lebih menenangkan.
“Oh gitu. Maaf ya, Ken! Aku pikir kamu akan menyukainya,” ucapku satir.
Ken tampak ingin mengucapkan sesuatu. Mungkin dia ingin memberikan penjelasan. Namun begitu Ken membuka mulut, Add memasukkan potongan Tamagoyaki ke mulut Ken sehingga dia tidak jadi berbicara. Di depanku, Add mencoba mempertontonkan kemesraan. Aku memang belum menjadi pilihan hati Ken, tetapi bukan berarti aku pantas disakiti dengan cara seperti itu. Aku pun pamit ke toilet untuk menumpahkan air mata.
Saat beberapa waktu lalu aku mulai pasrah dan ingin menyerah, Ken memberi secercah harapan. Sekarang, kenapa pemandangan ini yang harus aku saksikan?
Begitu kembali dari toilet. Ken menatapku. Aku berusaha tersenyum tegar. Sementara Add terus mengoceh kepada Ken. Seolah aku hanya iklan yang tadi lewat.
Hingga selesai sarapan, aku hanya menjadi pendengar antara Add dan Ken. Mungkin lebih tepatnya aku seperti vas bunga yang di letakan di meja makan. Hanya sebagai hiasan. Aku sendiri tak fokus mendengar obrolan mereka. Aku hanya ingin cepat pergi dari tempat ini. Namun aku teringat kata-kata Yuriko, jika aku pergi berarti Ken dan Add hanya berdua. Mereka akan menjadi lebih dekat. Aku harus bisa bertahan, menahan diri lebih lama lagi.
Waktu semakin berlalu. Tak terasa sudah hampir dua jam aku mematung di antara Ken dan Add. Tak sedikit pun mereka memperhatikan aku ada di sini. Atau ini karena Add yang terus berbicara untuk menarik perhatian Ken. Bagaimana cara menghentikan Add yang terus berbicara secara tidak jelas ini? Ya, bagiku tidak jelas. Dari tadi aku mendengar dia berbicara tentang pemotretan. Sementara Ken hanya menanggapi dengan satu atau dua kata. Bukankah pemotretan dengan Ken sudah selesai? Aku ingin masuk dalam obrolan tersebut, namun Add tak memberi ruang. Beberapa kali aku memandang Ken. Berharap dia mengajakku keluar dari tempat ini, tetapi dia malah bersikap dingin.
Akhirnya, kesabaranku mencapai batas. Aku pusing mendengar ocehan Add tanpa henti selama puluhan menit ini.
“Aku pulang, Ken.”
Ken hanya mengangguk. Hanya itu reaksi dia hingga aku berdiri. Ya sudah, aku tak bisa menyiksa diriku. Biarlah aku mengalah kali ini.
__ADS_1
Setelah keluar dari hotel, aku berhenti sejenak. Ada harapan saat menoleh ke belakang Ken sedang berlari mengejarku. Sayangnya, kejadian seperti kemarin terjadi lagi. Ken tak datang menyusulku. Padahal, aku sudah menunda langkah selama beberapa menit. Ah, harapan membuatku semakin sakit saja.
Sepanjang jalan aku terus berpikir kejadian yang menimpaku dua hari ini. Ken memberiku harapan, lalu menghancurkan, lalu meminta maaf, dan proses itu berulang. Tapi, aku yakin dia tidak seperti itu. Ini pasti karena ada Add. Orang itu yang membuat perhatian Ken terbagi, bahkan aku hanya disisakan sedikit.
Aku yang lebih dulu mengenal Ken, maka aku harus bisa mendapatkan perhatiannya sebelum tertuju pada orang lain. Segala upaya sudah aku jalankan. Harushkah cara terakhir seperti yang disampaikan Yuriko? Bukankah itu jahat? Tetapi kata Yuriko cara itu hanya untuk mengikat Ken, bukan melukai atau menikmati tubuhnya dengan kotor. Jika memang nantinya Ken mau pun, dengan senang hati aku akan memberikan tubuhku. Kegilaanku memuncak akibat melihat kejadian tadi.
Perubahan positif yang Ken tunjukkan kepadaku, aku kira sebuah pertanda dia mulai menyukaiku. Kenyataannya, bahkan sekarang dia tak berusaha menghubungiku.
Kepada siapa kekesalannya ini sepenuhnya aku tujukan?! Ken, Add, atau keduanya? Tetapi jika Add tidak menganggu kedekatanku dengan Ken, hal seperti ini mungkin tidak akan terjadi. Jika Add seorang perempuan, aku akan bersaing dengannya sekuat tenaga untuk mendapatkan Ken. Bahkan jika dia yang kemudian Ken pilih, aku ikhlas.
Dugaanku terhadap Add semakin menguat setelah pikiranku menerawang kejadian di restoran tadi. Jika dia tidak memiliki rasa kepada Ken, harusnya dia tak mengganggu aku yang sedang berdua dengan Ken. Atau paling tidak, dia duduk di antara kami tanpa mencuri perhatian Ken.
Sangat jelas Add seperti khawatir dan cemburu ketika melihat aku dan Ken duduk berdua. Dia langsung masuk di acara sarapan romantis kami. Dia mengubah skenario yang aku buat, hingga aku tak memiliki kesempatan untuk memperbaiki imajinasiku berdua dengan Ken.
Memang tidak fair jika aku mencap Add 100% gay. Kami baru bertemu beberapa kali, dan hanya beberapa kalimat yang keluar sebagai interaksi kami. Tetapi sekali lagi, sikap Add kepada Ken bukan seperti seorang teman, melainkan seseorang yang memiliki rasa.
Dalam percintaan, ada istilah cinta tak harus memiliki. Bagiku, hal itu terjadi jika segala upaya untuk mendapatkan pujaan hati tak memberikan hasil yang diharapkan. Pada awalnya, ketika kita mencintai seseorang, pasti (tidak mungkin tidak), dibarengi usaha untuk memiliki orang tersebut. Mencintai tanpa harus memiliki memang terdengar bijak, tetapi prosesnya sangat menyakitkan.
Aku butuh teman bercerita saat ini. Ya, aku telepon saja Yuriko.
Namun saat sudah siap menekan tombol dial, aku teringat kepada Minako. Aku merasa, untuk saat ini, lebih tepat menelepon Minako. Meski dia mungkin akan mengejekku, tetapi dia sahabatku. Sudah seharusnya dia mendukung aku. Juga, dia pasti punya banyak saran atas kondisi yang aku hadapi saat ini.
Tanpa ragu, aku langsung menceritakan masalah yang aku hadapi kepada Minako. Aku mencintai seseorang, namun ada orang lain yang mencoba menghalangi. Orang tersebut bukan perempuan, melainkan laki-laki.
Minako tak lantas menanggapi kisahku dengan serius. Aku sudah menduganya. Tapi yang di luar dugaan, justru dia memintaku tak mudah mencap seseorang. Katanya, bisa saja kedekatan Ken dan Add sebuah kedekatan pertemanan biasa. Alasannya, aku belum punya bukti kuat jika Add seorang gay, dan dia menyukai Ken.
Memang benar yang diucapkan Minako. Aku tak bisa menuduh seseorang hanya beradasarkan perasaan tanpa ada bukti nyata. Namun, aku yakin Minako akan sependapat denganku jika di ada di posisiku. Permasalahannya, dia tidak melihat langsung interaksi Add kepada Ken.
Kemudian, aku hentikan percakapan telepon sejenak. Aku kirim video saat Ken dan Add mengobrol di restoran hotel tadi pagi. Aku minta Minako mengamati video tersebut, lalu memberikan pendapatnya.
Aku sempat mengabadikan interaksi Add dan Ken selama beberapa menit. Aku berpura memainkan ponsel padahal sedang merekam mereka. Itu hal yang memang melanggar privasi dan tidak patut untuk diakukan. Namun, tujuanku bukan untuk menyebarkan ke sosial media atau lainnya. Video tersebut rencananya akan aku tunjukkan kepada Ken bahwa aku begitu tersakiti melihat dia mengabaikanku.
Tak lama setelah video terkirim, Minako langsung menelepon balik. Aku memastikan dia sudah menontonnya hingga selesai. Dia pun mengatakan sudah melakukan itu.
Dia membuatku kesal, saat berkata Ken dan Add serasi. Secara jujur dia sangat mengagumi ketampanan Ken. Sialan! Untungnya, Minako tidak ada di sini. Aku juga tidak akan membiarkan dia ke sini untuk menjadi sainganku. Hal yang sama juga pernah diungkapkan Yuriko. Andaikan dia mengenal Ken lebih dulu dibanding suaminya, dia pasti akan mengejar cinta Ken juga. Mereka memang sahabat yang terkadang menguras emosi. Namun, hanya dengan merekalah aku selalu berbagi kisah.
Lanjut, Minako membuatku semakin kesal. Katanya Ken dan Add pasangan yang selama ini dia imajinasikan. Dengan nada marah, aku membentaknya. Aku katakan jika sedang butuh pendapat dan solusi darinya, bukan ingin mendengar fantasinya.
Setelah aku memanas, Minako meminta maaf dan mengatakan pernyataannya hanya sebuah candaan. Aku tahu dia sangat suka bercanda, tetapi kali ini aku sedang ingin berbicara dengan serius. Aku juga minta maaf karena telah membentaknya. Pikiranku tak terima jika ada yang mengatakan Ken dan Add pasangan yang serasi.
Menurut Minako, kecenderungan Add adalah gay dan suka kepada Ken ada di angka 80%. Hal tersebut terlihat dari posisi duduk Add yang sangat dekat, bahkan nyaris ingin terus menempel dengan Ken. Kemudian tangannya yang berusaha menyentuh punggung, pundak, hingga tangan pujaanku. Dari cara dia tersenyum hingga menatap Ken pun, sangat jelas ada perasaan cinta.
Selain itu, dari penampilan. Add menggunakan kaos putih oblong yang tipis dan ketat. Memang pakaian tidak serta merta menandakan dia penyuka sesama jenis. Tetapi dari cara berbicara kepada Ken, Add tampak berusaha ingin memperlihatkan juga tubuhnya yang atletis atau menebar pesona. Dia juga menanyakan kegemaran Ken. Hal yang tidak biasa dilakukan pria kepada teman prianya secara detil.
Ternyata Minako seteliti itu. Tidak sia-sia aku meneleponnya. Padahal video yang aku kirim durasinya kurang dari 120 detik. Aku yang di depan mereka saja tak sadar dengan pakaian yang digunakan Add. Aku memang tidak fokus memperhatikan mereka. Perhatian lebih tertuju pada caraku meredam emosi.
Lebih lanjut, Minako menegaskan, dia bukan pakar yang bisa mengetahui seksualitas seseorang dari penampilan luarnya. Hal yang dia ungkapkan hanya berdasar pada pengalamannya membaca dan menonton cerita boys love, juga dari beberapa temannya yang penyuka sesama jenis.
Aku setuju dengan pernyataan Minako. Sebagai contoh, pria yang suka berbelanja dan tampil feminim belum tentu seroang gay. Begitu pun dengan pria yang hobi sepak bola dan tampil atletis belum tentu juga seorang straight. Tak ada patakon khusus untuk mengetahui orientasi seseorang dari luar tanpa mengenalnya secara mendalam.
Namun gaya berbicara, misalnya cara pria menatap teman prianya, dan topik yang dibicarakan bisa menjadi indikasi seseorang tersebut gay. Pada umumnya, pria straight tak terlalu suka menceritakan kekagumannya terhadap pria lain. Tidak seperti wanita yang sering memuji cantik dan seksi kepada temannya sesama wanita. Dalam video yang aku kirim, Add mengatakan Ken sosok yang tampan, putih, bersih, rapi, dan penampilannya perfect.
Hal lain juga diungkap Minako, katanya ada kecenderungan Ken juga seorang gay atau biseksual. Potensinya 50:50. Aku sangat terkejut dan jelas tak terima. Selama ini aku lihat Ken begitu maskulin. Sikap baiknya kepada Add bukan balasan perhatian. Dia pernah menjelaskan hal tersebut. Dia hanya orang yang berusaha baik kepada siapa pun. Aku yakin 100% Ken adalah pria straight.
Ketika aku meminta penjelasan atas dugaan Minako terhadap Ken, dia hanya mengatakan itu baru dugannya saja. Dia mengatakan Ken memang tak terlihat menyukai Add. Namun, ada kecenderungan Ken menyukai pria.
Aku tetap tidak terima pernyataan Minako. Ia pun meminta maaf dan berusaha menenangkanku. Ia tak bermaksud membuatku kecewa dan patah hati. Dia juga menyarankan aku untuk membuktikan saja daripada larut dalam spekulasi.
__ADS_1
Menurut Minako, tuduhannya mengenai kemungkinan Ken juga gay memang agak sulit dijelaskan. Hanya bisa dirasakan oleh orang yang terbiasa dengan hal-hal yang berbau percintaan sejenis.
Jika harus menjadi Minako untuk tahu, jelas aku tak mau. Aku tak begitu mengurusi orientasi seksual seseorang. Semua orang hidup dengan jalan dan caranya masing-masing. Selama tidak saling merugikan, mengapa harus saling meresahkan?! Sayangnya, Add telah membuatku begitu resah.